Cinta Dan Benci

Cinta Dan Benci
5. pesan


__ADS_3

Suasana kelas riuh beberapa saat, ketika beberapa murid memasuki kelas, terdapat tiga orang siswi yang sama, yang kemarin membuly Friska, dan Cinta.


Wajah Ayu berubah masam. Sementara Lidya tampak acuh dan tak ingin membahas apa pun soal keributan kemarin.


"Ayu kita makan coklat ini dulu, ya?" tawaran Lidya di sambut hangat oleh senyuman Ayu.


Dari kejauhan Dela merasa tak senang, Menemui coklat berukuran cukup besar ada di tangan Lidya.


Dela mendekat ke arah Lidya.


Gubruaak....


Suara gebrakan meja mengagetkan Ayu dan Lidya. Pandangan mereka tertuju kepada si pelaku keributan siapa lagi jika bukan Dela.


"Apa lagi sih mau lo?" tanta Ayu sengit. Ia benar-benar tak suka dengan keberadaan Dela dan temannya.


"Itu coklat dari mana?!" tanya Dela  dengan nada tak sedap.


"Raka yang ngasih," jawab Lidya jujur.


"Bohong lo semua!" bentak Dela.


"Gak mungkin Raka mau sama anak kampungan kayak kalian!"  ucap Dela membuat Ayu semakin terpancing.


Ayu berharap sekarang juga Lidya mau mengungkap identitas asli mereka siapa, kepada  riga orang menyebalkan yang ada di hadapannya.


"Lid...."


Lidya menghembuskan nafasnya kasar.


"Raka yang ngasih ini semua ke gue sama Ayu," Lidya mengambil semua coklat yang ada di lacinya. Dan sebuah boneka panda yang tadi di berikan Raka padanya.


"Ini semua Raka yang ngasih, ini, ini, ini," Lidya menunjukan sisa coklat lainnya.


"Initinya gue ini Ayu Wijaya, anak keturunan keluarga Wijaya, keluarga kaya," ucap Ayu sombong. Ayu senang melihat sorot mata tiga siswi di hadapannya, mereka tampak sangat kaget.


Ayu juga senang Allah menjawab doanya untuk Lidya mengungkap identitas mereka.


"Raka, Raka ngasih coklat itu ke lo? Berarti gue di tolak dong?" ucap Dela dengan nada sedih yang di dramatisin, membuat Lidya merasa semakin ilfil.


"Lo siapa?" kini giliran Dila temen Dela,  yang menyerang Lidya.


"Gue anak keluarga, Adi Setya," ucap Lidya lantang.


Semua yang ada di kelaa semakin gentar, atas kehadiran dua putri yang tak pernah di sangka-sangka.


Bel masuk pelajaran kelas sudah berbunyi, bagian yang paling membosankan.


Lidya duduk di tempatnya di susul Ayu.


Tidak ada pengumuman untuk apel pagi hari ini, mungkin karena mendung. Dan sedikit gerimis.


****


Bel istirahat sudah berbunyi. Surga dunia para siswa, semua Siwa menuju ke kantin tanpa terkecuali.


"Lid, kantin yuk," ajak Ayu dengan tingkah manjanya. Lidya menatap Ayu sekilas lalu kembali memalingkan wajahnya.


"Heem gue males ke kantin," ucap Lidya. Entah apa yang terjadi padanya sedari tadi, wajahnya tampak berbeda.


"Lo kenapa sih?" tanya Ayu memulai pembicaraan.


"Gak papa," jawab Lidya singkat, ia sama sekali tak memandang lawan bicaranya dan fokus pada buku yang ia baca.


Ayu menarik buku yang ada di tangan Lidya, lalu mengambil kacamata Lidya yang dipakai saat Lidya membaca.


Lidya merasa kesal, karena Lidya akan sulit melihat tanpa kacamata.


"Balikin, Yu!"  ucap Lidya kesal sekali. Modnya semakin buruk.


"Lo harusnya seneng, udah di kasih coklat sama Raka Wijaya," ucap Ayu dengan wajah bangga. Senyum mengembang dan semangat yang membara, selama ini Ayu adalah orang yang selalu memberinya semangat agar selalu berjuang untuk cinta pertama Lidya yang tak lengkap.


