Cinta Dan Benci

Cinta Dan Benci
Perjanjian?


__ADS_3

"Mas Adi," ucap Ifni dengan raut wajah khawatir, Ifni ingin berlari menghampiri Adi. Namun, usahanya dicegah oleh Raka. Raka mengangkat tangannya sebagai peringatan tidak boleh ada yang mendekati Adi.


Raka berjalan mendekati Lidya yang masih terkesiap di tempatnya. Tersenyum dengan sombongnya.


"Hai, calon istriku," ucap Raka. Tangannya bergerak membelai rambut Lidya.


Lidya menepis kasar tangan Raka, "Lepas! Apa yang kamu lakukan sama Papa?!" Teriak Lidya, genangan air mata mulai terlihat.


"Saya hanya melakukan apa yng harus saya lakukan," ujar Raka dengan nada datar.


"Kenapa?" tanya Lidya, air matanya mulai mengalir deras, "Jawab aku kenapa? Apa salah, Papa?" tanya Lidya lagi.


"Papa kamu adalah penyebab kematian Papa, saya!" ucap Raka dengan nada tinggi. Sebelumnya belum pernah ia melakukan hal ini, tapi kali ini amarahnya tak bisa ditahan lagi.


"Maksud kamu, apa?" tanya Lidya, nadanya mulai melemah. Mungkin karena Raka membentaknya.


"Papa kamu akan menjelaskan segalanya, saya yakin dia tidak akan berbohong. Karena jika dia berbohong maka dia akan mati," ucap Raka dengan penuh percaya diri.


Lidya berjalan mendekati Adi yang duduk di kursi, seperti seorang tahanan. Dengan todongan pistol di kanan dan kirinya. Isakan Lidya kembali terdengar, saat mengingat seharusnya kepulangannya ke Indonesia membawa bahagia. Tapi, apa ini?


"Papa," ucap Lidya dengan tatapan penuh tanya.


"Sayang, saat itu kami hanya terlibat perdebatan, Papa tidak melakukan apapun yang mencelakai Dharma. Papa juga nggak nyangka kalau dia bakal terkena serangan jantung," jelas Adi, Raka menungging sinis mendengar jawaban Adi.


"Lalu, kenapa Raka ada di sini?" tanya Lidya, "Apa maksud dia melakukan yang harus dilakukan?" tanya Lidya kembali, sebelum mendengar jawaban dari Adi.


Adi menatap tajam sosok Raka, "Raka mau balas dendam atas kematian Dharma, dia merasa jika Papa pelakunya," ucap Adi dengan penuh penekanan. Dia tak peduli lagi akan nyawanya, saat ini ingin rasanya Adi menerkam sosok angkuh di hadapannya itu.


"Memang anda penyebab kematian Papa, saya!" sergah Raka dengan membalas tatapan tajam Adi.


Adi menatap tajam kembali, sejenak mereka seolah berbicara, memaki satu sama lain melalui tatapan tajam itu.


Raka menyungging sinis, "Papa kamu sudah menyerahkan segalanya kepada, saya. Termasuk kamu!" ucap Raka dengan angkuhnya.


Lidya terbelalak, "Maksud kamu, apa?" tanya Lidya dengan nada tinggi seolah tak terima.


"Sekarang, saya adalah bosnya. Beruntung saya tidak menjatuhkan Papa kamu seutuhnya. Jika saya mau saya bisa." Raka menatap ke arah Adi dan Lidya bergantian.

__ADS_1


"Di mata dunia, Papa kamu memang pemilik perusahaan kalian. Tapi diantara kita, saya pemimpinnya. Jadi jangan terlalu sombong karena sejatinya sekarang, sayalah bos kalian!"


"Kenapa?" Ifni mulai angkat bicara, "Kenapa kamu tidak menjatuhkan kami saja!" Bentak Ifni.


"Saya memberikan kesempatan ini karena ada bayarannya." Raka menatap Lidya intens, "Saya bukan orang bodoh yang akan membiarkan kesempatan emas begitu saja," ucapnya lagi.


"Maksud kamu, apa?"


"Anak anda, Lidya Adi Setya. Akan menikah dengan saya lusa, maka bersiaplah melihat bayaran dari kesalahan kalian selama ini." Raka memberi perintah melalui jari telunjuknya mengarahkan para anak buahnya agar melepaskan Adi.


"Besok, aku akan datang. Kita akan merencanakan pernikahan, kita," bisik Raka tepat di telinga Lidya saat posisi mereka sejajar.


Lidya diam mematung, bibirnya keluh ingin mengungkapkan kalimat lagi. Apa ini? Dulu Lidya memang mendambakan pernikahannya dengan Raka tapi tidak dengan cara seperti ini.


Raka berlalu melewati Lidya, keluar bersama anak buahnya melalui pintu utama rumah keluarga Adi Setya. Kepergian Raka benar-benar membawa rasa suka yang mendalam. Dalam hidup Lidya tak pernah mengharapkan hal ini. Lidya pikir harta yang ia punya akan membawanya dalam kebahagiaan dunia. Namun, sekarang Lidya sadar jika harta bukan segalanya.


Lidya berdiri diam di tempat, entah apa yang dapat dia lakukan. Mimpi apa dia semalam sehingga semua ini terjadi padanya?


