
"Wow,, ternyata adik ipar berbakat jadi babu. Nggak cuma jadi pelayan, tapi juga tukang cuci. Bi Eti nggak perlu kerja lagi dong ya." Ejek Neta lagi.
Gilang mengepalkan tangannya karena emosi. "Lo mendingan pergi dari sini, Kak." Sahut Gilang sembari menarik lengan Neta dan membawanya keluar.
Neta meringis merasakan cekalan di tangannya. Ia menghempaskan tangan Gilang hingga genggaman lelaki itu terlepas dari tangannya.
"Isshh,, lo kasar banger sih. Nggak sopan ya lo sama gue semenjak lo nikah sama itu cewek." Sergah Neta marah.
"Lo jangan terus ngejelekin istri gue. Sikap buruk gue ini karena kelakuan lo sendiri. Jangan pernah ko datang kesini lagi. Dan jangan berharap lo bisa masuk ke rumah gue lagi." Gilang berucap penuh penekanan.
Laila tiba-tiba muncul dari balik pintu dan berhenti di belakang Gilang. Ia menatap keduanya dengan wajah bingung. Melihat wajah Neta membuat Laila tertegun.
"Hai, adik ipar. Udah selesai ngebabunya?" Ujar Neta membuat wajah Laila berubah menegang.
Ingin sekali ia memberi pelajaran pada mulut kakak iparnya ini. Apalagi mengingat perlakuannya pada Laila tempo hari. Rasanya ada yang mendesak di dadanya ingin diluapkan.
"Lo pergi sekarang." Titah Gilang lagi.
Neta mendelik. Ia menarik napas dalam dan melepasnya. Baru kemudian ia berlalu meninggalkan pasangan suami istri itu.
Gilang mendapati Laila yang diam mematung saat ia berbalik akan memasuki rumah. Ada rasa bersalah mengingat perlakuan Neta kepada Laila. Mengapa sepupunya itu sulit sekali untuk sekedar menerima Laila sebagai bagian baru keluarga mereka. Rasanya Gilang benar-benar frustasi.
"Ayo masuk, La!" Ucap Gilang pelan sembari menyentuh lengan Laila.
Laila menuruti perkataan Gilang meski hatinya masih dilanda rasa dilema. Penasaran sekali dengan apa yang membuat mereka bertengkar.
.
.
.
Laila duduk diam di pinggir ranjang sembari memainkan jari-jarinya. Ada suatu keinginan di dalam dirinya saat ini. Laila melirik Gilang yang tengah fokus dengan tablet di tangannya. Lelaki itu duduk di single sofa dekat jendela. Kini wajah Laila berubah muram.
Ingin sekali ia mengutarakan keinginannya pada sang suami. Namun, ia ragu karena melihat suaminya yang sepertinya sedang sibuk dan benar-benar fokus. Laila membuang napas berat. Hal itu disadari oleh Gilang dan membuat lelaki itu menghentikan kegiatannya.
"Kenapa?" Tanyanya spontan.
__ADS_1
Laila tersentak dan menatap sang suami yang juga menatapnya. Lelaki itu telah meletakkan tabletnya di atas meja. Laila berpikir sebentar.
"Aku pengen jalan ke mall. Boleh nggak mas?" Ucap Laila dengan wajah lugunya.
Gilang tampak berpikir. Sesaat kemudian ia mengangguk setuju. "Boleh." Jawabnya.
Laila yang mendapatlan izin dari sang suami langsung bangkit dan menuju ke ruang ganti. Hanya 2 menit ia pun selesai berganti pakaian. Gilang yang melihat hal itu ikut berdiri dari duduknya.
Sesaat ia bingung ketika Laila menghampirinya dan mengulurkan tangan.
"Hah?" gumam Gilang bingung. Namun, cepat ia tersadar dan menetralkan ekspresi wajahnya.
"Aku anter kamu." Ucap Gilang. Kini berganti dengan Laila yang terpaku. Namun, ia mengangguk saja dan menuruti langkah Gilang yang telah berjalan lebih dulu. Ada sebuah desiran di dadanya karena sang suami yang sepertinya mulai bersikap perhatian.
Tanpa berpikir lagi mereka langsung berangkat menuju salah satu mall terdekat. Sesampai disana, Laila melewati beberapa toko pakaian, restoran dan kafe. Laila menghentikan langkahnya saat berada di depan toko es krim. Ia lalu masuk kesana dan ikut mengantri di deretan pengunjung toko es krim itu.
