
.
.
Sudah setengah jam semenjak Gilang mendapati istrinya tengah menangis, dan kini istri cantiknya yang meski tengah berantakan itu tertidur lelap di pelukannya.
Ya, Laila tak ingin dan tak membiarkan Gilang melepas pelukannya dari tubuhnya yang lemah itu. Setelah suaminya itu datang ia merasa lega karena ternyata suaminya bukan menemui wanita itu.
Gilang termenung dalam posisinya yang memeluk Laila setengah duduk. Ibunya sudah pergi 15 menit yang lalu. Kini hanya tinggal dirinya berdua saja dengan sang istri yang tengah terpejam.
Ia menatap wajah Laila yang pucat. Sepertinya sang istri kehabisan tenaga karena mun*ah tadi. Sejujurnya ia merasa tak tega. Jika bisa, lebih baik dirinya saja yang menanggung semua kesukitan selama kehamilan istrinya ini.
Gilang mengusap rambut Laila dengan lembut. Berusaha memberi kenyamanan untuk sang istri.
"Lucu, ya." Gumamnya pelan, tak ingin mengganggu sang istri karena suaranya.
"Seandainya dari dulu kita baik-baik aja. Pasti kita akan bahagia lebih awal. Dan kamu nggak perlu ngeluarin air mata karena sikap aku selama ini." Ucapnya merasa bersalah.
Ya, Gilang masih tak dapat menghilangkan rasa bersalahnya. Penyesalannya atas sikap dirinya dulu, masih saja terbayang. Bagaimana kata-kata sinisnya terlontar dan membuat Laila tak berkutik. Laila terlihat tertekan kala itu.
Istrinya selalu sabar menghadapinya. Bahkan, saat dirinya menolak menganggap bayi yang ada di kandungan istrinya adalah anaknya, Laila masih saja memaafkannya dengan mudah.
"Aku benar-benar menyesal, La. Kesalahanku terlalu besar. Bahkan aku sendiri malu jika mengingatnya." Tatapan Gilang berubah sendu.
"Maaf kalau mata kamu ini sering menangis karena aku." Ucapnya berbisik, menyentuh mata sang istri yang terpejam.
"Apa kamu menyesal sudah melakukannya semalam?" Gilang teringat pertanyaan tersebut terlontar begitu saja dari bibir Gilang setelah mereka berhubungan untuk pertama kalinya, dan yang terakhir sampai menghasilkan janin di perut istrinya kini.
Gilang masih ingat dengan jelas bagaimana reaksi istrinya kala itu. Sejujurnya ia sangat merasa bersalah, apalagi sesudah hari itu ia sering mendapati sang istri dengan wajah murung. Ia yakin Laila merasa tertekan. Apalagi ia sering meninggalkan Laila sendirian berhari-hari.
Hatinya terasa seperti ditusuk benda tajam. Kesal? Tentu saja. Ia kesal pada dirinya yang tak bisa melawan rasa gengsi dan egonya.
__ADS_1
"Mas, jangan pergi!!!" Laila mengigau.
Gilang tertegun .Sepertinya Istrinya tengah bermimpi? Mimpi seperti apa? Mengapa Laila sampai berucap seperti itu dalam tidurnya. Apa Laila sangat takut jika olehnya? Jahat sekali dirinya selama ini, bahkan perbuatannya sampai membekas di hati sang istri.
.
.
Di lain tempat, seorang lelaki paruh baya memasang wajah datar menatap putrinya. Suasana di ruang keluarga rumah itu terasa mencekam. Netha, gadis cantik dengan penampilan sederhana namun terkesan modis itu hanya diam tanpa mau berbicara apapun.
Beberapa menit yang lalu terjadi perdebatan antara Ayah dan anak tersebut. Seorang wanita memakai kerudung pasmina yang dipasang sedemikian rupa menatap cemas anak gadisnya, menunggu sang anak yang masih diam.
Ia takut-takut jika suaminya kembali emosi karena penolakan tiba-tiba dari sang anak.
"Kamu nggak punya pilihan untuk menolak, Anetha. Jadi, Papa minta kamu terima Perjodohan ini! Lagipula apa yang membuat kamu tidak suka pada dia? Kamu belum mengenalnya kan.." Pak Yanto menghela napas berat dan menghembuskannya, ia merasa lega setelah berbicara panjang barusan.
