
Selama 4 jam berdiam di kamar, membuat Laila merasa bosan. Gilang yang tadi memintanya untuk tetap di dekatnya, terus saja menggenggam tangan Laila. Entah karena apa, Laila pun tak mengerti dengan sikap suaminya yang terlihat manja.
Bahkan, saat ini Gilang masih terpejam dan ia tak melepas tangan sang istri sedetik pun. Sebenarnya Laila merasa tak enak hati dengan ibu mertuanya yang terpaksa sarapan sendiri karena permintaan suaminya yang aneh. Namun, ibu mertuanya memaklumi dan membiarkan Laila menemani Gilang.
Laila menatap wajah Gilang yang terlelap. Sungguh tenang. Ia sangat jarang melihat wajah teduh suaminya. Berbeda saat suaminya itu terbangun, yang ia lihat hanya wajah dingin dan cuek. Sekarang begitu tenang.
Satu hal lain yang juga kini tengah Laila pikirkan, apa benar mualnya Gilang tadi pagi karena kehamilannya. Jika benar, ada kemungkinan Gilang memang sudah ada rasa terhadap dirinya. Oh, Laila sungguh senang membayangkannya.
"Hmmm,,," Gilang menggeliat dalam tidurnya. Perlahan lelaki itu membuka mata dan menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya.
Gilang menyadari jika ia menggenggam tangan seseorang. Gilang menaikkan penglihatannya dan mendapati istri cantiknya tengah menatap dirinya dengan wajah yang menurut Gilang sangat menggemaskan.
"Kamu masih disini?" Tanya Gilang dengan suara serak.
Laila hanya mengangguk. Andai ia berani mengungkapkan, mungkin Laila sudah mengeluarkan semua kata hatinya. Mengatakan bahwa ia kesal dan marah karena sedari tadi Gilang membuatnya merasa bosan. Ia harus berdiam diri disini karena tangannya tak dilepaskan oleh sang suami barang sejenak.
Bukan karena dirinya tak senang berada di dekat suaminya ini dalama waktu lama. Hanya saja, semua membosankan karena Gilang hanya tidur dan Laila hanya bisa terdiam.
Gilang bangkit dari rebahannya lalu bersandar pada kepala ranjang.
"Makasih,,," Ucap Gilang terdengar canggung bagi Laila.
"Buat,,, apa?" Tanya Laila.
"Ya,, kamu udah nemenin aku. Udah nyiapin makanan, udah mau urus aku." Jelas Gilang. Laila mengangguk.
"Mama udah pergi?" Tanya Gilang.
"Udah." Jawab Laila singkat yang juga diangguki oleh Gilang. Setelahnya suasana terasa semakin canggung. Mereka hanya diam. Lama,,, berlangsung hingga beberapa menit.
Hingga tiba-tiba Gilang kembali bersuara. "La,,," Ucapnya. Namun ia kembali diam untuk beberapa saat.
"Kenapa, mas?" Jawab Laila dengan nada suara yang sangat tenang dan lembut. Gilang menatapnya.
__ADS_1
"Aku,,,,"
Drrtttt,,,, drrrrtttt,,, drrrrrttt,,, Ponsel Laila tiba-tiba berdering. Gilang awalmya merasa tercekat di tenggorokannya, dan kemudian bernapas lega saat Laila langsung mengangkat teleponnya.
"Iya, waalaikumussalam, mbak. ........... Oh, aku lagi di rumah kok, mbak. Nggak kemana-mana."
Gilang sedikit penasaran dengan siapa yang menelepon. Apa mungkin Naya?
"Oh, nanti aku hubungin karyawan di kafe ya, mbak. Biar nanti mereka sediain tempat yang pas. Beberapa menit lagi aku kabarin mbak, ya. " Kata Laila yang kemudian meletakkan ponselnya setelah tadi berucap salam.
"Siapa?" Tanya Gilang. Jujur ia sangat penasaran. Di dalam hatinya ada rasa was-was jika yang menelepon adalah Naya yang meminta Laila untuk ke kafetaria. Jika iya, apa mungkin Faizan belum mengatakan permintaannya pada Naya.
"Ini ada pelanggan, mau booking tempat di Kafetaria. Katanya mau ada acara makan malam gitu." Jawab Laila jujur.
Gilang hanya membulatkan bibirnya membentuk huruf O. Namun, diam-diam ia mendapat ide dari apa yang dikatakan istrinya itu. Makan malam,,, mungkin ide yang bagus. Gilang kan belum pernah melakukan sesuatu yang romantis untuk sang istri.
