Cinta Dan Benci

Cinta Dan Benci
Perasaan Yang Mengganjal


__ADS_3

Daniel mengantarkan Caca dan jagoan kecil mereka kembali ke kediaman keluarga Perdana, hati kecil Daniel benar-benar tak ingin berpisah dari mereka. Tetapi mau bagaimana pun juga Daniel tak mungkin membawa mereka tinggal bersama sebelum ada sebuah ikatan yang jelas antara mereka


"Biar aku yang bawa Ical ke kamar ya," dengan suara yang pelan


Caca hanya menjawab dengan anggukkan kepalanya, Daniel pun bergegas turun dari mobil dan mengitari mobilnya untuk membuka pintu di bagian Caca. Daniel mengangkat tubuh Faizal secara perlahan agar anak tersebut tidak terjaga dari tidurnya


Daniel meletakkan Faizal dengan perlahan di atas tempat tidur secara perlahan dan menutupi tubuh anak tersebut dengan baik, Daniel juga mencium kening Faizal dengan sangat lembut


"Selamat istirahat jagoan kecil papa, sabar ya sayang sebentar lagi pasti kita berkumpul bersama. Papa janji papa akan menebus semua waktu kita yang sudah terbuang" bathin Daniel


Caca hanya bisa terdiam melihat tatapan mata Daniel yang penuh kasih sayang ke arah Faizal


"Semoga kamu ga akan marah sama aku dan Ical saat kamu tau kalau Ical itu sebenarnya darah daging kamu kak, aku saat itu hingga detik ini masih belum punya keberanian untuk bicara jujur sama kamu kak" bathin Caca


Caca pun mengantarkan Daniel kembali ke mobilnya


"Aku pulang dulu ya," ucap Daniel sambil tersenyum tipis


Wajah Caca pada saat itu menunjukkan dengan jelas bahwa dia sedang memikirkan sesuatu


"Kamu lagi mikirin apa sih?"


Caca hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya dan Daniel pun meletakkan tangannya di ujung kepala Caca dengan lembut


"Kalau ada masalah apapun sebaiknya jangan di pendam seorang diri, kalau kamu cerita ke aku setidaknya beban di hati kamu kan bisa berkurang." ucap Daniel dengan lembut

__ADS_1


"Aku ga apa kok kak," tersenyum tipis


Daniel pun memilih untuk tak memaksa Caca mengatakan apa yang sedang dia pikirkan pada saat itu, Daniel yakin Caca akan bercerita dengan sendirinya bila waktunya sudah tepat. Sama seperti dirinya saat itu, sesaat sebelum Daniel pergi tiba-tiba saja Caca memeluk tubuh Daniel dengan sangat erat


"Aku ga akan paksa kamu untuk bilang sebenarnya kamu kenapa Ca? aku akan selalu menunggu kamu bercerita dengan sendirinya, walaupun kalau mau jujur aku jadi sedikit cemas melihat kamu bersikap seperti ini Ca." bathin Daniel sambil mengelus punggung Caca dengan lembut dan berakhir dengan ciuman yang lembut di ujung kepala Caca


"Gimana kalau kita saling membuat janji kak?" Caca mendongak kan kepalanya


"Kamu mau kita buat janji apa Ca?"


"Ga perduli apapun yang terjadi nanti di masa depan, saat kita mengetahui sesuatu kita ga boleh saling marah. Walaupun kamu belum ingat aku tapi kita sudah berencana untuk menikah kak, aku ga mau masalah di masa lalu kita menjadi hambatan di masa depan kita." ucap Caca dengan lembut


Caca hanya mencari cara agar Daniel tidak merasa kecewa terhadap dirinya bila Daniel mengetahui bahwa pada saat dulu kala dia berbohong tentang buah hati mereka, tetapi Caca tak mengetahui bahwa apa yang baru saja Caca katakan bagaikan sebuah anugerah yang sangat besar bagi seorang Daniel Putra Perkasa


"Kamu serius Ca?"


