Cinta Dan Benci

Cinta Dan Benci
Terlambat


__ADS_3

Hanya ada kata kebahagiaan di dalam hati Caca saat ini, Daniel memperlakukan dirinya bak seorang putri yang sangat di sayangi. Walaupun sikap Rizal yang benar-benar berubah sedikit mengganggu perasaan Caca


FLASH BACK


Setelah Daniel meresmikan hubungan antara dirinya dan Caca, Caca tetap bekerja seperti biasanya dan siang itu Caca makan siang bersama Adel untuk membagikan kabar bahagia tersebut


"Kamu serius Ca?" menatap dengan serius


Caca menganggukkan kepalanya sambil tersenyum bahagia dan menunjukkan kalung yang dia terima dari Daniel


"Aku ga tau harus bahagia atau takut Ca, di satu sisi aku bahagia karena kamu bisa bangkit tapi di sisi lain aku masih merasa ragu dengan orang itu. Tapi gimana dengan kak Rizal ya?"


"Apa kamu tau kalau kak Rizal suka sama kamu?"


Caca pun tampak sedikit bingung untuk menjawab pertanyaan dari Adel


"Apa kamu tau apa hubungan aku sama kak Rizal?"


Caca menjawab dengan menggelengkan kepalanya


"Sebenarnya kedua orang tua kami berteman dari masih muda, jadi dari kecil kami sudah berteman dan sebenernya kami sempat di jodoh kan dengan kedua orang tua kami"


Caca hanya bisa terdiam dengan ekspresi wajah sedikit terkejut


"Tapi kami sama-sama menolak acara perjodohan tersebut, ya ga mungkin lah kami menikah sama orang yang sudah kami anggap saudara sendiri. Jadi waktu aku tau kak Rizal suka sama kamu aku seneng banget, karena kak Rizal belum pernah dekat dengan wanita manapun selain aku"


"Maaf ya Del"


"Ga masalah kok Ca, namanya perasaan ga bisa kita paksain. Pokoknya apapun yang membuat kamu bahagia pasti aku dukung," tersenyum dengan tulus


Entah dari kapan di mulai tetapi memang persahabatan mereka berdua tanpa di sadari memang menjadi semakin dekat, selesai makan siang Adel pun langsung menghubungi Rizal


"Ya Del"


"Kenapa lemes banget suaranya?" tertawa lepas


"Kalau cuma mau ngeledek aku matiin ya telpon nya," dengan nada suara yang serius


"Sorry, tapi aku cuma mau kasih tau kamu kalau kamu sudah kalah telak kak"


"Apa mereka sudah jadian?"

__ADS_1


"Kamu juga sih kak terlalu lama bergerak, aku udah bilang dari awal saat Caca mulai di pindahkan"


"Kerajaan di sini benar-benar ga bisa di tinggal Del"


"Ya udah kamu terima aja nasib kamu yang kalah sebelum berjuang," dengan nada suara sedikit mengejek


"Tapi aku pulang sekarang juga, setidaknya dia harus tau perasaan aku sama dia dari aku langsung"


"Tapi apa ga terlambat kak?"


"Ga apa Del, asal dia bahagia aku akan mundur sepenuhnya"


"Terserah kamu aja kak"


Rizal langsung kembali ke kota asalnya dan menunggu Caca di dekat rumah Sindy, dia sengaja tak memberitahukan kepada Caca tentang kepulangan dirinya. Saat jam pulang kerja sebuah mobil mewah berhenti tepat di hadapan rumah Sindy dan Caca pun turun dari mobil tersebut


"Kamu ga mampir dulu kak?"


"Aku ga mampir dulu ya hari ini, ada perlu sedikit"


"Oke, hati-hati di jalan ya kak." tersenyum


Daniel pun membalas dengan senyuman yang selalu membuat jantung Caca derdetak lebih cepat, Daniel pun mulai melajukan mobilnya dan setelah mobil Daniel mulai tak terlihat Rizal pun turun dari mobilnya dan menghampiri Caca


"Wah ada angin apa nih? ga pernah ada kabar tiba-tiba ada di sini." tersenyum


"Bisa kita bicara sebentar?"


