
Dentingan sendok terdengar mengisi keheningan di ruang makan runah minimalis itu. Laila menatap heran Gilang yang makan begitu lahap. Sepatah kata pun tak keluar dari bibir suaminya itu semenjak suapan pertamanya. Tapi, ada rasa senang di hati Laila saat suaminya begitu menikmati makanan yang ia masak.
Meski begitu ia juga heran dan bertanya-tanya dalam hatinya. Apakah suaminya tidak makan selama beberapa hari? Gilang terlihat seperti orang kelaparan yang taka makan seminggu.
"Dek." Sahut Hanif. Lelaki itu dari tadi menyaksikan apa yang terjadi. Gilang yang makan dengan lahap dan sangat fokus. Juga adiknya yang menatap Gilang dengan tatapan aneh.
"Kenapa sih natap Gilang begitu banget?" Tanyanya membuat Gilang menghentikan suapannya. Laila yang ditanya seperti itupun kini gelagapan. Biasa-bisanya ia tak menyadari keberadaan Kakaknya yang tentunya juga melihatnya.
"Ah, enggak." Jawab Laila.
Hanif terkekeh. Lucu sekali tingkah adiknya. Tapi, ada yang aneh. Laila dan Gilang terlihat tak banyak berbicara. Sedari tadi jika Gilang berbicara, Laila hanya akan diam. Begitupun sebaliknya. Sepertinya mereka canggung, pikir Hanif.
Sekarang bahkan Gilang hanya diam meski Hanif menertawakan Laila yang diam-diam menatap dirinya. Aneh sekali. Sepertinya mereka tidak akrab.
"Ekhem... Kayaknya gue mau balik dulu deh, Lang." Ujar Hanif memecah keheningan.
Gilang yang sudah selesai dengan makannya pun mencuci tangannya yang sedikit terkena bekas makanan.
"Lah, cepat banget." Jawab Gilang. "Baru juga kita ketemu, Nif."
"Lo tenang aja. Kita pasti bakalan sering ketemu. Gue pindah dinas. Bukan di Bali lagi." Katanya. Hal itu membuat Gilang tersenyum.
"Ya udah. Kalau gitu gue pergi dulu." Pamit Hanif.
Gilang mengantarnya hingga ke depan. Begitupun Laila. Hanif mengusap kepala adiknya itu dengan sayang saat Laila menyalaminya.
"Oh, iya dek. Kakak kayaknya mau nyusulin Bunda sama Ayah ke Lampung. Tapi lusa. Kamu mau ikut?" Tanya Hanif menatap sang adik.
Laila terlihat ragu menjawab. Ia melirik Gilang sebentar. Lalu kembali menatap sang kakak yang menunggu jawaban darinya.
"Mmm,,, nanti Ila kabarin deh, kak." Ucap Laila akhirnya.
"Oke. Jagain adek gue Lang." Hanif memainkan alisnya.
Gilang mengangguk. Kali ini ia benar-benar akan melakukan apa yang diminta oleh Hanif. Mengubah sikap dingin dan cueknya pada sang istri. Memberikan kebahagiaan untuknya.
.
__ADS_1
.
Setelah kepergian Hanif, Laila membereskan meja makan dan mencuci piring. Kini ia tengah duduk di sofa ruang tengah sembari memainkan ponselnya. Gilang yang tadinya berada di ruang kerja, kini terlihat menuruni anak tangga.
Ada semburat bahagia di wajah Laila namun tak ia perlihatkan pada sang suami. Ia menatap Gilamg yang tengah menuruni anak tangga. Setelah sampai di lantai dasar, Laila berucap yang berhasil membuat Gilamg terpaku.
"Mas. Pengen makan rujak!" Ucapnya.
"Hah?" Gilang heran dengan sikap istrinya. Mengapa tiba-tiba Laila berani mengutarakan keinginannya. Biasanya Istrinya itu sangat tertutup dan tak mau mengumbar hal apapun padanya.
Keheningan tina-tiba menyelimuti keduanya. Suasana di ruang tengah itu mulai terasa canggung. Laila akhirnya tersadar sengan apa yang baru saja ia ucapkan. Ia sendiri bingung, apa yang terjadi pada dirinya? Ohh,, mungkin ini bawaan hormon kehamilannya.
Beberapa saat berlalu, akhirnya Gilang buka suara. "Ayo, beli!" Sahut Gilang. Wajah Laila berubah senang.
"Oke. Aku ambil tas dulu." Laila berlari melewati Gilang yang berdiri di dekat tangga. Wanita itu melangkah begitu cepat menaiki susunan anak tangga, membuat Gilang hanya bisa menghembuskan napas panjang seraya menetralkan detak jantungnya.
