
Saat pintu lift terbuka Daniel segera masuk ke dalam, dan dengan terpaksa Caca pun ikut masuk ke dalam lift karena tangannya masih belum terlepas dari genggaman Daniel. Sedangkan Abian tetap diam di tempat yang sama
"Kamu ga mau naik kak?"
Daniel segera melepaskan tatapan membunuhnya ke arah Abian dan dengan mudahnya Abian mengerti keinginan Daniel pada saat itu
"Aku lupa kalau aku masih ada janji, duluan aja." ucap Abian sambil tersenyum tipis
Daniel pun tersenyum puas akan kesigapan Abian saat itu
"Kamu memang pantas jadi belahan jiwa aku Abian seperti yang semua orang bilang, karena kamu selalu tau apa yang aku mau. Tapi sayang itu cuma kata orang-orang, karena bagi aku belahan jiwa aku adalah perempuan di samping aku"
Daniel membawa Caca kembali ke ruang kerjanya dan di sana sudah menunggu salah seorang teman Daniel yang juga merangkap sebagai dokter pribadinya, dan juga ada seorang dokter wanita sesuai dengan perintah Daniel. Dokter muda tersebut terdiam seribu bahasa saat melihat Daniel masuk ke dalam ruang kerjanya dan terus menggenggam tangan Caca
Caca pun segera di periksa oleh sang dokter wanita, sedangkan Daniel memilih untuk duduk di bangku kebesarannya sambil memperhatikan mereka
"Kalau bisa jangan di garuk ya bu, takut menyebabkan iritasi pada kulit"
"Ya dok"
"Apa ibu sudah pernah melakukan pemeriksaan ibu alergi terhadap apa?"
Caca pun menjadi serba salah atas pertanyaan sang dokter karena dia bisa melihat dengan jelas bahwa saat itu Daniel sedang memperhatikan mereka, Caca pun menjawab dengan anggukkan kepalanya
"Jadi ibu alergi terhadap apa?"
"Seafood," dengan suara yang pelan
Sang dokter pun tersenyum tipis melihat Caca bagaikan seorang anak kecil yang sedang tertangkap basah melakukan kesalahan
"Saya harap untuk ke depannya ibu menghindari segala makanan yang berhubungan dengan seafood, karena alergi yang cukup parah bisa cukup berbahaya bu." tersenyum tipis
Caca hanya bisa membalas dengan senyuman canggung, sedangkan Daniel yang mendengar itu semua langsung mengeluarkan aura dingin yang mencekam
"Jadi apa maksud kamu melakukan ini semua Ca? bohong kalau kamu beralaskan kamu ga tau makanan tadi mengandung seafood, kenapa kamu harus melukai diri kamu sendiri Ca? apa kamu mau siksa aku dengan cara melukai diri kamu sendiri di depan aku?"
__ADS_1
Sang dokter pria yang bernama Harun pun langsung berjalan ke sisi Daniel saat Daniel sudah memasang wajah dingin, walaupun hubungan Harun dan Daniel tak seperti hubungan Daniel dan Rico tetapi tetap saja dia mengenal Daniel cukup lama dan dia tau dengan pasti bahwa saat itu Daniel sedang menahan amarah
"Lu kenapa?"
Daniel hanya melepaskan tatapan membunuhnya ke arah Harun dan kembali menatap ke arah Caca dengan seksama
"Apa lu udah ingat sama perempuan itu?" ucap Harun berbisik di telinga Daniel
"Kalau lu sudah bosan jadi kepala rumah sakit bilang sekarang juga, bukan hal yang sulit melenyapkan lu dari kota ini." ucap Daniel pelan tetapi penuh penekanan
Harun pun tersenyum tipis dan menepuk bahu Daniel dengan pelan
"Sekarang gw yakin kalau lu udah ingat sama dia, jadi tolong kendalikan wajah lu atau dia akan tau lu sudah ingat semuanya." berbisik
Daniel pun tersadar karena peringatan dari Harun sang dokter pribadinya, Harun memang tak terlalu dekat dengan Daniel tetapi dia adalah salah satu sahabat Rico dan sudah pasti dia tau semua cerita hidup Daniel dan Caca
Daniel pun segera bangkit dari bangku kebesarannya setelah berhasil mengendalikan ekspresi wajahnya lalu mulai menghampiri Caca dan sang dokter wanita
"Bagaimana keadaan dia dok?"
