
.
.
"Aku udah maafin mas Gilang." Laila berucap lirih. Masih berat rasanya untuk mengeluarkan suara normalnya karena ia sangat lemas.
Gilang menatap sendu istrinya. "Makasih, sayang." Ucap Gilang, kemudian mengecup tangan istrinya yang ia genggam.
"Ekhemm,,," Suara deheman itu nembuat Gilang terkejut dan dengan spontan menoleh pada sumber suara.
Ternyata kedua orang tuanya yang tadi tertidur di sofa sudah bangun. Oh tidak, apa mungkin mereka menyaksikan semuanya? Apa Mama dan Papanya juga melihat bagaimana ia menangis tadi? Ahh, sungguh ia malu pada kedua orang tuanya, yang mana Gilang selalu memperlihatkan dirinya yang cool, tegas dan berwibawa.
"Kamu udah disini, kan? Papa sama Mama mau pulang dulu." Ujar Papa Rafli yang terlihat memandang keduanya dengan ekspresi menertawakan.
"Iya sayang. Kamu udah boleh pulang pagi ini, kan La. Nanti mama ke rumah kalian, ya." Kini Mama Anne yang berkata. Mereka ikut senang melihat interaksi keduanya yang sudah mulai membaik.
Bu Anne dan Pak Rafli pamit. Kini tinggal Laila dan Gilang di ruangan berbau obat-obatan tersebut.
"Ya udah, La. Sekarang kamu mau tidur lagi, ya. Nanti kalo udah mau pulang aku bangunin." Kata Gilang.
Laila menatap Gilang ragu. "Tapi,, aku takut mas pergi saat aku tidur." Ucap Laila jujur.
Gilang tercekat mendengar perkataan istrinya. Ia menjadi semakin merasa bersalah.
"Aku nggak akan pergi. Aku disini jagain kamu." Ucapnya tulus. Ia mengusap kepala Laila. Mengapa Laila seperti begitu takut ia tinggalkan. Apa ini karena hormon kehamilan?
.
.
Naya mengambil ponselnya di nakas. Ia masih memikirkan Laila. Sampai sekarang ia masih menunggu kabar tentang gadis itu.
"Kamu kenapa, sayang?" Sahut Faizan yang muncul dari balkon sambil menggendong bayi kecil mereka.
"Laila masih nggak ngangkat telfon aku, mas. Dia dimana ya sekarang?" Naya terlihat sedih.
"Coba kamu telfon Gilang. Mungkin aja udah ada kabar tentang Laila." Usul Faizan.
__ADS_1
Naya mengangguk lalu mencari nomor kontak Gilang dan mencoba menghubunginya. Naya sedikit bernapas lega karena Gilang mengangkat panggilannya dengan cepat.
"Halo,,, Gilang, gimana Laila? Apa udah ada kabar?" Tanya Naya langsung.
Gilang tak langsung menjawab. Terdengar helaan napas di seberang telepon, membuat Naya merasa tak sabar ingin mendengar apa yang akan dikatakan sahabat suaminya itu.
"Laila sekarang ada disini. Di rumah sakit." Jawaban lelaki itu membuat Naya semakin ragu.
"Laila kenapa? Dia baik-baik aja, kan?"
"Dia baik-baik aja. Semalam Laila pingsan dan langsung aku bawa kesini. Sekarang dia lagi tidur." Jelas lelaki itu.
"Memangnya apa yang udah terjadi, Gilang?" Tanya Naya tak sabar.
"Ceritanya panjang. Kalau ketemu nanti kita cerita." Ucap Lelaki itu.
Setelahnya mereka mengakhiri perbincangan mereka. Naya bernapas lega sembari duduk di sofa tunggal di dekat tempat tidur mereka itu. Setidaknya Laila sudah jelas keberadaanya.
Naya menatap Faizan yang masih menimang putri kecil mereka. Ia tersenyum melihat hal itu. Pemandangan yang selalu ia lihat di pagi hari sebelum suaminya berangkat bekerja. Suaminya terlihat sangat menyayangi putri mereka. Bahkan, Faizan enggan untuk berpisah walau hanya pergi ke kantor.
Faizan tersenyum dan akan berucap. "Kan aku,,," Ucapannya menggantung dan menatap tak peecaya pada istrinya.