"Kamu mau makan es krim?" Tanya Gilang setelah sekian lama mereka tak berbicara.
Gilang hanua mengikuti saja apa yang dilakukan istrinya itu. Entah mengapa hatinya tergerak begitu saja dan tak banyak bertanya atau bicara apapun.
"Mendingan kamu cari meja yang kosong, biar aku yang antri. Mau rasa apa?" Ucap Gilang.
"Mm,, greentea sama vanilla ya, mas."
"Oke."
Selesai membeli es krim, Gilang menghampiri Laila yang menempati salah satu meja di dalam toko es krim tersebut. Ia memberikan es krim itu pada Laila.
Gilang memainkan ponselnya saat Laila menikmati es krim. Ia tak begitu suka dengan makanan favorit sejuta umat itu. Karena itu Gilang hanya membeli satu saja sesuai pesanan sang istri.
Laila yang tengah asik menikmati es krimnya itu, tiba-tiba terdengar menghela napas berat. Hal itu membuat Gilang juga berhenti dari aktivitasnya dengan ponsel pintarnya itu. Ia menatap sang istri yang terlihat murung.
"Kenapa?" Tanya Gilang.
Laila menoleh menatap Gilang. Lalu ia menggeleng. "Udah nggak mau." Katanya. "Kalau dibuang nggak apa-apa, kan?" Tanya Laila dengan wajah bak anak kecil yang bertanya pada ibunya.
"Jangan. Sini, biar aku yang makan." Ucap Gilang mengambil alih es krim yang sudah tinggal separuh.
__ADS_1
"Hah?" Gumam Laila terkejut sekaligus bingung. Ia tak berkata apapun lagi. Melainkan hanya membiarkan apa yang ingin dilakukan oleh suaminya.
Ia menatap lekat Gilang yang terlihat menikmati es krim tersebut. Seketika ia teringat moment di kafetaria yang sudah sangat lama terjadi. Saat itu Laila menyaksikan sendiri bagaimana gelinya Gilang saat dipaksa oleh Faizan, Rio dan Lian untuk memakan es krim.
Ya, suaminya ini tak menyukai es krim. Tapi mengapa sekarang Gilang memakannya begitu lahap. Tak seperti seseorang yang tidak suka. Oh, mungkin sekarang suaminya ini sudah menyukai makanan yang sering dijadikan dessert itu. Selera orang kan bisa berubah. Diam-diam Laila tersenyum karenanya.
"Udah. Mau kemana lagi?" Tanya Gilang saat ia selesai menghabiskan es krimnya.
"Boleh nggak mas, kalau aku mau ke rumah mbak Naya? Mau nengokin babynya." Ucap Laila hati-hati. Sebenarnya ia takut mengatakannya pada Gilang.
"Ayo. Tapi beli sesuatu buat oleh-oleh." Kata Gilang.
"Iya, mas." Jawab Laila.
Mereka pun membeli buah, kemudian langsung berangkat ke kediaman Faizan dan keluarga kecilnya. Sesampai disana, mereka langsung disambut oleh Faizan dan juga Naya yang tengah memberi asi dengan botol pada bayi mereka.
"Kapan balik lo?" Tanya Faizan to the poin saat mereka sudah duduk bersama di ruang tengah. Pasalnya, beberapa hari yang lalu, mereka melakukan video call berempat dan Gilang tengah berada di Jogja.
"Kemaren." Jawabnya singkat.
"Ooh, jadi abis kita video call kemaren itu lo langsung balik?" Tanya Faizan lagi.
Gilang menampakkan ekspresi sewotnya pada Faizan. Ia mengkode dengan mata agar sahabatnya tak membahas hal itu. Namun, sepertinya Faizan sengaja ingin melakukannya.
"Besok kalau lo balik lagi ke Jogja, jangan lama-lama kali, Lang. Kasihan Laila lo tinggal. Lagian, gengsi dipelihara." Nyinyir Faizan membuat Gilang menatapnya tajam.
Naya menyadari suasana yang kurang bagus. Ia pun mencoba memberi kode pada sang suami agar menghentikan apa yang dilakukannya, apalagi melihat wajah Laila yang sendu.
.
.
Bersambung.........
.
.
__ADS_1