"Aku setuju Ca," ucap Daniel penuh keyakinan


Di tempat yang berbeda Vivian kembali lagi ke tempat pria dingin yang berjanji akan membantu dirinya, hal tersebut terjadi karena pria tersebut mengatakan bahwa Daniel sudah melamar Caca. Dan lagi-lagi pria tersebut menginginkan hal yang sama dari Vivian


Hari itu Vivian melakukan semua yang terbaik yang dia bisa untuk memuaskan pria tersebut, dan pria tersebut akhirnya berjanji akan segera melakukan apa yang Vivian inginkan. Bagi Vivian kini menghancurkan Caca jauh lebih penting dari pada memiliki seorang Daniel Putra Perkasa


Pria itu tak melepaskan tangannya dari tubuh polos Vivian sama sekali, sedangkan gadis itu sudah tak mau memperdulikan apapun lagi selain membalas rasa dendam di dalam hatinya terhadap Caca


"Karena kamu sudah membuat saya bahagia beberapa kali, saya janji saya akan memberikan perlakuan yang spesial terhadap gadis itu. Sampai dia akan merasa malu untuk menunjukkan wajahnya di hadapan orang lain setelah kejadian itu"

__ADS_1


Detik demi detik pun terus berlalu akhirnya hari bahagia bagi Sindy dan Rizal pun tiba, Caca hari itu terjun langsung ke lokasi untuk memeriksa semua keperluan untuk acara tersebut. Walaupun tanpa dia melakukan hal itu sudah banyak orang yang mengerjakan hal tersebut


Sindy tampil dengan sangat cantik di atas pelaminan dan Caca tersenyum bahagia melihat itu semua, bagaimana pun juga Sindy adalah salah satu orang terpenting di dalam hidupnya. Dan tiba-tiba saja ponsel Caca pun mulai berdering


"Nomor siapa ya? kok ga ada namanya? sebaiknya aku angkat aja siapa tau penting" bathin Caca


"Halo.."


"Saat ini anak dan kedua orang tua kamu ada di tangan saya, sebaiknya kamu menjauh dari kerumunan supaya kita bisa berbincang lebih bebas"


Caca yang merasa sedikit panik pun langsung melangkahkan kakinya sedikit menjauh dari kerumunan, dan sudah pasti para pengawal yang berada di dekat dirinya pun langsung memperhatikan gerak-gerik Caca


"Saya sudah di luar gedung"


"Minta para pengawal yang ada di dekat kamu menjauh," ucap orang tersebut dengan tegas


Caca pun segera memberikan kode dengan tangannya agar para pengawal tersebut sedikit menjauh, para pengawal tersebut berpikir mungkin itu adalah telepon yang rahasia mereka pun mengikuti keinginan Caca


"Bagus, sepertinya kamu adalah orang yang bisa di ajak bekerja sama dengan baik"


"Apa maksud ucapan kamu tadi?" tanya Caca penuh penekanan


"Saya akan kirimkan kamu sebuah foto yang membuktikan kalau anak dan kedua orang tua kamu memang ada di tangan saya"


Sedangkan di tempat yang berbeda Daniel sedang bersiap-siap untuk datang ke acara tersebut, tetapi entah mengapa ada perasaan yang mengganjal di dalam hatinya yang tak bisa dia mengerti pada saat itu

__ADS_1


"Kenapa mendadak perasaan aku jadi ga enak gini ya? aku baru aja cek Caca udah ada di sana dan Ical juga lagi jalan menuju ke sana, apa mungkin terjadi sesuatu sama kakek?"


Daniel yang salah sangka pun mencoba menghubungi sang kakek, dan ternyata sang kakek pun dalam keadaan baik-baik saja. Daniel pun mencoba menepis jauh perasaan mengganjal yang sedang dia rasakan, dia pun mulai bergegas pergi ke acara Sindy dan Rizal agar bisa bertemu Caca dan buah hati mereka


__ADS_2