Diam-diam Gilang mengembangkan senyum di wajahnya, mengabaikan Laila yang sedang menelepon. Ide yang bagus, pikirnya. Semoga dengan rencananya ini dapat membuat hubungan mereka benar-benar membaik.
.
.
"Pah,,, Papa harus tau sesuatu." Ujar Bu Anne antusias.
"Apa, mah?" Tanya Pak Farhan santai. Ia sebenarnya merasa jengkel dengan kebiasaan sang istri yang urakan seperti itu.
"Pa, mama rasa Laila sekarang hamil. Soalnya, Gilang tuh aneh banget." Kata Bu Anne yang sangat antusias menceritakan.
Pak Farhan yang tadinya bersikap cuek, kini malah tertarik mendengar cerita sang istri.
"Kenapa mama seyakin itu?" Tanya Pak Farhan menatap lekat pada manik mata istrinya yang berada sangat dekat dengannya saat ini.
"Tadi pagi waktu papa antar mama, ternyata Gilang muntah-muntah, pah. Kenapa coba, kalau memang bukan karena Laila hamil. Dulu Papa juga begitu, kan?" Cerita Bu Anne.
__ADS_1
Pak Farhan termenung mendengar cerita sang istri. Apa benar begitu? Jika memang, ia akan sangat senang. Itu berarti ia akan segera memiliki cucu. Oh, semoga saja semua yang dikatakan istrinya benar.
"Pah,, kok papa jadi bengong, sih. Hah,,, Mama mau pergi aja. Mama mau beli susu sama cemilan pesenan Mami." Katanya. Bu anne lalu meraih tangan Pak Farhan dan menciumnya. Lalu ia pergi setelah mengucap salam.
Pak Farhan masih memikirkan semua dugaan mengenai kehamilan sang menantu. Menantu satu-satunya dalam keluarga kecilnya. Karena Gilang adalah anak tunggal. Ia tersenyum. Merasa geli sendiri mengingat kepribadian sang putra.
Sikapnya selalu menunjukkan ketidakpedulian pada Laila. Namun, tetap saja mengambil keuntungan dari pernikahan mereka hingga menghasilkan calon keturunan penerus keluaga mereka. Pak Farhan tersenyum sembari menggeleng-gelengkan kepala.
Seketika Pak Farhan teringat sesuatu. Ia pun menghubungi seseorang.
"Halo,,, mulai sekarang kamu pantau semua gerak gerik menantu saya. Tapi jangan sampai ada yang tau." Perintahnya pada seseorang di seberang telepon.
"Semoga saja memang benar. Dengan begitu, tak ada alasan untuk mereka berpisah." Gumam Pak Farhan dengan gurat bahagia di wajahnya.
Sementara Bu Anne, setelah beberapa menit ia pergi, kini wanita berusia kepala 5 itu tengah berada di salah satu super marker besar ibukota. Ia memilih barang-barang yang tadinya dipesan oleh sang ibu mertua sebagai persediaan kebutuhannya.
Setelah cukup dan lengkap, Bu Anne pun membayarnya di kasir. Saat hendak pergi dari pasar modern itu, tak sengaja ia bersenggolan dengan seorang gadis muda. Bu Anne pun refleks meminta maaf. Alangkah terkejutnya ia saat mendapati ternyata wanita itu adalah mantan kekasih anaknya.
"Kamu?" Ucap Bu Anne dengan wajah yang menunjukkan keterkejutan bercampur kesal.
"Tante?? Tante apa kabar?" Ucapnya. Sepertinya gadis ini tengah beraksi mencari perhatiannya. Bagaimana tidak? Sikapnya jauh berbeda dari sebelumnya yang terbilang arogan dan penuh gengsi.
"Baik." jawab Bu Anne singkat.
"Wah, udah lama ya kita nggak ketemu. Gilang apa kabar, tante?" Tanyanya.
Bu Anne menautkan alisnya menatap sang wanita berpakaian ketat itu. Mustahil jika Kalista tak mengetahui kabar pernikahan Gilang. Bukankah agensi tempatnya bekerja memiliki hubungan kerjasama dengan perusahaan Gilang.
Ya, Gilang memang bekerja di perusahaan sang Papa sebagai Wakil Direktur. Namun, ia juga memiliki perusahaan sendiri di bidang fotografi dan modeling. Karena itulah ia bisa mengenal Kalista yang merupakan seorang model.
.
.
__ADS_1