
Daniel yang tak ingin membuat Caca semakin menjauh dengan Caca mengetahui tujuan dia memilih kedua bunga tersebut pun langsung membuka suara
"Aku suka bentuk bunga peony, dan saya rasa warna putih jika di gabung dengan warna kuning akan serasi. Benar ga Ca?" ucap Daniel dengan yakin sambil tersenyum tipis
Caca hanya bisa menjawab dengan anggukkan kecil dari kepalanya
"Sebelum kita membahas lebih jauh boleh saya minta sesuatu dari kamu Ca?"
"Bapak mau meminta apa dari saya pak?" menatap serius ke arah Daniel
"Kamu bukan bawahan saya dan bahkan saya sudah mengenal anak kamu, apa boleh saya memakai bahasa yang tidak terlalu formal ke kamu?"
"Kalau masalah itu gimana baik bapaknya aja"
"Oke, kalau kita lanjut lagi Ca, apa lagi yang mau kamu bahas sama aku?"
Cukup lama mereka membahas ini dan itu, bahkan Daniel sudah mengirimkan pesan kepada Abian agar tidak ada satu pun orang yang menganggu mereka berdua hari itu. Dan benar saja hari itu tak ada satupun laporan masuk ke dalam ruang kerja Daniel
Setelah merasa cukup Caca pun segera merapikan semua batang bawaannya, sedangkan Daniel segera menuju ke arah meja kerjanya dan mengambil jas kebesarannya juga kunci mobilnya
"Kalau gitu saya permisi dulu pak," ucap Caca dengan sopan
"Permisi kemana?"
"Saya pamit pulang dulu pak"
Daniel pun memperlihatkan kunci mobilnya sambil tersenyum tipis membuat Caca hanya bisa terdiam sambil mengerutkan keningnya
"Saya antar kamu pulang, sekalian saya mau jenguk anak kamu"
Daniel sudah mulai melangkahkan kakinya ke arah pintu sedangkan Caca masih membeku di tempat yang sama, merasa tak ada pergerakan dari Caca Daniel pun memutar kembali tubuhnya
"Kenapa diam? katanya kamu mau pulang?"
"Kenapa bapak mau ketemu anak saya?" ucap Caca dengan tegas
__ADS_1
Daniel pun melangkahkan kakinya dan mendudukkan tubuhnya di dekat Caca
"Kamu tau berapa umur saya Ca?"
"Aku pasti tau kak, ga ada satupun dari kamu yang aku lupakan" bathin Caca sambil menatap tajam ke arah Daniel
Daniel pun menatap jauh ke depan
"Sampai setua ini aku cuma hidup seorang diri Ca tanpa ada pasangan hidup apalagi seorang anak, dan anggota keluarga aku yang lainnya sudah kembali ke sisi Tuhan. Cuma sama anak kamu aku bisa merasa dekat Ca, jadi aku mohon sama kamu kasih aku kesempatan untuk dekat sama anak kamu Ca." ucap Daniel dengan suara yang lirih
"Dari dulu aku adalah orang susah untuk dekat dengan orang di sekitarnya aku Ca, hanya ada beberapa orang yang berhasil masuk ke dalam kehidupan aku. Dan orang yang paling mudah bisa masuk ke dalam kehidupan aku cuma kamu dan anak kamu," dengan serius dan menatap ke arah Caca
Caca bisa merasakan kesedihan yang teramat dalam dari sorot mata Daniel pada saat itu, jika saja mereka tak terhalang dinding yang sangat tinggi ingin sekali rasanya Caca memeluk tubuh Daniel untuk menenangkan hati Daniel saat itu
"Kamu itu laki-laki bodoh kak, dengan wajah dan kekuasaan yang kamu punya seluruh wanita akan rela mengantri untuk ada di samping kamu. Sampai selama ini dan bahkan saat kamu melupakan aku sekali pun, kenapa kamu tetap memilih untuk sendiri?"