"Gue gak mau bahas, soal siapa pun sekarang, gak mod gue! Kalo lo mau ke kantin pigi aja sama Friska, gue males!" ketus Lidya.


"Ini pasti gara-gara kejadian tadi pagi," batin Ayu.


Namun Ayu ingin tetap positif thinking.


"Lo PMS?" tanya Ayu dengan wajah tak berdosanya.


"Lo mau gue cakar? Udah sono pigi jangan ganggu gue!" ucap Lidya datar.


Dengan hati kesal Ayu pergi, dengan langkah tak ikhlas, Ayu sedikit menghentakkan kakinya ke lantai.


"Hati-hati entar tuh semen retak!" ucap Lidya setengah berteriak, karena jarak yang sudah cukup jauh antara Ayu dan Lidya.


"Bodo amat!" teriak Ayu membalas.


Lidya terkekeh pelan melihat tingkah Ayu.


"Lid Ayu kenapa?" tanya Friska yang datang dari ambang pintu, di susul dengan Cinta di belakangnya.


"Dia marah, karena gue gak mau ikut ke kantin," jelas Lidya seraya menaikan kacamatanya.


"Ooo, jadi gitu ya," ucap Cinta.


"Nih buat lo," Friska menyodorkan sebuah roti isi.


"Thanks," ucap Lidya mengambil roti isi dari tangan Friska.


***


"Hei, Ayu! Mana si Lidya?" tanya Raka.


"Tumben," ketus Ayu.


"Apa salahnya gue nanya?"


"Orangnya gak ada, lo nyariin, orangnya ada lo cuek, apa sih mau lo?!" ucap Ayu kesal.


"Ya apa sih salah gue nanya aja!"


Raka berjalan menuju tempat lain, Raka duduk di kursi paling ujung bersama dengan, David, dan Rozi.


Sayup-sayup Ayu mendengar pembicaraan mereka.


"Lo kenapa Ka?" tanya Rozi.


Raka hanya menggeleng.


"Gue ada nomor Lidya nih," ucap David, seolah menawarkan apa Raka mau memiliki nomor Lidya.


"Mana?" tanya Raka dengan semangat.

__ADS_1


"Ini," David menyerahkan ponselnya pada Raka. Dengan segera Raka mencatat nomor yang ada di layar ponsel David.


"Lo gak pernah kirim pesan ke Lidya?" tanya Raka, terkejut melihat isi chat yang tak ada satu pun pesan di sana.


David menggeleng.


"Kenapa?"


"Gue malu," jawab David.


"Ahahah bisa malu juga lo nyet!" cerca Rozi.


Ayu yang mendengar itu langsung mengarah ke kelas.


***


"LIDYAAA!!" teriak Ayu dari kejauhan  membuat  semua orang menatapinya.


"Ada apa?" tanya Lidya malas.


"Tadi gue jumpa Raka," ucap Ayu semangat, dengan nafas tak beraturan.


"Terus?"


"Dia minta nomor lo!" ucap Ayu setengah berteriak, Ayu sangat senang.


Wajah Lidya juga sontak berubah.


"Apa iya?" tanta Lidya tak percaya.


Ayu mengagguk layaknya anak kecil.


Lidya merasa sangat senang seolah, mendapat anugrah paling luar biasa.5. Pesan


Suasana kelas riuh beberapa saat, ketika beberapa murid memasuki kelas, terdapat tiga orang siswi yang sama, yang kemarin membuly Friska, dan Cinta.


Wajah Ayu berubah masam. Sementara Lidya tampak acuh dan tak ingin membahas apa pun soal keributan kemarin.


"Ayu kita makan coklat ini dulu, ya?" tawaran Lidya di sambut hangat oleh senyuman Ayu.


Dari kejauhan Dela merasa tak senang, Menemui coklat berukuran cukup besar ada di tangan Lidya.


Dela mendekat ke arah Lidya.


Gubruaak....


Suara gebrakan meja mengagetkan Ayu dan Lidya. Pandangan mereka tertuju kepada si pelaku keributan siapa lagi jika bukan Dela.


