
Hari pertama Ayu dan Lidya di sekolah barunya.
"Kita balik lagi jadi adek kelas ya lid," ucap Ayu lemas.
"Ya kenapa kalau kita jadi adek kelas lagi?" tanya Lidya belum paham apa yang di maksud oleh sahabatnya itu
"Ck, ya masalah, dulu kita kakak kelas bisa berlagak, sekarang kita adek kelas, kalau kita sok jago pasti kakak kelas pada heboh! Apa lagi masa SMA gak kayak SMP," keluh Ayu meluapkan semua unek-uneknya.
"Menurut gue biasa aja tuh," ucap Lidya datar.
"Biasa buat lo gak biasa buat gue, secara gue ini cantik," ucap Ayu mengibaskan rambutnya." pasti bakalan banyak cowok yang suka sama gue, ntar pasti juga banyak kakak kelas yang gak seneng!" sambung Ayu dengan semangat yang mulai menurun.
"Udah santai aja, gak akan ada yabg berani ngapa-ngapain lo selagi ada gue," ucap Lidya dengan tangan yang di angkat bagai seorang binaraga.
"Sok lo!" ketus Ayu.
"Lah gur serius neng!"
"Di SMP aja lo sering di buly ," ucap Ayu tak senang.
"Yaelah SMP beda gak kayak SMA," ucap Lidya percaya diri.
Plaaak....
Ayu memukul kepala Lidya, gemas.
"Eh lo bodoh ya! Justru SMA lebih ngeri dari pada SMP dodol!" Ayu sangat gemas dengan sahabatnya ini.
"Au ah, ayo kita ke kelas," ucap Lidya menarik tangan Ayu.
Mereka pun sampai di kelas mereka, walau masih sementara, karena mereka harus menjalani masa PLS terlebih dahulu.
*****
Kriiiing....
Bel istirahat berbunyi semua murid berhamburan menuju kantin.
Termasuk Ayu dan Lidya, mereka berjalan menuju kantin dengan langkah jenjang.
"Ayo lid, ntar kita kehabisan makanan," ucap Ayu sambil memegang tangan Lidya erat.
"Sabar kali Ayu," gemas Lidya melihat sahabatnya yang sangat tidak sabar.
"Lama benget sih lo jalannya!"
"Iih dasar nih anak!" gerutu Lidya kesal melihat sahabatnya yang super duper heboh.
Sesampainya di kantin, Ayu dan Lidya di kejutan dengan Raka bersama dengan seorang gadis.
Untuk sesaat Lidya tertegun menatapi apa yang ada di hadapannya, ia *** jemarinya, dadanya terasa sakit, ia terbungkam dan kini matanya mulai tergenang air mata.
"Lid," tegur Ayu memecah keheningan di antara mereka.
__ADS_1
Lidya memalingkan pandangannya ke arah lain. Ia memastikan agar air matanya tidak terjatuh.
"Lo gak papa?" tanya Ayu memastikan Ayu sangat mengetahui bagaimana Lidya jika ia menghadapi kejadian seperti ini.
"Gak kok," jawab Lidya cepat, dengan segera Lidya berjalan ke arah yang lain, di ikuti oleh Ayu dari belakang.
*****
Ayu menatap sahabatnya itu dengan tatapan prihatin ia sangat sedih melihat kondisi sahabatnya itu.
Setelah kembali dari kantin Lidya lebih banyak melamun. Waktu pulang tinggal hitungan menit, kakak senior yang membimbing MPLS juga sudah kembali ke kelas. Senior hanya menyuruh mereka diam di kelas karena sebentar lagi akan pulang.
"Udah gue bilang sebelumnya lo lupain aja Raka!" ucap Ayu membuka suara.
Lidya menatap sahabatnya, matanya menatap tajam.
"Gue udah usaha," ucap Lidya menurunkan pandangannya.
"Lebih keras dong, biar cepet lupa," ucap Ayu menyemangati.
Lidya mengerutkan keningnya menatap Ayu.
"Ayu," ucap Lida manja, dengan mengepal tangan Ayu.
"Apaan?"
"Gue pindah sekolah aja ya," ucap Lidya lemas, ia menurunkan pandangannya tak berani menatap mata sahabatnya.
"Lo gilak ya?" ucap Ayu menoyor kepala Lidya.
