Cinta Dan Benci

Cinta Dan Benci
II - 51


__ADS_3

Faizan mengusap wajahnya kasar. Semua rencananya dan sahabat-sahabatnya malah menjadi kacau.


"Kenapa, Zan?" Tanya Rio yang baru saja menghampirinya. Tadinya Rio mengecek bagian lampu yang membentuk kata Cinta di tempat itu.


"Batal."Ucap Faizan terlihat frustasi.


"Hah?" Rio terkejut mendengar pernyataan sahabatnya itu. "Bercanda lo, ya?" Ucapnya tak percaya.


"Gue serius. Laila nggak tau sekarang ada dimana? Barusan Naya telfon gue, katanya Gilang nanya keberadaan Laila." Jelas Faizan.


Rio berdecak. Ada-ada saja masalah yang datang. "Terus sekarang gimana?" Tanyanya.


"Kita bantu cari Laila. Gue yakin Gilang sekarang lagi panik banget." Faizan dapat membayangkan bagaimana kalutnya Gilang saat ini. Ia yakin Gilang telah mencintai istrinya.


Mereka pun segera bergerak mencari Laila. Awalnya Rio menelfon Mega untuk bertanya apakah ia bertemu Laila hari ini atau tidak. Faizan juga menelfon Lian, mungkin Refina mengetahui keberadaan Laila. Setelahnya mereka menelusuri jalanan mencari keberadaan gadis itu.


"Coba telfon Gilang, Zan. Gue rasa Laila nggak mungkin keluar jam segini." Ujar Rio.


"Oke." Faizan menekan nomor kontak Gilang.


"Halo, lo dimana Lang?"


"Gue abis dari rumah mertua gue, Zan. Laila nggak ada di semua tempat yang gue datangin." Terdengar nada pasrah dari bicaranya.


Faizan merasa prihatin. Ia memberi isyarat gelengan pada Rio yang sedari tadi menoleh berulang kali padanya.


"Gimana dong sekarang? Apa kita balik dulu aja?" Tanya Rio. Ia sejujurnya juga memikirkan Mega. Istrinya itu pasti menunggunya.

__ADS_1


"Mungkin lebih baik begitu." Ucap Faizan setuju.


Rio memutar kemudi kembali ke arah dimana mereka merencanakan makan malam untuk Gilang dan Laila. Faizan pun mengambil mobilnya. Lalu mereka berlalu bersamaan.


Di perjalanan, Faizan merasa risau. Ia pasti akan bertemu dengan istrinya yang sedang cemas saat sampai di rumah nanti. Di sisi lain ia juga memikirkan Gilang. Ia sangat kasihan pada sahabatnya itu. Tapi, sepertinya besok ia akan melanjutkan membantu mencari Laila. Semoga aja gadis itu baik-baik saja.


.


.


Naya berlari menyambut Faizan dengan wajah gelisahnya. Ia tak sabar untuk mendengar kabar tentang Laila. Dan ia harap bukan kabar buruk.


"Gimana, mas?" Serobot Naya langsung.


Faizan menghela napas. Dengan berat ia menggeleng. "Aku janji,, besok aku akan bantu Gilang nyari Laila." tuturnya


"Mas,,,, gimana keadaan Laila sekarang? Aku takut dia kenapa-napa, mas." Ratap Naya dalam tangisnya. Faizan merengkuh tubuh kecil istrinya itu ke dalam dekapannya. Ia sudah menduga hal ini akan terjadi.


"Laila nggak pernah begini, mas. Kalau ada masalah dia pasti cerita sama aku? Nggak mungkin ada yang jahatin dia kan, mas?" Naya masih saja mengeluarkan semua praduganya karena perasaannya yang tak terkontrol.


"Sstt,,, udah, sayang. Jangan mikir yang buruk dulu. Kita berdoa semoga Laila baik-baik aja." Bujuk Faizan menenangkan istrinya.


Sementara itu, Gilang mendatangi kediaman orang tuanya. Ini adalah tindakan terakhirnya setelah mencari sang istri ke berbagai tempat. Saat Gilang turun dari mobil, tiba-tiba Ulfi berlari memasuki gerbang dan menghampirinya dengan wajah tak kalah cemas


"Gimana, kak? Mana kak Laila?" Tanya Ulfi.


