Cinta Dan Benci

Cinta Dan Benci
Meruntuhkan Sedikit Demi Sedikit


__ADS_3

Hari-hari berikutnya Daniel sering menggunakan alasan untuk membahas masalah ulang tahun perusahaan nya sebagai alasan untuk bertemu Caca, bahkan hari itu Daniel secara khusus menggunakan mobilnya yang hanya bisa di isi oleh dua orang untuk menjemput Caca melihat lokasi tempat yang akan mereka gunakan. Sedangkan Dira terpaksa menggunakan mobil keluarga Caca dan diantar oleh supir


"Seharusnya bapak ga perlu menjemput saya kalau bapak menggunakan mobil yang seperti ini, kasihan Dira yang harus jalan sendirian." ucap Caca dengan nada sedikit sinis


"Maaf ini juga di luar rencana, mobil yang biasa saya gunakan tiba-tiba aja mogok tadi waktu mau jemput kamu." tanpa menoleh ke arah Caca


"Kenapa kita ga ketemuan aja di lokasinya langsung pak?"


"Karena saya ga mau biarin kamu jalan sendirian, atau kita berhenti aja dulu di showroom mobil biar saya langsung beli mobil baru. Jadi nanti waktu pulang kita bisa jalan bareng asisten kamu sekalian," ucap Daniel dengan santai


Caca yang mendengar hal tersebut pun langsung menatap ke arah Daniel dengan tajam, Daniel bisa mengetahui ekspresi wajah Caca saat itu karena dia sempat melirik sekilas ke arah Caca


"Kenapa?"


"Apa kalian para orang kaya biasa melakukan semua hal yang di luar nalar?"


"Maksud kamu?" ucap Daniel berpura-pura tidak mengerti sambil mengerutkan keningnya


"Cuma supaya bisa pulang bareng langsung mau beli mobil baru, kenapa ga sekalian bapak pesan helikopter supaya ga pernah terjebak macet?" ucap Caca dengan nada suara yang terdengar semakin sinis


Daniel tak merasa tersinggung sama sekali dia tersenyum tipis karena merasa bahagia karena Caca kini sudah mulai berani menunjukkan sikap yang lain dari yang biasa dia tunjukkan


"Bagi aku itu masih di batas garis wajar kok, aku cuma mau ikutin semua keinginan kamu aja. Kalau kamu memang mau minta helikopter aku bisa kok kasih itu ke kamu"


Caca hanya bisa menutup rapat mulutnya, karena dia yakin apapun yang akan dia katakan maka Daniel akan punya seribu jawaban untuk semua ucapan Caca


"Dasar orang kaya gila!! enak banget mulut dia bilang mau kasih aku helikopter!! yang aku mau dari kamu cuma kamu yang dulu ga melepas aku dengan mudah kak"


Wajah Caca menunjukkan dengan jelas kalau saat itu pikiran dirinya sedang tak berada di tempatnya, Daniel yang menyadari hal tersebut pun langsung mencoba mengalihkan pemikiran Caca saat itu dengan mencolek tangan Caca


"Gimana apa yang kamu mau?"

__ADS_1


"Kamu kak," ucap Caca tanpa sadar


Daniel yang benar-benar merasa terkejut langsung menghentikan mobilnya di tengah jalan dan menatap ke arah Caca dengan serius


"Kamu ngomong apa barusan Ca?"


Caca serasa ingin kabur dari hadapan Daniel saat itu juga karena rasa malu yang sedang dia rasakan pada saat itu teramat besar


"Kamu bilang tadi kamu mau aku? dan kamu tadi panggil aku kak bukan pak"


Caca pun menjawab dengan menggelengkan kepalanya


"Aku ga salah dengar kan Ca? kamu bilang tadi kamu mau aku." menatap Caca dengan serius


"Aku ga bilang begitu pak, tadi aku bilang aku mau buku. Mungkin aja bapak salah dengar," tersenyum canggung


Daniel menatap ke arah Caca dengan tatapan mata yang sulit di artikan


Caca benar-benar tak kuat melihat sorot mata Daniel saat itu, dia pun memilih untuk menundukkan kepalanya. Daniel pun mencoba mengingatkan dirinya bahwa dia harus mendekati Caca dengan cara yang halus


"Mulai besok setiap hari aku suruh orang untuk kirim buku ke rumah kamu ya Ca," ucap Daniel dengan lembut


Caca pun mulai berani menatap ke arah Daniel yang saat itu terlihat sedang tersenyum


"Buat apa pak?"