Caca dan Rizal berjalan ke arah taman yang berada tak jauh dari sana, dan kini mereka pun telah duduk di salah satu bangku yang ada di sana. Tanpa mereka sadari bahwa orang yang di kirimkan Daniel untuk selalu mengawasi Caca sudah mengabarkan hal tersebut kepada Daniel


"Gimana kerjaan kamu di sana kak?"


"Ya begitu lah, walaupun terlambat aku mau tanya sesuatu ke kamu. Kenapa kamu ga tunggu aku?" menatap dengan serius


Caca pun langsung tak tau harus berkata apa, karena dia sudah tau apa arah ucapan Rizal saat itu


"Apa kamu bahagia?"


Caca pun menganggukkan kepalanya


"Asal kamu bahagia itu udah cukup, karena mencintai seseorang bukan berarti harus memiliki. Mencintai yang sebenarnya adalah bahagia saat melihat orang yang kita cintai bahagia"

__ADS_1


Rizal meletakkan tangannya dengan lembut di ujung kepala Caca


"Asal kamu bahagia bagi aku itu udah cukup kok, ingat ya kalau kamu sedih atau dia menyakiti kamu orang pertama yang harus kamu ingat dan kamu cari itu aku." dengan lembut


Caca benar-benar tersentuh dengan kelembutan seorang Rizal hingga kedua bola matanya pun mulai berkaca-kaca menatap ke arah Rizal, dan tiba-tiba saja ada sebuah tangan yang menarik tangan Caca hingga jatuh ke dalam pelukannya


"Dia milik aku, orang pertama yang harus dia ingat saat dia sedih ya aku." dengan tegas


Rizal pun hanya tersenyum tipis dan mulai bangkit dari duduknya


"Oke, tapi aku harap bukan kamu orang yang akan menyakiti hati dia suatu saat nanti. Kalau hal itu sampai terjadi, jangan salahkan siapapun kalau saat itu aku akan berusaha mati-matian untuk merebut dia dari kamu." tersenyum tipis


Rizal langsung pergi meninggalkan mereka begitu saja, saat itu Daniel belum menyadari bahwa yang dia rasakan di dalam hatinya saat itu bukan hanya sebuah keinginan untuk memiliki Caca seutuhnya untuk balas dendam. Tetapi perasaan cemburu saat Caca berdekatan dengan laki-laki lain


FLASH OFF


Hari itu Daniel sudah duduk di bangku kebesarannya dan di dampingi oleh Abian orang yang paling dia percaya di dunia ini


"Sudah di siapkan?"


"Sudah pak"


"Jangan sampai membuat kecurigaan, saya mau dia hancur berkeping-keping." tersenyum jahat


"Apa harus bertindak sejauh itu?"


Untuk pertama kali di dalam hidupnya Abian berani mengutarakan pendapat nya yang berbeda dengan Daniel, Daniel pun langsung melepaskan tatapan membunuhnya kepada Abian


"Apa kamu mau mengacaukan rencana saya?" penuh penekanan


"Saya ga bermaksud untuk mengacaukan rencana kamu, tapi saya rasa ini sudah sedikit berlebihan"


"Apa membalas orang yang telah menghancurkan keluarga saya itu keterlaluan menurut kamu?"


"Saya cuma takut kamu sendiri yang akan terluka, apa kamu ga sadar kalau saat ini hati kamu sudah mulai terisi oleh perempuan itu? kalau sampai kamu menyakiti dia, itu akan berbalik ke diri kamu sendiri"


"Kenapa diam? jawab Abian apa kamu mau menghancurkan rencana saya?"


"Saya akan selalu melakukan apapun yang anda perintahkan pak, saya hanya takut anda akan terluka dengan permainan yang anda ciptakan"


"Apa kamu pikir hati saya terlalu lemah? sampai saya akan jatuh cinta ke perempuan itu." tersenyum sinis

__ADS_1


"Mungkin rasa dendam kamu masih menutupi perasaan kamu yang sebenarnya, tapi saya yang sudah menghabiskan setengah hidup saya di samping kamu tau dengan pasti. Hati kamu sudah mulai terisi oleh perempuan itu"


__ADS_2