Cinta Dan Benci

Cinta Dan Benci
II - 60


__ADS_3

.


.


Laila menerima sendok terakhir yang berisi nasi bakar yang ia inginkan tadi. Senyum merekah itu tak lepas dari bibir Gilang kala ia menyuapi sang istri. Ada rasa bahagia saat ia memperlakukan istrinya seperti sekarang. Memberi perhatian dan selalu ada saat Laila membutuhkannya.


Setelah selesai, Gilang meletakkan piring di nakas. Lalu ia memberikan minum pada sang istri.


Sekarang tidur, ya!" Ucap Gilang membuat Laila menatapnya.


Tidur? Sekarang? Laila melirik jam dinding yang menunjukkan pukul setengah 9 pagi. Yang benar saja? Mana mungkin ia akan tidur di jam sekarang.


Gilang berlebihan memperlakukannya. Ia sudah merasa sehat dan baik-baik saja. Tapi suaminya ini memperlakukannya seakan dirinya terserang penyakit berat. Seperti halnya untuk makan tadi. Gilang bersikeras ingin menyuapinya. Padahal Laila sanggup untuk makan sendiri.


Dan sekarang suaminya menyuruhnya tidur? Matanya bahkan tidak mengantuk sama sekali.


"Masih pagi loh, mas. Rebahan aja boleh, kan?" Tanyanya


Gilang mengangkat sebelah alisnya. Ia paham, istrinya tidak nyaman dengan sikapnya sekarang. Tapi, ia melakukan semua ini untuk kebaikan istrinya juga.


"Boleh. Yang penting kamu nggak melakukan sesuatu yang terlalu banyak gerak." Jawab Gilang.


Laila tak dapat berkomentar apa-apa lagi. Apa sikap Gilang ini sudah termasuk posesif? Tidak banyak bergerak, tentu saja ia tidak nyaman jika hanya berbaring disini.


"Aku keluar sebentar. Kamu istirahat, jangan kemana-mana." Ucap Gilang yang kemudian berlalu membawa piring kotor.


Saat hampir sampai di pintu, Gilang menghentikan gerakannya dan berbalik. "Oh, iya. Kamu nggak usah ke Kafetaria lagi, ya." Gilang tersenyum penuh arti dan segera berlalu. Laila terpaku mendengar perkataan suaminya.


Apa barusan suaminya memintanya berhenti bekerja? Ya ampun, apa sekarang ia benar-benar akan berhenti dari pekerjaannya? Laila memegang keningnya dan memejamkan mata. Perlakuan Gilang kali ini malah membuatnya pusing.


Laila mendengar dering ponsel miliknya di meja nakas. Ia terkejut saat mendapati ponselnya ada disana. Maksudnya ponsel yang biasa ia pakai. Ia pun tersenyum dan segera mengangkat panggilan masuk tersebut.


"Mbak Naya." Gumamnya dengan senyuman menghiasi bibirnya kala membaca pemilik nama yang menelepon.


"Halo, mbak." Ucapnya.


"Halo, La. Kamu nggak kenapa-napa, kan? Kamu baik-baik aja?? Kenapa kamu nggak bisa dihubungin? Kena,,," Naya menghentikan perkataannya yang mengalir sangat cepat seperti air di sungai.


"Mbak,,, stop!! Aku bingung mau jawab yang mana dulu. Coba mbak Naya tanya satu-satu, deh." Katanya setelah memotong ucapan Naya.

__ADS_1


Naya terkekeh mendengar protes dari Laila yang terdengar lucu baginya. Lalu Laila pun menjawab satu per satu pertanyaan yang dilontarkan Naya tadi.


Hingga kini ia bernapas lega saat penjelasannya pada bosnya itu selesai. Memang ia telah mengantisipasi moment ini. Ia sudah menebak jika Naya pasti akan menyerobotnya dengan banyak pertanyaan. Dan untungnya Laila telah menyiapkan mental dan hati yang tenang untuk menjawabnya. Toh, tak ada yang ia tutup-tutupi, bukan.


"Udah dulu ya, La. Mila nangis, nih. Kayaknya kebangun." Ujar Naya.


"Iya, mbak."


"Kamu istirahat, ya. Nggak usah ke Kafetaria lagi. Nanti kamu kecapekan, La." Nasehat Naya membuat Laila tersenyum kikuk.


Sepertinya ia benar-benar akan berhenti bekerja di Kafetaria. Laila menghel napas berat saat sambungan sudah terputus. Ia mendengar suara mesin mobil di luar. Sepertinya itu mobil Gilang.


