Cinta Dan Benci

Cinta Dan Benci
II - 66


__ADS_3

Seorang lelaki bertubuh tegap menatap geram ke luar jendela kamarnya. Ia mengepal tangannya kuat dengan wajah menahan geram.


Baru saja ia selesai bertelepon dengan orang suruhannya. Hal itulah yang membuatnya merasa marah. Info mengenai orang yang telah meneror adiknya, membuat Hanif naik pitam.


Kini ia sudah bertekad untuk memberikan pelajaran untuk orang tersebut, yang ia belum tahu pasti wujudnya seperti apa.


"Kalista Nowela." Gumamnya menyebut nama wanita yang telah meneror Laila.


"Siapa kamu itu nggak penting. Tapi, karena kamu sudah berani mengganggu keluargaku, itu berarti kamu membangunkan sisi iblisku."


Hanif tersenyum smirk. Ia sudah menyiapkan sebuah rencana untuk mencegah sekaligus membalas niat jahat wanita misterius itu. Meskipun ia belun mengenal siapa Kalista Nowela, ia tak peduli. Yang pasti ia marah karena gadis itu telah berani mengganggu adiknya.


Hanif kembali menghubungi orang suruhannya. Dengan wajah yang tak berubah raut sedikitpun, Hanif berbicara.


"Atur pertemuan dengan wanita itu." Titahnya.


Setelahnya Hanif menutup panggilan dan keluar dari kamar menghampiri kedua orang tuanya di ruang keluarga.


.


.


Laila tak hentinya tersenyum selama di perjalanan. Ia terus menggandeng lengan Gilang. Sang empunya tak merasa keberatan, melainkan juga mempernyaman posisi sang istri yang terlihat sangat bahagia.


Ditengah rasa bahagianya itu, Gilang kembali teringat dengan kotak misteriusn yang dibawa Hanif. Ia juga penasaran, siapa orang yang telah meneror istrinya. Setahunya selama ini Laila tak pernah ada masalah dengan siapa pun, Kecuali teman-teman SMA istrinya itu.


Namun, ia rasa mereka tak mungkin pelakunya. Jika memang, apa motifnya?


"Mas,, Kenapa mukanya tegang gitu?" Tanya Laila yang menyadari perubahan sikap Gilang.


"Hmm?? Enggak apa-apa. Cuma kepikiran kerjaan aja." Jawab Gilang.


Laila menatap wajah suaminya itu dengan lekat. Memastikan benarkah yang dipikirkan Gilang. Gilang tersenyum melihat ekspresi lucu istrinya. Ia pun mengecup puncak hidung Laila membuat sang istri tersentak.


"Kamu lucu banget mukanya. Kenapa natap aku begitu?" Kata Gilang mengusap puncak kepala Laila.


"Lagian, mas aneh banget. Tiba-tiba jadi murung kayak tadi. Kan aku penasaran." Akunya dengan polosnya.


Gilang menghela napas berat. Ia akan meyakinkan sang istri agar Laila tak ikut memikirkan apa yang terjadi sebenarnya.


"Aku beneran lagi ingat kerjaan, sayang. Mendingan kamu nikmati perjalan kita. Ini perjalanan jauh pertama kita berdua, kan?" Gilang merengkuh bahu Laila.


Laila mengangguk. "Aku senang, mas. Senang banget." Ucapnya menatap Gilang. Wajahnya mereka berjarak sangat dekat.


"Maafin aku, ya. Banyak hal yang bikin kamu kecewa diawal pernikahan kita." Ucap Gilang dengan wajah penuh penyesalan.

__ADS_1


Laila hanya membalasanya dengan senyum yang begitu tulus.


Saat sampai di Jogja, Gilang langsung membawa Laila ke Villa. Setelahnya ia langsung bersiap menuju ke restoran.


Laila tengah menatap pantulan dirinya di cermin kala Gilang keluarga dari kamar mandi.


"Kamu udah siap?" Tanya Gilang mendekati istrinya yang terlihat kebingungan tersebut.


"Aku malu, mas. Rasanya kurang pantas aja kalau aku ikut sama mas ketemu klien." Murahnya dengan wajah sendu.


"Sayang. Kamu itu pantas kok ada di setiap acara aku. Mau aku ketemu klien, meeting di kantor atau pun ada acara pesta,, kamu nggak bikin malu sama sekali. Aku malahan senang kalau kamu mau mendampingi aku." Gilang berusaha meyakinkan Laila.


Laila menatap lekat mata suaminya itu yang tak terdapat kebohongan di dalamnya. Yang ia lihat adalah ketulusan.


"Jangan merasa rendah lagi, ya." Ucapnya diakhiri dengan kecupan di kening sang istri, membuat Laila seketika terkejut namun berusaha menyembunyikan keterkejutannya.


"Sekarang kita berangkat!" Gilang menggenggam tangan Laila.


