
Hal yang paling menyebalkan dari Raka adalah dia sangat dingin. menyuruh dengan nada tegas dan wajah tanpa ekspresi, ingin rasanya Lidya melempar wajah bos sekaligus suaminya itu dengan sepatunya.
Dan karena dia juga sekarang Lidya harus duduk berdampingan dengan si bos di dalam mobil yang sama. Entah mau dibawa kemana dirinya, Lidya hanya pasrah. Sepulangnya dari rumah sakit setelah dirawat seminggu, Lidya harus menuruti perintah aneh si bos.
Termasuk kepergiannya dengan si bos yang entah mau kemana. Setelah bernegosiasi dengan Mamer (Mama mertua) dan Mamanya Ifni. Akhirnya Raka membawanya dalam perjalanan panjang ini.
Mobil sudah berhenti, setelah perjalanan yang cukup panjang. Menempuh waktu dua jam. Rasa lelah terbayar dengan indahnya tempat yang kini ada di hadapan Lidya. Indah. Kata yang tepat untuk tempat itu.
Sebuah vila berdiri kokoh dengan pemandangan asri yang menenangkan. Lidya melangkah memasuki vila, tanpa menunggu aba-aba dari Raka sendiri.
"Pak, kita ngapain di sini?" tanya Lidya pada Raka. Ya, 'Bapak' itulah panggilan Lidya pada Raka. Tak seperti pasangan suami istri lain yang memanggil nama suami dengan 'Mas'.
"Kita mau nyari ular!" ketus Raka. Wajahnya datar seolah tanpa dosa. Dan bodohnya Lidya ia percaya.
"Cius?" tanya Lidya dengan wajah kaget.
"Bodoh kok dipelihara!" pekik Raka, tangannya terluncur menyentil dahi Lidya.
Lidya meringis kesakitan, memegangi dahinya yang terasa nyeri. Lidya mengerucutkan bibirnya.
"Pak bos, bisa nggak sehari aja," ketua Lidya.
"Kamu itu bawahan saya! Terserah saya kamu mau saya apain. Mau saya mutilasi juga bisa." Raka segera melesat meninggalkan Lidya saat mendapati wajah kesal Lidya. Bisa gawat jika ia terus berada di dalam mobil itu.
Lidya mengejar sosok Raka, "Pak bos, sampe kapan kita di sini?" tanya Lidya saat suda dekat dengan Raka.
"Sampe kamu beneran sembuh," ucap Raka meletakan koper di depan sebuah kamar.
"Emang saya sembuhnya bo'ongan?"
"Kamu belum pulih, dari pada di Jakarta lebih baik kamu di sini sama saya," ucap Raka. "Kamu tidur di sini, saya di atas. Kalau kamu mau di atas nanti kalau udah sembuh."
"Saya udah sembuh, pak!" ketus Lidya. Lidya begitu ingin untuk tidur di kamar atas, alasannya karena ia suka, dari atas Lidya akan menangkap banyak pemandangan.
"Jangan membantah!" Satu kalimat penegasan cukup membuat Lidya diam dan menuruti perintah Raka. Lidya membawa kopernya masuk ke dalam kamar yang menjadi miliknya.
***
Kesal. Sekarang Lidya rasa Raka benar-benar menjadi seorang bos. Kepulihan keseluruhan Lidya beberapa hari yang lalu membuat Raka mulai menunjukkan sikap aslinya.
Ingin rasanya Lidya mendorong Raka ke jurang di dekat vila ini. Sudah berulang kali Raka menyuruhnya bolak-balik hanya untuk membeli kamu. Ada saja komentar yang membuat Lidya berulang kali harus mencari tukang kamu yang berbeda.
__ADS_1
Satu bukan lamanya. Dan sekarang Raka benar-benar sangat menyebalkan. Ada saja komentar yang membuat Lidya harus berulang kali harus mencari tukang kamu yang berbeda.
"Terlalu pait!"
"Kunyitnya kebanyakan!"
"Terlalu manis!"
Dan banyak lagi komentar Raka setiap kali Lidya kembali membawa kamu yang sama. Namun, tukang kamu yang berbeda. Ingin rasanya Lidya memasukan sianida kedalam jamu yang Raka minum. Tapi ia masih punya pikiran, ia tidak mau menjadi janda tentunya.
Terakhir. Lidya harap ini yang terakhir ia harus mencari tukang kamu. Berdasarkan informasi yang ia dapat, ini memang tukang kamu terakhir di desa kecil itu.