"Terima kasih dok"
"Sama-sama pak"
"Apa kalau orang ini konsumsi seafood secara berlebihan bisa berbahaya dok?" ucap Daniel tetapi pandangan matanya ke arah Caca
"Bisa terjadi pembengkakan pada bagian tenggorokan sehingga membuat pasien kesulitan bernafas atau kehilangan kesadaran pak," dengan sopan
Daniel pun langsung melepaskan tatapan membunuhnya ke arah Caca membuat Caca sulit untuk menelan saliva nya sendiri
"Kamu dengar? jadi jangan pernah lupa lagi kalau kamu alergi seafood, jangan membuat orang lain menjadi susah karena kamu." dengan tegas
Caca yang merasa bersalah hanya bisa menundukkan sambil mengucapkan kata maaf, sedangkan Daniel mengucapkan kata-kata tersebut hanya menutupi rasa khawatir yang dia rasakan di hadapan Caca
Setelah semua pemeriksaan selesai dokter Harun dan sang dokter wanita pun berpamitan, sedangkan Daniel segera mengirimkan pesan agar mengantarkan makan siang untuk dua orang dan sudah pasti makanan yang boleh di konsumsi oleh Caca
__ADS_1
"Apa sebaiknya saya pulang saja ya pak? besok saya akan datang lagi saat keadaan saya sudah membaik"
Caca hanya berusaha untuk lari dari tempat itu karena Daniel yang duduk tak jauh darinya hanya diam seribu bisa sedari tadi
"Apa kamu berniat membunuh saya?" ucap Daniel dengan dingin
"Maksud bapak?"
Daniel pun membuang nafasnya dengan kasar
"Pertama kamu ga izinkan saya tadi makan siang dengan tenang, sekarang saya sudah minta orang antar makanan ke sini untuk dua orang dan kamu mau minta saya habiskan semua"
"Maaf pak saya ga berniat mengacaukan hari bapak, tapi karena kesalahan saya tadi sepertinya suasana hati bapak jadi kurang baik. Jadi saya hanya berniat undur diri terlebih dahulu"
Daniel pun sudah tak tega melihat Caca yang sudah memasang wajah bersalah, karena bagaimana pun juga Caca memang merasa tindakan dia sudah sedikit keterlaluan. Hanya untuk meyakinkan kecurigaan yang dia rasakan dia sudah bertindak sedikit jauh
"Jadi kamu sadar kalau kamu sudah berbuat salah?"
Caca hanya menjawab dengan anggukkan kepalanya
"Oke saya maafin kamu, tapi dengan syarat kamu harus berikan saya izin untuk mewujudkan janji saya ke anak kamu"
"Janji bapak ke anak saya?" ucap Caca dengan wajah bingung
"Ya saya janji akan ajak anak kamu jalan-jalan kalau di sudah sembuh," ucap Daniel dengan lembut sambil tersenyum tipis
Caca yang terkejut akan sikap dan senyuman Daniel tiba-tiba saja bangkit dari duduknya, dan sontak saja Daniel pun ikut terkejut akan sikap Caca yang tiba-tiba saja menjadi seperti itu
"Kamu kenapa?"
Caca yang tersadar pun hanya bisa memberikan senyuman canggung di hadapan Daniel
"Oh maaf pak saya cuma mau ke kamar kecil"
Daniel hanya bisa tersenyum tipis melihat Caca yang tak pernah berubah saat sedang merasa panik
__ADS_1
"Ternyata kamu masih gadis yang sama dengan yang aku kenal dulu, aku harap kamu jangan terlalu lama untuk membuka hati kamu lagi ke aku. Karena saat ini aja aku sudah hampir gila menahan diri untuk tidak memeluk kamu Ca"