Cinta Dan Benci

Cinta Dan Benci
II - 52


__ADS_3

Laila merasakan hembusan napas lembut menerpa wajahnya. Matanya masih enggan untuk terbuka. Sebuah elusan juga ia rasakan di pipinya, membuat Laila semakin malas untuk bangkit dari balik selimut tebal itu.


Semakin lama, semakin terasa jelas tangan lembut itu dipipinya. Dan sekarang sebuah kecupan membuat Laila tersenyum. Ia membuka matanya. Yang pertama menyapa penglihatannya adalah wajah tampan suaminya.


"Mas,,, Mas Gilang ada disini?" Tanyanya dengan wajah berbinar.


"Iya, sayang. Aku disini." Kata Gilang lembut. "Nyenyak banget ya tidurnya? Sampai susah bangun begini."


"Iya, rasanya baru kali ini aku ngerasain tidur nyaman banget. Dipeluk sama kamu." Curah Laila.


Gilang tersenyum mendengar ungkapan Laila tersebut. "Kamu makin gembul ya sekarang." Gilang mengelus pipi Laila lagi.


"Maksud mas, aku gendut sekarang?" Laila tak terima dikatakan seperti itu oleh Gilang. Ia merasa sekarang dirinya gemuk.


"Bukan, sayang. Pipinya aja. Makin gemes aku."


"Ya kan karena aku hamil, mas." Ucap Laila. Gilang tersenyum senang mendengar perkataan istrinya. Ia lalu mengusap perut Laila.


"Ya udah. Sekarang kamu tidur lagi, ya. Masih lama paginya." Kata Gilang dan mengecup kening Laila dengan sayang.


Tiba-tiba Laila menyadari sesuatu. Ia membuka matanya kembali. Yang ia lihat adalah langit-langit kamar yang temaram. Napasnya tercekat menyadari ternyata ia tadi hanya bermimpi. Ia meraba ranjang di sisinya, entah sebab apa. Laila seperti orang linglung.


Ia melihat jendela, masih gelap. Belum ada pancaran sinar matahari dari luar. Matanya beralih menatap jam di dinding, masih pukul 4 pagi. Rasa sedih menyerangnya.


Terbangun dari mimpi buruk mungkin akan membuat kita merasa aneh dan mungkin takut. Namun, terbangun dari mimpi indah yang belum pernah terjadi dan sebenarnya sangat ingin dirasakan, lebih menyesakkan.


Laila merasakannya. Sangat menyedihkan. Ia termenung mengingat semua kilasan tentang mimpi itu. Sangat jelas wajah suaminya yang menatapnya dengan penuh cinta. Ia merindukan lelaki itu. Sangat merindukannya.


"Yaa Allah.. Aku sangat merindukan suamiku. Aku mohon yaa Allah,, utuhkan rumah tanggaku. Satukan kami. Jangan pisahkan kami yaa Rabb." Lirihnya berdoa sembari memegang perutnya yang masih rata.


Laila memutuskan untuk pergi ke kamar mandi guna membersihkan tubuhnya. Ia akan bermunajad kepada Sang Pencipta. Melakukan ibadah sebagai kewajiban umat islam, mencurahkan segala isi hatinya.


Entah berapa lama ia harus menjalanan keadaan seperti ini? Apakah ia sanggup menunggu suaminya menyadari arti pernikahannya? Rasanya sungguh berat.

__ADS_1


Huh,, ditengah kegalauannya ini Laila jadi teringat pada Ayah dan Bundanya. Sudah lama rasanya ia tak menjadikan kedua malaikatnya itu sebagai sandarannya. Laila ingin sekali memeluknya sang ibu saat ini tempat ternyaman bagi dirinya. Tak terasa air mata Laila turun membasahi pipinya. Di atas sajadah itu ia benar-benar menumpahkan segala perasaan yang menyerangnya saat ini.


Hanya kepada Allah lah tempatnya bercurah saat ini.


.


.


.


.


Gilang terbangun dari tidur singkatnya. Ya, ia baru tidur sekitar 1 jam yang lalu. Dan kini ia terbangun ketika waktu menunjukkan pukul 4 pagi. Ia tertidur setelah hampir sepanjang malam tak bisa tenang memikirkan istrinya yang entah dimana. Kala ia membuka mata, posisinya masih sama, bersandar di kursi kerjanya.


Gilang kembali teringat dengan semua curahan hati adik sepupunya. Sungguh semua yang dikatakan oleh Ulfi membuat hatinya seperti tersayat-sayat. Perih.


