
.
.
"Dokter,,, tolong periksa istri saya!" Teriak Gilang saat sampai di depan IGD.
Dua orang perawat pun mendorong brankar menyambut Laila. Gilang menidurkan Laila di brankar tersebut dan membantu para perawat mendorongnya.
"Mohon tunggu disini ya, pak!" Ucap salah satu perawat.
Gilang pun menghela napas panjang dan melepasnya. Semoga istrinya baik-baik saja. Ia pun menelepon sang mama.
"Ada apa, Lang?" Ujar Mama Anne di seberang telepon.
"Ma, aku mau ngasih tau mama kalau Laila sekaeang di rumah sakit. Dia pingsan, Ma." Ujar Gilang.
"Apa? Laila di rumah sakit? Kenapa bisa? Kan dia lagi di kota K?"
Gilang mengernyit bingung mendengar respon mamanya. Ia tak sadar sambungan sudah dimatikan oleh sang mama.
"Kota K?" Gumam Gilang. Apa yang dimaksud oleh mamanya? Apa mungkin hilangnya Laila kemaren ada campur tangan mamanya?
Beberapa menit kemudian dokter keluar. Gilang langsung mendekat dan meminta penjelasan mengenai keadaan Laila.
"Bagaimana keadaan istri saya, dok?" Tanyanya.
Dokter perempuan yang mungkin berusia kepala 4 itu menghela napas sebentar. "Mungkin kita bisa bicara di ruangan saya, pak." Ujar sang dokter.
Gilang duduk di depan dokter itu. Ia menatap sang dokter meminta penjelasan. "Pasien sudah lebih baik. Sepertinya pasien kelelahan. Apa istri anda baru saja melakukan perjalanan jauh?" Tanya Dokter itu membuat Gilang bingung harus menjawab apa.
"Pada kehamilan usia muda sebaiknya sang ibu menghindari melakukan perjalanan jauh pak, karena akan membahayakan kondisi janinnya. Apalagi usia janinnya masih sangat muda." Jelas dokter tersebut.
"Berapa usia kandungannya, dok?" Tanya Gilang penasaran.
"Berdasarkan hasil USG, usia janinnya baru 4 minggu. Sangat rentan, pak. Jadi, saya harap bapak lebih memperhatikan ibu si bayi. Jangan biarkan kelelahan dan stress." Nasehat Sang dokter sangat mengena di hati Gilang.
Laila tidak boleh kelelahan dan stres. Sedangkan tadi mamanya bilang Laila harusnya berada di kota K, kota tempat dirinya kecil dulu. Dan itu berarti benar jika Laila tadi dari sana. Dan lagi, ia membuat Laila menangis. Huh, suami macam apa ini.
Empat minggu. Ia mengingat dengan jelas usia pernikahan mereka. Ia bahkan ingat kapan mereka melakukannya. Jika mengingat hal itu, besar kemungkinan anak itu memang darah dagingnya. Lalu, bagaimana dengan perselingkuhan yang dikatakan Mayang? Gilang semakin pusing.
.
__ADS_1
.
Di ruang rawatnya Laila sudah mulai siuman. Ia membuka matanya dengan perlahan. Kepalanya terasa pusing dan nyeri. Laila melihat sekeliling dan ada tiang infus di samping brankarnya. Sepertinya ia sedang berada di rumah sakit.
Ia sendirian. Dimana suaminya? Air mata mengalir melewati sudut matanya. Ia benar-benar cengeng, mudah sekali menangis. Ia merindukan dirinya yang dulu. Yang selalu ceria dan kuat.
Ceklek,,, Pintu terbuka, menampilkan ibu mertua dan ayah mertuanya yang terlihat cemas.
"Laila,,, sayang!" Bu Anne menyapanya membuat rasa sesak di dada Laila semakin terasa.
"Kamu kenapa, nak?" Tanya Bu Anne dengan wajahnya sedih. Ia prihatin melihat kondisi sang menantu.
Laila mengusap air matanya. "Aku nggak apa-apa, Mah." Jawab Laila.
"Sayang, kenapa kamu bisa ada di sini? Kenapa kamu nggak ngabarin mama kalau mau pulang? Mama takut kamu kenapa-napa, nak." Ucapnya.
Laila tak bisa berkata. Ia hanya menatap Bu Anne dengan tatapan sendu. Ia bingung dengan semua masalah yang kini terjadi. Jika mama mertuanya ingin mempercepat perpisahannya dengan suaminya, mengapa wanita paruh baya itu terlihat sangat mencemaskannya. Sebenarnya ada apa? Semua bagaikan teka-teki yang mempermainkan dirinya.