Ya, rumah mereka berdekatan, hanya berjarak 1 rumah. Ia tadi berdiri di balkon kamarnya menunggu mobil Gilang lewat. Saat melihat mobil kakak sepupunya itu, Ulfi bergegas turun dan mendatanginya.

__ADS_1


"Belum ketemu, Fi!" Ucap Gilang terlihat putus asa. Ia hanya pasrah sekarang dan menatap aduk sepupunya yang matanya telah berkaca-kaca.


"Kakak nggak lagi berantem kan sama Kak Laila?" Tanyanya menatap Gilang tajam.


"Enggak, Fi. Kita baik-baik aja. Kemaren Laila masih ngerawat kakak karena kakak nggak enak badan. Dan tadu juga dia baik-baik aja." Jelas Gilang.


Ulfi memegang keningnya merasa kalut. Kemana kakak iparnya? Tidak mungkin kan kalau Laila berencana kabur dan berpisah sekaeang dengan kakaknya?


"Apa dia udah nyerah sama sikap kakak?" Gumam Gilang bertanya. Ia menatap lantai halaman dengan pandangan kosong.


Ulfi memandangnya tak percaya. Apa sekarang Gilang menyesali perlakuannya pada Laila selama ini?


"Kakak udah sadar sekarang?" Tanyanya sarkas. "Kalaupun bener kakak nyesel sekarang, kayaknya nggak ada gunanya lagi, kak! Kak Laila pasti udah nggak mau lagi sama kakak."


Ia sengaja berkata seperti itu untuk membuat Gilang semakin merasa bersalah. "Kalau aku di posisi kak Laila, aku nggak akan mau ngejalanin pernikahan kayak gini. Udah bener Kak Laila mau ngebatalin pernikahan waktu itu. Sekalipun Kak Gilang kakak aku, tetap aja aku nggak suka sama apa yang udah kakak lakuin ke Kak Laila." Cerca gadis 19 tahun itu.


Miris sekali nasib Laila. Sebagai bagian dari keluarga Gilang, ia juga merasa malu dan bersalah atas kelakuan Gilang selama pernikahannya bersama Laila.


"Kak,,, nggak ada satu wanita pun yang mau berada dalam keadaan seperti yang kak Laila rasain. Ditinggal pergi berhari-hari setelah menikah. Nggak ada yang mau, kak. Lebih baik nggak punya suami sekalipun, daripada punya suami tapi seperti nggak dianggap." Sambung Ulfi. Ia benar-benar kesal. Tangisnya pecah saat mengingat kembali Laila yang sering termenung sendirian, Laila saat pingsan, Ketika Laila pergi bekerja sendirian dan pulang pun sendiriang.


Sama saja kan keadaannya seperti waktu belum menikah. Tak ada yang berbeda. Gadis itu tetap melakukan semuanya sendiri. Ia jadi berpikir berkali-kali untuk memilih seorang calon imam untuk hidupnya.


"Kak Laila kesepian, kak. Dia nggak sekuat itu. Walau dia adalah orang yang mandiri sebelum menikah, tapi tetap aja dia butuh perhatian dari suaminya setelah menikah. Kak Laila baik banget, dianggak pernah mengeluh kan sama kakak? Dia nggak pernah menuntut waktu kakak buat dia, kan?"


Gilang semakin sesak mendengar penuturan Ulfi. Rasa bersalah kian memenuhi relung hatinya. Ternyata ia adalah suami yang sangat buruk. Selama ini Gilang memang tak menyadari hal itu. Ia hanya meminta orang kepercayaannya untuk memantau aktivitas sang istri di luar rumah. Tapi, di dalam rumah ia tak tahu. Entah apa yang dilakukan Laila.


Kakinya terasa lemah setelah menyadari semua itu. Gilang terduduk di lantai kasar halamannya. Ia meremas rambutnya. Ternyata ia sudah keterlaluan mengabaikan Laila. Ia tidak memberi kabar selama seminggu pada istrinya itu saat berada di Jogja. Dan Laila tak marah, dan ia tetap melayani Gilaang sebagaimana tugas seorang istri.

__ADS_1


Egonya terlalu keras, hingga kemaren ia merasa yang dilakukannya masih di batas wajar. Namun kenyataannya semua sangat menyakiti Laila, hingga membuat istrinya itu mungkin kini benar-benar telah pergi meninggalkannya.


__ADS_2