Cinta Dan Benci

Cinta Dan Benci
Cemburu


__ADS_3

   Sinar mentari menerobos masuk melalui ventilasi kamar Fahri, Fahri mengernyit saat cahaya itu semakin terang menembus kelopak matanya.


   "Bangun, woy. Udah siang jangan tidur mulu!" ucap Lidya yang tiba-tiba menarik selimut Fahri.


    Fahri bangkit dengan tatapan malas yang tertuju ke arah Lidya, "Harus banget bangun sepagi ini?" ucap Fahri yang menatap Lidya jengah.


    "Haruslah, nanti kita sarapan bareng, aku udah masak, tuh. Nah setelah itu kita anter Alfa ke sekolah bareng-bareng. Terus kita nanti ke taman, dan tugas seorang adek, kalau udah ke taman, wajib beliin kakaknya boneka." Lidya tersenyum puas melihat wajah kesal Fahri.


    "Ini kenapa, sih? Lo manja banget jadinya, kak? Sebel gue, bukannya gak mau, tapi ini masih pagi," ujar Fahri.


     "Pagi? Ya harus bangun pagilah! Kalau nggak kita gak bisa anter Alfa!" ketua Lidya, pandangannya menatap tajam ke arah Fahri.


    Lidya segera menarik tangan Fahri. Membuatnya berdiri, dan melemparkan handuk tepat di wajah Fahri. Setelahnya Fahri mengalah dan berjalan lunglai menuju kamar mandi yang berada di dalam kamar tidurnya.


     Lidya berjalan melihat laptop Fahri, mengecek beberapa file.


"Ya ampun! Naskah skripsi kok berantakan gini, sih?!" Lidya berteriak. Fahri yang mendengar suara itu hanya bisa menggeleng pasrah, kecerewetan Lidya tak pernah berubah.


   "Kalau lo mau, benerinlah!" sahut Fahri dari dalam kamar mandi.


    Lidya akhirnya memutuskan untuk membantu adiknya, Lidya benar-benar merapikan skripsi milik Fahri.


   Sesaat kemudian Fahri keluar dan terkejut melihat Lidya yang benar-benar membenahi skripsinya.


   "Lo beneran benerin skripsi, gue?" tanya Fahri yang berdiri di belakang Lidya.


   Lidya mengangguk pasti, dia masih menatap layar laptop dengan serius.


   "Makasih, gak sia-sia gue punya kakak pinter," tawa Fahri.


   "Nanti, kamu harus beliin kakak boneka dia, boneka panda, ya," ucap Lidya yang sudah berdiri di hadapan Fahri, meninggalkan layar laptop.


    "Ok, itu bisa diatur."


     "Nah gitu baru adek yang baik." Lidya cengengesan karena merasa rencananya akan lancar.


     "Tapi nanti jangan minta yang aneh-aneh! Gue nggak suka!" sergah Fahri secepatnya saat melihat wajah dan senyum licik Lidya.


    "Woke." Lidya mengacungkan jempolnya.


  "Selesai!"


    "Cepet banget!" Fahri yang awalnya sedang duduk di pinggir tempat tidur kini kembali berdiri di belakang Lidya.


    "Udah dari tadi aku ngerjain, ini!" ucap Lidya yang mulai menutup laptop dan beranjak dari duduknya.


   "Ok, sekarang kita antar Alfa sekolah. Abis itu baru jalan-jalan." Lidya menaikan alisnya, senyum kepuasan terlihat jelas di wajahnya.


   "Ok, ayok!" seru Fahri yang segera keluar dari kamarnya.


    Seperti yang direncanakan mereka. Setelah mengantarkan Alfa mereka segera pergi ke taman.


   "Ri, aku mau, itu," ucap Lidya yang menunjuk sebuah boneka panda.

__ADS_1


   "Gue heran. Sebenarnya lo kakak apa adek gue, sih?" ucap Fahri yang melihat Lidya masih memilih boneka panda.


   "Dua-duanya. Aku adek sekaligus kakak," ucap Lidya. Lidya melemparkan sebuah pandai mini kehadapan Fahri.


    "Lo mau yang, ini?" Fahri memegang boneka panda yang berukuran mini itu.


   Lidya mengangguk, "Yang itu menarik." Lidya mengambil beberapa boneka lagi.


   "Buruan mau yang mana? Yakin lo milih yang kecil? Biasanya cewek suka yang gede-gede."


 


   "Kayaknya udah paham banget soal cewek." Lidya menungging tak berdosa. Menyenggol lengan Fahri. Dan menaikan alisnya seakan tatapan Lidya penuh dengan rasa penasaran.


   "Udah! Mau yang mana?"


  


    "Cieee, kok ngelak gitu! Berarti bener," ucap Lidya.


    "Gue tinggal juga, lo." Fahri membalikkan badannya seakan ingin meninggalkan Lidya.


    "Eh, jangan dong." Lidya menarik tangan Fahri dengan cepat, "Aku mau yang ini aja," ucap Lidya lagi.


     Setelah membayar boneka panda itu, Fahri dan Lidya kembali menyusuri taman.


    "Iqbal?" pekik Lidya saat melihat sosok Iqbal yang sedang duduk di taman.


    Iqbal berbalik, menatap  Lidya yang telah ada di hadapannya, "Lo udah pulang?" tanya Iqbal seolah tak percaya, semuanya bagai mimpi.


   "Iya." Lidya mengangguk senang, entah apa yang membuat Lidya merasa sangat bahagia. Selama di Jepang, hanya Iqbal temannya yang dia hubungi itu pun melalui e-mail. Lidya tak bisa melakukan lebih, karena jika mereka berkomunikasi melalui ponsel, ponselnya akan disita. Karena Adi tak membiarkan Lidya menghubungi orang lain selain keluarganya.


