Cinta Dan Benci

Cinta Dan Benci
II - 29


__ADS_3

Setelah Laila kembali tertidur, Gilang malah tak bisa memejamkan matanya lagi. Ia memandang langit-langit kamar yang redup pencahayaan. lama terhening, Gilang mengubah posisi tidurnya menghadap ke arah sang istri yang juga menghadap padanya. Seulas senyum terlihat mengembang di bibir Gilang.


Cantik. Itulah yang ada dalam pikirannya saat ini. Memandang lekat wajah tenang di depannya, membuat dada Gilang berdesir. Ada rasa aneh. Selama beberapa waktu ini ia tengah mencoba memastikan perasaannya. Dan kini ia mulai menyadari sesuatu.


Ia bahagia dan merasa tenang saat berada bersama sang istri. Menatap wajahnya menimbulkan kesejukan di hatinya. Mengetahui Laila didekati lelaki lain membuatnya marah. Mungkin memang bahwa ia telah benar-benar mencintai wanita ini. Wanita yang telah menjadi istrinya.


Tapi, bagaimana dengan perasaan istrinya ini? Apakah sama dengan apa yang ia rasakan? Jika benar, tentu tidak akan sulit bagi mereka untuk mengubah pernikahan ini menjadi lebih baik. Dan tentang perpisahan itu, tentu saja tak akan pernah terjadi jika keduanya saling mencintai.


Gilang mengusap kepala Laila dengan sayang. Ia berharap ke depannya ia bisa meruntuhkan egonya sendiri agar tak lagi bersikap buruk pada sang istri. Sekelebat ingatan melintas di pikirannya. Kembali teringat percakapannya dengan sang mama di awal pernikahan mereka.


Mama mau pernikahan kalian bertahan selamanya. Tak ada pertengkaran. Mama mau kalian hidup layaknya suami istri di luar sana.


Kalau dalam waktu 3 bulan kalian masih belum ada rasa apapun, nggak ada pilihan lain. Memang sebaiknya kalian berpisah, daripada saling tersakiti.


Gilang berhembus berat. Ada ketakutan saat ia mengingat perkataan ibunya itu. Berpisah dengan Laila, kini bagaikan suati hal yang dapat membunuhnya jika sampai terjadi. Ia tak ingin hal itu benar-benar terjadi.


Hahh,, Sudahlah. Sebaiknya ia kembali tidur. Memikirkan hal itu takkan ada habisnya.


.


.


Pagi hari Bu Anne datang bersama sang suami. Ketika Gilang membukakan pintu, ia langsung mendapatkan tatapan tajam yang menghunus dari mata sang ibu. Sementara sang ayah hanya diam menatapnya.


"Pulang juga kamu." Ujar Pak Farhan seketika membuat Bu Anne dan Gilang tercengang.


Bu Anne tak menyangka jika sang suami akan berkata begitu ketika bertemu Gilang. Karena yang ia lihat sepertinya suaminya tenang-tenang saja sedari mereka berangkat.


Pak Farhan melewati Gilang begitu saja dengan wajah datarnya. Pemuda itu hanya diam saja. Ia tahu bahwa Papanya sangat peduli pada Laila. Mungkin sebab itu Papanya bersikap seperti ini karena kesalahannya yang tak berkabar selama seminggu ini.


"Mama, papa?" Ucap Laila yang tengah memasak dan mendapati kedua mertuanya yang datang.


"Hai sayang." Sapa Bu Anne dan menghampiri Laila.


"Kamu masak apa? Biar mama bantu."

__ADS_1


"Aku mau bikin capcay sama telur balado, mah." Aku Laila.


Mereka pun memasak bersama. Bu Anne membantu memotong sayuran yang akan dimasak. Laila beralih menumis bahan untuk membuat telur baladonya.


Di ruang tengah, Pak Farhan terlihat berbicara dengan Gilang. Laila sempat melihatnya sekilas. Namun, kemudian ia mengabaikannya. Membiarkan kedua ayah dan anak itu berbincang.


Pak Farhan berbicara kepada Gilang dengan suara sedikit berbisik karena tak ingin didengar oleh Laila.


"Kamu menikah sama Laila karena terpaksa kan?" Tanya Pak Farhan menatap Gilang dengan lekat.


"Mama kamu sudah memberikan waktu buat kamu selama 3 bulan. Dan itu sudah berjalan 2 minggu. Sekarang waktu kamu tinggal 2 bulan 2 minggu. Papa harap kamu bisa melakukan yang terbaik untuk rumah tangga kamu." Ucap Pak Farhan lagi menatap Gilang lekat.


"Tapi, kalau kamu memang tak ingin Laila menjadi istri kamu selamanya, kalian boleh berpisah setelah waktu itu tiba."


