Cinta Dan Benci

Cinta Dan Benci
Kekhawatiran Adel


__ADS_3

Daniel benar-benar membuat hati Caca seperti melayang terbang ke langit ke tujuh, bahkan rasa bahagia dia saat itu tak bisa di bandingkan saat dia menjalin hubungan dengan Leo dulu kala. Saat dia menjalin hubungan dengan Leo bahkan dia bagaikan seseorang yang hanya memperhatikan semua keinginan Leo tanpa memperhatikan dirinya sendiri


Sedangkan di sisi yang berbeda ada Adel yang sudah makin di desa oleh pihak keluarga untuk kembali ke perusahaan mereka dan berhenti bermain-main, Adel pun meminta Caca untuk menemani dirinya saat pulang kerja untuk menyampaikan hal tersebut. Caca pun segera mengirimkan pesan kepada Daniel


"Nanti pulang kerja kamu ga usah antar aku ya, Adel ajak aku ketemu. Kata dia ada yang mau dia omongin"


"Ke ruangan aku sebentar"


Tanpa menunda waktu Caca pun segera bangkit dari duduknya dan menuju ke arah ruangan Daniel


Tok.. Tok.. Tok..


"Masuk"


Daniel menghentikan segala aktifitas yang sedang dia kerjakan dan menatap ke arah Caca yang sedang melangkahkan kakinya ke arah dirinya


"Mau ke mana?" dengan lembut


"Aku juga ga tau kak, dia bilang ada yang mau dia omongin sama aku"


"Kamu ga berencana ketemu laki-laki lain kan di belakang aku?"


"Astaga bisa memiliki kamu aja rasanya seperti mimpi kak, gimana bisa aku memikirkan laki-laki lain lagi." tersenyum tipis


"Ga kok kak, apa kamu mau ikut?"


"Ga usah deh, gimana juga nanti kalian ga bebas ngobrol kalau ada aku di sana. Tapi ingat ga boleh ada laki-laki lain di dekat kalian," dengan tegas


"Iya kak," tersenyum


"Satu lagi.."


"Apa ya kak?" menatap dengan serius


"Karena hari ini aku bisa antar kamu pulang, kamu harus kasih aku sogokan dong." tersenyum penuh arti


"Maksud kamu kak?"


Daniel menggunakan jari telunjuk nya mengarah ke pipinya, dan dalam sekejap wajah Caca terasa panas hingga memerah karena dia tau dengan pasti apa yang Daniel inginkan


"Tapi kak ini lagi di kantor"

__ADS_1


"Ya udah kalau gitu aku ga kasih izin kamu pulang bareng dia"


Dengan berat hati Caca pun mulai mendekati bangku kebesaran Daniel dan mulai membungkukkan sedikit tubuhnya agar sejajar dengan posisi Daniel yang sedang duduk, dan cup sebuah ciuman mendarat di pipi Daniel dengan mulus


Tetapi saat Caca mendaratkan ciuman nya Daniel memutar sedikit wajah nya dan bibir mereka pun sedikit bersentuhan, Caca yang sedikit terkejut pun langsung memundurkan tubuhnya. Sedangkan Daniel langsung menatap Caca dengan senyuman penuh arti


"Kamu curi kesempatan ya dari aku? aku kan cuma suruh kamu cium pipi aku bukan bibir aku." tersenyum meledek


Caca hanya bisa terdiam sambil membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna, Daniel pun langsung bangkit dan memeluk tubuh Caca dengan erat


"Ingat ya, walaupun aku ga ada di samping kamu nanti tapi kamu cuma punya aku." dengan lembut


Caca pun menganggukkan kepalanya di dalam pelukan Daniel dan Daniel membuat sandiwara nya dengan sempurna dengan mencium ujung kepala Daniel dengan lembut


"Kalau gitu aku keluar dulu ya kak"


"Apa kamu tau kalau sebentar lagi perusahaan kita akan mengadakan ulang tahun perusahaan?"