"Mas! Apa yang kamu lakukan? Kamu korbankan anak kita cuma karena harta?" Ini mendatangi Adi yang masih terdiam di kursinya. Menunduk pilu.


Lidya kembali meneteskan air mata sebelum akhirnya berlari keluar rumah.


Mereka terus mengejar, hingga akhirnya langkah Lidya terhenti di taman belakang rumah mereka, Lidya menangis dalam diam, duduk menekuk kedua kakinya.


"Kak," ujar Fahri mendekati Lidya yang sedang meringkuk.


"Pliss jangan sedih lagi, maafin Papa. Dia terpaksa, Kak," ucap Alfa menimpali.


Tak ada jawaban dari Lidya, "Aku nggak pernah mikir kalau akhirnya bakal kayak gini, pernikahan ini gak pernah aku harapkan, Ri," ujar Lidya. Fahri berjongkok dan menenggelamkan Lidya dalam dekapannya.


"Gue tau, Kak. Lo pasti gak akan terima, walau dulu lo suka sama Raka. Tapi sekarang Raka berubah," ucap Fahri yang mengelus lembut rambut Lidya.


"Udah jangan sedih, semua yang terjadi gak bisa di perbaiki lagi, kita cuma bisa menjalankan takdir. Lebih baik kita manfaatkan waktu yang ada." Alfa ikut berjongkok dan membelai Lidya.


"Perasaan diantara kita lo yang tua. Kenapa malah lo yang manja? Udah jangan nangis." Fahri melepaskan pelukannya. Menghapus air matanya.


"Udah kali, Kak. Mending sekarang kita seneng-seneng. Lusa lo udah pergi lagi, 'kan?" Alfa menatap Lidya penuh arti.

__ADS_1


Lidya menatap kedua adiknya nanar, air mata kembali terbendung. Alfa adiknya yang dulu terakhir ia temui masih berumur lima tahun kini menjadi sangat dewasa. Di umur lima belas tahun, tak terasa Alfa tumbuh menjadi sosok yang tampan.


Sedangkan Fahri adiknya yang terakhir kali ia lihat masih menduduki bangku SMP sekarang tumbuh menjadi pria tampan, bahkan tingginya melebihi Lidya.


Lidya tertawa kecil menghapus air matanya, kesedihan yang tiba-tiba membuatnya lupa akan dia saudaranya.


Lidya memeluk kedua adiknya, "Maaf," ucap Lidya saat berada dalam dekapan.


Mereka melerai pelukan dan saling menatap, "Ayo masuk!" Fahri membawa Lidya masuk ke dalam rumah.


Saat memasuki rumah, mereka melihat Ifni dan Adi yang masih bertengkar. Fahri, Lidya, dan Alfa saling melempar pandangan. Lalu tersenyum penuh dengan rencana yang ada di pikiran mereka. Ketiganya langsung berlari dan memeluk kedua orang tuanya.


Lidya yang memeluk Adi segera mencium pipi Adi, "Lidya setuju, Lidya gak marah lagi sama, Papa," ujar Lidya yang masih merangkul Adi.


"Mama tenang, aja. Semua bakalan baik, sekarang kita harus manfaatkan waktu yang ada," ujar Fahri yang merangkul Ifni.


Lalu semuanya tersenyum dan disusul dengan tawa yang menggelegar di rumah yang awalnya sunyi itu.


"Sekarang kita harus tidur, karena ... Besok kita harus manjain tuan putri Adi Setya, ini." Fahri mencubit pipi Lidya hingga membuatnya meringis kesakitan.


"Sakit, woy!" Lidya memukul lengan Fahri dengan sekuat tenaga. Membalas rasa sakit yang diciptakan oleh Fahri.


"Tak selamanya harta memberi kebahagiaan di dunia. Bahagia adalah hal yang sederhana. Bahagia tak hanya didapat dengan uang. Bahagia datang tak memandang status. Ketika terpuruk hal yang kita lakukan adalah mencoba mengubah kesedihan itu menjadi kebahagian, karena roda kehidupan terus berjalan. Setelah ada kesedihan akan ada kebahagiaan. Setelah kebahagiaan akan ada kesedihan. Dan kita tidak tau kapan hal itu berubah."


~Lidya~


******


"Raka apa yang kamu lakukan, nak?" tanya Laras Mama Raka. Setelah pulangnya Raka dari rumah Adi. Laras terus menentang keputusan Raka.


"Semua yang kamu lakukan hanya akan membuat Papa kamu menderita di sana!" Laras semakin emosional. Tadi saat Ayu datang dan memberi tahu masalah Raka dan Adi Setya. Laras menjadi marah.


Semenjak Raka menjadi CEO di usia muda. Membuat Raka menjadi sosok yang berbeda, mengambil keputusan menurut hatinya. Raka tak pernah mendengarkan pendapat siapa pun dan selalu melakukan apa yang dia inginkan. Tanpa memikirkan dampak negatifnya.


"Mama nggak tau soal ini semua! Jadi lebih baik Mama diam." Raka yang awalnya ingin beristirahat di sofa. Kini pergi dengan amarah menuju ke kamarnya.


"Keinginanku hanya satu! Memilikimu dengan cara apapun."

__ADS_1


~Raka~


__ADS_2