
Mereka pun akhirnya tiba di kediaman keluarga Perdana, papa Restu langsung memerintahkan salah seorang pelayan untuk mengantarkan mereka ke kamar mereka masing-masing untuk beristirahat. Sedangkan papa Restu langsung menuju ke arah kamarnya dan menemui sang istri
"Mereka sudah sampai, aku harap kamu ga melakukan hal yang aneh-aneh terhadap mereka." dengan tegas
Sang istri hanya terdiam dengan tatapan mata yang sulit di artikan
"Sekarang kamu selalu ancam aku demi anak dan cucu kamu, sedangkan aku harus kehilangan anak aku karena kamu. Anak yang bahkan belum sempat aku sampaikan ada ke kamu"
Sedangkan di tempat berbeda dua keluarga besar sedang berkumpul di sebuah ruangan vvip di sebuah rumah makan paling ternama di kota itu
"Bagaimana?" tersenyum bahagia
"Sebaiknya kita umumkan kabar bahagia ini saat ulang tahun perusahaan," tersenyum bahagia
"Wah ide yang baik, dengan begitu kita bisa sekalian umumkan mereka bertunangan secara besar-besaran"
Suara gelak tawa bahagia terdengar di dalam ruangan tersebut, di antara semua orang yang berada di sana semua terlihat bahagia hanya ada satu orang yang tetap memasang wajah datar. Dia adalah Daniel dan itu adalah dua keluarga besar yang sedang berencana menyatukan Daniel dan anak mereka
"Aku ga tau apa yang di inginkan hati aku saat ini? secantik apapun perempuan yang ada di hadapan aku hati aku tetap tak bisa merasakan perasaan apapun, terkadang aku sendiri bingung hati aku seperti sedang menunggu seseorang untuk membuka nya"
Setelah kecelakaan terjadi Daniel benar-benar melupakan semua kenangan Caca, tetapi hatinya tetap tak bisa menerima kehadiran gadis lain. Daniel terpaksa menerima perjodohan tersebut karena desakan dari keluarga besarnya
Setelah mencapai kesepakatan kedua keluarga besar itu terlihat sangat bahagia, bahkan sang gadis terlihat sangat bahagia karena gadis tersebut berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan. Gadis itu tak mau perduli akan sikap dingin yang Daniel tunjukkan, dia hanya ingin memiliki Daniel demi tujuan utamanya
Di tempat yang berbeda Caca terbangun dari tidurnya karena suara ponselnya terus saja berdering
"Ya Del," dengan suara parau khas orang bangun tidur
"Kamu udah sampai ya?"
"Ya, aku sekarang udah di rumah papa."
"Kalau gitu aku jemput kamu ya, kita kan udah lama ga ketemu Ca." dengan suara penuh semangat
"Tapi aku baru bangun Del, aku mandi dulu ya"
"Oke, kalau udah siap kabari ya. Nanti aku jemput kamu"
"Oke"
__ADS_1
Caca segera membersihkan diri bagaimana pun juga sudah sangat lama dia tak bertemu dengan Adel, walaupun mereka sering berkomunikasi melalui telepon tetap saja tak akan sebanding dengan bertemu secara langsung. Selesai membersihkan diri Caca segera menemui sang buah hati di dalam kamar yang telah di sediakan untuk sang buah hati
"Lagi apa sayang?"
Berjalan mendekat ke arah sang buah hati
"Lagi menggambar mah," menatap ke arah Caca dengan senyuman bahagia
Caca mendudukkan tubuhnya tepat di samping sang buah hati
"Kamu lagi gambar apa sayang?" Caca melihat ke arah kertas yang berada di hadapan sang buah hati
"Ini aku, kalau yang ini mama dan yang ini papa. Kalau yang ini nenek dan kakek," tersenyum bangga
Caca hanya bisa tersenyum getir dan meletakkan tangannya di ujung kepala sang buah hati
"Maafin mama ya sayang karena selama ini mama berbohong sama kamu, orang yang selama ini kamu anggap sebagai papa kamu bukan papa kandung kamu sayang"
"Apa kamu kangen sama papa?"