"Apa lagi sih mau lo?" tanta Ayu sengit. Ia benar-benar tak suka dengan keberadaan Dela dan temannya.


"Itu coklat dari mana?!" tanya Dela  dengan nada tak sedap.


"Raka yang ngasih," jawab Lidya jujur.


"Bohong lo semua!" bentak Dela.


"Gak mungkin Raka mau sama anak kampungan kayak kalian!"  ucap Dela membuat Ayu semakin terpancing.


Ayu berharap sekarang juga Lidya mau mengungkap identitas asli mereka siapa, kepada  riga orang menyebalkan yang ada di hadapannya.


"Lid...."


Lidya menghembuskan nafasnya kasar.


"Raka yang ngasih ini semua ke gue sama Ayu," Lidya mengambil semua coklat yang ada di lacinya. Dan sebuah boneka panda yang tadi di berikan Raka padanya.


"Ini semua Raka yang ngasih, ini, ini, ini," Lidya menunjukan sisa coklat lainnya.


"Initinya gue ini Ayu Wijaya, anak keturunan keluarga Wijaya, keluarga kaya," ucap Ayu sombong. Ayu senang melihat sorot mata tiga siswi di hadapannya, mereka tampak sangat kaget.


Ayu juga senang Allah menjawab doanya untuk Lidya mengungkap identitas mereka.


"Raka, Raka ngasih coklat itu ke lo? Berarti gue di tolak dong?" ucap Dela dengan nada sedih yang di dramatisin, membuat Lidya merasa semakin ilfil.


"Lo siapa?" kini giliran Dila temen Dela,  yang menyerang Lidya.


"Gue anak keluarga, Adi Setya," ucap Lidya lantang.


Semua yang ada di kelaa semakin gentar, atas kehadiran dua putri yang tak pernah di sangka-sangka.


Bel masuk pelajaran kelas sudah berbunyi, bagian yang paling membosankan.


Lidya duduk di tempatnya di susul Ayu.


Tidak ada pengumuman untuk apel pagi hari ini, mungkin karena mendung. Dan sedikit gerimis.


****


Bel istirahat sudah berbunyi. Surga dunia para siswa, semua Siwa menuju ke kantin tanpa terkecuali.


"Lid, kantin yuk," ajak Ayu dengan tingkah manjanya. Lidya menatap Ayu sekilas lalu kembali memalingkan wajahnya.


"Heem gue males ke kantin," ucap Lidya. Entah apa yang terjadi padanya sedari tadi, wajahnya tampak berbeda.


"Lo kenapa sih?" tanya Ayu memulai pembicaraan.


"Gak papa," jawab Lidya singkat, ia sama sekali tak memandang lawan bicaranya dan fokus pada buku yang ia baca.


Ayu menarik buku yang ada di tangan Lidya, lalu mengambil kacamata Lidya yang dipakai saat Lidya membaca.


Lidya merasa kesal, karena Lidya akan sulit melihat tanpa kacamata.


"Balikin, Yu!"  ucap Lidya kesal sekali. Modnya semakin buruk.


"Lo harusnya seneng, udah di kasih coklat sama Raka Wijaya," ucap Ayu dengan wajah bangga. Senyum mengembang dan semangat yang membara, selama ini Ayu adalah orang yang selalu memberinya semangat agar selalu berjuang untuk cinta pertama Lidya yang tak lengkap.


"Gue gak mau bahas, soal siapa pun sekarang, gak mod gue! Kalo lo mau ke kantin pigi aja sama Friska, gue males!" ketus Lidya.


"Ini pasti gara-gara kejadian tadi pagi," batin Ayu.


Namun Ayu ingin tetap positif thinking.


"Lo PMS?" tanya Ayu dengan wajah tak berdosanya.


"Lo mau gue cakar? Udah sono pigi jangan ganggu gue!" ucap Lidya datar.


Dengan hati kesal Ayu pergi, dengan langkah tak ikhlas, Ayu sedikit menghentakkan kakinya ke lantai.


"Hati-hati entar tuh semen retak!" ucap Lidya setengah berteriak, karena jarak yang sudah cukup jauh antara Ayu dan Lidya.


"Bodo amat!" teriak Ayu membalas.


Lidya terkekeh pelan melihat tingkah Ayu.

