
.
.
Seperti yang dikatakan ibu mertuanya tadi, Laila kini sudah boleh pulang. Gilang menunggu istrinya itu bangun. Ia menatap wajah sang istri yang begitu teduh karena sedang terlelap. Ah dirinya senang sekali melihatnya.
Jujur saja, meski Laila sudah memafkannya, namun rasa sesal di hati Gilang tak menghilang begitu saja. Bahkan, rasa bersalah masih memenuhi relung hatinya. Ia berjanji akan terus berusaha untuk membuat istrinya bahagia. Ia akan menjaga diri dan perasaan istrinya mulai sekarang. Takkan lagi ia berniat menyakiti wanita di hadapannya ini.
Laila terlihat mengerjap-ngerjapkan matanya saat perlahan ia mulai terbangun. Saat kesadarannya mulai terkumpul, Laila tersenyum mendapati wajah suaminya yang tersenyum ke arahnya.
"Hei,, Gimana? Masih ngerasa mual?" Tanya Gilang.
"Enggak." Jawab Laila. "Kita pulang sekarang, mas?!"
Kalimat itu bukan pertanyaan, lebih terdengar seperti permintaan. Gilang tersenyum. Ia lalu membantu sang istri untuk bamgkit dari posisi rebahannya.
"Mas,," Seru Laila membuat Gilang menatapnya.
"Hmm?"
"Perjanjian mas sama Mama,,,," Perkataan yang diucapkan Laila terhenti karena Laila melihat wajah Gilang yang tiba-tiba berubah.
Suaminya kini menatapnya dengan wajah dingin. Laila merasa kesulitan menelan salivanya karena ia takut Gilang akan marah.
"Maksud kamu apa?" Tanya Gilang terdengar menggentarkan di dada Laila. Bukan karena tersentuh oleh ucapan lembut, namun karena suaminya berucap dengan penuh penekanan.
"Kita bahas ini nanti. Sekarang kita pulang." Ucap Gilang.
Laila hanya menurut saja. Ia menyesal karena mulutnya telah nekat mengatakan hal itu. Harusnya ia tak bertanya tadi. Lihat kan, sekarang malah menjadi canggung.
Gilang menutup pintu mobil setelah ia meletakkan Laila yang tadi ia gendong di jok samping kemudi. Lalu ia ikut masuk dan melajukan mobil dengan kecepatan sedang.
Sesampai di rumah, Gilang membantu Laila untuk berjalan. Ia membimbing Laila ke kamar mereka. Laila merasa sikap suaminya ini berlebihan. Toh ia masih kuat berjalan sendiri, tapi Gilang memperlakukannya seakan-akan Laila menderita sakit parah dan sulit berjalan sendiri.
Ia ingin protes dengan perlakuan suaminya ini, namun Laila sadar bahwa sekarang bukan waktu yang tepat. Karena ia takut akan merusak suasana hati suaminya kembali.
"Kamu mau sarapan apa?" Tanya Gilang saat Laila sudah bersandar di ranjang.
Laila tercekat mendengar pertanyaan Gilang. "Hmm?" Lagi Gilang meminta jawaban dari istrinya itu.
__ADS_1
"A,, aku,," Laila terdiam. Ia berpikir ini adalah kali pertama Gilang menanyakan keinginannya. Kebetulan sekali ia tengah menginginkan sesuatu.
"Boleh nggak mas,,, kalau aku mau,,, nasi bakar cumi." Laila benar-benar takut mengutarakan keinginannya.
"Eh,, tapi kalau mas nggak bisa, nggak apa-apa kok." Ucapnya cepat setelah melihat tak ada reaksi apapun dari suaminya.
Gilang hanya menatapnya datar sembari berpikir. Hal itu membuat Laila semakin deg-degan. Ia merapalkan doa dalam hati agar suaminya itu tidak marah. Tiba-tiba Gilang bangkit dan berlalu begitu saja meninggalkan Laila yang bingung dengan sikap suaminya. Matanya memanas.
Bodoh,, apa yang ia harapkan? Berani sekali ia meminta sesuatu, padahal tadi ia sudah membuat suaminya kesal.
Laila mengusap air matanya yang mengalir di pipinya. Ia jadi sering menangis akhir-akhir ini. Mungkin memang karena hormon kehamilannya, sehingga suasana hatinya mudah berubah dan bahkan sampai benar-benar melow seperti ini.
.
.
Setelah sarapan, Bu Anne bersiap untuk ke mengunjungi menantunya. Gilang telah mengabarinya kalau anak dan menantunya itu sudah pulang ke rumah mereka.
