
Yudha menggendong seorang anak kecil yang baru berumur lima tahun masuk ke dalam sebuah rumah, dan di dalam rumah yang cukup mewah tersebut terlihat seorang wanita sedang menyiapkan sarapan. Dan wanita tersebut adalah Caca
"Selamat pagi," tersenyum
"Pagi kak, sudah sarapan belum? kalau belum biar aku siapin piring satu lagi"
"Boleh, aku mau makan bareng jagoan aku nih." mencium pipi anak yang berada di gendong an nya
Yudha mulai menurunkan anak tersebut dan mereka mulai mendudukkan tubuh mereka di tempatnya masing-masing, mereka mulai menyantap sarapan mereka sambil sesekali melempar candaan ringan
Selesai sarapan mereka berkumpul di ruang tamu, sedangkan sang anak mulai asik dengan permainan yang sedang dia mainkan
"Apa kamu yakin dengan rencana kamu?"
Caca menatap ke arah Yudha sambil tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya
"Tapi gimana kalau kamu sampai ketemu sama dia?"
"Gimana juga aku ga mungkin selamanya sembunyi kak, aku rasa aku sekarang aku sudah siap untuk ketemu dia. Lagi pula menurut Adel dia ga ingat apapun tentang aku jadi ga akan ada masalah yang timbul kak," tersenyum tipis
"Dia memang ga ingat sama kamu, tapi kamu ingat semua tentang dia. Apa di dalam hati kamu udah ga ada tempat untuk dia sama sekali?" menatap ke arah Caca dengan serius
Caca mulai menatap ke arah anak laki-laki yang sedang asik dengan dunianya sendiri, dan Caca pun mulai tersenyum saat melihat anak itu tertawa
"Sekarang di dalam hati aku cuma ada dia kak," menatap ke arah anaknya
Caca dapat berkata seperti itu dengan penuh keyakinan, tetapi entah mengapa Yudha seperti melihat sebuah keraguan di dalam mata Caca. Caca pun kembali menatap ke arah Yudha
"Lagi pula Adel sahabat aku kak, aku ga mungkin menolak permintaan dia." dengan penuh keyakinan
Yudha pun membuang nafasnya dengan kasar
"Untuk menghindari masalah, apa ga sebaiknya aku ikut kalian berdua ke sana?"
Caca langsung menggelengkan kepalanya tanpa rasa ragu sama sekali sambil tersenyum tipis
"Kayak nya kamu perlu lakuin itu kak, kamu tenang aja kak kami berdua bisa jaga diri. Lagi pula nanti ada papa yang jemput kami di bandara"
"Kalau kamu pikir hati kamu sudah sepenuhnya melupakan laki-laki itu sepertinya kamu salah Ca, bibir kamu bisa bicara seperti itu tetapi mata kamu ga bisa berbohong. Aku cuma takut kamu akan terluka bila ada hal yang tidak di inginkan terjadi, tapi bagaimana pun juga aku ga harus menghargai keputusan kamu"
__ADS_1
"Jadi kapan rencananya kalian berangkat?"
"Lusa kak"
"Ya udah kalian berdua hati-hati di sana, dan ingat jangan pernah ragu buat hubungi aku kalau kalian butuh sesuatu. Gimana juga Rangga itu anak aku, jadi dia ga boleh kekurangan apapun." dengan tegas
"Iya kak," tersenyum tipis
FLASH BACK
Setelah kepergian Daniel dari rumah sakit Daniel tak pernah lagi menunjukkan batang hidung nya di hadapan Caca, karena setelah kecelakaan Daniel benar-benar sudah melupakan semua tentang Caca. Setiap kali Daniel berusaha mengingat apa yang dia lakukan di kota itu rasa sakit langsung menyerang kepalanya, hal tersebut membuat Daniel memilih untuk tak mengingat apapun tentang kota itu
Setelah beberapa waktu akhirnya Caca pun di izinkan untuk keluar dari rumah sakit, dan sudah pasti masih ada Rizal dan Sindy di sana. Mereka langsung mengantarkan Caca ke toko bunga tempat dia tinggal, dan mereka pun sedang duduk santai di halaman belakang
Tiba-tiba saja tatapan mata Rizal hanya tertuju ke arah Caca dengan serius, tentu saja Caca pun langsung menyadari hal tersebut
"Kamu kenapa ngeliat aku begitu kak?"
