Cinta Dan Benci

Cinta Dan Benci
Membuat Perhitungan


__ADS_3

Bukan hal yang sulit bagi seorang Rizal untuk mencari tau tentang kejadian yang menimpa Caca pada malam itu, setelah Rizal mengetahui apa yang menimpa Caca hal pertama yang dia lakukan adalah menemui Sindy yang saat itu sedang bersiap untuk berangkat kerja


Tok.. Tok.. Tok..


Sindy pun segera membuka pintu


"Apa ada kabar tentang keberadaan Caca saat ini?" dengan nada suara sedikit bersedih


"Maaf mbak, orang-orang yang saya kirim belum bisa menemukan keberadaan Caca saat ini. Tapi saya mau kasih tau mbak apa yang terjadi sama Caca malam itu," dengan nada suara serius


"Kalau gitu masuk dulu Rizal"


"Terima kasih mbak"


Sindy membawa Rizal ke ruang tamu dan menyiapkan secangkir teh manis hangat, lalu dia mulai mendudukkan tubuhnya tepat di hadapan Rizal


"Jadi apa yang terjadi sama Caca malam itu?"


Rizal pun mulai menceritakan semua informasi yang telah dia dapatkan, di mulai dari kehadiran Caca di karaoke terbesar di kota hingga apa yang terjadi pada Caca di dalam salah satu ruangan vvip di tempat itu. Rizal juga menceritakan bahwa akhirnya Caca di bawa pergi dari tempat itu oleh Daniel


"Tapi kenapa Rico bisa berbuat sejauh itu ke Caca? gimana juga kan Caca memiliki hubungan sama Daniel"


Sindy seperti tak percaya dengan semua tindakan yang Rico lakukan pada malam itu


"Apa mungkin karena Rico mau memberi pelajaran kepada Caca mbak?"


"Tapi apa alasannya? kalau dia ga suka Caca berhubungan sama Daniel dia cukup bilang aja, ga perlu berbuat sejauh itu"


"Apa mbak tau siapa orang yang meninggal pada kasus kecelakaan yang membuat Caca menjadi tersangka?"


"Kalau ga salah namanya siapa ya? aduh mbak juga agak lupa namanya"


"Gio mbak," menatap serius ke arah Sindy


"Oh ya Gio kalau ga salah nama korban kecelakaan itu"


"Gio Putra Perkasa"


Nama lengkap dari sang korban yang di sebutkan oleh Rizal membuat Sindy seperti sulit untuk saliva nya sendiri

__ADS_1


"Apa maksud kamu Rizal?"


"Ya mbak, nama korban kecelakaan itu Gio Putra Perkasa atau lebih tepatnya adik dari seorang Daniel Putra Perkasa." dengan penuh keyakinan


"Apa ini artinya?"


"Maaf ya mbak," lirih


Sindy menatap ke arah Rizal dengan tatapan mata bingung, dia merasa bingung mengapa Rizal harus meminta maaf kepada dirinya


"Seharusnya dengan cara apapun dari awal aku harus memisahkan mereka"


Sindy pun tak bisa lagi menahan rasa amarah yang sedang meledak-ledak di dalam hatinya


"Apa ini artinya dari awal semua yang pak Daniel lakukan cuma sandiwara? apa ini alasan bilang dia butuh waktu untuk menenangkan diri?"


Tiba-tiba saja Sindy pun langsung bangkit dari duduknya


"Mbak mau ke mana mbak?"


"Saya mau ketemu sama orang itu, saya harus membuat perhitungan ke mereka"


Di sepanjang perjalanan Sindy hanya terdiam karena dia sendiri merasa sangat sulit untuk menahan rasa amarahnya saat itu, sedangkan Rizal memilih untuk diam karena dia berusaha untuk mengerti perasaan Sindy saat itu


Sedangkan di tempat yang berbeda ada Rico yang semakin merasa sedikit khawatir akan keadaan Caca, setelah percakapan terakhir mereka berkali-kali dia mencoba menghubungi nomor telepon Caca dan selalu saja tak membuahkan hasil apapun. Dan hari itu dia memutuskan untuk pergi ke kantor Daniel


Sesampainya dia di sana dia tak berhasil menemukan Caca di meja kerjanya dan dia pun langsung memutuskan untuk masuk ke ruangan Daniel, Rico yang sudah terbiasa bersikap santai tanpa rasa berdosa sama sekali dia pun duduk tepat di hadapan Daniel


"Mau apa lu ke sini?" melirik sekilas ke arah Rico


"Em...."