"Nggak ada alasan ya, mas. Bos harus memberi contoh yang baik pada karyawannya." Ucap Naya tegas dan menatap suaminya dengan senyum yang dipaksakan. Namun setelahnya ia melemparkan tatapan sinis.
"Iya deh, iyaa.." Faizan menjawab dengan pasrah.
Naya mengambil alih sang anak dari gendongan suaminya. Ia sudah bosan mendengar alasan Faizan setiap hari yang selalu berkata jika ia adalah bos di perusahaannya, maka tak masalah jiki suaminya itu kapanpun ingin datang. Naya sungguh kesal. Dan akhirnya kesombongan suaminya itu bisa ia patahkan.
Sementara itu, Faizan berjalan dengan malas menuju ruang ganti. Padahal ia masih ingin menikmati suasana pagi beraama putri kecil mereka. Namun, mau bagaimana lagi? Ia takkan bisa membantah keputusan istrinya barusan.
Tak lama, Faizan selesai bersiap. Ia keluar dengan tampilan yang rapi. Lalu ia menghampiri Naya yang tengah menyusui baby mereka.
"Aku berangkat dulu ya, sayang." Pamitnya setelah mengecup puncak kepala sang istri.
Lalu Faizan beralih menoel-noel pipi anaknya yang sangat menggemaskan itu.
"Nanti aku makan siang di rumah ya." Ucapnya menatap lekat snag istri. "Kamu mau makan apa?"
__ADS_1
"Aku masak aja, deh. Nggak usah beli makanan di luar ya, mas. Keseringan, nanti mas nggak mau lagi makan masakan aku." Kata Naya.
"Loh,, ya enggak akan gitu lah, sayang. Sampai kapan pun aku tetap akan suka sama masakan kamu. Tapi, karena sekarang kamu itu belum aku izinin buat masak, kita pesan aja. Aku nggak mau kamu kenapa-napa, ya." Jelas Faizan.
"Ya udah, deh." Jawab Naya pasrah.
"Kalau gitu aku berangkat." pamitnya lagi.
Naya menatap punggung suaminya yang menjauh. Ia bersyukur dengan keadaan rumah tangganya sekarang. Naya sering teringat akan kesalahan di awal pernikahan yang mereka lakukan dulu. Saling mengedepankan ego, hingga membuat rumah tangga mereka berada di ambang kehancuran.
Ia bersyukur karena Allah cepat membukakan hati mereka, sehingga hubungan mereka membaik. Kehadiran putri pertama mereka juga semakin membuat rumah tangganya harmonis.
.
.
Seorang perempuan dengan rambut sebahu yang bergelombang, terdiam di balik dinding pembatas antara ruang tamu dan ruang tengah. Jantungnya berdetak sangat cepat mendengar perbincangan kedua orang tuanya dengan pasangan paruh baya yang tak ia kenal.
Seminggu lagi dirinya akan menikah. Ya, kedua orang itu adalah calon mertuanya. Neta hanya bisa menelan salivanya dengan susah payah. Membayangkan sebuah pernikahan yang ia sendiri belum siap dan belum mengenal calon suaminya, membuatnya dilema.
Apa mungkin memang sudah jalan takdirnya? Neta melangkah gontai ke kamarnya. Ia tak tahu harus berbuat apa sekarang. Ingin menolak, sudah tak bisa. Entah mengapa orang tuanya bersikeras untuk melakukan perjodohan ini.
"Apa yang harus gue lakuin sekarang? Mama kayaknya pengen banget gue nikah. Tapi, kan gue belum pengen nikah. Apa mama sama papa nggak bisa pahamin perasaan gue?" Ucapnya kesal.
"Jalan satu-satunya memang harus gue terima. Kalau gue tolak lagi, Mama pasti kecewa banget." Neta benar-benar pasrah.
Ingin sekali ia lari, namun ia takut jika Papanya akan marah besar. Dan besar kemungkinan penyakit jantung papanya akan kambuh. Mungkin lebih baik ia mengalah dan mencoba menjalani pernikahan itu. Mungkin memang lelaki itu adalah jodohnya. Tak ada yang bisa menebak takdir, bukan?
.
.
Bersambung....
.
.
__ADS_1