Cinta Dan Benci

Cinta Dan Benci
II - 62


__ADS_3

Gilang terdiam dengan Ponsel yang menempel di telinganya. Tatapannya lurus ke luar jendela di mana sekarang tengah turun hujan.


"Iya, Mah. Nanti Gilang kasih tau Laila." Ucapnya yang kemudian percakapan mereka pun berakhir.


Gilang menggenggam ponselnya erat. Entah mengapa ia menjadi gusar setelah mendengar kabar dari sang Mama bahwa Netha akan menikah Minggu depan. Mendadak sekali, pikirnya. Bukankah saudara sepupunya itu sedang tidak memiliki pasangan. Lantas mengapa Netha tiba-tiba menikah?


Laila keluar dari kamar mandi dengan wajah segarnya setelah mandi. Ia melemparkan senyum manisnya pada Gilang yang menatapnya dari arah jendela. Gilang membalasnya dengan tatapan lembut lalu menghampiri sang istri.


"Netha mau nikah." Ujarnya tanpa ditanya oleh Laila. Ia mengusap rambut istrinya.


Pernyataannya itu membuat Laila menatapnya meminta penjelasan.


"Barusan Mama nelfon, katanya Netha bakalan menikah seminggu lagi. Dijodohin." Jelasnyaa yang diangguki oleh Laila.


"Emangnya Kak Netha nggak punya pacar ya, mas?" Tanya Laila sembari berpikir. Ia mencoba mengingat-ingat bagaimana sosok Kakak iparnya itu.


Netha kan cantik, terus juga penampilannya modis, pintar juga. Menurutnya gadis itu aslinya baik. Hanya saja ia terkadang mudah tersulut jika dihasut oleh orang lain.


"Setau aku memang enggak. Mungkin itu alasannya dia dijodohin." Kata Gilang menatap lekat Laila.


"Tapi, emangnya dia mau dijodohin, mas? Bukannya Kak Netha tuh nggak suka diatur ya." Laila sudah dalam mode cerewetnya jika sedang penasaran. "Padahal Kak Netha tuh kayaknya pintar banget loh mas. Pasti dia udah punya kriteria sendiri, dan,,,,,"


Gilang menghentikan ucapan sang istri dengan mengecup bibirnya. Hal itu membuat Laila terkejut dengan mata mengerjap-ngerjap lucu.


"Bawel ya sekarang." Ucap Gilang dengan senyum tipis.


Laila mengerucutkan bibirnya. Ia merasa malu dengan tindakan Gilang padanya yang tiba-tiba. Tapi lelaki itu malah terkekeh menanggapinya. Menurut Gilang reaksi istrinya sungguh lucu.


"Udah,, jangan manyun. Kalau mau dicium, bilang aja." Goda Gilang membuat Laila mengernyitkan dahinya. Namun, seketika gadis itu sadar akan ucapan Gilang dan menatap tajam suaminya itu.


"Mas,," Ucap Laila tiba-tiba setelah keheningan sesaat yang tercipta.


"Hmm??" Gilang menatap lekat sang istri.


"Pengen sesuatu, deh." Laila memasang wajah serius.


"Apa?"


"Apel putih." Kata Laila dengan wajah polosnya.


Gilang yang tadinya penasaran kini matanya terbelalak mendengar perkataan istrinya ini. Apel putih? Apa maksudnya?


"Apel emang dalamnya putih, kan?" Tuturnya Gilang ragu.

__ADS_1


"Enggak. Maksud Aku tuh Apel yang dari kulitnya putih."


Degh,, Apel berkulit putih. Yang benar saja. Gilang belum pernah melihat buah apel dengan kulit berwarna putih. Yang ia tau hanya apel merah, hijau dan pink. Dimana ia harus mendapatkannya.


"Tapi,, mana ada apel yang luarnya putih, Laila." Ucap Gilang frustasi.


"Ihh,, Mas Gilang nggak update ya. Ada kok. Makanya mas cariin apelnya. Aku liat kok di youtube, instagram juga." Kekeuh Laila.


Gilang terdiam menatap Laila yang kali ini dengan raut wajah yang sulit diartikan. Mungkin ia bisa mendapat informasi dari Sosial media yang disebutkan istrinya tadi.


Huh,, Gilang yakin Laila saat ini tengah mengidam. Buktinya istrinya yang sangat sungkan padanya kini dengan terang-terangan menyampaikan keinginannya agar dipenuhi oleh Gilang. Bahkan dengan intonasi penuh penegasan.