"Aku ga apa kok," tersenyum tipis
"Jangan bohong, muka kamu ga pantas untuk berbohong kak." tersenyum mengejek
"Aku kenapa kak?"
"Apa kamu sudah memikirkan tentang bayi yang ada di dalam perut kamu Ca?"
Caca tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya
"Apa yang akan kamu lakukan sama bayi itu?"
"Aku memilih untuk melahirkan anak ini kak," penuh keyakinan
"Apa kamu sudah pertimbangkan semuanya baik-baik Ca? maaf kalau aku terlalu ikut campur urusan pribadi kamu, tapi aku harus sampaikan ke kamu kalau anak yang lahir dengan keadaan seperti dia akan mengalami hidup yang sulit Ca"
"Aku tau kak, tapi gimana juga aku ga mungkin membunuh darah daging aku sendiri kak." lirih dan menundukkan kepalanya
Mereka bertiga semua menjadi terdiam, setelah cukup lama akhirnya Rizal membuang nafasnya dengan kasar dan menatap serius ke arah Caca
"Aku punya satu solusi untuk masalah ini Ca"
__ADS_1
Caca dan Sindy langsung menatap ke arah Rizal dengan serius
"Apa kak?"
"Aku akan nikahi kamu supaya anak itu bisa terlahir dengan keadaan yang normal"
Caca membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna karena merasa terkejut dengan ucapan Rizal saat itu, Caca tak dapat menemukan sedikit pun keraguan dari ucapan dan tatapan mata Rizal pada saat itu
Tetapi lain hal dengan Sindy karena dia hanya bisa terdiam menundukkan kepalanya, entah mengapa hatinya terasa semakin sakit saat mendengar hal tersebut
"Tapi kak...."
"Kamu jangan punya pikiran yang aneh-aneh, aku cuma mau anak itu bisa terlahir di lingkungan yang normal. Kalau kamu mau kita bisa langsung bercerai saat anak itu terlahir ke dunia ini"
Caca tampak mulai ragu dengan penawaran yang Rizal berikan, sedangkan Sindy semakin diam membisu karena saat itu hati dan logikanya sedang bertarung dengan sengit. Dan secara tak sengaja Caca menyadari perubahan sikap Sindy
"Tawaran dari kak Rizal memang pilihan terbaik yang ada, tapi maaf kak aku ga bisa terima tawaran dari kak Rizal." tersenyum
"Apa kamu ga pikirin nasib anak kamu Ca? oke aku yakin kamu pasti kuat, tapi anak itu gimana?"
"Aku yakin kami berdua pasti menemukan jalan lain kak," penuh keyakinan
"Tapi Ca..."
"Aku cuma ga mau untuk menyelamatkan hidup aku dan anak aku ini, aku harus mengorbankan perasaan orang lain kak. Apalagi orang itu juga salah satu orang terpenting di dalam hidup aku," tersenyum tipis sambil menatap ke arah Sindy
Sontak saja Rizal pun langsung menatap ke arah Sindy, sedangkan Sindy hanya bisa terdiam dengan wajah yang memerah menahan rasa malu karena apa yang selama ini dia sembunyi kan terbaca secara jelas
"Maksud kamu apa Ca?" Rizal menatap kembali ke arah Caca
"Apa selama ini kamu ga pernah sadar kak? ada perempuan lain yang suka sama kamu dari awal kalian ketemu," tersenyum
Rizal kembali menatap ke arah Sindy dan Sindy hanya bisa terdiam sambil menundukkan kepalanya, di saat itu akhirnya Yudha hadir di antara mereka
"Kalau gitu biar aku yang lakuin itu," penuh keyakinan
Yudha ternyata sedari tadi sudah berada di sana dan mendengar semua percakapan mereka, begitu dia mengetahui Caca sudah keluar dari rumah sakit dia pun segera menemui Caca. Tetapi dia lebih memilih untuk menunggu sejenak karena percakapan mereka sedang serius
Dan tanpa ada keraguan sedikit pun Yudha menawarkan diri untuk menjadi suami Caca dan menyandang status sebagai ayah dari calon bayi Caca
__ADS_1
FLASH OFF