Entah mengapa Laila tiba-tiba merasa mual. Gejolak di dalam perutnya uang mendesak ingin keluar tak dapat ia tahan. Laila menarik langkahnya menuju kamar mandi dan memun*ahkan di wastafel.


Beberapa saat, hanya cairan berwarna bening saja. Laila teringat Gilang. Ya, tiba-tiba saja ia merasa ingin ada Gilang di sisinya.


Dengan tertatih Ia memaksakan kakinya berjalan ke arah ranjang. Muntah seperti ini membuat tenaganya terkuras. Sepertinya pengaruh hormon kehamilan sangat menguji Laila. Hingga ia harus benar-benar bersabar menjalaninya.


Pintu kamarnya terbuka, Laila yang bersandar di ranjang hanya mampu menoleh sedikit. Ibu mertuanya mendekatinya dengan wajah cemas.


"Loh, Kamu kenapa, La? Kok jadi lemas begitu? Kamu nggak kenapa-napa kan, nak? Atau ada yang sakit?" Tanya Bu Anne bertubi-tubi.


"Ya, ampun sayang. Kamu mun*ah lagi?!"


"Iya, Mah. Tapi cuma cairan aja. Makanannya nggak ikut keluar, kok." Jelasnya membuat Bu Anne bernapas lega.


Wanita paruh baya itu membantu Laila untuk berbaring dan menarik selimut untuk menutupi sebagian tubuhnya.


"Kamu istirahat, ya.!" Titah Bu Anne lembut.


.


.


Setengah Jam Kemudian.....


"Hoeekk,,, Hoek,,, "


Suara itu masih terdengar. Bu Anne sibuk mengusap tengkuk Laila yang tak tertutup hijab. Selama setengah jam sudah 6 kali Laila mun*ah. Dan makanan yang ia makan tadi akhirnya keluar juga.

__ADS_1


Dan kini, gadis itu terlihat sangat lemas dengan sanf ibu mertua yang setia menemaninya.


Kali ini Laila merasa tak sanggup menahan moodnya. Dimana suaminya? Kemana lelaki itu? Tega sekali suaminya meninggalkannya dalam keadaan seperti sekarang. Apa jangan-jangan Gilang menemui Kalista?


Tidak! Laila tak suka. Ia takkan pernah membiarkan suaminya direbut wanita lain. Huh, matanya memanas. Laila tak dapat membendung air matanya lagi.


"Hwaaaa,,, Mamaa,, mas Gilang mana?" Tangisnya pecah di depan ibu mertuanya.


Laila menepis rasa gengsinya untuk saat ini. Biarlah ibu mertuanya menganggapnya cengeng. Ini semua kan juga karena anaknya.


"Haduh, sayang. Kok kamu nangis, sih? Jangan nangis, ya. Coba telfon suami kamu. Mama juga nggak tau Gilang pergi kemana." Bu anne berusaha membujuk Laila.


Laila pun segera melakukan apa yang dikatakan ibu mertuanya itu. Ia menelfon suaminya. Tapi, tak diangkat. Hal itu semakin membuat Laila naik darah. Tangisnya pun semakin menjadi.


"Mama,, mas Gilang pasti ketemu sama cewek itu. Hikss,,, hiks,, aku nggak mau dipoligami, mah."


Bu Anne menautkan alisnya mendengar rengekan menantunya itu. Makin melantur saja. Lagian anaknya itu kemana sih? Sudah tahu istri lagi labil malah ditinggal.


Dengan menahan kekesalannya Bu Anne merutuki keadaan di dalam hatinya. Sudahlah, ia harus bersabar sekarang.


Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Gilang masuk dengan tergesa-gesa dan terkejut melihat keadaan sang istri. Sungguh memprihatinkan. Ada apa dengan istrinya.


Rambut berantakan, mata sembab dan wajah penuh bekas lelehan air mata. Gilang menatap Laila penuh tanya.


"Kamu kenapa?" Tanyanya membuat Laila menghentikan aktivitas menangisnya. Tiba-tiba ia malu saat Gilang melihat penampilannya yang berantakan.


"Kamu, ya.!!" Bu Anne berucap geram. "Habis darimana kamu, Lang? Pusing mama, ya karena kamu tiba-tiba pergi nggak bilang." Gerutu Bu Anne mengusap wajahnya.


"Aku habis ketemu Lian, Mah. Ada urusan penting, tadi." Jawab Gilang. Ia perlahan mendekati Laila di ranjang.


Istrinya itu masih seseggukan dan juga masih ada bekas air mata di pipinya. Gilang yang tak tega pun merengkuh Laila ke dalam pelukannya. Lalu mengusap lembut kepalanya yang tak tertutup hijab.


.


.


Bersambung.....


.

__ADS_1


.


__ADS_2