
Pukul 10 siang, Kafetaria sudah mulai ramai pengunjung. Semua pekerja disana nampak sibuk dengan tugasnya. Gilang yang baru saja sampai di depan kafetaria milik istri sahabatnya itu, langsung saja turun dari mobil. Ia melihat ada mobil sahabatnya, Faizan disana.
Ia pun memasuki kafe tersebut dengan langkah pasti.
"Faizan mana?" Tanyanya pada salah satu pelayan disana yang tengah berdiri di meja kasir.
"Di dalam, mas. Sama Mbak Naya." Jawab pelayan tersebut.
"Ooohh,," Ia mengangguk dan berlalu untuk menempati salah satu kursi pengunjung.
Gilang meraba saku celananya. Namun, ia tak mendapati ponselnya disana. Ia mencoba mengingat-ingat dan ternyata ponselnya tertinggal di rumah. Gilang berdecak kesal.
"Ckkk,,, kok bisa lupa, sih." Gerutunya.
Saat ia tengah dilanda keresahan, Faian muncul dari ruangan istrinya. Lelaki itu langsung menghampiri Gilang setelah salah satu pelayan mengatakan padanya keberadaan Gilang.
"Wah, tumben pagi-pagi udah kesini. Eh, Laila nggak lo ajak kesini?"
"Gue mampir. Tadi ada perlu dekat sini." Jawabnya tanpa menjawab pertanyaan Faizan.
"Terus muka lo kenapa sembrawut gitu?" Tanya Faizan lagi.
"Ponsel gue ketinggalan di rumah." Jawabnya lesu.
Faizan tercengang mendengarnya. Tidak biasanya sahabatnya ini lupa akan ponselnya saat keluar rumah.
"Tumben lo ketinggalan ponsel." Ucap Faizan menatap Gilang penuh selidik. Ia yakin pasti sahabatnya ini sedang ada masalah dengan istrinya.
"Lo kenapa sih, Lang?" Tanyanya penasaran.
Gilang mengernyitkan dahinya. "Emang kenapa?" Tanyanya balik.
Wajah Faizan berubah datar. "Ckk,, Kebiasaan. Kalau ditanya malah balik nanya." Pungkas Faizan kemudian mendengus.
Gilang hanya mendesah malas. Rasanya makin rumit saja masalah pernikahannya.
Sementara itu, di kediamannya Laila baru saja memasuki kamar sembari membawa pakaian suaminya yang telah disetrika. Saat tengah menata pakaian, ia mendengar dering ponsel.
Laila berjalan ke arah nakas di samping tempat tidur. Benar saja, disana ada ponsel milik suaminya. Namun, ia heran karena tak biasanya Gilang meninggalkan ponselnya saat pergi. Ia pun melihat layar ponsel tersebut dan berniat untuk mengangkat panggilan. Siapa tahu penting, pikirnya.
__ADS_1
"Halo, bos! Tiketnya udah siap, nanti bos berangkat pada penerbangan jam 3 sore. Semua keperluan juga udah siap, bos."
Laila terpaku. Ia menatap layar ponsel yang bertuliskan nama Romi, mungkin lelaki itu asisten atau sekretaris suaminya. Tapi apa maksudnya? Gilang mau pergi kemana? Mengapa suaminya itu tak mengatakan apapun padanya.
Dengan rasa sesak di dadanya, Laila meletakkan kembali benda pipih itu di nakas. Apakah memang dirinya tak berarti untuk suaminya sehingga hal sepenting itu Gilang tak memberitahunya.
"Mas Gilang mau pergi kemana?" Ucap Laila bertanya dengan lirih serta tatapannya yang kosong.
"Ah, mungkin dia ada perlu ke luar kota." Gumamnya lagi mencoba untuk menghibur dirinya dengan menepis srmua pikiran buruk.
Laila kembali ke arah lemari, dan melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Meski sebenarnya moodnya kembali memburuk.
Ia menatap kosong ke arah depan. Padahal baru tadi malam ia menyerahkan hal berharganya sebagai seorang wanita, kepada suaminya itu. Namun, mengapa kini Gilang seakan menghempaskannya. Apa sebenarnya yang ada di pikiran suaminya itu? Mengapa tega sekali menyakitinya.
Dengan langkah malas dan lesu Laila melangkah meninggalkan kamar. Ia pergi ke teras belakang. Duduk disana dengan segala kemelut dalam pikirannya. Malang sekali. Kini ia merindukan hidupnya yang dulu, saat dirinya belum menikah. Tepatnya sebelum skandal itu terjadi.