Sesampai Di restoran yang mereka tuju, Gilang mencari posisi meja yang telah di booking oleh Romi. Masih kosong, dan Gilang pun membawa Laila untuk menempatinya.


Tak masalah baginya jika harus menunggu klien datang. Tak berapa lama Romi datang beriringan dengan klien yang ditunggu Gilang.


"Selamat datang Pak Johan!" Sapa Gilang menyambutnya.


"Terima Kasih Pak Gilang, maaf saya terlambat." Katanya yang fokus menatap Gilang dan Romi.


"Kak,, Johan?" Ucap Laila sembari berpikir.


"Aila? Kamu Aila, kan?" Tanya Johan terlihat terkejut.


"Kalian sudah saling kenal? Ini istri saya Pak Johan." Gilang menyahut.


"Kenal, mas. Kak Johan kakak tingkat aku waktu kuliah." Jawab Laila seadanya. "Apa kabar, kak?" Tanya Laila terlihat biasa saja tanpa beban.


"Baik." Johan menjawab datar.


Gilang terdiam memikirkan sesuatu. Ia merasa janggal dengan panggilan Johan untuk istrinya. Lelaki itu memanggil Laila dengan sebutan Aila.


Apa mungkin pernah ada sesuatu diantara mereka? Pikir Gilang. Namun, ia tak mau rumit memikirkan hal itu. Ia lebih memilih fokus pasa meeting mereka.


"Baik, kita mulai saja meetingnya. " Gilang memulai.


Selama meeting berlangsung, Gilang menjelaskan topik pembahasan mereka. Namun, ia menyadari bahwa sepertinya Johan tidak fokus. Karena sedari tadi lelaki itu sering melirik istrinya, dan kemudian melamun.


Wajahnya pun terlihat tegang dan tak bersemangat. Ia memilih untuk mengakhiri meeting, karena mengerti suasana hati Johan kurang baik.

__ADS_1


Benar saja, Johan langsung pamit setelah Gilang mengakhirinya. Kini tinggal dirinya dan sang istri.


"Kamu dulu dekat banget sama Pak Johan?" Tanya Gilang pada Laila.


"Mm,," Laila terlihat berpikir, mencoba mengingat-ingat masa Kuliahnya beberapa tahun yang lalu.


"Kalau deket banget, enggak sih, mas. Memangnya kenapa?" Ucap Laila enteng. Ia tetap asik dengan makanannya.


Melihat hal itu, Gilang yakin bahwa istrinya tak menganggap Johan sebagai orang spesial. Ia cukup lega. Namun, tidak dengan Johan. Lelaki itu bersikap aneh setelah bertemu dengan istrinya. Berbeda saat sebelum-sebelumnya.


"Sayang." Panggil Gilang lembut.


"Hmm?" Laila menjawab dengan deheman karena ia tengah mengunyah.


"Kalau misalnya Pak Johan ternyata suka sama kamu, gimana?" Tanyanya menatap intens Laila.


Wanita hamil itu menghentikan kunyahannya dan balas menatap sang suami.


"Gini deh. Kalau misalnya dulu Pak Johan itu pernah punya perasaan buat kamu. Kamu akan menerima dia atau enggak?"


"Kenapa mas nanyanya gitu? Ihh,, aneh deh." Laila membuat ekspresi seperti kegelian.


Gilang mamasang wajah malas. "Aku serius, loh." Ucapnya.


Laila menghela napas berat. "Jawabannya aku nggak tau." Jawabnya dengan enteng lagi.


"Kok nggak tau, sih?" Seru Gilang yang tidak puas dengan jawaban sang istri.


"Ya aku nggak tau lah, mas. Kan itu nggak pernah terjadi. Aku tuh nggak mau berandai-andai sama sesuatu yang nggak terjadi." Jelasnya lagi. Kemudian Laila kembali melanjutkan makannya.


Gilang hanya mengerjap-ngerjapkan matanya melihat sikap cuek istrinya saat ini. Laila tetap santai dan makan dengan tenang setelah Gilang melontarkan pertanyaan yang mungkin bagi sebagian orang bersifat sensitif. Karena tentu bisa memicu pertengkaran.


Namun, ia juga sedikit lega mendengar jawaban istrinya itu. Karena dengan begitu, membuktikan bahwa istrinya memang tak memiliki perasaan apapun pada lelaki itu.


"Makan yang banyak! Mau tambah lagi??" Katanya sembari meletakkan telapak tangannya di bahu sang istri.


Laila tiba-tiba menatapnya sinis. "Mas sengaja ya nyuruh aku makan banyak, biar badanku jadi melar. Terus abis itu mas balikan sama mantan mas yang model itu." Tuduhnya.


Gilang balik menatap sinis dan kemudian memutar bola matanya malas. Sepertinya hormon kehamilan istrinya sudah mulai bekerja kembali.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


.


.


__ADS_2