
.
Di sela keheningannya menunggu Ulfi memasak, Laila mendengar bel berbunyi. Ia yang berada di ruang makan pun segera bangkit dari duduknya untuk membukakan pintu. Raut keterkejutannya tak bisa disembunyikan karena melihat siapa yang datang.
Antara senang dan bahagia ia langsung berhambur ke pelukan lelaki dewasa di depannya. Sungguh ia merindukannya dan rasa rindu itu segera terobati saat ini. Ya, orang itu adalah Hanif, kakaknya yang kedua. Sudah 3 tahun mereka tak bertemu, dan kini akhirnya Laila bisa melepas rindu pada sang kakak.
"Kakak..." Ucap Laila saat dirinya sudah memeluk erat sang kakak.
Entah mengapa Laila tak bisa menahan air matanya. "Kakak jahat banget sih, nggak pulang-pulang. Tega bikin aku rindu sebesar sekarang." Keluhnya tanpa melepas tubuh besar itu.
Yang bersangkutan hanya terkekeh sembari membalas pelukan sang adik yang sangat ia sayangi itu. Adik kecilnya yang selalu ia jaga sebelum ia harus pergi 3 tahun yang lalu.
"Nggak berubah ya kamu. Masih manja kayak dulu." Kata Hanif.
Mereka akhirnya melepas pelukan setelah beberapa saat. Laila membawa sang Kakak memasuki rumah.
"Tunggu, deh!" Seru Hanif menahan langkah Laila. Ia menatap intens wajah sang adik yang terlihat janggal.
"Kamu sakit?" Tanyanya saat merasakan kejanggalan itu karena wajah Laila yang terlihat pucat.
Laila menelan salivanya. "Enggak.." Jawabnya cepat namun terdengar jelas jika ia merasa takut.
"Kamu nggak lagi bohongin kakak kan, dek?" Selidik Hanif.
Tiba-tiba ada sahutan yang membuat Laila sangat bersyukur di satu sisi, karena bisa membuat sang Kakak berhenti menatapnya dengan sangat intens. Di sisi lain ia merasa kesal karena perkataan orang itu.
"Kak Laila tadi pingsan, kak." Ya, itu adalah suara Ulfi yang ternyata sudah berada di ruang tengah.
Hanif beralih menatap gadis remaja menjelang dewasa itu dengan kening mengernyit. Siapa gadis ini, pikirnya.
"Mm,,, maaf."Ucap Ulfi menyadari kebingungan Hanif. Ia pun mendekati keduanya.
"Aku Ulfi. Adik iparnya kak Laila." Katanya menjelaskan tanpa diminta.
Laila tiba-tiba menghembuskan napas lega karena Ulfi berhasil menghilangkan suasana mencekam diantara mereka.
"Kakak namanya kak Hanif kan. Kakaknya Kak Laila yang kedua." Tebak Ulfi yang diangguki oleh Hanif.
"Aku udah selesai masak. Mendingan sekarang kita makan." Ajaknya. Mereka pun berjalan ke arah meja makan.
__ADS_1
.
.
.
Gilang sudah tidak sabar untuk sampai di rumah. Ia benar-benar ingin tahu dengan kondisi sang istri saat ini. Ia benar-benar resah. Kembali meninggalkan istrinya selama seminggu tanpa komunikasi sedikitpun membuatnya merasa bersalah.
Ia kembali merasa bodoh karena tak mampu melawan egonya agar mencoba menghapus gengsi untuk memulai bersikap baik pada sang istri. Padahal jelas-jelas itu adalah kewajibannya sebagai seorang suami. Menyayangi istri dan memperlakukannya dengan baik. Selalu memberinya perhatian dan melindunginya.
Namun, Nyatanya Gilang belum bisa melakukannya. Ia hanya menjadi penyebab dari rasa sakit dan kecewa istrinya. Kini ia akan berusaha untuk memperbaiki hubungan mereka yang tidak jelas agar menjadi lebih jelas dan harmonis.
Gilang menarik gagang pintu. Alangkah terkejutnya saat inderanya menangkap pemandangan yang sangat menjengkelkan. Baru saja ia berniat untuk memperbaiki hubungan mereka, namun Gilang kembali dilanda amarah saat melihat sang istri membawa lelaki lain ke dalam rumah mereka.
Gilang menahan diri untuk tidak marah. Ia tak boleh marah di depan orang lain.
"Assalamu'alaikum." Ucapnya.
"Waalaikumussalam. Mas,,, Mas udah pulang?" Jawab Laila yang juga terkejut dan senang melihat kedatangan suaminya.