    "Ini beneran kayak mimpi, gue nggak nyangka kita bakalan ketemu lagi," ucap Iqbal dengan wajah yang sangat bahagia. Ingin rasanya ia memeluk tubuh mungil wanita di hadapannya ini. Tapi tidak mungkin. Ada adiknya.


    "Aku rindu sama, kamu," ucap Lidya dengan rasa bahagia. Lidya begitu merindukan semua temannya. Tapi apa daya diri yang tak bisa bertemu dengan mereka sekaligus. Mungkin kedepannya bisa.


    "Gue tinggal. Yang ada kalau gue di sini jadi obat nyamuk." Fahri pergi meninggalkan Iqbal dan Lidya.


   Keduanya tertawa kecil melihat Fahri yang telah pergi, "Terus, gimana?" tanya Iqbal memulai pembicaraan.


   "Gimana apa? Maksudnya?" Alis Lidya tertawa mendengar ucapan Iqbal.


   "Emmmh, lo udah dapet pacar belom di Jepang? Ya, secara orang di sana itu ganteng-ganteng." Tawa Iqbal pecah sesaat. Tawanya terasa gambar seketika saat menatap wajah heran Lidya.


   "Kok to the point amat?" Tawa Lidya seketika membalas.


   "Ya, apa salahnya gue mau tau, aja." Iqbal mulai merasa canggung sebenarnya topik pembicaraan apa yang sudah ia ucapkan tadi? Ini benar-benar konyol.


   "Heem, ngaku aja kali." Lidya menyenggol lengan Iqbal dengan seringai tawa di wajahnya.


    "Gue--"


    "Lidya!" Kalimat Iqbal seketika terhenti saat teriakan itu menggelegar di seluruh taman.

__ADS_1


   Iqbal dan Lidya berbalik menatap si pemilik suara, "Raka?" ucap Lidya dan Iqbal bersamaan.


    "Apa yang kamu lakukan di sini? Kamu itu calon istri saya! Kenapa kamu tidak menghormati saya, kamu justru pergi bersama orang lain!" Raka menatap tajam ke arah Lidya dan Iqbal bersamaan.


   "Aku--"


   "Cukup! Sekarang kamu ikut saya! Masih banyak yang harus dilakukan untuk pernikahan besok!" Raka memotong ucapan Lidya, membuat wanita itu kesal bukan main melihat sikap Raka. Raka menarik tangan Lidya kasar. Dan membawanya pergi dari hadapan Lidya.


    Lidya yang kini sedang berada didalam mobil milik Raka masih diam dan tak menghiraukan perkataan Raka. Lidya hanya memikirkan bagaimana perasaan Iqbal setelah mengetahui semua ini?


   "Apa kamu mendengar, saya?" tanya Raka yang menatap Lidya. Ia tahu Lidya tak mendengarnya.


   "Emmh iya tau," jawab Lidya tanpa menatap Raka.


   "Jika berbicara tatap lawan bicaramu!"


   Dengan kesal Lidya berbalik dan menatap Raka jengah.


 


    "Ulangi apa yang saya ucapkan tadi!" Raka menatap Lidya dengan tatapan dingin. Membuat Degub jantung Lidya memompa sangat kencang.


   "Engh itu. Anu ... Kamu bilang..." Lidya berpikir  keras, '******, aku nggak tau dia bahas apa!' ucap Lidya dalam hati. Lidya menggigit bibir bawahnya. Berpikir keras. Itulah yang ia lakukan  sekarang.


   Taaaak ....


Raka menyentil kening Lidya dan berhasil membuatnya meringis kesakitan.


   "Lain kali dengarkan, saya! Jangan memikirkan yang lainnya." Raka memalingkan wajahnya. Menatap lurus dengan wajah datar.


   Lidya juga ikut memalingkan wajah, menatap jalanan yang ramai, "Kita mau kemana?" tanya Lidya. Entah kenapa pertanyaan itu keluar dari mulut embernya.


  "Butik." Raka menjawab dengan nada datar.


    Lidya mengangguk paham, sudah pasti mereka kesana atas alasan pernikahan berdasarakan perjanjian itu.


    Laju mobil membawa mereka ke sebuah butik ternama. Banyak gaun indah didalamnya. Tak hanya satu, tapi puluhan, mungkin juga ratusan.


   "Selamat satang di butik, kami. Silahkan masuk!" ucap seorang pegawai butik itu.


   "Oh, Tuan muda Raka Wijaya. Silahkan, masuk," sahut seorang wanita yang merupakan pemilik butik.


   "Saya mau istri saya mendapat gaun kualitas terbaik di sini. Pastikan juga dia nyaman." Raka menatap datar ke arah pelayan itu. Membuat Lidya merasa kesal, 'Sok cool!' cecar Lidya dalam hati.


   "Mari,  Nona!" seru pelayan itu.


    Lidya  berjalan mengikuti pelayan itu, memilih beberapa gaun. Mencoba, memilih, mencoba, memilih. Itulah yang ia lakukan sampai pilihannya sampai pada sebuah gaun yang tampak sederhana. Namun, tetap indah. Lidya mengenakannya dan berjalan perlahan menuju tempat Raka duduk.


     Raka langsung terpesona melihat penampilan Lidya, yang sederhana. Namun, tetap cantik.


    "Raka, aku udah pilih cincin pernikahannya," pekik seorang wanita yang baru memasuki butik.


   Langka wanita itu terhenti saat mendapati Lidya dengan gaun pengantin yang sangat cocok dengannya.

__ADS_1


__ADS_2