
Daniel pun melajukan mobilnya dengan sangat cepat, dia tak mau memikirkan apapun lagi saat itu. Yang dia inginkan hanya bertemu dengan Caca secepatnya, dia ingin berada di samping Caca saat keadaan Caca sedang terpuruk. Daniel berpikir dengan cara itu dia bisa menebus kesalahan yang dia perbuat terhadap Caca selama ini
Pikiran dan hati Daniel saat menjadi kacau balau, berita yang dia dapatkan tentang Caca membuat dia semakin takut Caca akan menolak kehadiran dirinya. Tetapi Daniel tetap memilih untuk menemui Caca apapun yang akan terjadi nantinya
Saat tiba di rumah sakit Daniel pun segera bergegas mencari ruang rawat Caca, tanpa basa-basi dia pun langsung masuk ke dalam ruangan tersebut. Sontak saja hal tersebut membuat seluruh mata yang berada di sana langsung tertuju ke arah dirinya, hanya Caca yang langsung memalingkan tatapan matanya
"Hari apa sih ini? hari ini aku kecelakaan, hari ini juga aku bahagia karena ketemu mbak Sindy. Tapi di hari yang sama aku harus ketemu juga sama dia"
Daniel sang pebisnis ternama di kota A yang biasanya selalu tampil dengan penuh wibawa dan selalu tenang menjadi tak bisa berbuat apapun, seakan seluruh kekuatan yang dia miliki saat itu menghilang entah ke mana saat dia melihat beberapa bekas luka di wajah Caca
Keadaan tetap membisu cukup lama di tempat itu, semua tetap diam dan tak ada yang bergerak sama sekali dari tempat mereka. Akhirnya Sindy pun mulai bangkit dari duduknya dan memilih untuk membuka suara
"Maaf, ada perlu apa bapak datang ke sini?"
Daniel tetap membeku di tempat yang sama sambil menatap ke arah Caca dengan wajah bersedih
Rizal yang mulai tak sabar pun akhirnya menyadarkan Daniel dengan cara menepuk pundak Daniel
"Kamu di tanya ada perlu apa ke sini tuan Daniel yang terhormat?" dengan tegas
Daniel seperti mendapatkan kembali kesadarannya yang menghilang entah ke mana
"Apa saya bisa bicara empat mata dengan Caca?"
Secara serentak Sindy dan Rizal langsung menoleh ke arah Caca, mereka memberikan Caca kebebasan untuk memilih apa yang dia inginkan saat itu
"Ga perlu lari dan menghindar lagi Ca, kamu harus siap berhadapan dengan dia kalau kamu mau lepas dari bayang-bayang masa lalu kamu. Kalau aku ga berani berhadapan sama dia itu sama aja aku sudah kalah sebelum berjuang"
Caca pun membuang nafasnya dengan kasar dan menganggukkan sedikit kepalanya, melihat hal tersebut Rizal segera melangkahkan kakinya ke arah pintu. Sedangkan Sindy membisikkan sesuatu kepada Caca
__ADS_1
"Mbak tunggu di depan pintu ya Ca, kalau dia berani berbuat yang aneh-aneh kamu tinggal teriak aja. Jadi kamu ga perlu takut sama dia"
Caca pun tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya, Sindy pun ikut keluar dari ruangan tersebut menyusul Rizal dan Dira. Sedangkan Daniel mulai mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah Caca, untuk pertama kalinya seorang Daniel Putra Perkasa merasakan tak berdaya di dalam hidupnya
"Gimana kabar kamu?"
"Apa kamu ga bisa lihat kak?" menatap Daniel dengan sinis
"Astaga Daniel kenapa kamu bisa sebodoh ini? kenapa kamu tanya kabar dia? yang pasti saat ini dia ga baik-baik aja"
Daniel pun memberanikan diri untuk duduk di bangku yang berada di samping tempat tidur Caca, cukup lama Daniel kembali terdiam karena dia benar-benar tak tau harus memulai semuanya dari mana. Dan akhirnya Caca pun mulai kehilangan kesabaran karena Daniel terus menatap ke arah dirinya
"Kalau ga ada yang mau kamu omongin lagi, sebaiknya kamu pergi dari sini kak."
