Cinta Dan Benci

Cinta Dan Benci
II - 23


__ADS_3

Pagi ini suasana di kediaman Gilang dan Laila terasa akward. Menegangkan sekali menurut Laila. Karena, Ibu dan Ayah mertuanua sudah datang berkunjung pagi-pagi.


Laila meletakkan mangkok berisi sup ayam di atas meja. Lalu, ia melihat ketiga orang yang duduk di kursi meja makan dengan takut-takut. Sejujurnya penasaran mengapa kedua mertuanya datang pagi ini?


"Mas, Mah, Pah, kita sarapan aja, yuk!" Ujar Laila memberanikan diri berbicara, mengingat semua yang berada disana terlihat saling diam.


"Iya, sayang." Kata Bu Anne tersenyum.


Bu Anne terlihat mulai mengambilkan nasi untuk sang suami. Sementara, Pak Farhan tetap diam menunggu sang istri selesai.


Menyebalkan sekali menurut Gilang melihat orang tuanya lagi-lagi bersikap sok romantis di hadapannya. Ingin dirinya pergi saja saat ini dari ruang makan. Namun, mengingat sang papa yang datang dengan wajah dingin, ia yakin ada sesuatu yang ingin dibicarakan oleh papanya.


"Mas. Biar aku ambilin." Ucap Laila membuat Gilang tersentak.


Gilang menuruti saja apa yang Laila lakukan. "Makasih, sayang." Serunya saat Laila meletakkan kembali piringnya yang sudah Laila isi dengan roti.


Laila merasa aneh mendengar panggilan sayang dari Gilang, namun ia berusaha menyembunyikannya dan melemparkan senyuman ke suaminya itu. Mertuanya hanya menatap keduanya dengan menahan senyum.


Mereka mulai menyantap sarapannya. Selama kurang lebih 10 menit suasana di ruang makan terasa hening. Tak ada yang berbicara.


Hingga Pak Farhan usai dengan sarapannya, disusul Gilang yang juga telah menghabiskan rotinya. Setelah semuanya selesai, Laila mengumpulkan piring kotor dan membawanya ke dapur. Saat hendak mencuci piring, ibu mertuanya menghampir dan sudah berada di dekatnya.


.


.


Pak Farhan bangkit dari kursi meja makan dan mengajak Gilang berbicara di ruang tengah. Melihat raut wajah sang ayah yang terlihat tak bersahabat, membuat Gilang merasa was-was.


"Ada apa, pah?" Tanya Gilang yang masih berdiri.


"Duduk!" Ucap Pak Farhan terdengar datar.


"Ada apa sebenarnya dengan kamu, Lang?" Pak Farhan gini bergantian yang bertanya, membuat Gilang mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan sang ayah.


"Maksud papa apa?"


Pak Farhan menghela napas panjang. "Papa benar-benar heran sama kamu. Kamu ninggalin kerjaan kamu begitu saja dan kembali kesini tiba-tiba. Ada apa dengan kamu?" Pak Farhan mulai emosi.


Gilang menunduk. Ia tak tahu akan berkata apa. Tak mungkin kan jika ia mengatakan kalau dirinya cemburu melihat Delon terus mendekati istrinya.


"Kalau kamu nggak mau bantu mengurus cabang di Jogja, kamu bilang." Lagi,, Pak Farhan berkata dengan menahan emosi.


"Bukan gitu, pah. Aku mau bantu mengurus kantor itu. Tapi, aku tiba-tiba pulang karena ada urusan mendadak." Ucapnya mencoba menenangkan sang ayah.


"Besok pagi aku akan balik lagi ke sana. Papa tenang aja."


Pak Farhan hanya diam. Ia tak ingin lagi berbicara karena tak mau emosi akibat kelakuan sang anak. Ia mencoba menenangkan dirinya sejenak.

__ADS_1


"Kalau kamu mau, kamu boleh mengajak istri kamu." Ujar Pak Farhan yang mulai tenang.


Kali ini, Gilang yang diam. Ia menunduk mendengar penuturan sang ayah. Haruskah ia mengajak Laila? Ah, pasti nanti Laila mengira dirinya tak bisa jauh dari sang istri, walaupun kenyataannya memang begitu. Namun, ia merasa gengsi jika istrinya berpikir begitu.


"Gilang! Ngapain kamu bengong?" Seru Pak Farhan menyentak Gilang dari lamunannya.


"Nggak perlu, pah. Aku nggak akan ngajak Laila kesana. Terlalu jauh. Repot nantinya saat aku harus bolak-balik ke sini." Ucapnya menolak.


"Terserah kamu kalau begitu." Pak Farhan berkata dengan wajah sewot.