Sejujurnya Bu Anne sangat merasa bersalah karena masalah yang terjadi. Jika saja ia berpikir lebih tenang sebelum membawa Laila pergi, mungkin putranya takkan salah paham dan masalah ini tak akan terjadi.
Namun, apa yang bisa ia lakukan sekarang hanya menjadikan pelajaran agar lebih berhati-hati dalam bertindak. Untuk ke depannya ia tak ingin terlalu ikut campur bertindak mengenai pernikahan anak dan menantunya, cukup ia selalu mendampingi Laila dalam keadaan apapun.
"Gilang kemana, ya?" Gumamnya karena tak melihat mobil Gilang disana.
"Apa Gilang ke kantor? Wah, bener-bener tuh anak. Istri masih sakit malah ke kantor. Awas Aja,,,," Gerutuan Bu Anne terhenti begitu saja saat melihat mobil sang anak yang berhenti di depan gerbang.
Mobil itu kemudian memasuki halaman setelah supir yang bersama Bu Anne tadi membantu membukakan gerbang.
"Mama? Mama udah nyampe aja?" Tanya Gilang heran.
"Iya. Kamu darimana?" Tatapan Bu Anne terlihat menyelidik.
Gilang mengangkat tentengannya. "Ini, abis beli nasi bakar. Laila pengen." Jawabnya.
Bu Anne hanya ber-oh ria. Mereka lalu masuk berbarengan.
"Sini, biar mama sajiin buat Laila. Kamu langsung ke kamar aja." Titah Bu anne.
"Makasih ya, Mah." Ucap Gilang yang diangguki oleh sang mama.
__ADS_1
Gilang bergegas menaiki tangga untuk menghampiri sang istri. Saat pintu kamarnya terbuka, Gilang mengernyitkan dahinya karena bingung. Ia bergeges menghampiri sang istri yang tengah menangis.
"Laila,,, kamu kenapa? Ada yang sakit?" Tanya Gilang yang merasa cemas.
Laila dengan cepat menghapus air matanya. Ia menggeleng, kemudian menatap wajah Gilang yang ada di depannya. Ia menyadari sesuatu, jika suaminya datang dengan tangan kosong. Huh, tadinya ia berharap Gilang mau memenuhi keinginannya meski ia ragu.
"Mas,,, maafin aku. Mas jangan marah ya karena aku tadi minta nasi bakar. Aku nggak terlalu pengen kok, mas. Mas Gilang disini aja, jangan pergi!!" Ucap Laila dengan tangisnya yang semakin menjadi.
Gilang merengkuh tubuh istrinya itu ke dalam dekapannya. Sepertinya istrinya ini sangat cengeng sekarang. Buktinya Laila jadi mudah menangis. Gilang berdecak di dalam hatinya. Ia tak suka melihat kesedihan wanita yang dicintainya ini.
Pintu diketuk dari luar membuat keduanya menoleh. Lalu pintu berwarna coklat tersebut terbuka, menampilkan wanita paruh baya membawa nampan.
"Mama?" Gumam Laila dengan suara pelan.
"Gimana keadaan kamu, La? Masih mual?" Tanya Bu Anne. Ia menaruh nampan di nakas.
"Alhamdulillah udah lebih baik, Mah." Jawab Laila. Ia ingin melepas pelukan Gilang, namun suaminya itu tak bergerak sedikitpun membuat Laila merasa malu pada ibu mertuanya.
"Kamu sarapan dulu, ya. Ini ada nasi bakar, kamu pengen ini kan." Tutur ibu mertuanya membuat Laila terpaku menatap sang ibu mertua.
Bu Anne tersenyum melihat ekspresi menantunya yang penuh tanya. "Gilang yang beliin, sayang." Kata Bu Anne mengerti arti tatapan mata sang menantu.
Mendengar pernyataan Bu Anne tersebut Laila beralih menatap sang suami dengan mata yang berkaca-kaca. Ternyata ia telah berpikir berlebihan. Ia telah salah menyangka pada suaminya.
"Makasih, mas." Ucapnya, Gilang tersenyum menanggapi.
"Jangan nangis lagi." Ucap Gilang lembut sembari menghapus air mata di pipi sang istri. "Ayo, sekarang kamu makan." Ucapnya melepas pelukannya.
Melihat interaksi hangat sejoli itu membuat Bu Anne ikut merasa bahagia. Ia lega karena sekarang sikap putra sudah berubah. Bagaimanapun ia mengetahui sikap buruk Gilang pada Laila di awal menikah dan itu membuatnya selalu merasa bersalah.
Namun, sekarang ia berharap Gilang selalu bersikap seperti sekarang pada Laila. Memperlakukan istrinya sebaik mungkin.
.
.
Bersambung...
.
__ADS_1
.