"Kak!!" Ujar wanita paruh baya yang tak lain adalah ibu Netha. Ia tengah berusaha menengahi suami dan anaknya.
"Apa sih, Mah?" Akhirnya Netha merespon, meski dengan ogah-ogahan. "Kakak nggak mau, Mah. Plis kali ini aja, tolong mama jangan paksa aku." Ucapnya menatap memohon pada sang ibu.
"Kak.." Bu Siska mendekati sang anak. Ingin mencoba melunakkan hatinya.
Tapi, tatapan mata Netha membuatnya semakin bimbang. Wanita yang hampir berumur setengah abad itu pun hanya bisa pasrah untuk saat ini. Ia lebih memilih beranjak dari sana. Mungkin ia harus memberi ruang bagi putrinya.
"Mah,," Sahutnya membuat langkah Bu Siska berhenti dan menoleh.
"Kakak coba pikirin dulu." Ucap Netha membuat raut wajah Bu Siska sedikit tenang. Ia mengangguk kemudian kembali melangkah dan memeluk putri sulungnya itu.
"Makasih sayang. Mama tau ini berat buat kamu. Tapi, Mama akan selalu ada buat kamu, walau saat ini Mama dan Papa rasanya sangat memaksa kamu. " Kata Bu Siska. "Percayalah, nak. Ini semua kami lakukan untuk kebaikan kamu."
Netha hanya bisa pasrah dan mengangguk. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia belum bisa menerima perjodohan yang dilakukan oleh ayahnya dan sahabat sang ayah.
__ADS_1
Saat ini memang dirinya tidak memiliki pasangan. Namun, bukan berarti ia mau menjalani drama Siti Nurbaya jaman Now ini.
Tapi, mau gimana lagi? Memang benar orang tuanya tidak pernah memaksa dirinya atau pun meminta Netha melakukan sesuatu yang sulit. Karena itu ia bertekad untuk memenuhi keinginan sang Ayah. Tak ada salahnya ia menuruti kan, berbakti kepada orang tuanya.
Di ujung tangga paling atas, sepasang mata mengamati adegan tersebut. Seseorang itu merasa tetohok hatinya melihat wajah Netha yang begitu pasrah berbicara pada sang istri.
Pak Yanto sebenarnya merasa berat melepaskan anaknya menikah untuk saat ini. Namun, ia juga tak mampu untuk menolak permintaan sahabatnya untuk menjodohkan anak mereka. Dan pilihan Pak Yanto satu-satunya adalah Anetha, putrinya yang telah menginjak usia dewasa.
Ia sudah menduga bahwa Netha akan menolaknya. Karena, ia tahu pemikiran Netha tentu tidak mendukung mengenai perjodohan. Dan buktinya pun sudah terlihat tadi dan beberapa waktu lalu saat adiknya menyampaikan pada putrinya itu mengenai rencana perjodohan tersebut.
"Maafin papa, nak. Tapi, papa nggak tau harus bagaimana menolak permintaan teman Papa. Dia sangat ingin kamu menjadi menjadi menantunya. Papa sangat menyayangi kamu dan adik kamu."
Pak Yanto berbalik dan memasuki kamarnya. Ia tak tahan berlama-lama melihat Netha untuk saat ini. Hatinya sedih.
Dan juga ia merasa sangat berat membayangkan Neyha menikah dengan Delon. Entah apa sebabnya yang pasti ada kecemasan sendiri dalam dirinya.
Ceklek,,, pintu terbuka mengalihkan lamunan Pak Yanto. Ia menatap sang istri yang memasuki kamar. Lalu istrinya menghampirinya.
"Pah,, Mama merasa belum sanggup kalau Netha harus menikah dengan cara dijodohkan." Curah sang istri.
"Entah nanti suaminya akan menerima sifatnya yang keras kepala dan manja itu. Mama takut kalau suaminya itu nggak bisa menerima kekurangan anak kita, pah."
Terdengar helaan napas dari bibir Pak Yanto. "Papa juga, mah. Tapi, papa juga nggak enak menolaknya. Mama kan tau, kalau aku dan Herman sudah bersahabat sejak lama." Pak Yanto berucap sendu.
.
.
**Bersambung....
Thanks udah baca.. Jangan lupa like dan comments**.....
__ADS_1
.
.