Cinta Dan Benci

Cinta Dan Benci
II - 13


__ADS_3

Selesai makan, Gilang berniat menyampaikan sesuatu pada Laila. Ia menatap istrinya itu. Laila yang ditatap merasa aneh namun mencoba bersikap biasa saja.


"Sepertinya kita harus bicara." Ujar Gilang. "Ayo, ke kamar!" Kata Gilang bangkit dari tempat duduknya.


Laola menuruti saja. Ia pun menyusul suaminya ke kamar. Sesampai di kamar, Laila ikut duduk di pinggir ranjang, tepatnya di samping suaminya.


"Kamu tau kan permintaan Eyang." Kata Gilang tanpa basa-basi.


Laila tercekat mendengar perkataan suaminya. Apa Gilang berencana untuk punya anak dengannya? Tapi, bukankah nanti mereka akan berpisah. Lalu, bagaimana kalau setelah mereka punya anak, Gilang benar-benar menceraikan dirinya? Lagipula mereka tak saling mencintai, dan Laila rasanya berat untuk menyerahkan mahkotanya pada lelaki yang tidak mencintainya. Sekalipun Gilang adalah suaminya.


"Kalau kamu nggak keberatan, kita kabulkan keinginan Eyang." Ucap Gilang lagi.


Laila semakin gusar karena perkataan Gilang. "Mas, Tapi kan,,,"


"Kalau kamu nggak mau, saya cari wanita lain saja yang mau jadi istri saya."


Deg,,, Bagai bongkahan batu besar yang menghantam dadanya. Laila merasa sakit mendengar ucapan suaminya. Ia tak kan rela akan hal itu. Untuk berpisah dengan Gilang saja nantinya, Laila benar-benar belum siap membayangkannya. Karena, entah mengapa rasa cintanya untuk Gilang semenjak mereka menikah sudah semakin bertambah.


"Bagaimana?" Tanya Gilang.


"Kamu pikirin dulu!." Kata Gilang karena tak ada respon dari Laila.


Ia kemudian berlalu meninggalkan sang istri yang masih terpaku. Dalam hati Gilang berharap Laila setuju. Karena, ia tak berharap untuk berpisah dengan Laila, seperti apa yang dulu pernah ia katakan.


"Cuma ini caranya agar aku bisa mengikat kamu. Sampai kapanpun aku nggak akan mau berpisah sama kamu, La. Aku nggak mau melepaskan kamu." Tekadnya dalam hati.


Gilang menghentikan langkahnya di depan ruang kerja. Ia menelepon Papanya.


"Halo, Pah."


"Halo. Gimana, Lang? Kamu udah pikirin kan?"


"Udah, Pah. Gilang berangkat lusa."


"Oke. Kalau gitu, kamu berangkat sama Romi."


"Oke, Pah."


Panggilan berakhir. Bertepatan dengan itu sebuah panggilan masuk ke ponselnya. Ia pun langsung mengangkatnya.


"Halo!"


"Halo, bos. Saya sudah dapat informasi yang bos minta. Pengirim bunga untuk bu Laila adalah Delon Rionaldo, bos. Dipesan dan dikirim kemaren siang."

__ADS_1


Sebelah alis Gilang terangkat. Ia lalu memutus sambungan dan menggenggam erat ponselnya. Jadi, benar bahwa lelaki itu yang mengirim bunga untuk istrinya. Dengan cepat, Gilang kembali ke kamar. Ia membuka pintu dengan kasar dan langsung menuju ke arah dimana bunga itu diletakkan.


Laila yang melihat suaminya bertindak secepat itu terkejut. Ia menghampiri Gilang dan mencegah suaminya yang hendak membuang bunga tersebut.


"Mas. Kenapa dibuang?" Tanya Laila.


"Saya nggak suka bunga ini ada disini." Ucapnya Dingin namun tegas.


"Ta,, tapi,, kenapa, mas?" Laila nampak ketakutan.


Gilang hanya diam. Ia kemudian berlalu. Namun, langkahnya kembali terhenti.


"Jangan coba-coba kamu ambil lagi bunga itu. Dan, ingat! Jangan pernah terima kiriman apapun!" Peringatnya membuat Laila seketika bergidik ngeri.


Apa yang membuat suaminya semarah ini? laila benar-benar bingung. Bukankah tadi Gilang tiba-tiba masuk dan membanting pintu. Lalu, membuang bunga yang terpajang di atas lemari. Laila hanya bisa menatap miris bunga tersebut yang telah hancur di dalam tempat sampah.


.


.


Gilang menyetir mobilnya dengan kecepatan hampir mencapai maksimal. Ia sedang mencoba meredakan amarahnya. Jujur saja, badannya masih terasa kurang fit. Namun, jika ia tetap berada di rumah, takutnya ia akan terus membuat Laila sakit hati karena perkataan dan tindakannya.


Sebenarnya Gilang sangat kesal pada dirinya sendiri yang tak bisa menahan rasa cemburunya terhadap sang istri. Hingga rasa cemburunya itu membuatnya tak dapat menahan emosi. Kini ia berpikir. Setiap hari hanya luka yang ia berikan untuk istrinya. Sungguh, ia merasa menjadi suami yang sangat buruk. Setiap kali ia mencoba untuk bersikap baik dan lembut pada istrinya, namun ada saja yang membuatnya berubah pikiran secara tiba-tiba.