Anak tersebut menggelengkan kepalanya
"Aku ga mau ganggu papa mah, soalnya papa sekarang udah punya anak yang baru jadi aku harus bisa tahan rasa kangen aku sama papa. Aku ga mau papa jadi kepikiran kalau aku kangen sama papa," dengan polosnya
Caca langsung memeluk tubuh mungil sang buah hati dengan perasaan bersalah
"Maafin mama ya Ical, mama tau pasti anak seumur kamu pasti butuh sosok ayah di samping kamu. Tapi mama ga bisa sayang, mama janji mama akan berperan sebagai mama sekaligus papa bagi kamu"
"Apa kamu mau ikut mama ketemu tante Adel?"
Wajah Faizal langsung terlihat bahagia dan anak tersebut menganggukkan kepalanya tanpa rasa ragu sama sekali, Caca pun tersenyum bahagia melihat ekspresi sang buah hati
"Ya udah kamu siap-siap ya, mama juga mau siap-siap dulu"
"Ya mah"
Caca pun kembali ke kamarnya untuk bersiap dan segera menghubungi Adel, tak butuh waktu yang lama Adel pun tiba di kediaman keluarga Perdana. Mereka pergi bertiga ke sebuah taman bermain, setelah merasa puas membawa Ical bermain Adel pun membawa Caca serta anaknya ke sebuah rumah makan
Tapi siapa yang akan menyangka bila di sana adalah tempat yang sama dengan kedua keluarga besar sedang bertemu, Caca dan yang lainnya menempati meja biasa di ruangan terbuka dan memesan makanan yang akan mereka santap. Berbagai candaan ringan pun terjadi antara mereka
__ADS_1
Sedangkan kedua keluarga besar baru saja berencana membubarkan diri, mereka semua terlihat bahagia karena dengan pernikahan Daniel dan gadis itu akan membuat kedua keluarga mereka semakin kuat
"Gimana kalau Daniel yang antar kamu pulang sayang?"
Gadis itu terlihat malu-malu tetapi tetap menganggukkan kepalanya
"Wah calon pengantin perempuan kita kayaknya malu nih"
Semua orang tertawa bahagia sedangkan gadis tersebut hanya bisa menundukkan kepalanya, berbeda dengan Daniel yang hanya memberikan senyuman sedikit sinis
"Apa perlu bersikap seperti itu? apa hebatnya berpura-pura menjadi orang lain"
Semua mulai membubarkan diri dan keluar dari ruangan tersebut, hanya tersisa Daniel dan sang gadis di dalam ruangan tersebut. Hal itu terjadi karena Daniel mengatakan kepada yang lain bahwa ada yang perlu dia bicarakan kepada gadis tersebut
"Apa yang mau kamu bicarakan?"
"Berhenti bersikap manis saat kita hanya berdua," Daniel menatap gadis tersebut dengan tajam
Gadis yang bernama Vivian atau biasa di sapa Vivi tersebut langsung melipat kedua tangannya di depan dadanya sambil tersenyum sombong
"Sepertinya kamu sudah tau semua tentang saya"
Daniel menganggukkan kepalanya
"Jadi apa mau kamu?"
"Kenapa kamu menerima perjodohan ini?" menatap ke arah Vivi dengan serius
"Karena saya butuh kamu untuk mendapatkan semua yang saya inginkan," tersenyum tipis
"Jadi kamu ga akan menentang perjodohan ini?"
"Saya ga perduli walau pun kita menikah hanya satu hari, saya mau mendapatkan apa yang saya inginkan. Tapi mereka memberikan satu syarat yaitu menikah dengan kamu"
"Terserah kamu mau berbuat apa, yang pasti saya harus sampaikan ke kamu. Kamu bisa memiliki tubuh saya tapi kamu ga akan pernah bisa memiliki hati saya," penuh keyakinan
Vivi pun tersenyum tipis
"Selama ini belum pernah ada laki-laki yang menolak saya dan kamu menjadi orang pertama yang melakukan itu, rencana awal saya hanya menikah dengan kamu supaya papa memberikan saya kekuasaan penuh di perusahaan. Tapi sekarang rencana saya akan berubah total karena kamu." memandang ke arah Daniel dengan senyuman yang sulit di artikan
__ADS_1