
Lidya melihat ke kanan dan ke kiri, memastikan siapa orang yang memberikan coklat sebanyak ini kepadanya. Ia merasa agak aneh dengan semua ini, baru saja ia memulai hari baru di sekolah, sudah ada aja yang cari perhatian.
Lidya tak heran, dulu dia sering menjadi incaran, bukan karena paras namun harta orang tuanya. Lidya tak mau di manfaatkan lagi!
"Siapa yang ngasih coklat ini?" ucap Lidya pada dirinya sendiri. Ia masih di selimuti rasa ingin tahu.
"Gue," sura serak basah itu sedikit mengagetkan Lidya, Lidya memalingkan wajah ke sumber suara, mata Lidya membulat sempurna seolah tak percaya orang yang ada di ambang pintu adalah Raka.
Lidya melihat ke kanan dan ke kiri, ia masih tak percaya orang itu Raka, Lidya masih menepis pikiran itu dan mencari lagi.
Mungkin dia salah dengar.
"Lo nyari apa?" tanya Raka yang heran dengan tingkah Lidya yang terbilang aneh baginya.
"Lo ada liat orang di kelas gue?" tanya Lidya tanpa menjawab pertanyaan Raka.
Raka menggeleng pasti. "Gak ada tuh, emang kenapa?" tanya Raka lagi.
"Gue dapet coklat, ada yang kasih gue coklat dan di letakan di laci, tadi ada orang yang ngaku, suara cowok sih," jelas Lidya, seperti orang aneh.
Raka mengernyitkan keningnya heran. "Lo gak sadar?" tanya Raka tak percaya.
"Apa?"
"Gue yang ngasih, gue yang ngaku tadi, di sini gak ada siapa pun selain lo sama gue, lo ini percuma juara tapi masih bego," ucap Raka dengan wajah seriusnya.
Lidya hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Jadi ini semua dari lo?" tanya Lidya lagi.
"Iya, itu buat Ayu," ucap Raka, seperti ada sebuah rasa kecewa yang menjalar, manisnya khayalan Lidya sudah hilang bersama dengan pengakuan Raka.
"Tadi gue bingung mau di taruh di mana, jadi gue asal aja, hehehe maaf ya," ucap Raka cengengesan.
"Emmmh iya," gumam Lidya, apa yang barusan ia pikirkan? Tidak mungkin Raka melakukan ini padanya, konyol! Apa yang ia pikirkan itu tidak akan pernah terjadi, cintanya pada Raka hanya akan menjadi rasa cinta yang bertepuk sebelah tangan saja.
Lidya tersenyum miris meratapi kebodohannya.
"Ini semua coklat dari cewek-cewek yang suka sama gue," jelas Raka membuka suara. Kondisi sekolah masih sepi. Mereka datang terlalu cepat, ini masih pukul 06:00.
"Terus?" ucap Lidya datar Lidya tak mau Raka tau jika Lidya suka padanya.
"Ya gue gak mau, makanya gue kasih ke Ayu, dia pasti suka," ucap Raka seadanya, tak heran Raka dan Ayu adalah sepupu, Raka anak tunggal, dan ia sudah sangat akrab dengan Ayu seperti saudara kandung.
"Kenapa gak lo ambil aja? kasian orang yang udah kasih semua coklat ini ke lo."
"Gue gak mau aja," jelas Raka datar. Raka memang merasa begitu, ia tidak terlalu memikirkan percintaan.
__ADS_1
"Hai semua!" suara yang melengking membuat Raka dan Lidya sedikit kesal. Itu adalah Ayu ia berdiri du ambang pintu, Lidya berpikir pasti Ayu akan heran dengan ini semua dan terus bertanya padanya.
Ini sangat menyebalkan, Lidya sangat tidak suka jika Ayu terus bertanya bagaikan seorang wartawan.
"Ada apa dengan cinta," ucap Ayu dengan gaya seperti aktor lebay super duper lebay.
"Gak papa, tuh ada coklat buat lo," ucap Raka menunjuk semua coklat yang sudah di bereskan Oleh Lidya.