Tanpa terasa kedua bola mata Caca mulai berkaca-kaca membuat Daniel langsung merasa panik melihat tersebut
"Maaf.. Aku minta maaf aku ga berniat buat kamu marah atau sedih Ca, kalau kamu memang ga izinkan aku untuk ketemu anak kamu ga masalah kok. Aku minta supir buat antar kamu ya"
"Aku ga apa kok kak," tersenyum tipis
Daniel pun membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna
"Kamu panggil aku apa Ca?"
Caca pun langsung mendapatkan kembali kesadarannya
"Maaf pak kalau saya kurang sopan"
"Aduh padahal saya lebih suka kamu panggil aku dengan sebutan tadi Ca, kalau kamu panggil aku bapak kesan nya aku tua banget"
Caca pun hanya membalas dengan senyuman tipis, dan Daniel pun bisa tersenyum bahagia melihat senyuman Caca saat itu
"Kamu ga tau Ca sebahagia apa hati aku saat ini bisa ada di dekat kamu dan melihat senyuman kamu Ca"
__ADS_1
Daniel pun mengantarkan Caca kembali ke kediaman keluarga Perdana, Faizal yang sedang bermain bersama mama Diana pun menyambut bahagia kehadiran Daniel di tempat itu. Sedangkan mama Diana dan papa Restu menjadi sedikit khawatir melihat kedekatan Daniel dan Faizal, karena mereka sudah tau bahwa Daniel adalah ayah biologis Faizal
Daniel dan Faizal bermain di taman walaupun keadaan tangan Faizal masih di dalam keadaan di gips, sedangkan mama Diana dan papa Restu langsung membawa Caca sedikit menjauh dari mereka
"Ca apa ini ga terlalu berbahaya? gimana kalau dia ingat semuanya dan membawa Ical pergi dari kita Ca? mama ga mau pisah dari Ical Ca" ucap mama Diana dengan lirih
"Aku juga bingung mah, tapi aku ga bisa larang mereka untuk dekat mah"
"Sebaiknya kalau ada kesempatan kamu ajak dua bicara Ca, papa lihat sepertinya dia orang baik. Masa lalu kalian terjadi karena salah paham Ca, gimana juga Ical cuma anak kecil Ca dia tetap butuh sosok seorang ayah"
Caca pun langsung menatap ke arah sang buah hati yang sedang tertawa lepas saat bercanda dengan Daniel
"Seandainya kamu ingat dengan kami apa yang akan kamu lakukan kak? apa kamu benar-benar akan membawa Ical pergi jauh dari aku?"
Caca duduk di salah satu bangku taman belakang kediaman Perdana, sedangkan Faizal kembali bermain dengan mama Diana dan Daniel pun menghampiri Caca yang terlihat sedang merenung
"Kamu kenapa Ca?"
Caca hanya membalas dengan senyuman tipis
"Ya walaupun kita kenal belum lama tapi aku ngerasa sudah dekat sama kamu, jadi kalau kamu punya masalah kamu bisa cerita ke aku. Siapa tau aja aku bisa bantu"
"Boleh aku minta pendapat kamu sebagai seorang laki-laki pak?"
"Oke, aku buka jasa konsultasi gratis buat kamu hari ini Ca." tersenyum tipis
"Seandainya kamu berbuat kesalahan di masa lalu hingga mempunyai seorang anak yang kamu ga tau, lalu karena sebuah alasan tiba-tiba perempuan dan anak itu ada di depan kamu"
Senyuman di wajah Daniel pun langsung menghilang dan menjadi wajah serius
"Tindakan apa yang akan kamu lakukan untuk perempuan dan anak itu pak?" tanya Caca sambil menatap Daniel dengan serius
"Kamu mau tau jawaban aku sebagai laki-laki?"
Caca pun menganggukkan kepalanya tanpa ragu sama sekali
__ADS_1