Laila menyipitkan matanya melihat wajah suaminya yang mencurigakan menurutnya. Entah apa yang sedang dipikirkan suaminya ini?


Terdengar helaan napas yang membuat Laila was-was. "Ya udah. Kamu tunggu disini. Biar aku cari buahnya." Kata Gilang membuat Laila seketika antusias dan berhambur memeluk Gilang.


"Yeyyy,, Eh, maaf mas. Refleks." Kata Laila merasa tak enak.


Gilang tak menggubrisnya. Ia kemudian berlalu meninggalkan Laila yang masih dengan wajah kikuknya.


.


.


Ponselnya berdering. "Halo,," Ujarnya setelah menjawab panggilan.


"............"


"Gue di jalan M, dekat buah kaki lima."


"Ngapain lo disitu, Gilang? Lagi panas juga."


"Gue nyari Apel putih, Yan." Katanya.


"Hah? Apel putih?"


"Iya, makanya gue lagi di luar. Mending lo bantuin gue nyari." Ucapnya tanpa segan.


"Ckk,, Mau cari dimana. Nggak ada gue liat di pedagang buah Kalo Apel ada yang warnanya putih."


"Ya,, gue juga nggak tau. Laila yang bilang ada."


Lian terdiam. Namun, sedetik kemudian ia tertawa keras. Menertawakan kesialan untuk sahabatnya.

__ADS_1


"Jadi, bini Lo ngidam?" Gilang mendelik.


"Lo rasain tuh apa yang kita-kita rasain sebelumnya. Selamat berjuang menjadi Bapak, Papa Gilang." Ledekan Lian membuat Gilang semakin jengah.


Karena kesal, ia pun mematikan sambungan. Lalu ia mengusap wajahnya setelah melempar ponsel di meja warung tersebut.


Beberapa saat ia mendengar notifikasi. Ia pun melihatnya dan mengernyitkan dahi saat membaca isi chat. Ternyata Lian telah memesan buah Apel putih tersebut dan katanya Gilang tinggal menunggu saja buah itu sampai.


Gilang tersenyum membaca pesan tersebut. Begitulah mereka. Meski menertawakan dan saling meledek ketika susah, namun tetap akan membantu jika mampu mereka lakukan.


"Thanks, bro." Balas Gilang di room chat.


Akhirnya ia bisa bernapas lega dan memilih pergi dari kedai tersebut. Namun, Gilang tak pulang ke rumahnya dan Laila, tetapi ia pergi ke kediaman orang tuanya. Entahlah, ia hanya merasa lelah sekarang setelah berkeliling. Ia akan menunggu buah itu sampai di rumah orang tuanya saja.


Begitu sampai, Gilang langsung ke kamarnya. Ia hanya bertemu dengan satpam di gerbang, tak ada anggota keluarga yang lain. Namun, ia tak mengambil pusing dan memilih langsung ke kamarnya.


Ia hendak merebahkan diri di kasur, namun niatnya urung kala teringat ponselnya. Gilang mengaktifkan mode silent, agar dirinya tak mendengar notifikasi apapun dari Asistennya. Ia benar-benar ingin beristirahat sejenak. Apalagi ia kurang tidur karena menemani Laila yang kelaparan tengah malam selama beberapa hari ini.


Setelahnya Gilang benar-benar tertidur. Ia merasa baru tidur sebentar, tiba-tiba harus bangun dengan mata yang masih mengantuk. Suara omelan sang Mama membuat tidurnya sangat terganggu.


Ia memaksakan matanya untuk terbuka sempurna dan mengumpulkan kesadarannya.


"Mama?" Gumamnya masih dengan kesadaran yang melayang.


Bugh,,, guling empuk itu mendarat di tubuhnya. "Kamu, ya. Ternyata kamu disini. Bener-bener kamu ya, Gilang!!"


Ada apa dengan mamanya? Kenapa mamanya terlihat sangat marah?


"Ada apa sih, Mah?" Tanya masih belum mengerti.


"Ada apa, ada apa. Istri kamu nyariin kamu dari tadi sampai dia nangis-nangis, kamu malah enak-enakan tidur disini."


Perkataan Bu Anne sukses membuat Gilang terbelalak dan seketika ia meraih ponselnya di nakas. Wah, benar saja. Ternyata ada puluhan panggilan tak terjawab dari istrinya. Gilang menepuk jidatnya, merutuki kebodohan dirinya yang mengaktifkan silent mode agar tidak terganggu oleh panggilan dari kantor. Tapi ternyata ia melupakan istrinya.


.


.


Bersambung......


.


.

__ADS_1


__ADS_2