Daniel pun menundukkan kepalanya karena tak sanggup melihat tatapan mata Caca saat itu
"Kenapa kamu pergi gitu aja Ca? kenapa kamu ga pernah coba hubungi aku? apa kamu tau? aku hampir gila mencari kamu." lirih
"Semua ucapan kamu membuat seolah aku yang bersalah kak, apa aku ga pernah beri kamu kesempatan untuk memilih?"
Daniel pun mulai mengangkat kembali wajahnya
"Tapi waktu itu..."
Caca langsung menatap tajam ke arah Daniel membuat dia tak bisa melanjutkan apa yang ingin dia katakan
"Ya, waktu itu kamu cuma dekati aku untuk balas kecelakaan yang menimpa adik kamu. Dan sekarang kamu udah tau kalau bukan aku yang mengendarai mobil itu kan," tersenyum sinis
"Maaf karena waktu itu aku masih merasa ragu untuk memilih"
__ADS_1
"Terus sekarang kamu mau apa kak?"
"Apa kita bisa mulai semuanya dari awal? aku benar-benar butuh kamu Ca"
Caca tak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa laki-laki yang ada di hadapannya tersebut adalah laki-laki yang sedang menguasai hatinya, tetapi semua kenangan pahit tak mungkin di lupakan begitu saja. Dan Caca tak ingin mengulang kesalahan yang sama, saat itu dia berpikir bila dulu Daniel mendekati dirinya untuk balas dendam bisa saja saat ini Daniel ingin mendekati dirinya karena perasaan bersalah
"Apa kamu tau aku sempat mengandung anak kamu hasil perbuatan kita malam itu kak?"
Daniel hanya bisa terdiam sambil menganggukkan kepalanya
"Apa kamu tau sekarang dia udah ga ada?"
Daniel hanya bisa terdiam dengan mata yang mulai berkaca-kaca
"Apa kamu merasa bersalah sama aku kak?" menatap jauh ke dalam mata Daniel
Dan sudah pasti saat itu kedua mata Daniel penuh dengan rasa penyesalan yang teramat dalam, bahkan dengan mudahnya Caca dapat merasakan itu semua
"Aku benar-benar menyesal Ca," lirih
"Kalau hanya untuk rasa penyesalan kamu datang ke aku itu ga akan ada gunanya kak, karena akhirnya akan tetap sama dengan kejadian yang sebelumnya. Kita bersama bukan karena perasaan cinta"
Sebuah kesalah pahaman terjadi antara mereka berdua, kali ini Caca benar-benar salah menilai seorang Daniel Putra Perkasa. Rasa sakit yang dia rasakan di masa lalu membuat dia menjadi sosok yang tak mudah goyah seperti sebelumnya
"Aku minta maaf sama kamu Ca dan aku janji aku akan menebus semua kesalahan aku, jadi tolong kasih aku sebuah kesempatan." menatap penuh harap
Caca memberikan senyuman terbaik yang dia punya, saat itu hati Daniel bisa merasa sedikit lega karena merasa Caca bersedia memaafkan dirinya. Lalu tiba-tiba saja senyuman itu menghilang dalam sekejap mata
"Aku sudah memaafkan semua kesalahan kamu kak, tapi sekarang semuanya sudah berakhir." dengan dingin
__ADS_1
Hati Daniel benar-benar terasa sakit mendengar hal tersebut
"Karena sekarang satu-satunya penghubung antara kita sudah ga ada, jadi aku memilih untuk memutuskan segala hubungan yang pernah ada di antara kita." dengan penuh keyakinan