Cinta Dan Benci

Cinta Dan Benci
7. Hati


__ADS_3

Iqbal keluar dari kelas Lidya dan melihat Raka yang berdiri tak jauh dari pintu kelas Lidya, Iqbal menatap Raka heran, karena Raka yang menatapnya dengan tatapan aneh.


Iqbal tak mengambil pusing dan langsung pergi meninggalkan Raka yang sangat aneh baginya, sedangkan Raka, ia masih terdiam dipijakannya.


"Dia itu...."


***


Saat itu, dari kejauhan Raja menatapi Lidya yang dengan gelisah menunggu jemputan yang tak kunjung datang, niat hati Raka ingin mendatangi Lidya dan menawarkan tumpangan, sejenak Raka bergulat dengan pikirannya yang memilih antara cintanya atau bencinya? Saat ini Raka masih mengingat saat SMP di mana Raka sangat membenci sosok Lidya yang baginya sangat mengusik, hal lain yanv membuat niat Raka terurung adalah Raka masih merasa agak aneh karena dahulu Raka sangat dingin dan cuek pada Lidya, jika ia harus menawarkan tumpangan dan bersifat hangat pasti Lidya akan merasa aneh.


Raka menepis semua pikiran anehnya dan mencoba melawannya Raka mulai menyalakan motornya, namun hanya tinggal menarik gas saja untuk menghampiri Lidya niatnya kembali terurungkan saat melihat mengetahui ada orang lain yang menawarkan tumpangan pada Lidya, perlahan tapi pasti, pria itu membawa Lidya pergi dengan motornya.


Raka hanya bisa menatapi kepergian Lidya yang sangat ia sesali.


***


"Bener banget, dia cowok yang waktu itu nawari tumpangan sama Lidya dan udah buat gue nahan sakit sama kecewa yang luar biasa, gue harus was-was apa pun yang terjadi Lidya tetep punya gue!" ucap Raka pada dirinya sendiri.


Raka berjalan memasuki kelasnya yang hanya bersebelahan dengan Lidya.


Raka menatapi beberapa murid yang ada di kelasnya, awalnya ia mengira kelasnya itu sepi. Tapi ternyata tidak, masih banyak siswi di sana.


Raka duduk di kursinya, bergulat dengan hatinya yang gundah, masih menimbang tentang rasa yang ada di hatinya. Raka masih ingat benar saat dulu ia bersikap tak peduli dan dingin pada Lidya. Meskipun begitu, Lidya tetap bersikap baik padanya, hingga pada suatu hari, Raka benar-benar merasa ada sesuatu yang aneh saat Lidya tak lagi ada untuknya, tak ada pesan dari Lidya, tak ada ucapan salam yang di hiasi senyuman manis, Lidya pergi satu minggu ke luar negeri bersama orang tuanya, dan saat itu Raka merasa ada yang kurang, di tambah rasa kagum Raka terhadap Lidya, yang meskipun anak keluarga kaya, Lidya tak pernah sombong atau pun memerkan kekayaan orang tuanya, bahkan Lidya selalu berpenampilan sederhana dengan kacamata yang membingkai dua bola matanya.


Raka semakin kagum saat mengetahui, Lidya adalah sosok orang yang selalu menolong tanpa memandang status, berbeda dengan anak lainnya.


Dan perlahan rasa kagum itu berubah menjadi cinta, cinta yang belum di sadari oleh Raka, namun sudah membekas dan terus tumbuh seiring berjalannya waktu.


Seorang siswi mendekati Raka, dan duduk di sampingnya.


"Hai Raka," sapa siswi itu.


Raka merasa risih dengan keberadaan siswi itu, sedikit Raka melirik ke arahnya. Raka langsung menyeringai, menatapi wajahnya yang penuh make up.


Entah mengapa akhir-akhir ini Raka tak suka melihat perempuan yang bergaya berlebihan.


"Raka, kok diem aja?" siswi itu kini memegang lengan Raka, membuatnya semakin risih.


"Lo bisa gak, jangan deket-deket kayak gini, gue gak suka," ucap Raka lembut namun penuh penekanan.


Siswi itu langsung menunjukkan wajah kesalnya, dan menjauh dari Raka.


"Dasar cewek! Kenal aja gak pake nempel-nempel kayak prangko," batin Raka.


Raka kembali hanyut dalam pikirannya.


"Eh Mas bro!" tiba-tiba saja David datang dan membuat pikiran Raka buyar.


"Iss apaan sih? Ngagetin aja, kebiasaan!"


"Gimana keadaan putri mata empat?" tanya Rozi.


"Putri mata empat?" Raka heran dengan sebutan itu.


"Maksud gue si Lidya," Rozi meralat perkataannya.

__ADS_1


"Kok lo manggil dia kayak gitu?"


"Ntah, gue suka aja."