.
.
"Gue mau Ke Yogya." Ucap Gilang.
Kini keduanya hening dengan pikirannya masing-masing. Faizan bingung dengan sikap Gilang yang seperti tidak senang.
"Mau ke Yogya kok galau? Enak kali kalau Honeymoon." Kata Faizan meledek.
Gilang menatap Faizan sinis. "Honeymoon apanya? Gue ke Yogya mau ngurus perusahaan cabang yang disana. Dan gue harus sering bolak-balik Jakarta dan Yogya."
"Hah?" Reaksi Faizan terkejut.
"Perginya sama Laila, kan?" Tanya Faizan.
Gilang menggeleng. Seakan ada sesuatu yang menyenggol hatinya, Faizan merasakan kegusaran. Perkataan Gilang seakan mengingatkannya pada kejadian yang pernah ia alami.
Semua kejadian yang dulu pernah terjadi antara dirinya dan Naya, seakan berputar seperti film di benak Faizan. Bagaimana ia bertengkar dengan istrinya itu, lalu Naya yang muntah tengah malam dan ia memarahinya. Kecelakaan itupun juga ia ingat. Bahkan bagaimana tangisan Naya saat mereka kembali bertemu untuk pertama kali.
Semuanya seakan menghantui Faizan dan meninggalkan bekas mendalam dalam pikiran dan hatinya. Perlahan dengan tatapan kosong, Faizan mulai menggeleng.
"Lang, lo serius?" Tanya Faizan tak percaya.
__ADS_1
"Iya. Gue serius." Jawabnya datar.
"Jangan lakuin kesalahan yang pernah gue lakuin dulu, Lang!" Ucapnya. "Lo pasti bakalan nyesel nantinya setelah lo sadar sama perasaan lo, kalau lo sebenarnya cinta sama istri lo."
Dengan wajah memerah Faizan menatap Gilang. Ia berharap Gilang dapat mengurungkan niatnya untuk pergi.
"Ckk,," Gilang berdecak."Gue cuma beberapa hari di Jogja. Abis itu balik lagi ke sini. Tiga atau empat hari disini, gue balik lagi ke Jogja. Begitu, Zan. Sampai perusahaan disana stabil." Katanya menjelaskan. "Kan udah gue bilang tadi, kalau gue bakal bolak-balik kesana."
Faizan tercengang mendengar penuturan dari sahabatnya. Ia tersenyum kikuk karena tadinya sempat salah sangka.
"Memangnya lo kira gue mau menetap di Jogja?" Tanya Gilang yang kali ini wajahnya sudah mulai menampilkan senyum.
"Ya,, syukur deh kalau memang lo nggak menetap disana. Gue cemas aja." Faizan mendelik.
Faizan yang belum hilang perasaan aneh yang ia rasakan karena salah sangka tadi, kini dibuat heran sekaligus penasaran karena helaan napas Gilang yang terdengar berat seperti ada beban yang memenuhi pikirannya.
"Lagian,, gue juga bingung sama pernikahan ini. Kadang gue merasa menyesal udah ngambil keputusan menikah seperti ini. Padahal gue belum siap mental dan hati. Ternyata Pernikahan itu rumit." Ucapnya lirih dengan hati gundah.
Faizan hendak bertanya lagi, namun perkataan Gilang seketika membuatnya mengurungkan niat.
Gue balik aja, deh. Nanti gue ketinggalan info dari Romi lagi." Kata Gilang yang diangguki oleh Faizan. Lalu, lelaki itu berlalu.
Saat Gilang telang menghilang dari pandangannya, ponsel Faizan berdering. Ia pun segera mengangkatnya. Istrinya menelepon.
"Halo, sayang." Sapanya dengan wajah berbinar.
"................."
Entah kenapa, wajah Faizan berubah menegang. Ia terkejut dengan mulutnya yang menganga. Ia langsung berdiri dari duduknya dengan wajah yang semakin cemas dan panik.
"Oke,, aku susul kamu ke rumah sakit. Sekarang kamu berangkat sama supir ya. Ajak Bi Ani juga. Pokoknya kamu harus tenang." Ucapnya cepat.
Faizan bergegas ke ruangan istrinya untuk mengambil kunci mobil. Lalu, ia segera pergi tanpa pamit pada seorang pun karyawan istrinya.
.
.
Bersambung...
__ADS_1
.