"Ya kak,"


"Bersiap ya, di sana nanti aku akan umumkan ke seluruh dunia kalau kamu cuma punya aku untuk selamanya."


"Tapi apa ga terlalu cepat kak?" dengan wajah sedikit bingung


"Ga lah, kalau kamu mau malah hari ini juga aku mau kamu jadi milik aku selamanya."


Entah sudah secepat apa detak jantung Caca pada saat itu, kebahagiaan yang sedang Caca rasakan saat itu benar-benar tak bisa di lukisan kan dengan kata-kata. Walaupun sudah pasti itu semua hanya kebohongan belaka


Setelah pulang kerja Caca pun pergi bersama Adel dan sekali ini Adel membawa Caca ke sebuah mini bar tempat dia sering menghabiskan waktu bila sedang merasa penat, mereka pun duduk di meja bar dan memesan minuman yang sering Adel pesan


"Aku udah janji sama diri aku ga mau minum alkohol Del," tersenyum canggung


"Oh ya, maaf kamu pesan apa?"


Hari itu Adel terlihat jauh lebih pendiam dari pada yang biasanya, bahkan senyuman di bibirnya pun jarang terlihat


"Apa kamu lagi ada masalah Del?"


Adel menatap ke arah Caca sambil tersenyum


"Kamu memang hebat ya Ca"

__ADS_1


"Aku? hebat apanya sih?"


"Baru yang baru kenal aku aja bisa langsung tau kalau aku lagi mikirin sesuatu," tersenyum


"Ya soalnya hari ini kamu keliatan sedikit murung"


Adel mengambil gelas minuman yang dia pesan dan meminum minuman tersebut


"Kayaknya udah saatnya aku menyerah Ca," tersenyum getir


"Maksud kamu Del?"


"Papa udah paksa aku buat mulai belajar pegang perusahaan kami Ca, dan sampai detik ini kami belum ada perkembangan apa-apa. Jadi aku udah putusin untuk menyerah"


"Apa kamu yakin Del?"


"Besok aku mau serahin surat pengunduran diri aku Ca, tapi aku masih kepikiran sama kamu." dengan serius


"Aku?" menatap dengan serius


"Apa kamu ga ada niat untuk gabung di perusahaan papa aku?"


"Kamu ngomong apa sih Del?" tertawa kecil


Adel pun langsung menatap ke arah Caca dengan serius


"Apa kamu ga ngerasa kalau hubungan kamu sama orang itu terlalu aneh Ca? kita hidup di dunia nyata dan hubungan kalian berdua kayak sebuah cerita dongeng yang udah di atur, terlalu aneh kalau terjadi di dunia nyata"


Caca hanya bisa terdiam, entah mengapa ingin sekali dia menolak pernyataan yang di berikan Adel tetapi jauh di dalam lubuk hatinya membenarkan hal tersebut


"Kamu tau kenapa aku bohong soal status aku yang sebenarnya di perusahaan itu?"


Caca pun menggelengkan kepalanya


"Karena selama ini semua orang yang dekat sama aku ga ada yang tulus benar-benar mau berteman dengan aku Ca, mereka semua dekat sama aku karena aku anak dari seseorang yang harus mereka hormati. Aku mau cari seseorang yang mau dekat sama aku tanpa tau siapa aku, dan akhirnya aku ketemu sama kamu." tersenyum tipis


"Itu juga alasan kenapa aku takut orang itu punya niat tersembunyi sama kamu Ca, aku ga mau kamu kenapa-napa." dengan serius


Caca pun tersenyum bahagia karena kini dia bisa yakin selain Sindy masih ada orang yang benar-benar perduli kepada dirinya


"Kamu tenang aja ya Del, aku bisa jaga diri kok"

__ADS_1


Adel tampak ragu untuk menyampaikan sesuatu yang mengganggu di dalam pikiran nya saat itu, dia pun akhirnya membuang nafasnya dengan kasar dan memegang kedua tangan Caca dengan erat


"Apa kamu tau siapa dia sebenarnya?"


__ADS_2