Lidya merintis kesakitan dan mengelus kepalanya yang terasa sangat sakit.
"Gue masih waras," ucap Lidya dengan mulut yang panjangnya berapa senti.
"Baru satu hari sekolah udah mau pindah!" Ayu mulai mengucapkan sumpah serapahnya membuat Lidya bungkam bagai seorang peliharaan yang di marahi majikannya.
"Gue 'kan anak keluarga Adi setia," ucap Lidya menyadarkan sahabatnya.
Ayu menghentikan ucapannya, menatap wajah Lidya yang kini terangkat.
"Iya sih, tapi lo tega ninggalin gue di sini?" ucap Ayu mencari alasan lain, wajahnya mulai berubah khawatir, ya jaman sekarang tidak ada yang mustahil bagi orang kaya dalam urusan duniawi.
"Cuma ini caranya agar gue bida ngelupain Raka," ucap Lidya pasrah, ia memainkan jemarinya gugup, ia juga bingung dengan kondisinya saat ini.
Ayu memutar bola matanya, ia merasa bosan dengan Lidya yang terbilang aneh.
Kriiiing....
Bel berbunyi, semua murid berhamburan pulang kembali ke rumah.
Tapi tidak untuk Ayu dan Lidya mereka santai, dan hanya menatapi kepergian beberapa teman mereka.
Lidya menaikan kacamatanya dengan jari telunjuk, menatapi Ayu.
__ADS_1
"Ok, kembali ke laptop," ucap Ayu menatap tajam sahabatnya.
"Kita pulang aja yuk," ucap Lidya memelas.
Ayu tersenyum sinis, ia sudah tau sifat Lidya yang yang terbilang mengesalkan ini, yaitu mengalihkan pembicaraan.
"Ayok kita pulang," rengek Lidya seperti seorang anak kecil.
"Yaudah ayok!"
Lidya tersenyum puas melihat Ayu yang menurutinya.
"Lain kali jangan mengalihkan pembicaraan!" tegas Ayu.
Lidya hanya memanyunkan mulutnya.
Saat mereka melangkah keluar mereka bertemu dengan Raka tepat di depan pintu, pandangan Raka sedikit teralihkan pada sosok Lidya.
Raka mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali, dan menatap Ayu.
"Lo hari ini pulang sama gue," ucap Raka datar, sesekali ia mencuri pandangan ke arah Lidya yang fokus dengan ponselnya.
"Ok," sahut Ayu."Lid ayok kita pulang," ucap Ayu menarik tangan Lidya.
Dengan segera Lidya mengikuti Ayu yang jalannya cukup cepat.
"Humm, gue mau deket sama Raka, tapu kenapa setia Raka ada di hadapan gue, gue itu selalu menghindar, seakan gue gak mau ketemu dia," batin Lidya.
Ia menatap punggung Ayu dengan nanar. Ia mengehela nafas berat, dan menatap ke bawah.
Cinta yang tak terbalaskan memang sakit dan perih, namun apalah daya diri yang tak bisa mengungkapkan isi hati.
*****
Lidya kini menunggu jemputan yang tak kunjung datang, sesekali ia menatap layar ponselnya.
Lidya mendengus kesal.
"Di mana sih pak Bambang!" gerutu Lidya *** semua jemarinya.
Dari kejauhan tampak sepasang mata sedang mengawasi Lidya. Pria itu adalah seorang siswa SMA di mana Lidya bersekolah.
Siswa itu duduk di atas motornya, menatapi Lidya dari kejauhan tam berani mendekat, tak lama ada rasa iba yang muncul dari hati Siswa itu ingin mengantar Lidya pulang ke rumah.
Namun niatnya terurungkan saat ia menyadari posisinya sudah di gantikan orang lain.
Tak lama sebelum siswa yanv mengamati Lidya itu menyalakan mesin mmenghampiri seorang siswa datang menghampiri Lidya dan menawarkan diri untuk mengantar Lidya pulang.
Dan sialnya Lidya menerima tawaran Siswa itu.
"Andai aku lebih cepat, andai aku lebih berani untuk menemui mu," batin siswa yang memperhatikan Lidya sedari tadi.
Lakukan apa pun yang ingin kau lakukan, sebelum tuhan kamengambil nikmat dah kau tak bisa melakukan hal yang ingin kau lakukan.
__ADS_1