Seseorang berdiri di balik tembok pembatas ruang tengah dengan dapur. Harapannya ingin diajak pergi bersama sang suami sirna, kala Gilang menolak ide sang ayah. Tadinya ia sangat ingin ikut dengan Gilang, namun sepertinya suaminya itu enggan membawanya pergi.


Laila hanya bisa pasrah dengan keputusan Gilang. Karena memang ia tak bisa berbuat apa-apa. Sentuhan di pundaknya mengejutkan Laila. Ia menoleh, mendapati sang ibu mertua.


Bu Anne menatapnya ramah dan lembut. "Kenapa sayang?" Tanya wanita paruh baya tersebut.


"Nggak apa-apa kok, mah." Laila menutupi rasa sedihnya dengan tersenyum.


"Mama udah selesai ke toiletnya?" Tanya Laila.


"Udah, sayang. Oh iya, mama mau ajak kamu jalan. Kamu mau nggak?"


"Mm,, Ila tanya mas Gilang dulu ya, mah."


"Oke, sayang. Tapi, biar mama aja yang bilang ke Gilang ya." Kata Bu Anne antusias.


"Gilang, mama mau jalan sama Laila hari ini. Kamu nggak boleh ngelarang istri kamu ya." Ucap Bu Anne.


"Jalan kemana, mah?" Tanya Gilang.


"Ya, rencananya sih mama mau ajak istri kamu ke salon, ke mall, dan juga mau mama ajak ikut arisan sama teman-teman mama." Kata Bu Anne antusias.


Gilang menatap Laila yang berdiri mematung di belakang sang mama.


"Gimana?" Tanya Bu Anne lagi.


"Iya, iya. Boleh." Jawab Gilang pasrah.


"Oke kalau gitu." Bu Anne tersenyum senang.


.


.


"Mohon maaf sebelumnya pak. Meeting kali ini hanya saya yang menghandle. Karena, Pak Gilang ada keperluan mendesak dan harus kembali ke Jakarta, pak. Tapi, besok pagi Pak Gilang akan kembali lagi kesini, pak."


Romi merasa tak enak hati pada klien yang sudah dijadwalkan meeting bersama Gilang.

__ADS_1


"Oh, iya. Nggak apa-apa. Santai aja. Saya nggak mau terlalu kaku juga, kok." Kata lelaki muda yang berbicara dengan Romi.


Romi pun ikut terkekeh karena terbawa suasana saat lelaki itu terkekeh. Sepertinya bukan hal yang buruk, pikir Romi. Ia melihat sisi humble dari lelaki yang ada di hadapannya kini.


Mereka pun mulai membahas mengenai projek kerjasama antara perusahaan Gilang dan lelaki bernama Johan tersebut. Romi menjelaskan mengenai proposal yang telah mereka sediakan. Lalu, sesekali Johan melontarkan pertanyaan yang untungnya mampu dijawab dan dijelaskan kembali oleh Romi. Begitu berlangsung hingga Johan mulai bertanya mengenai Gilang.


"Mm,, maaf. Kalau boleh saya tau, Pak Gilang masih muda atau gimana?" Ujar Johan yang merasa penasaran.


"Oh, Pak Gilang. Beliau masih muda pak. Usianya baru 27 tahun." Jawab Romi tersenyum.


"Oh, masih seumuran kita berarti, ya." Johan terkekeh.


"Ya, begitulah pak."


Johan mengangguk. Namun, sepertinya ia masih belum puas karena lelaki berkumis tipis itu kembali melontarkan pertanyaan.


"Apa Pak Gilang itu sudah berkeluarga? Haduh, saya jadi banyak tanya di luar masalah kerjaan." Johan sedikit tak enak hati.


"Haha, tak apa pak. Selagi masih diluar privasi, masih bisa saya jawab." Kata Romi berusaha santai.


"Pak Gilang sudah berkeluarga. Mereka menikah sudah hampir 2 minggu, pak. Ya, doakan saja pernikahan mereka langgeng selamanya." Romi bercerita dengan wajah berseri sembari mengingat Laila dan Gilang.


"Aamiin. Saya doakan."


"Oh, iya. Kalau Pak Johan sendiri bagaimana? Apakah sudah berkeluarga?" Romi bertanya mencoba memecahkan suasana.


"Wah, kalau saya masih lajang, pak. Maklum, belum ketemu jodohnya.." Jawabnya diiringi kekehan.


Merekapun mengobrol. Ya, karena Romi dan Johan merasa baik saat mereka berbicara satu sama lain. Mungkin karena usia mereka yang berdekatan.


.


.


**Bersambung.....


.


Heyy readersku tercinta.. Terima kasih atas supportnya.... Doain terus ya supaya author bisa rajin update setiap harinya...


Happy reading.....


Mampir juga ke cerita author "Love is Never Wrong". Semoga readers semua suka sama ceritanya**..


.


.

__ADS_1


__ADS_2