
.
.
"Hai sayang!" Sapa Faizan memasuki kamarnya dan Naya.
"Mas? Kok udah pulang?" Tanya Naya heran. Bagaimana ia tidak heran, sekarang masih siang dan suaminya telah pulang dari kantor.
Faizan tersenyum. Ia lalu menghampiri Naya dan mengecup kening sang istri. Dengan tersenyum Faizan menatap wajah cantik itu hingga membuat Naya mengernyitkam dahinya merasa heran.
"Mas kenapa natap aku begitu?" Cetus Naya bertanya.
Faizan semakin memperlebar senyumnya. Ia merengkuh tubuh kecil sang istri ke pelukannya.
"Makasih, sayang. Makasih." Ucapnya pelan di telinga Naya.
"Makasih? Mas,,, apa nggak bosan mas tiap hari bilang makasih?" Tanya Naya masih dalam pelukan Faizan.
Faizan mengurai pelukan mereka. Ia kembali menatap lekat Naya yang baginya wajah cantik istrinya itu takkan pernah bosan untuk ia pandang.
"Aku nggak akan pernah bosan buat bilang makasih ke kamu, sayang. Karena, memang kata makasih dari aku itu nggak akan pernah cukup untuk membalas kebahagiaan yang udah kamu kasih buat aku." Ucap Faizan dengan tatapan penuh sayang, masih tak berpaling dari menatap Naya. Wanita yang menjadi tambatan hatinya itu.
"Aku sangat bersyukur bisa memiliki kamu sebagai pendamping hidup aku. Kamu adalah takdir terindah yang Allah kasih buat aku. Makasih,, kamu udah melahirkan putri yang cantik untuk kita. Kebahagiaanku sekarang rasanya nggak akan sebanding dengan kata makasih dari aku, Sayang." Lanjut Faizan.
Ia kembali memeluk Naya, namun kali ini benar-benar lama dan erat. Faizan pun nampak memejamkan mata menikmati setiap kehangatan dalam pelukan mereka. Hingga suara rengekan kecil dari arah ranjang membuat keduanya dengan berat hati mengurai pelukannya itu.
"Milla nangis." Ujar Faizan.
Mereka pun bergegas ke arah ranjang menghampiri sang putri kecilnya. Naya dengan telaten menenangkan sang anak. Sementara Faizan memandanginya dengan senyum terukir di wajahnya.
Perasaannya benar-benar bercampur aduk. Antara bahagia, haru dan juga sedih. Bahagia dan haru melihat keindahan di depan matanya. Pemandangan yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya. Dianugerahi istri seperti Naya dan kini mereka telah memiliki seorang putri yang menambah kebahagiaan Faizan.
Sedih juga Faizan rasakan karena kembali teringat akan masa lalu mereka yang menyakitkan. Namun, itu semua akan ia jadikan pelajaran untuk tidak diulangi. Ia tak ingin mengulangi kesalahan dengan menyakiti istrinya lagi. Itu semua akan selalu ia ingat.
__ADS_1
.
.
Bugh... Suara pintu begitu keras saat Gilang membukanya dengan paksa. Seseorang yang tengah duduk di kursi yang sejajar dengan pintu menatap datar padanya. Setelahnya, wajah orang tersebut berubah menjadi meremehkan.
"Gilang Afrianda..." Ujar lelaki tersebut. "Sungguh suatu kehormatan bagi saya, karena anda repot-repot mengunjungi kantor saya."
Gilang memukul meja dengan kuat hingga menciptakan bunyi.
"Nggak usah sok manis. Anda pasti tau kan maksud dan tujuan saya datang kesini?" Gilang tak merespon sapaan hangat lelaki itu, melainkan membalasnya dengan perkataan yang tidak bersahabat.
Lelaki itu mendelik, lalu menunjukkan seringaiannya membuat Gilang naik pitam.
"Lo dengar ya. Jangan dekati istri gue lagi. Lo tau kan, kalau Laila itu istri gue. Harusnya lo jangan berniat jadi perebut istri orang." Gilang berkata dengan penuh penekanan.
"Lo cemburu gue deketin istri lo? Bukannya lo nggak cinta sama Laila?" Ucapnya dengan nada mengejek.