Gilang memegang dadanya. Ia merasa seperti orang yang baru merasakan jatuh cinta saja. Tapi, ada rasa senang mendengar istrinya mulai berterus terang tentang keinginannya. Itu berarti ada kemajuan dalam.hubungan mereka.
Laila menuruni anak tangga saat Gilang masih sibuk dengan pikirannya. "Ayo, mas!" Ujar Laila membuat Gilang tersadar.
"Iya. Ayo." Jawabnya. Ia pun meraih tangan Laila dan menggenggamnya. Laila yang menyadari hal itu menoleh menatap Gilang dan tautan tangan mereka bergantian.
"Ayo!" Ujar Gilang sekali lagi dan Laila mengangguk.
Gilang lalu melangkah mensejajarkan dengan langkah istrinya. Ia tak melepas genggamannya sampai Laila masuk ke mobil. Akhirnya Laila bisa bernapas lega saat telah berada di dalam mobil. Jantungnya seperti orang selesai lari maraton.
Mobil melaju membelah jalanan. Hanya saling diam, itulah yang mereka lakukan. Namun, saat setelah 10 menit berjalan, Gilang mulai bersuara memecahkan keheningan diantara mereka.
"Kamu hari ini kemana aja, La?" Tanya Gilang.
Laila terlihat ragu membuaka suara. "A,, aku,,, hari ini ke Kafetaria." Jawabnya.
"Pulang jam berapa?" Tanya Gilang lagi. Gilang terlihat tenang meski sebenarnya ia menunggu pengakuan sendiri dari sang istri.
Sementara Laila bingung harus menjawab apa. Karena, ia sendiri tidak tau jam berapa ia sampai di rumah dan dalam keadaan pingsan.
"La!" Gilang menatapnya menunggu jawaban. Sementara Laila terlihat gugup.
__ADS_1
"Eh, itu ada penjual rujak, mas. Berhenti disini aja." Ucap Laila yang melihat keberadaan penjual rujak di pinggir jalan. Gilang menepikan mobilnya.
Saat Laila akan turun, Gilang menghentikannya. "Aku aja yang turun." Ucapnya.
"Tapi,, aku maunya langsung makan disini, mas." Laila berkata dengan wajah cengonya. Gilang hanya mengangguk kikuk.
Lebih baik ia turuti saja tanpa ada bantahan. Permulaan yang baik untuk rumah tangganya yang harmonis.
.
.
Di lain tempat, sepasang orang tua baru tengah menikmati waktu mereka bersama balita kecil yang baru berusia 2 minggu. Sang ibu terlihat begitu senang dan gemas karena sang anak. Sesekali ia menyentuh pipi gembil balita itu.
Namun, saat tengah sibuk dengan sang bayi, si ibu muda yang tak lain adalah Naya, tiba-tiba terlihat lesu. Faizan yang menyadari perubahan sikap sang istri yang tiba-tiba itu pun angkat suara.
"Kenapa, sayang?" Tanya Faizan.
"Apa Laila beneran harus berhenti ya, Mas?" Naya terlihat sedih. Ia sangat menyayangi gadis muda yang sudah dianggapnya sebagai adik itu. Belum rela rasanya jika Laila harus berhenti bekerja di kafetarianya. Kinerja Laila yang sangat bagus juga menjadi alasan Naya enggan melepasnya.
"Kalau memang harus, ya mau gimana lagi sayang? Laila udah bukan kayak dulu lagi. Semua geraknya tergantung Gilang sekarang." Jelas Faizan membujuk sang istri.
Lagi-lagi Naya menghela napas berat. Sedih? Tentu saja. Naya tahu jikalau Laila sangat menyukai pekerjaannya itu. Entah bagaimana ia harus mengatakannya pada Laila nanti? Pasti Laila akan merasa kecewa karena Naya memintanya berhenti dari pekerjaannya.
Di samping itu, Naya juga merasa akan sulit untuk menemukan pengganti Laila untuk menjadi Manager di Kafetaria. Sejauh ini, belum ada karyawannya yang benar-benar bisa menghandle Kafe sendiri seperti yang dilakukan Laila. Bahkan, Laila mampu menghandle kafetaria sembari melayani tamu-tamu.
"Uda h lah, sayang. Kamu pasti ngerti posisi Laila sekarang. Ini juga akan berdampak baik untuk hubungan mereka ke depan. Karena mereka jadi punya banyak waktu untuk berdua." Kata Faizan.
Benar juga apa yang dikatakan suaminya. Toh, Naya sendiri tahu bagaimana kehidupan GIlang dan Laila sekarang. Semoga mereka menjadi keluarga yang harmonis.
.
.
Bersambung.......
.
__ADS_1
.