"Tapi gue gak suka, awas aja kalo lo manggil dia kayak gitu lagi, gue tabok lo!"


"Maaf pangeran," Rozi membungkuk dan mengatupkan tangannya di depan dadanya.


"Apaan sih! Pangeran tuan putri,  otak lo mereng ya?"


"Sedikit, haha," ucap Rozi dengan tawa yanh garing.


David dan Raka hanya bergidik ngeri melihatnya.


"Ini akibat kebanyakan ditolak sama Ayu," David terkekeh renyah, disusul Raka yang juga menertawakan sahabatnya itu.


"Halo anak-anak!" sapa guru yang sudah memasuki ruang kelas.


"Duh... Bu Dian kok masuk sih?" gerutu Rozi.


"Yah, gagal deh gue ngepo'in Raka," ucap David sambil berjalan duduk ke tempatnya.


Raka menatap tajam David yang duduk di sampingnya.


"Baiklah kita mulai...."


***


"Lid ayo pulang," keluh Ayu yang lelah menunggu Lidya yang masih mencatat tugas kimia.


"Lo pulang aja, ntar sambung lagi," Ayu menyarankan hal yang bagi Lidya tak penting untuk di sahuti.


"Lid, lo denger saran gue 'kan?"


"Denger kok denger," sahut Lidya tanpa memandang Ayu.


"Kalau gitu ayo kita pulang," Ayu menarik lengan Lidya memaksanya.


"Ihh Ayu! Gue itu mau nyelesain tugas ini di sekolah bukan di rumah! Karena kalau ngerjain tugas di rumah penyakit males gue kambuh, kalau lo mau duluan ya sana gak papa!"


"Hiss, tapi... Aha iya Bi Lastri bisa bantu lo 'kan Lid?"


"Bi Lastri?"


"Iya."


"Dia mana bisa nulis, Ayu...."


"Hiis kenapa Sih bokap nyokap lo gak cari pembantu elit kayak om Dharma?! Ya biar bisa bantu tugas lo, kayak pembantu rumah gue."


"Gue gak mau, papa hue gak mau, mama gue juga gak mau, kenapa karena lebih baik kita ngasih rejeki sama yang tua."


"Lo tau, rumah lo udah kayak panti jompo, isinya orang tua semua!"


"Biarin!" lidya kembali fokus pada bukunya.

__ADS_1


"Yang muda, cuma kak Maya, san Sari," ucap Ayu.


Namun tak di respon oleh Lidya.


"Yaudah gue duluan, gak papa 'kan?


"Gak kok, semua juga udah pada pulang. Gak akan ada yang ganggu gue," Lidya memastikan sekitarnya sedikit menoleh kr kanan dan ke  kiri.


"Ok, bye Lilid," Ayu pergi meninggalkan Lidya sendiri di kelasnya.


"Huh akhirnya," Lidya kembali fokus pada Tulisannya.


Beberapa waktu berlalu akhirnya Lidya siap dengan tugasnya. Dengan segera Lidya memberesi semua alat tulis dan berjalan menuju gerbang.


Bruuuk....


"Awww," meringis kesakitan.


Lidya terjatuh di lantai koridor yang tak jauh dari kelasnya.


"Heh cupu! Berani banget lo deketin cowok hits ya! Pertama Iqbal! Sekarang Raka, ntar siapa lagi?" siswi itu mendekat dan menarik rambut Lidya.


Lidya meringis kesakitan.


"Lo kurang ajar!!" bentak Lidya.


"Berani banget lo neriakin gue mau gue koyak tuh mulut?! Hah!"


"Lo mau apa? Mau bilang kalo lo putri dari keluarga Adi Setya? Atu lo mau bilang kalo lo bakal keluarin gue dari sekolah ini? Terserah lo mau ngapain, lo mau bilang aoa gue gak peduli, gak takut gue!" bentak  siswi itu.


Lidya mengernyit berusaha membaca namepage siswa itu.


"Arlea?" tanya Lidya pelan sangat pelan. Hingga tak seorang pun di antara mereka yang mendengarnya.


"Woy!" suara nyaring seorang siswa dapat terdengar jelas dan menggema di seluruh ruangan.


Lidya menatap siswa yang ternyata adalah Iqbal.


"Iqbal?"


"Lo apa-apaan si Lea?"


"Iqbal aku cuma-"


"Cuma apa?" Iqbal memotong ucapan Arlea.


"Au ah!" dengan langkah jenjang Arlea langsung pergi karena kehabisan kata-kata.


"Lo gak papa?"


Lidya menggeleng tanda ia baik-baik saja.


"Lo kenal Lea?"


"Dia temen SMP gue," jawab Iqbal.

__ADS_1


"Yuk gue anterin lagi," Iqbal memberi uluran tangannya kepada Lidya, dan langsung du sambut hangat oleh genggaman Lidya.


__ADS_2