
"Selamat siang mau pesan apa?" ucap salah seorang pelayan dengan sopan sambil menyodorkan buku menu
Daniel pun langsung menatap ke arah Caca
"Kamu mau pesan apa?"
"Bapak duluan aja, saya lihat-lihat dulu"
Daniel pun mulai menyebutkan apa yang ingin dia santap untuk makan siang, dan saat Caca menyebutkan apa yang akan dia pesan Daniel berusaha keras menutupi rasa khawatir yang dia rasakan. Bagaimana tidak Caca memesan sebuah menu yang mengandung seafood sedangkan Daniel ingat dengan jelas bahwa Caca alergi dengan seafood
"Apa maksud dia? dia benar-benar sudah ga alergi seafood atau jangan-jangan dia curiga kalau sebenarnya aku sudah ingat semuanya"
Caca menatap Daniel dengan seksama, sekeras apapun Daniel berusaha menutupi rasa khawatir yang dia rasakan tetap saja masih sedikit terlihat
"Apa ada masalah pak?"
"Ga ada, apa ada yang lain yang mau kamu pesan?"
"Udah mbak saya itu aja," Caca tersenyum ramah ke pelayan tersebut
Kecemasan Daniel semakin terasa saat makanan yang mereka pesan sudah berada di hadapan mereka masing-masing, sesekali Caca mencuri pandang ke arah Daniel dan Daniel berusaha sekuat tenaga untuk tetap terlihat tenang
"Semoga aja efek dari seafood nya ga terlalu parah, sebaiknya aku makan sedikit aja"
Caca mulai memasukkan makanan tersebut ke dalam mulutnya, suapan demi suapan mulai masuk ke dalam mulut Caca hingga pada suapan ke empat Caca mulai menghentikan semua aksinya karena dia mulai merasakan gatal di lidahnya
"Aku ga boleh lanjutin lagi"
"Ada apa?" ucap Daniel berpura-pura tidak tau walaupun jantung nya sudah berdetak dengan sangat cepat karena merasa khawatir
"Saya permisi ke toilet sebentar pak," tersenyum tipis
Caca pun segera pergi ke toilet dan benar saja bercak merah sudah mulai terlihat di ujung telinga Caca pada saat itu
"Astaga padahal aku baru makan sedikit, pasti kandungan seafood di menu tadi banyak banget"
Caca segera keluar dari dalam kamar mandi dan meminta salah seorang pelayan membawakan dia air minum, saat pelayan tersebut datang Caca segera meminum obat yang biasa dia konsumsi bila alergi nya kambuh
Baru saja Caca mengucapkan terima kasih kepada sang pelayan tiba-tiba saja Daniel sudah berada di dekat Caca
__ADS_1
"Obat apa yang kamu minum?"
"Obat alergi pak, maaf saya lupa kalau saya ga boleh makan sesuatu yang mengandung seafood"
Daniel menatap Caca dengan sangat tajam seakan Daniel hendak menghabisi Caca saat itu juga, tanpa banyak bicara Daniel langsung menarik tangan Caca keluar dari tempat itu dan membawa Caca ke dalam mobilnya
Hanya ada keheningan selama mereka di dalam perjalanan tersebut, dan Caca yang masih di pengaruhi rasa gatal yang mulai menyebar tanpa sadar mulai menggaruk beberapa bagian tubuhnya. Daniel pun segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang
"Halo bos..."
"Datang ke kantor gw sekarang juga," penuh penekanan
"Lu kenapa? jangan bikin gw khawatir, apa perlu gw bawa ambulan sekalian?"
"Ga perlu!! lu cukup bawa dokter perempuan dan obat yang bagus untuk orang yang alergi seafood"
"Kenapa harus dokter perempuan? kan selama ini gw dokter pribadi lu"
"Kerjain yang gw perintahkan atau gw akan kirim lu ke Afrika Selatan untuk mengurus lahiran para gajah!!"
Daniel segera memutuskan sambungan teleponnya, sedangkan Caca yang berada di samping Daniel hanya bisa terdiam sambil menundukkan kepalanya. Aura dingin yang Daniel pancarkan saat itu membuat Caca tak memiliki keberanian untuk menatap ke arah Daniel
"Untuk apa?"