"Yeeey!" seru Ayu ia meloncat kegirangan. "Tumben lo baik," ucap Ayu meledek Raka.
"Kapan sih gue itu jahat sama lo!"
"Sering!"
"Awas aja lo, gue ambil balik tuh semua coklat!" ancam Raka.
"Gak gak udah pergi sana," usir Ayu.
"Lo ngusir gue nih?"
"Iya! Udah sana pergi," ucap Ayu mendorong tubuh Raka.
Raka pun mengalah dan berjalan pergi dari ambang pintu.
Ya. Sedari tadi Raka terus berdiri di ambang pintu.
"Lo mau coklatnya'kan Lid?" tanya Ayu.
"Iya lah," jawab Lidya girang.
"Ehh apa aja yang Raka bilang tadi? Dia gak ngomongin gue 'kan?" tanya Ayu lagi.
"Woy!"
Suara itu mengagetkan Ayu dan Lidya.
"Lid," ucap Raka, ia melemparkan sesuatu dengan cepat, dan Lidya langsung berusaha menangkap walau sedikit hampir meleset.
Boneka panda? Lidya mengernyitkan keningnya tak paham dengan Raka. Lidya menatap Raka memberi tatapan mengisyaratkan agar Raka me jelaskan semua ini.
"Itu boneka panda buat lo," ucap Raka. Lalu ia pergi.
"Woy untuk gue!" ucap Ayu setengah berteriak karena jarak mereka cukup jauh.
Raka kembali berdiri di ambang pintu. "Lo mau boneka?" tanta Raka serius.
"Ya maulah," jawab Ayu bersemangat.
__ADS_1
"Ntar ya... Gue cariin boneka anabel, katanya sih lagi syuting dia," ucap Raka dengan wajah tak berdosa.
"Enak aja lo, emang gue apaan ngoleksi boneka kayak giyu!" ucap Ayu kesal.
"Ya katanya lo mau boneka."
"Ya jangan anabel juga!"
"Ya mana tau, ibunya anabel pengen ketemu sama anaknya ya 'kan?" ledek Raka membuat Ayu semakin geram.
"Gur timpuk juga lo ya!" bentak Ayu kesal.
Raka langsung menghilang dan pergi lagi.
Lidya tertawa puas melihat dua orang ini bertengkar. Entah mengapa, hanya saja Lidya merasa ekspresi wajah Ayu sangat lucu waktu bertengkar tadi.
"Ketawa!" bentak Ayu, ia merasa kesal juga akhirnya.
"Ya maaf namanya lucu," ucap Lidya dengan wajah sedih.
"Lo mau coklatnya 'kan?" tanya Ayu lagi.
"Iya mau."
"Nih," Ayu menyerah sebatang coklat dengan bungkus merah maron.
"Kok cuma satu?" tanya Lidya memelas.
"Lo itu anak orang kaya, bokap lo termasuk 5 orang paling kaya, masa gak mampu beli coklat," ucap Ayu.
"Yah... Gak adil, lo juga keturunan Wijaya, keluarga konglomerat yang termasuk 5 orang paling kaya juga, kekayaan kalian turun temurun, masak gak tega liat orang lain ditindak gak adil?"
"Suka suka gue, ini coklat gue."
Lidya merasa sangat kesal, Ayu ini sahabat atau musuhnya? Ayu selalu membuat Lidya kesal.
"Yaudah ini buat lo," Ayu memberikan beberapa coklat lagi. Senyuman tulus terukir di wajah manisnya.
Ayu menatap boneka panda yang di berikan Raka barusan.
Panda itu memegang bantal berbentuk hati, yang bertulus'I love You'. Bo Raka berukuran 25 cm itu tampak sangata imut.
Ayu menatap Lidya, Ayu tersenyum melihat sahabatnya, Ayu merasa Raka juga mencintainya sekarang. Hanya saja Lidya belum sadar.
Ya, Lidya terlaly sibuk dengan hatinya.
"Lid, kapan lo bakalan sadar sama semua ini?" batin Ayu.
__ADS_1
Cinta adalah hal yang tak mudah dimengerti oleh sembarang orang.