Cinta Dan Benci

Cinta Dan Benci
II - 35


__ADS_3

.


.


Suasana di Kafetaria saat ini sedang ramai. Laila yang tadinya pergi bersama Ulfi untuk jalan-jalan, mampir ke Kafetaria. Saat ini ia tengah membantu Yessi mengantar pesanan pelanggan. Ia terlihat menikmati suasana itu. Setidaknya Laila bisa melupakan sejenak masalah yang mengganggu pikirannya.


"La, ini buat meja 7. Boleh tolong anter, nggak?" Ujar Yessi.


"Oke, Yes." Jawab Laila lalu mengambil hidangan tersebut dan memgantarnya.


Saat sampai di meja yang dituju, Laila terdeiam mematung dengan wajah datarnya. Ia mengenali seseorang yang tengah berkutik dengan ponsel. Dengan dada berdetak cepat, Laila meletakkan nampan berisi hidangan makanan tersebut.


"Permisi, mbak." Ucapnya dan berlalu.


"Tunggu!" Serunya menghentikam langkah Laila.


Dengan perlahan Laila berbalik. Orang tersebut menampilkan senyum miring menatap Laila yang terlihat tegang.


"Apa begini pelayanan karyawan di Kafe ini? Oh,, atau mungkin cuma lo yang nggak profesional ya?" Kata perempuan yang Laila tahu siapa orang tersebut.


Sebisa mungkin Laila menampilkan senyumnya meski dengan terpaksa. Ia tak mau terpancing emosi karena ejekan wanita itu.


"Silahkan dinikmati makanannya, mbak." Ucap Laila mempersilahkannya. Namun, hal itu tak membuat wanita yang tak lain adalah Kalista sang mantan kekasih suaminya berhenti dari aksinya.


"Udah, lah. Terlambat. Dikasih tau dulu baru dilakuin. Nggak kompeten banget. Kok bisa ya Kafe sebagus ini nerima lo sebagai pelayan disini? Mungkin pemiliknya kasihan kali, ya."


Mendengar penuturan pedas Kalista, sejujurnya membuat Laila merasa sesak. Ada rasa panas yang mengalur di darahnya. Namun, tidak. Ia harus tetap berusaha sekuat mungkin untuk bersabar. Karena, sekarang ia tengah berada di tempat umum.


"Saya minta maaf, jika pelayanan saya kurang maksimal. Saya khilaf, mbak. Sekali lagi maafkan saya." Ucap Laila.


Kalista hanya mencebikkan bibirnya dan mendelik. Melihat hal itu, Laila hanya bisa menghela napas pelan menahan rasa kesalnya.


"Permisi." Ucapnya kemudian benar-benar beranjak dari hadapan gadis menyebalkan itu.


Tanpa Laila ketahui, Kalista lagi-lagi menampil senyum miring menatap kepergian Laila. Wanita yang telah berhasil menempati posisi sebagai pasangan hidup dari laki-laki yang masih ia cintai sekaligus mantan kekasihnya. Kalista tak bisa menerima pernikahan Gilang dengan wanita lain. Karena ia masih sangat mendambakan lelaki itu.


"Walau kamu terus menolakku, aku nggak akan menyelah, Lang. Aku akan merebut kamu apalagi setelah aku bertemu dan memastikan langsung siapa istri kamu. Akan semakin mudah rasanya membuat kalian berpisah. Karena, aku yakin kamu masih cinta sama aku, Lang." Gumamnya berbisik dengan dirinya sendiri.

__ADS_1


.


.


Laila terdiam saat sampai di dapur. Jantungnya masih berdetak sangat cepat. Pertemuannya dengan wanita yang sempat membuat dirinya merasa tak pantas bersanding dengan sang suami, benar-benar mengejutkan dirinya.


Ia tak pernah menduga akan bertemu langsung dan secara tiba-tiba dengan Kalista. Ternyata benar. Kalista memang gadis yang sempurna dan pantas untuk didambakan kaum hawa. Cantik dan modis. Hah,,, ia kembali ragu akan perasaan sang suami padanya. Apa suaminya masih memiliki untuk sang mantan? Pertanyaan itu kini bersarang di pikirannya.


"La." Sapa seseorang yang memasuki dapur.


"Pak Faizan?" Ucap Laila terkejut akan kedatangan Faizan.


"Kamu kenapa bengong disini, La?" Tanya Faizan heran.


"Eh, enggak kok, pak. Saya cuma lagi,, nunggu pesanan yang lain." Jawabnya berkilah.