"Aku cuma mau kasih apapun yang kamu minta dari aku Ca," ucap Daniel dengan lembut sambil tersenyum


"Ga perlu pak tadi itu aku cuma..."


"Apa kamu mau ganti permintaan kamu dari buku jadi aku? kalau bener kamu minta itu aku akan serahkan seluruh diri aku buat kamu," ucap Daniel sambil tersenyum menggoda

__ADS_1


"Ga usah pak, buku aja." jawab Caca dengan cepat dan langsung memalingkan wajahnya karena Caca yakin wajahnya saat itu sudah mulai berubah menjadi merah


Daniel pun tersenyum tipis dan melanjutkan kembali perjalanan mereka, akhirnya mereka pun tiba di sebuah gedung yang sangat populer di kota itu. Sebuah gedung yang selalu di jadikan tempat untuk merayakan pesta ulang tahun perusahaan Daniel selama ini


Setelah Dira tiba di sana mereka pun mulai membahas apa saja yang akan di lakukan untuk merubah tempat tersebut sesuai dengan keinginan Daniel, tetapi yang Daniel lakukan hanyalah menyerahkan kembali semua pilihan terhadap Caca


Setelah membahas semua yang di inginkan mereka memutuskan untuk makan siang bersama, dan saat mereka keluar dari gudang tersebut ternyata sekretaris Daniel sudah berada di sana dan membawa sebuah mobil yang lebih besar


"Ini kunci mobilnya pak," dengan sopan


"Oke, bawa mobil saya kembali ke kediaman saya


"Baik pak," mengambil kunci mobil yang Daniel berikan


Caca benar-benar tak habis pikir mengapa Daniel melakukan sesuatu yang menyusahkan dirinya sendiri hingga sejauh itu


"Ayo kita makan siang"


"Sebenarnya bapak ga perlu melakukan ini semua, kalau begini saya merasa tak enak hati dengan sekretaris bapak karena ucapan saya tadi jadi menambah pekerjaan sekretaris bapak. Dira kan bisa tetap pergi dengan mobil yang tadi dia gunakan," ucap Caca dengan perasaan tak enak hati


"Saya cuma ga mau kamu merasa ga nyaman ada di dekat saya, dan seperti yang saya bilang tadi saya akan memberikan apapun yang kamu minta dari saya." ucap Daniel dengan lembut sambil tersenyum


Tatapan mata Caca bisa menunjukkan apa yang dia rasakan saat itu dengan jelas, Daniel pun bisa bernafas dengan sedikit lega karena kini dia bisa melihat bahwa Caca sudah mulai bisa menerimanya keberadaan dirinya


"Kita jalan sekarang ya, aku udah pesan tempat buat kita makan siang"


Mereka pun pergi bertiga ke tempat yang telah Daniel pesan, selama perjalanan Daniel berusaha berbincang dengan Dira yang terlihat sedikit canggung terhadap dirinya. Karena Dira sudah mengetahui posisi Daniel yang sebenarnya di masa lalu Caca


Saat mereka tiba di tempat yang di tuju lagi-lagi Daniel menunjukkan perhatiannya kepada Caca, Daniel memastikan kepada sang pelayan bahwa makanan untuk Caca tak boleh mengandung seafood sama sekali. Walaupun sudah pasti Caca tak mungkin lagi melakukan hal tersebut untuk kedua kalinya


Tanpa Caca sadari semua sikap yang Daniel tunjukkan mulai meruntuhkan sedikit demi sedikit pilihan hati dia yang sebelumnya, Daniel pun benar-benar merasa bahagia karena dia sudah bisa merasakan celah dari dinding tinggi yang Caca ciptakan di antara mereka

__ADS_1


__ADS_2