Tukang jamu berumur lima puluh sembilan tahun, bernama Asih. Yang kini hanya bisa berjualan di depan rumahnya, semenjak umurnya semakin tua, Mbok asih-- si tukang jamu. Selalu menjual jamunya tanpa berkeliling.
Lidya mulai mengetuk pintu ramah sederhana itu. Dan tak lama terdengar sahutan seoarang wanita. Pintu terbuka dan menampakan sosok wanita paruh baya dengan kebaya usangnya.
"Mbok Asih?" tanya Lidya memastikan, wanita itu mengangguk. "Saya mau beli jamu temulawak, mbok," ucap Lidya langsung ke inti.
"Oh iya, sek yo. Mbok beresin dulu jamunya," ucap Mbok Asih berjalan menuju dalam rumah.
"Bisa saya bantu, Mbok?"
"Mau kamu apa, Non?" tanya Mbok Asih saat mereka sudah menata kamu di etalase yang berada tepat di teras rumah Mbok Asih.
"Temulawak, Mbok."
"Non, orang baru, ya?" tanya Mbok Asih dengan fokus yang masih tertuju pada kamu yang ia bungkus.
"Iya, baru satu bulan, Mbok. Selama ini saya nggak diijinin keluar sama pak eh maksudnya suami saya," ucap Lidya. Ia menepuk jidatnya saat mendapati kesalahan dalam kalimatnya.
"Selama ini tinggal di mana?" tanya Mbok Asih.
"Di villa yang ada di sana, Mbok," ucap Lidya seraya menunjuk ke arah villa tempat tinggalnya.
"Oh, itu villanya Den Raka. Iya ndak?"
"Eh iya Mbok. Kenal sama suami saya?"
"Dia langganan saya sejak dua tahun lamanya," ucap Mbok Asih tanpa menghentikan kegiatannya.
"Oh gitu ya, Mbok," ucap Lidya manggut-manggut. 'Abis ini pak bos nggak akan nyuruh aku bolak-balik lagi,' batin Lidya.
__ADS_1
"Makasih, ya, mbok." Lidya menerima jamu yang sudah di kelas dalam plastik. Tapi mbok Asih ngasih dia kantong plastik?
"Ini... Punya siapa, mbok?"
"Buat kamu. Baik buat penganten baru, biar bisa cepet punya momongan."
What?! Momongan? Etdah! Kayaknya kejauhan deh halunya, inikan pernikahan yang sebatas kontrak doang. Kalau di TV nikah kontrak jadi cinta, kalau Lidya? Apa bisa? Tapi kayaknya setelah kejadian itu, nggak mungkin untuk mencintai orang yang sama.
***
"Pak bos! Nih, jamunya. Di jamin nggak salah lagi!" Lidya menyodorkan jamu yang ia bawa. "Saya tu angin ya, pak?" Lidya menuangkan jamu itu ke dalam gelas.
Raka masih menatap datar, dan meminum jamu itu, "Gimana, pak?"
"Jamunya kok beda, rasanya?"
"Bapak jangan buat saya, bolak-balik lagi, capek!"
"Tapi ini tugas kamu! Kalau nggak ada jamu saya nggak bisa konsentrasi." Ck! Pengen sekali rasa Lidya mencekik orang ini agar diam dan berhenti mengomel.
"Tapi itu jamu mbok Asih, langganan bapak."
"Itu apa?" Raka menunjuk jamu yang ada di genggaman Lidya.
"Ini ... Ini jamu yang di kasih mbok Asih, khusus untuk perempuan." Aih, malu rasanya jika ia mengatakan yang sejujurnya. Lidya hanya bisa mengatakan sedikit kebenarannya.
"Warnanya kok sama kayak jamu temulawak?"
Lidya mengangkat bungkus jamu itu dan memperhatikan warnanya. "Astaga! Apa jamunya ketukar? Gawat! Aku nggak tau apa efek sampingnya kalau di minum cowok."
"Maksud kamu apa? Aku minum jamu yang seharusnya kamu minum gitu?"
Lidya menganggukkan kepalanya ragu. Aih, bagaimana ini bisa terjadi? Gawat! "Pak, maaf."
"Terus, ini nanti saya nggak kenapa-kenapa, 'kan? Nggak ada efek samping, 'kan?" tanya Raka.
"Kayaknya, sih engga."
"Kamu ini!" Raka pergi memasuki vila dengan perasaan kesal.
"Gue, kan nggak maksud gitu." Lidya menyusun barang-barang Raka yang berserakan di meja taman dan membawanya masuk.
__ADS_1