Cinta Dan Benci

Cinta Dan Benci
II - 45


__ADS_3

Laila tengah memasak di dapur saat ia mendengar bel rumah berbunyi. Dengan cepat, Laila membukakan pintu. Ternyata ibu mertuanya yang datang. Laila menyambut wanita paruh baya yang selalu memperlakukannya dengan baik itu dengan senyuman merekah. Lalu, mertuanya memeluknya.


"Kamu lagi apa, sayang?" Tanya Bu Anne melihat Laila yang hanya memakai gaun rumahan dan jilbab instan.


"Ila lagi masak, Mah. Sebentar lagi selesai. Mama sarapan disini aja, ya." Jawabnya sekalian mengajak sang mertua.


"Iya, mama sarapan disini. Masakan kamu tuh enak, sayang." Laila tersenyum mendengar pujian ibu mertuanya itu.


"Tapi, lebih enak masakan mama." Katanya.


Mereka lalu berjalan bergandengan menuju dapur. Bu Anne melihat sekeliling rumah dengan wajah penuh tanya. Ia mencari sesuatu. Dan Laila menyadari itu.


"Mama cari apa, mah?" Tanya Laila.


"Anak bandel itu mana?" Ujar wanita paruh baya itu.


"Maksud mama mas Gilang?"


"Iya,,, dia udah pulang, kan?" Laila mengangguk membuat Bu anne menghembuskan napas berat.


"Besok kalau dia masih pergi sendiri ke Jogja, kamu tinggal sama Mama aja ya, Sayang." Pinta Bu Anne. Ia merasa iba pada menantunya yang telah ia anggap seperti anaknya sendiri. Ia tahu Laila adalah gadis baik-baik. Ia sangat terkesan dengan sikap Laila yang apa adanya. Jauh berbeda dengan gadis yang dulu pernah menjadi kekasih anaknya.


Bu Anne sangat bersyukur karena akhirnya Gilang menemukan istri seperti Laila. Dan ia sangat-sangat bersyukur karena hubungan Gilang dengan Kalista tidak berjalan lama. Karena ia tak menyukai model tersebut.


Selesai dengan masakannya, Laila menyiapkan satu porsi untuk sibawanya ke kamar. Bu Anne yang melihat itu pun terheran.


"Sayang, kamu mau bawa kemana itu?" Tanyanya saat Laila akan berlalu.


"Ini mau Ila bawa ke kamar, mah. Buat Mas Gilang." Jawab Laila.

__ADS_1


"Loh, kenapa Gilang makan di kamar? Suruh aja dia ke bawah, sayang." Kata Bu Anne merasa jengkel karena tak tau faktanya.


"Mas Gilang tadi pas bangun tidur muntah-muntah, mah. Kayaknya dia sakit. "Jelas Laila.


"Ooh,, dia sakit. Durhaka sama istri itu, sayang." Ledek Bu Anne.


Laila hanya tersenyum simpul menanggapi perkataan sang mertua. Ia tau, mertuanya ini sekarang tengah merasa kesal pada Gilang yang tak lain adalah anaknya sendiri.


"Ya udah, mah. Ila ke atas sebentar." Pamitnya.


Bu Anne kemudian mengangguk. Wanita paruh baya itu duduk di salah satu kursi di meja makan yang panjang membentang itu. Meski sejujurnya ia kasihan pada anaknya yang tengah sakit itu, namun rasa kesalnya juga lebih besar karena tingkah anaknya itu menjengkelkan menurutnya.


Laila membuka pintu kamar. Alangkah terkejutnya ia saat tak melihat suaminya berada di tempat tidur, melainkan hanya suaranya yang terdengar dari kamar mandi. Laila bergegas menghampiri suaminya yang tengah mun*ah itu.


"Mas. Astaghfirullah... Mas mun*ah lagi!!" Ucap Laila panik. Ia memijat tengkuk Gilang yang menunduk di depan wastafel.


Saat merasakan sentuhan Laila di tengkuknya, seketika rasa mual yang Gilang rasakan perlahan menghilang. Ia juga berhenti memun*ahkan isi perutnya itu dan membersihkan mulut dan wajahnya. Gilang mengangkat wajahnya dan kini ia berbalik, dan objek pertama yang ia lihat adalah wajah sang istri yang membuatnya merasa lebih baik.


"Kamu udah selesai masaknya?" Tanya Gilang dengan tatapan lembut.