Gilang? Dimana suaminya itu? Mengapa lelaki itu tak terlihat bahkan puncak hidungnya, membuat Laila semakin sedih.
"Kamu nyari Gilang, nak?" Tanya Papa Farhan. Laila hanya menatap sang ayah mertua.
"Suami kamu tadi ada disini. Dia lagi keluar, katanya ada keperluan." Kata Pak Farhan mengetahui kebingungan sang menantu.
.
.
Flashback...
Bu Anne yang mendapat kabar kalau Laila masuk rumah sakit langsung dilanda rasa cemas. Ia sungguh terkejut saat sang putra mengabarinya jika menantunya sudah berada di Jakarta.
Ia merasa curiga. Pasti ada sesuatu yang terjadi sehingga membuat Laila memutuskan mengabaikan pesannya untuk tetap tinggal sampai ia menjemputnya. Tadinya Bu Anne akan berangkat ke tempat Laila. Untung saja Gilang menghubunginya sebelum ia dan sang suami pergi.
"Halo, pak Aji. Saya minta tolong ya pak. Bapak periksa rumah saya sekarang." Titahnya pada orang yang ia tugaskan menjaga dan mengurus rumahnya di Kota K.
"..........."
"Baik, pak. Saya tunggu kabarnya ya."
Bu Anne pun segera menuju ke rumah sakit tempat Laila dirawat. Di perjalanan ia kembali mendapat telepon dari Pak Aji.
__ADS_1
"Bagaimana, pak?" Tanya Bu Anne.
"Mohon maaf, bu. Saya menemukan pintu rumah terbuka dan ada sebuah undangan tergeletak di depan pintu, bu." Jelas Pak Aji.
"Apa? Undangan?" Bu Anne menatap Pak Farhan yang sedang menyetir. "Undangan apa, pak?"
"Disini tertulis pertunangan Kalista Nowela dan Gilang Afrianda, bu."
Bu Anne menutup mulutnya yang setengah terbuka mendengar laporan dari Pak Aji. Kalista? Perempuan itu rupanya.
"Pah, Kalista cari masalah lagi sama keluarga kita." Ujar Bu Anne.
"Dia berani membuat undangan palsu untuk mengganggu menantu kita, pah." Kata Bu Anne dengan wajah kesal.
Sesampau di rumah sakit, Bu Anne dan Pak Farhan langsung mencari ruang tempat Laila dirawat. Sesampai disana ia bertemu Gilang yang sedang duduk di kursi tunggu.
"Gilang, gimana Laila?" Tanya Bu Anne.
"Masih belum bangun, mah." Jawab Gilang terlihat lesu.
"Kenapa Laila bisa pingsan?" Tanya Pak Farhan.
Gilang dengan berat mencoba menjelaskan. "Tadi kita bertengkar kecil, Pah. Laila hamil, dan aku nggak tau itu anak siapa. Kemaren malam Laila menghilang, dan aku dengar dia pergi sama Delon. Dan saat kami sedang berdebat, Laila tiba-tiba pingsan." Jelasnya.
"Apa kamu bilang?" Tanya Bu Anne. "Jadi kamu menuduh istri kamu selingkuh?" Ucap Bu Anne dengan suara pelan namun sarat akan penekanan.
Plak,, Satu tamparan menarat di pipi Gilang. Untuk pertama kalinya, wanita yang telah melahirkannya ke dunia menamparnya. Gilang terkejut, begitu juga Pak Farhan. Namun Gilang hanya bisa memejamkan mata.
"Kamu dengar, ya. Mama dan papa selalu memantau apa yang dilakukan istri kamu. Dan kamu sendiri juga, kan? Tapi, kenapa kamu sampai berpikir begitu Gilang?" Bu Anne geram melihat tingkah sang anak.
"Kamu nggak tau anak yang dikandung istri kamu anak siapa? Apa kamu sebodih itu sampai nggak merasakannya, Gilang? Kamu muntah-muntah kemaren, apa kamu nggak sadar kalau itu bawaan hamil istri kamu?" Bu Anne mulai tersulut saat mengingat betapa bodohnya anak lelakinya ini, hingga tak menyadari semua yang terjadi.
"Mama nggak habis pikir sama kamu, Gilang. Dan asal kamu tahu, Kalista sudah membuat keadaan semakin kacau. Dia yang sudah membuat Laila nekat pulang kesini sendirian sampai keadaan jadi seperti ini. " Curah Bu Anne yang tak terima dengan apa yang dilakukan wanita yang dulu pernah hampir menjadi menantunya.
.
.
Bersambung...
.
__ADS_1
.