Cinta Dan Benci

Cinta Dan Benci
II -34


__ADS_3

.


.


Sudah tiga hari Gilang pergi. Sama seperti sebelumnya, tak kabar apapun. Padahal Laila sangat menunggu kabar dari suaminya itu. Setidaknya hanya sebuah sapaan juga akan membuat Laila senang.


Namun, sepertinya harapan Laila tersebut hanya bisa ia pendam dalam hati. Sampai sekarang Gilang tak menghubunginya. Hah,,, benar. Mungkin hanya Laila saja yang mencintai dalam pernikahan mereka ini. Suaminya tidak. Dan mungkin tidak akan pernah.


"Mengapa sulit sekali mendapatkan hati kamu, mas?" Ucap Laila lirih menatap foto pernikahannya dengan sang suami yang ia pegang sedari tadi.


Merindukan suaminya? Tentu saja. Bahkan, Laila kesulitan untuk masuk ke alam mimpi selama 3 hari ini karena tak ada Gilang di sisinya.


Bel rumah berbunyi. Laila segera membukakan pintu, karena memang tak ada Bi Eti yang akan membantunya membukakan pintu.


"Mama?" Ucap Laila tatkala melihat sang ibu mertuanya tersenyum senang menatapnya.


"Hai, sayang. Kamu apa kabar? Mama kangen banget sama kamu, nak." Ucap Bu Anne memeluk menantunya.


"Iya, mah. Ila juga kangen banget sama Mama. Ayo masuk, mah." Ajak Laila.


"Sayang. Kamu nginap lagi ya di rumah Mama." Kata Bu Anne menatap Laila dengan tatspan penuh harap.


"Disini nggak aman kalau kamu sendirian." Lanjutnya.


Laila berpikir. "Ila nggak apa-apa disini kok, mah. Kan ada Pak Ajis juga sama Ulfi." Jawab Laila.


"Tapi kan Ulfi itu siang harus kuliah, sayang. Kamu pasti kesepian kan kalau nggak ada Ulfi. Ikut ya sama Mama!" Bu Anne benar-benar memasang wajah memelas agar menantunya itu mau.


"Mah, maaf ya. Bukannya Ila nggak mau nurutin keinginan mama. Tapi, nanti Mas Gilang pulang, trus nggak ada Ila disini, kasihan Mas Gilang." Kata Laila.


"Sayang. Kamu nggak usah mikirin suami kamu itu. Dia keterlaluan udah ninggalin kamu sendirian."Ucap Bu Anne kesal pada anak laki-lakinya.


"Mah, kan Mas Gilang pergi juga karena kerjaan. Ila juga nggak apa-apa kok disini, mah. Mama nggak usah khawatir." Laila mencoba balik melunakkan sang ibut mertua.


Sejujurnya ia tak ingin bertemu dengan Neta lagi jika ia menginap di rumah mertuanya. Karena, Neta setiap hari akan datang dengan alasan bertemu Eyang. Padahal sepupu suaminya itu sengaja datang bersama Mayang hanya untuk menganggunya.

__ADS_1


Untuk saat ini biarlah ia bertahan sendirian di rumah sebesar ini. Demi pernikahannya. Laila yakin, ia pasti bisa meluluhkan hati suaminya dan membuat Gilang mencintainya. Meski sebenarnya ia ragu dengan waktu 3 bulan ini akan bisa menakhlukkan hati suaminya. Apalagi mereka jarang bertemu.


.


.


"Rom, siapkan berkas buat meeting sekarang. Kamu langsung ke ruang meeting, saya tunggu disana." Kata Gilang memberikan perintah pada asisten sekaligus sekretarisnya.


Gilang berjalan cepat ke ruang meeting dengan langkah tegas dan berwibawa. 5 menit lagi meeting dengan petinggi perusahaan akan diadakan. Meski ia merasa lelah, karena kesibukannya. Namun Gilang tetap profesiinal karena mengingat nasib ratusan karyawan berada di tangannya.


Romi masuk ke dalam ruang meeting membawa berkas di tangannya. Mereka lalu memulai rapat. Dimulai dari Gilang yang mempresentasikan isi rapat, lalu meminta pendapat dan usulan dari para anggota rapat. Hingga 90 menit berlalu, rapat pun selesai.


Gilang bernapas lega saat semua peserta rapat perlahan bubar. Hanya tinggal dirinya dan Romi.