Entah mengapa wajah Laila terlihat sumringah menghampiri Gilang. Ada rasa rindu yang begitu membuncah di dialam hatinya pada sang suami. Kini Gilang sudah semakin dekat dengan Laila yang juga berjalan menghampirinya.
Setelah Laila mencium tangannya, Gilang beralih melihat sosok lelaki yang duduk di kursi makan. Beberapa detik kemudian, lelaki itu menoleh padanya. Raut wajah mereka sama-sama terkejut saat pandangan mereka saling beradu.
"Gilang!" Balas Hanif dengan raut wajah yang sulit diartikan. Antara terkejut dan bingung.
Hanif langsung berdiri dari duduknya. Ia lalu berjalan ke arah dimana posisi Gilang dan Laila saat ini.
"Jadi,, suami Laila itu Lo?" Tanya Hanif yang kini ada senyum terpancar di wajahnya.
"Iya,, Lo,,,?" Gilang terlihat bingung.
Hanif mengulurkan tangannya untuk berjabatan. Lalu memperkenalkan dirinya sebagai Kakak ipar.
"Gue,,, kakak ipar Lo, Lang." Ucapnya.
Gilang hanya melongo mendengar pengakuan lelaki yang ternyata teman semasa SDnya. Ia benar-benar tak menyangka akan menjadi ipar dengan Hanif yang dulunya juga berteman dekat dengannya.
"Jadi, Kakak udah kenal sama Mas Gilang?" Tanya Laila.
__ADS_1
Hanif hanya tersenyum. Sementara Gilang menatap Laila canggung. Rasa bersalah semakin menghantuinya setelah mengetahui kenyataan bahwa istrinya adalah adik dari teman dekatnya sendiri. Sungguh memalukan. Entah bagaimana reaksi Hanif saat tahu sikapnya selama ini pada Laila.
"Gilang teman dekat kakak waktu SD. Setelah lulus kami berbeda sekolah. Ya,, setelah acara reuni setahun yang lalu, baru sekarang kita ketemu lagi." Jelas Hanif.
"Ohh gitu." Laila hanya menanggapinya demikian. "Mm,, mas mau bersih-bersih dulu atau mau langsung makan?" Tanya Laila membuat Gilang tersentak.
"Eh,, aku mau,, bersih-bersih dulu." Jawabnya.
"Ya, udah. Aku siapin baju ganti." Kata Laila yang kemudian berlalu.
Gilang menatap punggung Laila yang semakin menjauh. Seperti orang linglung, Hanif merasa heran dengan sikap adik iparnya.
"Hei." Hanif menepuk bahu Gilang pelan. "Kenapa, sih? Kok lo kayak lagi bingung gitu? Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiran lo, Lang?" Tanya Hanif.
Gilang diam. Ia merasa takut jika salah bicara. Dengan berusaha menetralkan raut wajahnya, Gilang akhirnya bisa tersenyum tanpa ragu.
"Enggak apa-apa. Oh, iya. Lo apa kabar, Nif?"
"Alhamdulillah, seperti yang lo lihat sekarang. Masih bisa sampai kesini. "Jawab Hanif dengan nada bergurau.
"Mendingan kita ngobrol sambil duduk aja." Kata Gilang membawa Hanif duduk di kursi makan.
"Oke." Hanif pun ikut duduk.
Saat hendak menempelkan bok**gnya di kursi, Gilamg teringat kalau ia sudah mengatakan pada sang istri untuk membersihkan tubuhnya dulu. Huh,, hal sekecil itu pun bisa ia terlupa.
"Oh, iya. Gue ganti baju sebentar, ya. 5 menit." Katanya pada Hanif. Sementara Hanif hanya tersenyum melihat sikap Gilang dan menggeleng-gelengkan kepalanya karena merasa tingkah Gilang cukup menghibur.
Ia tak menyangka jika Gilang akan menjadi suami dari adik kandungnya sendiri. Ia berharap kehidupan pernikahan Gilang dan Laila selalu bahagia sampai mereka tua. Hanif sangat menyayangi sang adik, terlebih dikarenakan Laila adalah anak bungsu dan satu-satunya perempuan di antara mereka bersaudara. Hanif dan sang kakak sudah terbiasa dan sudah menjadi keharusan di dalam diri mereka untuk memprioritaskan Laila dan menjaganya.
Bahkan, saat ia tahu sang adik akan menikah pun, sempat ada keraguan yang Hanif rasakan. Karena, ia takut jika sang adik akan mengalami seperti apa yang telah banyaj terjadi di luar sana.
.
.
.
Bersambung......
__ADS_1
.
.