Rico yang terlihat ragu untuk mengatakan apa keinginan nya pun membuat Daniel menghentikan semua aktifitas yang sedang dia lakukan dan menatap ke arah Rico dengan serius


"Kenapa?"


"Cewe itu mana?"


Daniel langsung melepaskan tatapan membunuhnya ke arah Rico dan Rico pun hanya membalas dengan senyuman tipis

__ADS_1


"Santai aja, gw mau ketemu dia cuma buat minta maaf doang. Kemarin gw sempat telepon dia, ga tau kenapa gw jadi makin ngerasa bersalah sama dia"


"Kemarin mereka masih sempat ngobrol? padahal sampai detik ini aku masih ga berhasil komunikasi sama perempuan itu, apa dia ga bisa ngerti perasaan aku sedikit aja? dia memang bisa merubah rasa benci aku, tapi dia juga harus ngerti ga semudah itu melupakan kepergian Gio dan mama begitu aja"


"Woi!! jadi cewe lu itu di mana? gw mau ketemu sama dia, gw mau minta maaf"


"Gw ga tau," dengan dingin


"Cih.."


Rico menatap ke arah Daniel dengan tatapan mata sedikit meremehkan, sedangkan Daniel hanya bisa terdiam sambil mengerutkan keningnya


"Gw kira lu laki-laki sejati, ternyata lu tipe laki-laki yang habis manis di buang juga"


"Diam!! kalau ga ada urusan lain sebaiknya lu pergi dari sini." dengan tegas


"Oke, kalau gitu gw cabut dulu"


Rico pun segera bangkit dari duduknya dan mulai melangkahkan kakinya ke arah pintu dan tiba-tiba saja suara kegaduhan terdengar di luar, dan tiba-tiba saja Sindy pun menerobos masuk ke dalam ruangan tersebut di dampingi oleh Rizal dari belakang


Begitu Rizal melihat wajah Rico dia pun segera mendekat ke arah Sindy dan membisikkan kepada Sindy bahwa orang yang ada di hadapannya adalah Rico, tanpa rasa takut sama sekali tiba-tiba saja Sindy melangkah dengan cepat dan plak... Sebuah tamparan yang sangat kuat mendarat mulus di pipi Rico


"Apa karena kalian berasal dari keluarga hebat, kalian merasa berbuat semaunya kepada kami!!" berteriak sekuat yang Sindy bisa


Rico yang sedang terkejut hanya bisa terdiam dan memegang pipinya yang terasa nyeri, dan lagi-lagi plak.. Tamparan kedua mendarat mulus kembali ke pipi Rico


"Apa hak kalian berbuat semua itu ke Caca?!!"


Rico tetap terdiam karena itu adalah pertama kalinya seorang wanita berani menampar dirinya, sedangkan Daniel merasa sedikit tak terima dengan tamparan ke dua dari Sindy untuk anggota keluarganya


"Hei!! apa hak kamu berbuat seperti itu kepada anggota keluarga Perkasa?" penuh penekanan


Sindy pun langsung mengalihkan pandangan matanya kepada sang pemimpin gedung tersebut


"Dan apa hak kalian mempermainkan hidup Caca?"


Saat itu Daniel yang memang sedang merasa penat karena merasa Caca yang menghindari dirinya begitu saja menjadi murka dengan mudahnya


"Apa salahnya kalau kami mempermainkan dia? dia itu orang yang membuat adik saya pergi untuk selamanya. Dan mama menghembuskan nafas terakhir nya dengan perasaan bersedih karena kehilangan anaknya, apa itu semua belum cukup di jadikan alasan untuk kami mempermainkan dia?" tersenyum dingin

__ADS_1


__ADS_2