Faizan hanya mengangguk. Ia tak ingin mempermasalahkan hal itu.


"Oh, iya. Untuk seminggu kedepan saya nggak bisa ngunjungin Kafe. Jadi, kamu tolong pantau Kafe ini ya." Kata Faizan.


"Ini laporan yang kemaren, kamu tolong simpan di loker. Saya harus ke kantor sekarang."


"Iya, pak." Laila mengangguk saja. Meskipun ia merasa agak janggal karena Faizan baru akan ke kantor siang ini. Namun, ia paham. Semenjak Faizan dan Naya telah memiliki anak, Faizan memang lebih lama di rumah dan baru akan ke kantor setelah siang.


Laila mengantarkan dokumen yang diberikan oleh Faizan ke ruangan kerja Naya. Ia lalu, melanjutkan pekerjaannya. Hingga waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore, Laila merasa lelah.


Melihat Kafetaria yang mulai sepi, sepertinya Ia bisa pamit pulang lebib cepat pada karyawan yang lain. Toh, mereka juga mengerti bahwa sekarang Laila sudah memiliki tanggung jawab sebagai seorang istri. Maka, ia tak bisa menghabiskan waktu berlama-lama di luar rumah seperti saat dirinya masih lajang.


"Yessi. Gue pulang duluan, ya. Nanti lo bisa nggak ngunci Kafe?" Tanya Laila.


"Bisa, La. Lo tenang aja. Nanti biar gue yang ngunci Kafe. Lagian kayaknya lo udah capek banget. Muka lo juga agak pucat. Mendingan sekarang lo pulang ya, La. Istirahat." Jawab Yessi dengan sopan. Yessi memang pengertian dan ramah. Sehingga Laila merasa sangat cocok menjadi parnertnya bekerja.


"Iya, Yes. Kalau gitu gue langsung pulang, ya. Assalamu'alaikum." Pamitnya dan berlalu.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Yessi dengan senyum simpul.


.

__ADS_1


.


Sesampai di rumah, Laila langsung mandi. Lalu, ia memasak makanan untuk dirinya dan seperti biasa juga untuk berjaga-jaga jikalau tiba-tiba suaminya datang. Kini, Laila memotong sayuran antara lain brokoli, kemudian disusul wortel dan jamur tiram.


Setelah siap, Laila mulai memasak. Ia juga menggoreng ayam tepung pedas. Sesaat setelah Laila mematikan kompor, ia mendengar suara ketukan pintu. Bergegas ia membukanya.


"Hai, kak." Sapa seseorang yang berdiri di depan pintu dengan sangat ceria.


"Ulfi?" Ucap Laila dengan tersenyum.


Ulfi terkekeh lalu mengikuti Laila yang telah menggandengnya dan membawanya memasuki rumah.


"Makan, yuk! Kakak baru aja selesai masak." ajak Laila.


"Boleh, deh." Jawabnya senang.


Sesampai di meja makan, Ulfi begitu antusias dengam wajah yang berbinar menatap hidangan. Apalagi melihat cah brokoli jamur, karena jamur adalah makanan favoritnya.


"Kakak emang hebat, ya. Semua yang kakak masak itu cocom banget di lidah aku. Jadi pengen tinggal disini lama-lama." Ucapnua menatap Laila dengan wajah dibuat-buat berharap.


Laila hanya menggeleng melihat tingkah Ulfi yang terbilang lucu itu. Setidakmya Laila masih bisa terhibur olehnya. Tapi tunggu,,, ia merasa ada yang aneh. Semenjak Gilang pergi ke Jogja tepatnya 3 hari yang lalu, Ulfi selalu datang dan menemaninya.


Apa mungkin suaminya yang meminta Ulfi untuk datang? Tapi, apa mungkin? Laila menepis semua pertanyaan yang akan membuatnya sesak. Bertanya tentang suaminya hanya akan menimbulkan kekecewaan di hatinya.


"Em,, Fi. Kakak mau ke kamar mandi sebentar. Kamu lannut makan dulu aja, ya." Ujar Laila membuat Ulfi menghentikan acara makannya. Ia mengangguk.


Setelah Laila berlalu, Ulfi mengeluarkan ponselnya dari tas dan mengetikkan pesan yang akan dikirimnya kepada sang kakak sepupunya, Gilang. Ia akan melaporkan bahwa keadaan Laila baik-baik saja. Meskipun Laila wajahnya terlihat lelah..


.


.


Bersambung....


.


.

__ADS_1


__ADS_2