Cinta Dan Benci

Cinta Dan Benci
II - 48


__ADS_3

Gilang berkutat dengan pekerjaannya yang cukup banyak karena ia harus membagi waktunya untuk perusahaan cabang dan perusahaan pusat. Dan kini banyak dokumen menumpuk yang harus ia tanda tangani, meski sebenarnya tubuhnya masih kurang fit.


Namun, demi rencananya untuk memulai hubungan pernikahan yang lebih harmonis bersama sang istri, ia harus mengejar target semua pekerjaannya selesai hari ini.


Tok tok tok ,,,,,


Suara ketukan pintu membuat Gilang teralihkan dari konsentrasinya. Ia lalu mempersilahkan seseorang di luar sana untuk masuk.


"Masuk!" Ujarnya mempersilahkan.


Pintu terbuka, namun Gilang belum menyadari siapa yang masuk ke ruangannya. Namun, ia mendengar jelas suara sepatu yang beradu dengan lantai. Dan ia tahu itu suara heels wanita.


Gilang mengangkat kepalanya dan refleks ekspresinya berubah karena melihat sosok yang tengah berdiri di hadapannya kini.


"Hai!" Sapanya membuat Gilang geram.


"Kenapa kamu ada disini?" Ucap Gilang pelan. Entah mengapa ada perasaan aneh saat bertemu gadis ini.


Sontak Gilang berdiri menetralkan perasaannya. Ia yakin jika ia tak memiliki perasaan apapun untuk gadis yang pernah menyandang status sebagai kekasihnya itu. Hanya rasa benci yang tersimpan karena gadis itu telah memanfaatkan dirinya untuk popularitas semata.


Wanita yang tak lain adalah Kalista Nowela, sang model dari agensi yang bekerjasama dengan perusahaan Gilang itu melangkah cepat menghampiri Gilang. Lalu menubruk tubuh jangkungnya dengan pelukan. Seketika Gilang menegang mendapatkan perlakuan itu.


Ia berusaha melepaskan diri, namun sepertinya Kalista sudah mengantisipasi dengan mengeratkan pelukannya. Hingga suara pintu terbuka membuat keduanya terkejut. Namun, Kalista sepertinya tak goyah. Ia tak melepas pelukannya pada tubuh Gilang, melainkan hanya melonggarkannya.


"Gilang!!!" Sentak Bu Anne. Amarah wanita itu langsung sampai ke ubun-ubun tatkala melihat adegan tak senonoh itu.


"Mama?" Ucap Gilang lirih.


Bu Anne berjalan cepat, lalu menarik tangan Kalista hingga ia benar-benar melepaskan Gilang. Ini sungguh memalukan, pikirnya.


"Kamu,,, berani-beraninya kamu datang kesini! Jangan kamu kira saya nggak tau niat busuk kamu. Sekarang kamu pergi dari sini!!!" Gertaknya penuh penekanan.


"Tante,,, " Ujar Kalista namun dihentikan oleh Bu Anne.

__ADS_1


"Saya bilang pergi!" Teriak Bu Anne. Namun, sayangnya Kalista tetap mematung di tempatnya.


Bu Anne memencet tombol interkom untuk memanggil Alfat, sekretaris sang anak.. Matanya tak beralih dari Kalista yang masih setia berdiri di posisinya.


"Alfat,,, kamu ke ruangan Gilang sekarang!" Titah Bu Anne.


"Gilang, kamu kok diam aja, sih? Kamu belain aku dong!" Kalista merengek membuat Bu Anne semakin memelototinya.


"Benar-benar nggak tau malu kamu, ya. Anak saya sudah menikah. Jangan kamu coba-coba mendekati anak saya lagi!!" Tegas Bu Anne.


Kalista benar-benar kesal. Ia kalah lagi sekarang. Harus bagaimana ia agar kembali bisa memiliki hati Gilang dan ibunya?


"Saayaangg!" Rengek Kalista pada Gilang. Namun lelaki itu hanya diam tak berkutik sama sekali.


Pertemuan pertamanya kembali dengan lelaki itu setelah 2 tahun hubungan mereka berakhir, sungguh mengecewakan bagi Kalista. Sepertinya ia takkan bisa menggaet sumber dananya lagi.


Ceklek... Pintu terbuka. Alfat masuk dengan tergesa-gesa membuat keduanya menoleh.


"Kamu?" Ujar Alfat tak percaya dengan keberadaan wanita itu.


"Kenapa dia bisa ada disini, pak?" Tanya Alfat pada Gilang.


