Cinta Dan Benci

Cinta Dan Benci
Kenyataan


__ADS_3

Hening. Itulah kata yang tepat untuk suasana setelah akad selesai. Tidak ada yang membuka suara, hanya ada kebungkaman. Kedua belah keluarga kini berada di luar ruangan, menanti Raka, Alka, dan Fahri yang masih berada di dalam ruang IGD.


Setelah cukup lama, suara hening pecah karena decitan pintu yang mulai terbuka, sorot mata setiap orang yang menunggu kabar langsung berdiri menghampiri sosok yang baru saja muncul dari balik pintu, yang tak lain adalah Fahri.


"Gimana keadaan, Lidya?" tanya Laras dengan segera.


Kekhawatiran mereka ini bukan karena pernikahan dadakan saja, tapi karena keadaan Lidya yang semakin memburuk saat ijab kabul sudah selesai beberapa menit yang lalu.


"Dia baik," jawab Fahri singkat, dapat terlihat jelas di wajahnya sebuah kekecewaan.


"Ada apa? Kenapa Fahri?" tanya Ayu segera, saat melihat perubahan wajah Fahri.


"Kalian semua bisa pulang, Lidya akan dijaga oleh para  bodyguard, Lidya akan aman." Raka segera pergi meninggalkan kedua belah keluarga yang masih diambang kebingungan.


"Maksud lo apa?" bentak Ayu. Ayu benar-benar sudah tak tahan dengan perlakuan Raka, pertama Raka menikahi Lidya saat keadaannya tidak stabil, sekarang Raka menyuruh keluarganya pulang dan membiarkan Lidya sendiri?


Semua orang bungkam kecuali Ayu, napasnya tidak beraturan mengontrol emosi yang memuncak.


"Rozi! Lebih baik kamu kendalikan istrimu," ucap Raka tanpa memalingkan wajahnya. Sekarang, Raka benar-benar kejam, perlakuannya yang tak lagi menurut kepada Laras Ibunya, dan dia juga mengabaikan perasaan keluarga Lidya. Sekarang, dia bahkan memerintah Rozi sahabatnya.


"Hebat! Udah hebat lo sekarang! Raka, please jangan kayak gini. Ini bukan lo banget," ucap Ayu dengan nada yang mulai merendah. Rozi memegang tangan Ayu.


"Kita pulang, aja." Adi menepuk pundak Rozi dan Ayu. Membuat Ayu terkejut dan menatap Adi, wajah kecewa dapat terlihat jelas diwajah keriputnya.


Semua keluarga mengikuti langkah Adi, dan meninggalkan Raka sendiri.


Alka berjalan mendekat, "Sampai kapan lo biarin keluarga lo sendiri ngebenci diri lo yang sama sekali nggak bersalah?" ucap Alka dengan tatapan menilai.


"Ada waktunya," ucap Raka. Raka memasuki ruang IGD dan meninggalkan Alka di depan pintu ruang IGD.


"Eh, bawain bunga, ya," ucap Raka yang menimbulkan wajahnya dari balik pintu.


"Ok."


Raka memasuki ruang IGD, mendapati tubuh lemah Lidya, sebuah senyuman terukir diwajah Raka, kembali teringat ucapan Alka.


"Sampai kapan lo biarin keluarga lo sendiri ngebenci diri lo yang sama sekali nggak bersalah?"


"Gue nggak tau kapan, tapi gue pasti balik lagi. Karena pelaku yang ngambil hati gue udah ditemukan." Raka kembali tersenyum sebelum akhirnya senyuman itu berubah menjadi tawa.


"Sejak kapan jadi bucin?" ucapnya pada dirinya sendiri.


Kriiiiing ....

__ADS_1


Sering ponsel Raka membuat pikirannya teralihkan, "Kenapa?" tanya Raka memulai pembicaraan telepon.


"Kamu dimana? Nggak pulang?" Itu  adalah Laras, dia yang menelfon Raka saat mengetahui putranya tak ikut pulang bersamanya.


"Raka ada tugas dadakan, Ma. Maaf, besok Raka pulang," ucap Raka mengakhiri telepon.


Raka mengembuskan napas kasar, ia menatap Lidya kembali. Mengambil sebuah kursi di ruang itu, dan duduk tepat di samping Lidya.


Kliiing ....


Sebuah pesan masuk, apa lagi sekarang? Geram Raka. Raka melihat layar ponselnya malas. Dan mendapati pesan Alka di sana.


Al:


"Gue udah di parkiran, mau gue yang anter bunganya apa lo yang  kemari?"


Raka:


"Gue yang kesana, sekalian mau cari makanan."


Setelah balasan itu, Raka segera menutup ponselnya, dan keluar dari ruang IGD. 


                                   ***


Raka mengambil kedua barang yang sudah tersodorkan di hadapannya.


