Cinta Dan Benci

Cinta Dan Benci
II - 33


__ADS_3

Di sudut sebuah kamar terlihat seorang wanita sedang berdiri berkacak pinggang memegang ponsel yang ditempelkan di telinganya. Wanita itu memejamkan matanya, menahan sesak di dada mendengar apa yang dikatakan lawan bicaranya.


Wanita itu yang tak lain adalah Neta, mencoba untuk menahan kekesalan dan amarahnya. Ia akan dijodohkan oleh kedua orang tuanya. Semua diluar dugaannya.


Neta meremas kuat ponselnya setelah percakapannya selesai. Baru saja tantenya menelepon, mengabarkan jikalau Papanya meminta sang tante untuk mencarikan pasangan. Alasannya adalah, karena kedua orang tua Neta merasa Neta terlalu lama untuk menikah.


Hal itu sendiri bukan tanpa alasan. Neta belum menemukan lelaki yang cocok baginya. Semenjak dikhinati sang mantan kekasih 5 tahun yang lalu, Neta tak lagi bisa dengan mudahnya menaruh hati pada lelaki. Karena itulah ia masih saja sendiri.


Neta keluar dari kamar hendak ke dapur. Saat menutup pintu kamarnya, ia berpapasan dengan sang adik yang tak lain adalah Ulfi yang menatapnya aneh.


"Kenapa?" Tanyanya heran.


"Nggak apa-apa." Jawab Ulfi.


Neta mendelik sembari melangkah meninggalkan sang adik yang masih berdiri di tempatnya. Ulfi hanya mengangkat bahu acuh sebelum ikut beranjak. Tentunya dengan tempat dan tujuan yang berbeda. Gadis 19 tahun itu segera menjalankan amanat dari sang kakak sepupu.


Ulfi pergi diantar oleh supir keluarganya. Sesampai di kediaman Gilang, Ulfi langsung memasuki halaman setelah gerbang dibukakan oleh Pak Ajis.


"Makasih, pak." Ucapnya tersenyum. "Kak Laila ada kan, pak?" Tanya Ulfi.


"Ada, non. Langsung masuk aja." Jawab Pak Ajis. Ya, walaupun Pak Ajis sebenarnya belum mengenal Ulfi sebelumnya, namun tadi Gilang telah memberitahunya akan kedatangan Ulfi. Sehingga ia berani meminta Ulfi langsung memasuki rumah.


Ulfi meencet bel, hanya sebentar menunggu dan Laila pun keluar membukakan pintu.


"Ulfi?" Ucap Laila sedikit heran, namun ia tersenyum melihat kedatangan adik iparnya yang baik itu.


"Kamu kesini sama siapa?" Tanya Laila melihat ke penjuru halaman.


"Diantar Mang Boron tadi, kak." Jawba Ulfi.


"Oh,, kok kamu nggak bilang mau kesini? Ayo masuk!" Ajak Laila.


Laila menggiring Ulfi untuk masuk ke dalam rumah. Mereja berhenti di ruang keluarga. Laila lalu menyuruh Ulfi untuk duduk di sofa menunggunya menyelesaikan menggoreng keripik kentang di dapur. Ulfi yang tak ingin diam saja, mengikuti Laila ke dapur.


"Kakak bikin ini sebanyak itu?" Ucap Ulfi takjub.

__ADS_1


Laila melemparkan senyum manisnya. "Mas Gilang kan suka banget ngemil keripik kentang. Makanya kakak buat banyak. Buat stok." Jelas Laila yang mengaduk-aduk kentang di dalam penggorengan.


Ulfi mengangguk. Ia kagum pada Laila. Sebenarnya Ulfi telah mengetahui semua hal mengenai rumah tangga keduanya. Termasuk penyebab keduanya menikah yang tanpa didasari cinta. Ulfi hanya bisa menghela napas karena prihatin, dan mencoba mendoakan agar rumah tangga Laila dan Gilang segera membaik.


Melihat sikap Laila yang memperlakukan Gilang dengan baik, membuat Ulfi merasa ragu jikalau keduanya tak saling mencintai. Apalagi Gilang yang sepertinya berusaha sebisa mungkin untuk selalu menjaga Laila, meski ia berada jauh dari sang istri.


Ulfi yakin, ada cinta diantara mereka. Sehingga menurutnya tak akan sulit untuk membuat pernikahan mereka membaik. Apalagi begitu banyak yang mendukung rumah tangga keduanya.