__ADS_1


"Lid Ayu kenapa?" tanya Friska yang datang dari ambang pintu, di susul dengan Cinta di belakangnya.


"Dia marah, karena gue gak mau ikut ke kantin," jelas Lidya seraya menaikan kacamatanya.


"Ooo, jadi gitu ya," ucap Cinta.


"Nih buat lo," Friska menyodorkan sebuah roti isi.


"Thanks," ucap Lidya mengambil roti isi dari tangan Friska.


***


"Hei, Ayu! Mana si Lidya?" tanya Raka.


"Tumben," ketus Ayu.


"Apa salahnya gue nanya?"


"Orangnya gak ada, lo nyariin, orangnya ada lo cuek, apa sih mau lo?!" ucap Ayu kesal.


"Ya apa sih salah gue nanya aja!"


Raka berjalan menuju tempat lain, Raka duduk di kursi paling ujung bersama dengan, David, dan Rozi.


Sayup-sayup Ayu mendengar pembicaraan mereka.


"Lo kenapa Ka?" tanya Rozi.


Raka hanya menggeleng.


"Gue ada nomor Lidya nih," ucap David, seolah menawarkan apa Raka mau memiliki nomor Lidya.


"Mana?" tanya Raka dengan semangat.


"Ini," David menyerahkan ponselnya pada Raka. Dengan segera Raka mencatat nomor yang ada di layar ponsel David.


"Lo gak pernah kirim pesan ke Lidya?" tanya Raka, terkejut melihat isi chat yang tak ada satu pun pesan di sana.


David menggeleng.


"Kenapa?"


"Gue malu," jawab David.


"Ahahah bisa malu juga lo nyet!" cerca Rozi.


Ayu yang mendengar itu langsung mengarah ke kelas.


***


"LIDYAAA!!" teriak Ayu dari kejauhan  membuat  semua orang menatapinya.


"Ada apa?" tanya Lidya malas.


"Tadi gue jumpa Raka," ucap Ayu semangat, dengan nafas tak beraturan.


"Terus?"


"Dia minta nomor lo!" ucap Ayu setengah berteriak, Ayu sangat senang.


Wajah Lidya juga sontak berubah.


"Apa iya?" tanta Lidya tak percaya.


Ayu mengagguk layaknya anak kecil.


Lidya merasa sangat senang seolah, mendapat anugrah paling luar biasa.


***


Lidya kini berada di halaman sekolah tepat di depan gerbang, masih menanti supir yang tak kunjung datang.


"Hai," sapa Seorang Siwa yang suaranya familiar.


Lidya mengalihkan pandangannya, melihat siswa itu.


"David? Ada apa?"


"Hehe lo nunggu supir ya?" tanya David.


"Gak, gue gak nunggu supir."


"Terus?"


"Gue nunggu tukang cilok!"


"Ooo...."


Lidya menautkan alisnya heran, karena David percaya ucapannya.


"Lo percaya?" tanya  Lidya heran.


"I... Iya lah, emang kenapa? Lo boong?" tanya David.


"Ya iya lah! Dasar aneh!" cerca Lidya.


Tak lama sebuah mobil sedan Hitam mewah  berhenti tepat di depan Lidya.


"Lo pulang sama siapa?" tanya Lidya.


"Gue bawak motor."


"Oh kalau gitu gue duluan ya," sapa Lidya, sebelum memasuki mobilnya.


Mobil pun melaju meninggalkan David di tempat.


Kliiing....


Sebuah pesan masuk


Nomor tak di kenal. Siapa ya?


Lidya melihat pesan itu.


"Hai,"


"Save Raka,"


Lidya langsung melonjak kegirangan, sesaat setelah membaca pesan itu.


Lidya langsung membalas pesan itu.


"Iya udah di save,"

__ADS_1


Kini hati Lidya sangat senang tak mengangka dapat menerima pesan dari Raka secepat ini, sesaat lidya berpikir, apakah Raka juga mencintainya?


Cinta adalah sebuah rasa yanf dapat membuat orang bahagia dalam sekejap, cinta dapat meracuni fikiran semua orang, cinta kadang membawa kesedihan, kadang membawa kegembiraan.


__ADS_2