"Ok, makasih. Besok lo cuti aja." Raka segera pergi meninggalkan Alka yang berdiri di parkiran. Bersender dengan mobil sport miliknya.


Begitulah Raka, hanya kepada Alka ia bisa seperti dulu. Walau tidak seluruhnya, karena menurut Alka, hidup Raka adalah Lidya, saat Lidya tidak ada maka Raka tidak akan menjadi Raka.


Sebuah sunggingan terukir di wajah tampan Alka yang masih menatapi kepergian Raka, "Semoga lo bisa balik," ucapnya.


                               ***


Raka memasuki rumah sakit, berjalan menuju ruang rawat Lidya. Dan betapa terkejutnya Raka saat mendapati sosok Iqbal yang duduk di kursinya, yang berada di samping pembaringan Lidya.


Iqbal tampak menggenggam erat tangan Lidya, rasa cemburu sontak merambat ke seluruh ulu hatinya, Raka berjalan dengan penuh emosi.


Menarik kerah kemeja Iqbal, memojokan pria itu ke dinding. Dengan napas tak beraturan Raka mencoba menahan emosi.


Jika saja suster tidak datang dan menghentikan gerakan Raka, mungkin Iqbal akan babak belur.


"Dia istri saya! Kamu tidak berhak menyentuhnya!" geram Raka.

__ADS_1


Iqbal menatap Raka dengan santainya, "Kapan kalian menikah? Lo kira gue percaya?" ucap Iqbal.


Raka menaikan tangannya menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya, "Mungkin ini akan menjawab semuanya," ucap Raka.


Iqbal cukup terkejut, "Sekarang saya mau, kamu keluar," perintah Raka.


Dengan hati gusar Iqbal keluar dari ruang itu. Hatinya memberontak tapi Iqbal tak ingin memperburuk keadaan, semua orang tau tentang bagaimana perubahan Raka.


Lebih baik ia mengalah bukan? Sekarang Raka benar-benar bukan Raka yang dulu. Itu yang orang tahu.


Tapi kenyataannya tidak begitu. Raka akan tetap sama jika penyemangat hidupnya tetap bersamanya. Meski cara mencintai Raka akan berbeda kali ini. Tetap saja rasanya pada sosok Lidya akan tetap sama. Yaitu sebuah rasa cinta yang luar biasa.


Raka berjalan mendekati Lidya yang terbaring, terdapat sebuket bunga di sampingnya. Raka yakin itu dari Iqbal, dengan penuh amarah Raka meraih bunga itu, meremasnya dan melempar bunga itu hingga masuk ke dalam tong sampah.


Raka meletakkan bunga dan boneka yang ia pesan pada Alka, meletakkan benda manis itu di samping Lidya.


"Semoga kamu suka."


                             ***


Pagi hari, Lidya tersadar dari pengaruh obat tidurnya. Sedikit terkejut dengan Raka yang tidur dengan posisi terduduk, tangan kekarnya menggenggam tangan mungil milik Lidya, meski tangan itu kini berbalut selang infus. Kepala Raka tersandar di tepi pembaringan.


Lidya juga mendapati bunga dan boneka kecil, kesukaannya.


Lidya kembali menatap Raka yang terlelap. Lidya tak ingin mengganggu, karena hal itu sama saja seperti membangunkan singa tertidur. Lidya menatapi setiap garis wajah Raka yang membentuk wajah tampannya, tak berubah, Raka masih sama. Hanya saja, dia lebih menakutkan. Entah perintah dari siapa, tangan Lidya terulur untuk menyibak jambang Raka yang menutup sebagian wajahnya.


Kriiiing ....


Suara alarm yang disetel oleh Raka telah berdering, Raja terperanjat kaget. Dan mendapati Lidya yang kini menatapinya.


Ketahuan.


Lidya segera memalingkan wajahnya, menarik tangannya yang terulur, wajahnya memerah malu.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Raka saat sudah tersadar.


"Aku, tadi ingin memukul lalat." Lidya mulai dengan alibinya yang cukup aneh. Namun, dibalas anggukan oleh sosok Raka, "Kenapa kamu di sini?" tanya Lidya.


"Mulai sekarang, kamu istri saya." Raka bangkit dan mengambil barangnya. Lidya terperangah tak percaya. Seingatnya alasan dia berada di rumah sakit adalah karena Lidya mencoba bunuh diri untuk menghindari pernikahannya. Tapi bagaimana mungkin?


Raka menaikan tangannya, menunjukkan cincin di jarinya. Lidya tak percaya, ia menatap tangannya yang telah melingkar cincin yang sama.


"Mulai sekarang juga, saya adalah bos kamu!" tegas Raka.

__ADS_1


"My boss?  Oh no!" pekik  Lidya saat Raka sudah memasuki kamar mandi rumah sakit. Tentu ia tidak akan bicara gak itu di hadapan Raka.


__ADS_2