Ia melihat jam di dinding, jarum pendek itu menunjuk angka 5 dan jarum panjangnya di angka 4. Hampir setengah 6. Ia harus segera bersiap, jika tidak makan shalat subuhnya akan terlewat.


Setelah bersiap, Gilang segera shalat. Menunaikan kewajibannya beribadah ada yang maha Esa. Selepas ibdah 2 rakaat itu, ia berdoa. Meminta petunjuk pada sang Pencipta agar diberikan titik terang dari semua kegelisahannya ini. Ia menyesali semua perbuatannya yang sangat buruk pada istrinya.


"Kamu dimana sekarang, La?" Ucap Gilang. Resah? Sangat. Entah bagaimana keadaan istrinya itu sekarang? Apakah Laila baik-baik saja? Apakah ia bisa tidur nyenyak semalam? Dan apa ia bisa makan pagi ini? Itulah segelintir pertanyaan yang memenuhi pikiran Gilang saat ini.


Setiba di kantor, Gilang kembali menghubungi Laila. Ia tak henti-hentinya mendial nomor kontak sang istri, berharap akan ada jawaban. Namun, sayang. Hasilnya masih sama. Panggilannya tak dijawab.


Gilang menggenggam erat ponsel di tangannya. Sedetik kemudian sebuaah panggilan masuk mengalihkan kekesalannya.


"Ya, Zan?"


"Gimana, Lang? Udah ada kabar dari Laila?" Tanya Faizan.


Gilang mendesah lelah. "Belum. Barusan gue masih telfon dia, tapi nggak ada jawaban."


"Lo yang sabar, ya. Gue, Rio dan Lian bakal bantu cari."

__ADS_1


"Thanks, Zan. Makasih udah mau bantuin gue."


"Sama-sama, bro."


Gilang mendudukkan dirinya di kursi kebesarannya. Ia menyandarkan punggungnya disana. Entah harus bagaimana lagi ia akan menemukan istrinya.


.


.


Laila membekap mulutnya saat sesuatu yang terasa mendesak ingin keluar melewati kerongkongannya. Dengan cepat Laila berlari menuju wastefel terdekat. Jadilah ia benar-benar memuntahkan isi perutnya.


Tadinya Laila tengah sarapan sendirian di meja makan. Ia memasak sarapan untuk dirinya meski sebenarnya ia merasa pusing dan mual saat bangun tadi pagi. Kini ia menunduk di depan wastafel sembari menahan hijab instannya agar tak terkena muntahan.


Huek,,, huek,,,,, Laila benar-benar menahan perutnya yang masih memberontak ingin mengeluarkan isinya, tetapi yang keluar sedari tadi hanya cairan being, membuatnya merasa lemas.


Dengan napas tersengal Laila kini terduduk di lantai setelah mencuci mulutnya. Ia berusaha mengatur napas. Perlaham air matanya menetes. Ia merasa sedih karena harus melewatkan ini semua sendirian, tak ada suamunya di sisinya yang sejatinya sangat ia butuhkan saat ini.


"Nak,,, apa kamu ingin dekat sama papa? Maafin mama karena kita harus terpisah sama papa kamu, ya?!" Ucapnya mengajak sang calon bayinya berbicara. Nalurinya yang membawanya dengan refleks mengajak janinnya berinteraksi. Mungkin karena ia terlalu merindukan Gilang.


"Yaa Allah,, kenapa apa yang aku alami serupa dengan apa yang dulu terjadi sama Mbak Naya?" Rintih Laila dalam tangisnya. Ia seperti kembali mengulang masa dimana Naya dulu juga harus menjalani morning sickness nya sendirian tanpa diketahui Faizan. Dan Laila saat itu mendampinginya dengan sabar.


Laila masih ingat bagaimana sulitnya Naya dulu. Dan kini ia kembali merasakan kesakitan sahabat yang sudah seperti saudaranya itu.


"Jadi ini yang Mbak Naya rasain dulu?" Gumam Laila masih terduduk di lantai. Air matanya semakin deras mengalir setelah mengingat semua itu. Huh,, Ingin sekali ia menelepon suaminya sekarang, setidaknya hanya untuk mendengar suara lelaki itu.


Namun itu semua tak mungkin, karena ia tak hafal nomor ponsel suaminya.


.


.


Bersambung.....

__ADS_1


.


.


__ADS_2