"Udah. Aku kesini nganter sarapan buat mas. Tapi, ternyata mas lagi mun*ah disini. Sekarang gimana rasa perutnya?" Laila mengusap lengan Gilang.


"Sekarang agak lega. Tadi sesak banget." Kata Gilang. Ia menatap lekat wajah Laila yang terlihat sangat cantik. Ia merasa aneh dengan dirinya. Padahal semenjak Laila keluar dari kamar ini, ia kembali dilanda rasa pusing dan mual. Sehingga selama hampir 1 jam istrinya itu memasak, Gilang sudah bolak-balik ke kamar mandi sebanyak 7 kali. Dan barusan adalah yang ke 8 kalinya.


Laila membimbingnya ke arah tempat tidur. Gilang terpaksa pasrah dengan apa yang dilakukan istrinya. Karena sekarang ia tidak memiliki tenaga yang cukup untuk sekedar mengedepankan gengsi. Ia sangat membutuhkan istrinya saat ini.


"Mas langsung makan, ya. Biar aku bantu suapin." Kata Laila sembari menyiapkan makanan untuk segera disantap oleh Gilang.


Gilang yang ditawarkan seperti itu oleh istrinya, tak menolak. Melainkan ada rasa senang saat Laila memberinya perhatian seperti ini. Diam-diam ia tersenyum, sangat tipis sehingga Laila tak menyadarinya.

__ADS_1


Laila menyodorkan sendok berisi makanan yang langsung disambut dengan mulut terbuka oleh Gilang. Begitu makanannya bertemu dengan lidahnya, Gilang merasakan ada desiran aneh di dadanya. Terharu,,, mungkin iya. Akhirnya ia merasakan suasana dan interaksi seperti ini juga dengan wanita yang berstatuskan istrinya ini. Sudah sebulan lamanya mereka hidup dengan tembok pembatas tak terlihat yang membuat rumah tangganya hampir hancur.


Hampir saja semua menjadi penyesalan bagi Gilang, jikalau ia tidak cepat menepis egonya yang begitu kekanakan. Huhh,, sungguh selama ini ia telah hanyut dengan kebimbangannya itu. Padahal keharmonisan semanis ini, dan ia malah mengabaikannya.


Gilang mengunyah makanan dengan pandangan tak beralih dari wajah cantik Laila. Entah keinginan dari mana, ia tak mau berpaling sedikitpun dari menatap sang istri. Kini berbagai hal merasuki pikirannya. Ada rasa takut jika nanti Laila memintanya untuk berpisah. Apakah Laila telah memikirkan hal itu diumur pernikahan mereka yang sudah 1 bulan.


Tidak! Gilang tak mau itu terjadu. Ia akan melakukan berbagai cara untuk membuat Laila tetap menjadi istrinya.


Di awal menikah, Gilang memang sempat terhasut oleh ide Zafin, supervisor di perusahaannya yang mengatakan bahwa Gilang bisa mengikat Laila dengan seorang anak. Maka itu berarti Laila harus hamil dan nanti mereka akan punya anak.


Namun, sekarang Gilang mengurungkan rencananya yang akan membuat Laila hamil. Ia tak lagi tega menyentuh istrinya itu, yang dirinya sendiri sadar bahwa pernikahan mereka bukan atas dasar Cinta. Meski kini Gilang telah mencintai istrinyai, bahkan sangat mencintainya.


Pasrah mungkin adalah jalan satu-satunya yang harus ia hadapi saat ini. Berharap dan berdoa agar Laila tak berencana untuk bercerai darinya. Ia akan berusaha membuat Laila mencintainya mulai sekarang.


"Udah, La." Ucap Gilang lirih. Ia sudah mulai kembali merasa tak nyaman dengan seleranya.


"Sedikit lagi, mas. Nanggung kalau nggak dihabisin." Bujuk Laila lembut. Gilang hanya menggeleng. Tak ada tenaga untuk berbicara banyak saat ini.


"Ya udah, deh. Mas istirahat ya sekarang. Nggak usah ke kantor. Biar aku minta tolong mama supaya bilang ke papa, kalau mas lagi sakit." Kata Laila dan hendak bangkit.


Gilang menahan tangan lembut istrinya itu. "Nggak usah. Kamu disini aja." Ucapnya mencegah Laila untuk pergi. Laila terhening melihat sikap suaminya yang berbeda dari biasanya. Mungkin karena sedang sakit, makanya Gilang agak terkesan manja.


.


.


Bersambung.....


.

__ADS_1


.


__ADS_2