Apakah mereka memang tak bisa untuk bersama? Apa mungkin mereka benar-benar harus berpisah? Tapi ia mencintai Laila. Bahkan, Gilang merasakan rasa cintanya kian bertambah setiap hari. Dan ia takut kehilangan istrinya itu. Karena hal itulah emosi menjadi sering tidak terkontrol.


"Apa sikapku selama ini sudah sangat keterlaluan? Tapi kenapa aku tak bisa untuk bersikap manis pada istriku?" Gumamnya lagi meremas rambutnya.


Ia memukul setir mobil, meluapkan semua emosi yang bergejolak dalam dirinya.


"Argghh... Ini semua karena laki-laki itu." Geramnya.


Ponselnya tiba-tiba berdering. Gilang meraihnya, lalu memeriksa benda pipih tersebut. Ia mengernyitkan dahinya heran, laku menjawab panggilang tersebut.


"Halo, ada apa, Yo?"


"Lang. Gimana keadaan lo? Tadi Laila bilang lo sakit."


"Iya. Tapi udah mendingan kok. Ini gue lagi di jalan." Katanya melihat sekeliling.


"Di Jalan? Jalan kemana lo?" Tanya Rio. Gilang tak menjawab. Ia bingung, ingin kemana dirinya pergi.


"Mm,,, itu. Gue ke minimarket, ada yang mau dibeli." Jawabnya berbohong.

__ADS_1


"Oohh... Ya udah. Hati-hati, lo. Harusnya lo istirahat dulu. Jangan langsung pergi-pergi." Nasehat Rio.


"Iya, Yoo. Udah, ya. Gue tutup." Kata Gilang.


Panggilan berakhir. Gilang pun mulai kembali menjalankan mobilnya. Ia memutar kemudi, kembali ke rumah. Ia harus benar-benar menurunkan emosinya. Karena, ada sesuatu yang harus ia lakukan secepatnya.


.


.


Laila tengah gelisah menunggu suaminya yang masih belum kembali. Setelah kemarahan Gilamg tadi, suaminya itu pergi begitu saja. Ia sangat khawatir karena kondisi kesehatan Gilang yang kurang bagus.


Tadi siang suaminya itu baru mengalami demam, dan kini Gilang malah pergi ke luar. Dan Laila tak tahu kemana suaminya itu.


Ia masih mondar-mandir di ruang tamu. Bi Eti yang melihat kegelisahan majikannya itu turut prihatin. Laila begitu sabar menghadapi sikap suaminya yang jelas-jelas tidak menggenakkan. Sebagaimana yang wanita paruh baya itu saksikan beberapa kali, Gilang menunjukkan sikap buruk pada Laila. Dan itu sudah menjadi bukti jikalau rumah tangga majikannya sebaik itu.


"Non." Sahut Bi Eti menghampiri Laila.


"Iya, bik." Laila menatap Bi Eti sendu.


"Non udah coba telfon den Gilang?" Tanya Bi Eti.


"Udah, bik. Tapi, nggak diangkat. Aku takut Mas Gilang kenapa-napa di jalan, bik. Karena dia kan lagi sakit." Curah Laila menatap Bi Eti lagi dengan wajah penuh kecemasan.


Bi Eti menyentuh pundak Laila dan menatapnya iba. Laila tak terpengaruh sama sekali dengan sikap Gilang selama ini. Ia benar-benar salut dengan kepribadian gadis muda di hadapannya ini. Ia dapat melihat kegelisahan Laila dari wajahnya.


"Mendingan non ke kamar aja. Ini udah hampir larut loh, non. Nanti yang ada kesehatan non juga terganggu. Nggak usah nunggu den Gilang lagi, non." Kata Bi Eti membujuk Laila.


"Aduh, nggak mungkin aku nggak nunggu mas Gilang, bik. Aku takut dia beneran kenapa-napa. Aku nggak bisa tenang, bik." Ucap Laila.


Bi Eti yang mendengar penuturan Laila hanya bisa menghela napas berat. Ia tak ingin memaksa Laila. Biarlah majikannya melakukan apa yang ia inginkan. Karena, memang itu adalah kewajiban seorang istri, menunggu suami pulang.


"Ya sudah, non. Jangan kelamaan nunggunya. Non Laila juga harus istirahat." Ucap Bi Eti akhirnya.


Laila mengangguk. Ia memilih untuk duduk di sofa saat Bi Eti mulai berlalu ke dalam. Sebenarnya saat ini bukan hanya Gilang yang belum pulang yang mengganggu pikiran Laila. Namun, perkataan lelaki itu tadi sore yang juga berputar di kepalanya. Membuat wanita berparas ayu itu merasa dilema.


Lama menunggu akhirnya Laila tertidur di sofa dengan posisi duduk. Hal itu pun terjadi karena tanpa Laila sadari waktu sudah semakin larut.


.


.


Bersambung.....

__ADS_1


..


.


__ADS_2