"Harusnya saya yang nanya sama kamu!" Bu Anne berucap dengan geram. "Kamu bawa dia keluar! Sekarang!" Tegas wanita paruh baya itu.


Alfat langsung menuruti perintah ibu kandung bosnya itu.. Meski harus bersusah payah ia mengeluarkan Kalista dari ruangan itu namun akhirnya berhasil. Kini hanya ada Gilang dan sang mama..


Bu Anne menatap heran anaknya. Apa sebenarnya yang dipikirkan oleh Gilang. Apa anaknya ini masih belum move on? Bisa-bisanya Gilang diam saja saat Kalista mendatanginya.


"Mah!" Gilang terlihat bingung harus berkata apa. Ia sebenarnya mati kutu karena sang mama masuk di waktu yang tidak tepat. Gilang sendiri bingung,


Bu Anne menghela napas panjang dan melepasnya. Kejadian sebentar ini benar-benar menguras tenaganya. Ia tak ingin mendengar alasan apapun dari sang putra untuk saat ini.


"Mama mau kemana?" Tanya Gilang saat Bu Anne tiba-tiba berbalik dan melangkah keluar dari ruangannya.

__ADS_1


"Mama mau pulang. " Jawabnya. "Awas kamu!" Sergah Bu Anne pada Gilang yang mencoba mencegah Bu Anne untuk pergi.


Gilang menggeram tertahan ketika Bu Anne sudah menghilang dibalik pintu berwarna coklat tua itu. Ia yakin jika dirinya tak memiliki perasaan apapun terhadap Kalista. Bahkan, dulu saat menjalin hubungan dengan gadis itu Gilang memang tak pernah merasakan getaran apapun di hatinya. Ia memang hanya terpaksa karena permintaan Manager Kalista kala itu.


Ya, Kalista sangat terobsesi pada Gilang sejak dulu. Dan Kalista sempat Depresi karena dulu Gilang menolaknya. Sehingga manager Kalista memohon pada Gilang agar menerima gadis itu.


Kini yang membuat Gilang heran, kenapa ia tak langsung menepis saat Kalista mendekatinya, bahkan memeluknya. Ia merasa bersalah sekarang pada istrinya. Sungguh rasanya tak nyaman saat mengingat kembali hal itu.


"Mama?" Laila berucap sumringah saat melihat sang mertua berdiri sambil tersenyum saat ia membuka pintu.


"Hai, sayang. Kamu lagi ngapain, La?" Tanya Bu Anne.


"Cuma duduk-duduk aja sih mah, tadi selesai nyuci sama beres-beres. Masuk yuk, Mah!" Katanya menggiring mertuanya itu memasuki rumah.


"Mama mau ajak kamu jalan. Pasti kamu bosan kan, kemaren abis ngurus Gilang." Ujar Bu Anne.


"Yang bener, mah? Wah, kebetulan ada yang mau Ila beli. Kita sekalian ke mall aja ya, mah!" Kata Laila antusias.


Laila pun pergi ke kamarnya untuk bersiap. Bu Anne menatap Laila yang berlari menaiki tangga. Senyum misterius terukir di bibir wanita paruh baya itu.


Sepertinya Bu Anne merencanakan sesuatu. Hanya Tuhan dan Author lah yang tahu.


Tak lama Laila terlihat menuruni anak tangga. Bu Anne cukup terkesima melihat penampilan menantunya itu yang terlihat anggun, meskipun hanya berpoleskan make up tipis.


"Udah, mah!" Sahut Laila.


"Ayo berangkat!" Ucap Bu Anne menggandeng menantunya itu. Mereka berjalan bergandengan menuju mobil.


Selama perjalanan Bu Anne terus bercerita hingga membuat Laila yang sangat fokus mendengarnya pun kini jadi mengantuk. Tak lama, mata dengan bulu yang sedikit melentik itu pun terpejam. Bu Anne merasa gemas melihat sang menantu. Ia yang tak memiliki anak perempuan sungguh telah tersentuh hatinya oleh gadis ini.


Satu-satunya gadis yang bisa membuat Bu Anne jatuh hati dan membuatnya berpikir untuk menjadikan Laila menantunya. Gadis ini,, entah mengapa sejak pertama kali putra tunggalnya itu memperkenalkan telah membuat Bu Anne tertarik.


Dan kini, Laila benar-benar telah ia anggap seperti putrinya sendiri. Jujur saja, ia sangat menyayanginya. Ada rasa tak rela jika melihat gadis ini tersakiti. Apalagi karena anaknya sendiri.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2