Saat tengah larut dalam pekerjaannya, Laila tiba-tiba saja merasa lemas. Tubuhnya oleng dan untuk saja Ulfi menahannya sehingga Laila tak sampai terjatuh.


"Kak!" Ujar Ulfi dengan suara sedikit keras.


"Kakak kenapa? Kalau capek, mendingan kakak berhenti dulu, deh." Ucap Ulfi mengingatkan.


"Tiba-tiba kakak ngerasa pusing." Kata Laila sembari memegang keningnya.


Ulfi membimbing Laila untuk duduk di kursi pantri. Ia menatap wajah Laila yang tampak pucat dan kelelahan. Ulfi melirik wadah besar yang terbuaat dari plastik, berisi kentang keripik yang telah digoreng. Memang sudah terbilang banyak. Dan Ulfi semakin yakin, jikalau Laila kelelahan.


Ia pun membantu mengangkat keripik yang telah matang dan menaruhnya di baki yang beralas tisu pengering minyak gorengan. Lalu, Ulfi mematikan kompor.


"Makasih ya, dek." Ucap Laila lemas.


Mereka lalu beranjak berpindah ke ruang tengah. Disana Ulfi menyalakan televisi dan duduk bersama sang kakak ipar sembari mengunyah cemilan yang dibuat Laila tadi.


.


.


Neta duduk di sofa ruang tengah merenungi nasibnya ke depan. Menikah dengan orang yang tidak dicintainya, lewat perjodohan. Membuat pikirannya semakin kacau saja.


Tiba-tiba bel berbunyi. Dengan malas ia bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah pintu depan. Ia membukakan pintu. Dengan wajah malas ia memutar tubuhnya melihat siapa yang datang. Siapa lagi kalau bukan sohibnya, Mayang.


"Netaaaaa..." Mayang merengek mengejar langkah Neta. Ia bergelayut di lengan sahabatnya itu. Berceloteh mengeluarkan semua keluh kesahnya.


"Mayang,, stop, ya. Gue lagi pusing, jangan nambahin beban di kepala gue ya, lo." Sergah Neta menghempaskan tangan Mayang.

__ADS_1


Entah mengapa semakin kesini, Neta merasa jengah dengan semua sikap dan kelakuan Mayang. Baginya Mayang sudah sangat keterlaluan. Ya, Neta tahu apa yang telah dilakukan gadis yang berkedok sebagai sahabatnya itu. Mayang baru memposting video yang memperlihatkan gadis itu memamerkan cincin di jarinya. Ia tahu maksud dari sahabatnya itu.


Meski Neta belum bersikap baik pada Laila, namun sebenarnya ia merasa berat saat harus menuruti Mayang sebelumnya. Apalagi mencaci Laila dengan kata-kata yang pasti membuat gadis itu sakit hati, Neta terpaksa melakukannya.


Bagaimana pun nanti, ia akan meminta maaf dan mengakui penyesalan akan perbuatannya pada Gilang dan Laila.


"Net,, lo dengerin gue. Gilang pergi ke Jogja lagi, dan nggak ngasih tau ke gue." Lagi-lagi Mayang mengoceh.


"Mayang. Udah, deh. Lo nggak usah banyak bacot lagi. Gue bener-bener pusing. Mendingan lo terima kenyataan aja deh, kalau lo udah nggak bisa lagi untuk ngedapetin Gilang." Serobot Neta yang mulai kesal.


Mayang memasang wajah cemberut mendengar perkataan Neta. Mengapa Neta menjadi berubah pikiran dan memintanya berhenti mengejar Gilang. Bukankah sebelumnya sahabatnya ini mendukung dirinya untuk menikah dengan Gilang.


"Net. Kok lo malah nyuruh gue mundur, sih?" Tanya Mayang.


"Gue udah capek ngikutin semua keinginan lo. Gue juga lagi ada masalah yang bikin gue pusing, May. Dan lo ngertiin dong."


"Masalah apa, sih?" Tanya Mayang.


"Gue dijodohin." Ucap Neta.


Mayang terdiam. Yang benar saja? Neta dijodohkan? Ia menggeleng pelan. "What? Lo nggak bercanda kan, Net?"


"Lo liat muka gue, kan? Apa kelihatan bercanda?" Tanya Neta datar.


Mayang menggeleng pelan dengan wajah canggung. Sepertinya memang benar bahwa Neta tengah dilanda kekalutan. Mayang menghela napas berat.


.


.


Bersambung......


.


.

__ADS_1


__ADS_2