Romi menatap bosnya itu. Ia menyadari bahwa saat ini Gilang sangat lelah. Semenjak pagi tadi Gilang terus saja bekerja, bahkan hampir melupakan makan siangnya. Dan Romi teringat satu hal.


"Bos. Apa bos udah ngasih kabar ke Bu Laila?" Tanya Romi.


Gilang mengangkat kepalanya yang tadi menunduk. Ia baru teringat bahwa selama 3 hari disini, ia belum menghubungi istrinya sama sekali. Tapi, Laila juga tidak menghubunginya. Apa mungkin istrinya itu tak peduli padanya? Hah, sudahlah. Ia gengsi untuk mulai mengabari lebih dulu.


Melihat sikap diam atasannya itu membuat Romi merasa geram.


"Ngapain kamu melotot begitu?" Semprot Gilang menyadari tatapan menusuk Romi padanya.


Romi mendelik. "Bos, bos. Jangan gengsi melulu. Nanti nyesal sendiri." Katanya yang kemudian berlalu begitu saja. Hal itu dilakukan Romi tentu saja untuk menghindari amukan Gilang.


Gilang hanya menatap kepergian sekretarisnya itu dengan geram. Sekretaris s****n... Umpatnya kesal.


Ia beralih mengambil ponselnya di meja. Gilang memandang benda pipih itu lama. Ia masih menimbang-nimbang. Haruskah ia menelpon Laila sekarang? Hahh,, sungguh gengsinya terlalu berlebih.


Brukk....


Pintu dibuka dengan paksa membuat Gilang terkejut. Ia menatap tajam orang yang berdiri di ambang pintu dengan pakaian minim menatapnya dengan gaya centilnya.


"Bos, gue udah larang dia masuk, tapi dia maksa bos." Ujar Romi yang terlihat kesal pada wanita itu.

__ADS_1


"Ihh,, lepasin gue. Ngapain sih lo pegang-pegang gue." Ucapnya memberontak dari cekalan Romi.


"Rom, udah. Lepasin aja." Titah Gilang.


Romi menatap Gilang bingung. Ia cemas jikala Gilang bermaksud untuk memberi harapan lagi pada wanita ulat ini. Dan benar saja, Mayang berjalan ke arah Gilang dengan percaya diri.


"Ngapain lo masuk, hah?" Ucap Gilang datar menghentikan langkah Mayang.


"Kan kamu yang nyuruh." Jawabnya.


"Gue nyuruh Romi lepasin lo, bukan untuk ngebiarin lo masuk. Tapi, supaya lo pergi dari sini. Gue udah nggak mau berurusan lagi sama lo." Gilang menunjukkan rasa tak sukanya pada Mayang. Ia benar-benar jengah.


Gilang tiba-tiba berdiri dan berjalan dengan langkah pelan mendekati Mayang. Ia menatapnya datar. Saat sampai di dekat Mayang, Gilang mendekatkan wajahnya ke telinga Mayang dan berbisik.


"Lo pergi sekarang, atau gue suruh sekuriti nyeret lo pergi? Dan lo akan dipermalukan disini." Ancam Gilang.


Wajah Mayang berubah takut. "Tapi, kan,,,,"


Ucapan Mayang terhenti oleh Gilang. "Rom,, panggil,,,"


"Oke. Aku pergi." Potong Mayang saat Gilang akan menitahkan Romi memanggil keamanan di kantornya.


Mayang segera pergi dari sana setelah melayangkan tatapan membunuhnya pada Romi. Ia takkan berhenti. Sekarang ia mengalah, tapi Mayang belum mau mengaku kalah. Ia akan melakukan apapun agar bisa mendapatkan Gilang dan membuatnya berpisah dari Laila.


Sementara Romi,,, lelaki itu akhirnya bisa bernapas lega setelah melihat tindakam tegas bosnya itu pada si ulat bulu. Ia sempat berpikir jika Gilang masih saja tergoda dengan Mayang yang memang bisa dikatakan cukup menggoda dari wajah dan penampilannya. Namun, tidak dengan akhlaknya yang seperti iblis. Dengan terang-terangan Mayang mendekati lelaki yang sudah beristri tanpa tahu malu.


"Huff,, Gue kira bos masih mau sama dia." Ucapnya tanpa sadar.


Saat menyadari apa yang baru saja diucapkannya, Romi segera melihat Gilang. Benar saja, bosnya menatapnya dengan tatapan membunuh, seketika membuat Romi bergidik. Ia cepat-cepat undur diri dari hadapan bosnya itu.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


.


.


__ADS_2