"Karena kelalaian saya membuat waktu anda terbuang percuma"
Daniel melirik sekilas ke arah Caca dengan tatapan mata yang tajam
"Saya marah bukan karena itu Ca, apa maksud kamu berbuat sejauh ini? saya marah karena kamu menyakiti diri kamu sendiri Ca"
Dan saat Daniel kembali melirik ke arah Caca terlihat Caca sedang menggaruk kulitnya yang terasa gatal, Daniel pun membuang nafasnya dengan kasar untuk mengurangi rasa amarahnya saat itu
"Sini kedua tangan kamu"
Caca pun langsung menatap ke arah Daniel dengan tatapan mata bingung
"Saya bilang mana kedua tangan kamu?" dengan tegas
Caca mulai mengulurkan kedua tangannya, tangan kiri Daniel langsung menggenggam kedua tangan mungil Caca dengan erat
__ADS_1
"Maaf pak, tapi..."
"Jangan di garuk lagi nanti kulit kamu luka," ucap Daniel dengan lembut tanpa menoleh ke arah Caca sama sekali
Kehangatan tangan Daniel membuat detak jantung Caca berdetak tak menentu, sebuah perasaan yang sudah sangat lama tak pernah dia rasakan akhirnya bisa dia rasakan kembali setelah sekian lama. Caca mencoba mengingatkan dirinya agar tak kembali terbuai oleh kehangatan orang yang ada di dekat nya tersebut
"Lepasin tangan saya pak, saya janji ga akan melakukan itu lagi"
Daniel hanya melirik sekilas ke arah Caca dan mengabaikan ucapan Caca begitu saja
"Aku ga akan pernah lagi lepas tangan kamu sampai kapan pun Ca, saat ini hanya Tuhan yang bisa memisahkan aku dari kamu"
Caca pun hanya bisa pasrah kedua tangannya terus di genggam oleh tangan kekar Daniel, karena sudah beberapa kali dia meminta Daniel untuk melepaskan tangannya dan hasilnya hanyalah sia-sia
Dan akhirnya mereka pun tiba di sebuah gedung yang selama ini menjadi tempat Daniel menyelesaikan semua pekerjaannya, saat turun dari mobil Daniel kembali menggenggam tangan Caca dan secara spontan Caca langsung menarik tangannya
"Maaf pak saya rasa kurang sopan kalau anda melakukan itu di sini," ucap Caca dengan tegas
"Berarti saya boleh pegang tangan kamu kalau kita lagi berdua?"
Caca pun hanya bisa terdiam sambil mengerutkan keningnya
"Kamu cuma punya dua pilihan saya pegang tangan kamu sekarang supaya kamu ga melukai kulit kamu, atau kamu berarti beri saya izin untuk pegang tangan kamu kalau kita cuma berduaan?"
"Tapi pak..."
"Saat ini kamu adalah orang saya, karena kamu punya kewajiban mengurus semua urusan ulang tahun perusahaan saya. Jadi saya juga harus pastikan kamu tidak terluka sedikit pun saat kamu ada di dekat saya"
Tanpa menunggu persetujuan dari Caca terlebih dahulu Daniel segera menggenggam tangan Caca masuk ke dalam gedung tersebut, sesuatu yang dulu bahkan tak pernah Daniel lakukan saat mereka berdua masih memiliki sebuah hubungan akhirnya terjadi
Daniel melangkahkan kakinya dengan pasti ke arah lift tanpa perduli dengan mata yang memperhatikan mereka berdua, sedangkan Caca memilih untuk terus menundukkan kepalanya menahan rasa malu. Saat mereka tiba di depan lift tak selang berapa lama kemudian Abian pun ada di depan lift dan baru saja kembali dari makan siang
"Apa kabar Ca?" tersenyum tipis dan menatap ke arah di mana tangan Caca berada
"Baik kak," tersenyum canggung sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan Daniel
Sekuat apapun Caca berusaha melepaskan tangannya hasilnya tetap sia-sia, karena semakin Caca berusaha melepaskan tangannya semakin erat Daniel menggenggam tangannya. Abian pun tersenyum tipis melihat kelakuan kedua orang tersebut
"Aku harap kalian berdua bisa saling melengkapi satu sama lain, kalian berdua sudah terlalu menyiksa diri kalian sendiri"
__ADS_1