Gilang mencoba menahan gejolak hatinya mendengar perkataan sang ayah. Rasanya ia sangat tak suka dengan pembicaraan mengenai perpisahannya dengan Laila.


"Papa lihat, sepertinya kamu memang tak peduli dengan rumah tangga kamu. Apalagi dengan istri kamu." Pak Farhan terlihat menghembuskan napas berat.


Gilang bungkam. Rasanya berat sekali untuknya berucap. Lidahnya kelu. Ingin sekali ia menyangkal semua yang diucapkan papanya, namun sayang. Hatinya dilingkupi rasa bersalah sehingga membuatnya terdiam.


Gilang diam. Masih tak berbicara apapun. Ia hanya memikirkan setiap kata yang diucapkan sang ayah.


.


.


Setelah sarapan kedua orang tuanya pergi, dan kini Gilang terdiam di ruang tengah. Memikirkan apa yang papanya katakan. Laila kini hanya mampu memandang keterdiaman suaminya. Wajah Gilang menunjukkan kekalutan. Membuat Laila merasa prihatin pada sang suami.


Apa yang membebani pikiran suaminya itu, sehingga Gilang hanyut dalam lamunannya seperti sekarang. Tiba-tiba suatu rasa merasuki pikiran dan hatinya. Ia merasa keberadaannya tak berarti disini. Gilang sama sekali tak mengajaknya berbicara.


Tarikan dan hembusan napas berat dari Laila bertepatan dengan Gilang yang buyar dari lamunannya. Ia melirik Laila, menatapnya lama. Sementara sang istri yang kini telah bergantian melamun. Wajahnya menunjukkan kepasrahan.


Seketika Laila bangkit dari duduknya, beranjak dari sana. Meninggalkan keheningan antara dirinya dan sang suami. Laila pergi ke kamar, berjalan terus dan tak luput dari pandangan Gilang. Tak lama ia muncul membawa keranjang yang pakaian kotor. Sepertinya istrinya itu akan mencuci pakaian.


Dan benar saja, Laila membawa pakaian itu ke ruang cuci. Tanpa basa-basi Laila langsung saja memasukkan semuanya ke dalam mesin pencuci tersebut. Lalu ia memulai ritual mencucinya.

__ADS_1


Gilang kembali termenung. Apa aku harus menanyakan pada Laila langsung? Tapi nggak mungkin dia akan jujur sama perasaannya. Gilang menghembuskan napas berat setelah menggumamkan hal tersebut di dalam hatinya.


Bel rumah mereka berbunyi. Gilang menyerngitkan dahinya memandang ke arah pintu depan. Siapa kira-kira yang bertamu? Bukankah yang tahu alamat rumahnya hanya orang tuanya, orang tua Laila dan sahabat-sahabatnya. Oh, mungkin itu mertuanya. Gilang bergegas membukakan pintu saat mengira yang datang adalah mertuanya.


Alangkah terkejutnya Gilang saat mendapati Neta berdiri di depan rumahnya. Sepupunya itu menatapnya dengan senyum sumringah. Gilang melirik ke segala arah di luar, memastikan apakah ada orang lain atau tidak. Karena, ia was-was jika Neta datang bersama Mayang. Ia tahu betul jikalau Mayang dan Neta itu tak bisa dipisahkan.


"Kak,,, lo kenapa bisa kesini?" Tanya Gilang spontan. Ucapannya terlontar begitu saja.


"Tau darimana lo alamat rumah gue ini?" Ucapnya penuh penekanan.


"Eh, santai aja kali, Lang. Jangan gitu lah. Gue tau alamat rumah ini ya,, gue nggak sengaja kemaren liat Laila masuk kesini." Jawabnya tanpa rasa bersalah.


Gilang menatapnya intens, tak ingin percaya begitu saja pada Neta.


"Udah, lah. Lo persilahkan gue masuk kali. Gue kan penasaran sama rumah lo ini. Katanya lo desaign rumah ini buat istri lo ya, Lang." Kata Neta dengan nada mengejek.


Gilang melemparkan tatapan tajam padanya, membuat Neta kembali mendelik. Lalu Neta menerobos masuk melewati Gilang yang berdiri di ambang pintu.


"Adik ipar mana? Kok nggak kelihatan." Serunya.


Tak lama penglihatan Neta menangkap sosok Laila yang membawa keranjang berisi pakaian yang telah dicuci. Dengan wajah dibuat-buat kaget ia bergumam.


"Wow,, ternyata adik ipar berbakat jadi babu. Nggak cuma jadu pelayan, tapi juga tukang cuci. Bi Eti nggak perlu kerja lagi dong ya." Ejek Neta lagi.


Gilang mengepalkan tangannya karena emosi. "Lo mendingan pergi dari sini, Kak." Sahut Gilang sembari menarik lengan Neta dan membawanya keluar.


.


.


Bersambung.....


.


.

__ADS_1


__ADS_2