"Gue cinta sama Laila." Sergah Gilang marah. "Lo dengar ya, Delon. Jauhin istri gue. Lo bisa cari perempuan di luar sana, jangan istri gue. Ngerti lo?" Ucap Gilang penuh penekanan.
Sementara itu, Gilang terus berjalan keluar dari kantor Delon. Ia memasuki mobil, dan meluapkan amarahnya disana. Setelah merasa sedikit lega, Gilang mengemudikan mobilnya menuju kediamannya bersama sang istri.
Tepat ketika ia sampai di depan rumah, Laila baru saja turun dari ojek online. Ia melihat saja apa yang dilakukan istrinya itu. Setelahnya Laila nampak berjalan menghampirinya.
Belum sampai Laila di dekatnya, Gilang melajukan kembali mobilmya memasuki halaman, karena gerbang yang telah dibukakan oleh Pak Ajis. Laila terlihat menghela napas.
"Tutup lagi aja, pak!" Ucap Laila pada Pak Ajis yang hanya diam melihatnya.
Laila berjalan melewati Pak Ajis. Ia merasa heran melihat suaminya yang turun dari mobil. Dalam hati ia bertanya-tanya, mengapa Gilang ada disini? Padahal Gilang sudah membawa banyak pakaian untuk menginap di luar kota.
"Mas. Kok mas Gilang disini? Nggak ja,,,"
"Memangnya kenapa kalau saya ada disini? Kamu keberatan karena nggak bisa ketemu sama mantan kamu itu, kalau ada saya disini?" Gilang memotong perkataan Laila membuat wanita itu menahan napas mendengar perkataan sang suami yang terasa menusuk hatinya.
__ADS_1
"Maksud Mas Gilang apa? Aku nggak punya mantan.." Laila berusaha mencerna maksud perkataan suaminya itu. Sementara Gilang sudah melengos memasuki rumah.
"Mas. Mas Gilang!" Sahut Laila berteriak memanggil Gilang. Lelaki itu tak menggubrisnya.
Gilang terus saja berjalan menaiki anak tangga. Sedangkan Laila masih mengejarnya dengan susah payah karena memakai gamis.
Bi Eti yang menyaksikan hal itu hanya bisa menggeleng dan merutuki sikap majikannya itu di dalam hati. Ia merasa iba melihat Laila yang sepertinya diabaikan oleh Gilang.
Bugh... Gilang menutup pintu dengan keras. Laila berhenti di depan pintu kamar mereka dengan berdiri mematung dan memejamkan mata saat benturan itu terjadi. Entah mengapa hatinya menjadi melow sekarang. Ia merasakan jikalau Gilang tengah mengabaikannya. Rasa penat di kakinya karena menaiki anak tangga dengan cepat kini sangat terasa.
Ada apa sih sebenarnya? Kenapa Mas Gilang tiba-tiba datang dan marah-marah kayak gini?
Laila hanya bisa menghela napasnya panjang. Rasanya sesak. Ia lalu membuka pintu dengan pelan dan memasuki kamar.
"Mas!" Panggilnya mendekati Gilang.
"Mas,, sebebarnya Mas Gilang ada masalah apa? Coba cerita, mas!" Kata Laila hati-hati.
Gilang berbalik dan menatap Laila dengan tajam. "Mulai sekarang, kamu nggak boleh pergi kemanapun tanpa izin saya. Dan kalau kamu mau pergi, saya akan antar kamu."
"Loh, kenapa mas? Kok,,," Ingin sekali Laila protes karena keputusan Gilang.
"Udah! Jangan bantah!" Sergahnya kemudian bangun di ranjang.
Laila menatap punggung Gilang yang menghilang di balik pintu kamar mandi. Hatinya masih diliputi kebingungan akan sikap suaminya yang tidak jelas. Bukankah sebelum menikah Gilang seperti tidak peduli dengan kehidupan rumah tangga mereka setelah menikah. Bahkan, Gilang berkata mereka bebas melakukan apapun termasuk bercerai jika ingin. Namun, sikap Gilang sekarang jauh berbeda.
Ada apa sebenarnya dengan suaminya itu? Sikapnya yang dingin namun menekan dirinya, membuat Laila semakin bingung...
.
.
Bersambung....
__ADS_1
.
.