Cinta Dan Benci

Cinta Dan Benci
12. Rindu


__ADS_3

Raka mengendarai motornya ditengah hujan deras dan menuju jalan yang sepi, malam yang membawa sakit dan kecewa ingin Raka habiskan ditengah hujan dan kesunyian malam.


Padahal, dulu Raka sangat menghindari jalanan yang sepi seperti ini, namun kali ini berbeda. Raka Tak peduli lagi ada bahaya yang mengintainya bahkan ia sangat berharap para penjahat itu datang dan kalau bisa mereka membunuhnya malam ini juga.


Raka menghentikan motornya, turun dan berjalan beberapa langkah, hanya sedikit menjauh dari posisi awal, langkahnya terasa sangat lemah dan sulit untuk berjalan, seakan semangatnya sudah menurun, Raka terduduk lemas di jalanan, dengan rintik hujan yang mengguyur tubuhnya.


"AAAAARGGHSS!!" Raka berteriak sekuat mungkin untuk mengeluarkan emosi di hatinya.


"Raka," Raka langsung tersadar saat mendengar suara yang familiar membuat Raka menoleh kebelakang.


Raka terbelalak kaget saat mengetahui orang itu adalah Lidya. Raka bangkit dan menunjukkan wajah dingin.


Lidya menatap Raka dengan nanar, air matanya bercampur dengan air hujan yang tak dapat dibedakan.


"Raka!" Lidya berlari menghambur kedalam pelukan Raka, memeluknya erat. Raka dapat merasakan isakan Lidya, tubuhnya bergetar dahsyat.


"Maaf, aku gak bisa bela kamu, Papa tiba-tiba marah waktu aku pulang, dia tambah marah ketika dia tau hubungan kita, dia bakal kirim aku ke Jepang selama sepuluh tahun, bahkan Papa sita HP aku, Raka aku harap kamu mau maafkan aku," Lidya mengeluarkan semua keluhannya dan masih saja memeluk tubuh Raka.


Raka hanya diam tak mendengar ucapan Lidya tanpa mau membalas perkataan Lidya. Perlahan Raka mendorong Lidya agar melepaskan pelukannya.


"Raka?"


Lidya berjalan mendekat dan menggenggam tangan Lidya, namun Raka menipis kasar tangan Raka hingga membuat Lidya tersungkur.


Tak ada separah katapun yang keluar dari bibir Lidya, tubuhnya bergetar, menunjukkan kalau dia masih menangis. Namun bukannya Raka menolong gadis itu, Raka justru meninggalkannya di sana sendirian.


Lidya hanya bisa menatapi punggung Raka yang semakin menghilang ditelan jarak. Lidya tersenyum miris meratapi nasibnya yang sangat buruk.


"Aku pasti bakalan rindu sama kamu Raka," gumam Lidya di tengah guyuran hujan.


"Bagaimana? Apakah dia menerima maafmu?" suara bariton itu terdengar jelas dan dekat, Lidya menoleh lalu mendapati Papa-nya yang berdiri persis dihadapannya.


Adi setengah berjongkok dan membantu putrinya bangun. Adi menghapus air mata putrinya yang sudah bercampur dengan air hujan yang terus mengalir deras.


Adi mengatupkan kedua tangannya diwajah putrinya.


Namun Lidya menepis kasar, Lidya belum siap memaafkan Papa-nya yang membuat hidupnya hancur dalam semalam. Lidya langsung berjalan meninggalkan Adi yang masih berdiri di pijakannya menuju mobil yang sudah menunggunya. Tak lama Adi berjalan menyusul putrinya.


"Maafin Papa," itu adalah kalimat terakhir yang Lidya dengar sebelum akhirnya hanya ada keheningan dan suara deru mesin mobil.


****


Suara  riuh canda tawa para murid bersama di seluruh koridor, sudah menjadi kebiasaan jika diwaktu pagi para siswa dan siswi duduk bersama bercengkrama satu sama lain.


Pagi ini, Ayu datang bersama dengan Cinta dan Friska seperti yang mereka janjikan.


"Lo yakin Lidya gak marah?" tanya Cinta dengan wajah khawatir.


"Kenapa dia harus marah? Kita gak ganggu dia, 'kan?" ucap Ayu seraya menatap Cinta yang berdiri di sebelah kiri.


"Lidya gak kita ajak bareng soalnya," ucap Friska membenarkan kekhawatiran Cinta.


"Ya paling dia ngomel!" ucap Ayu sambil terus menatap ke depan, sembari  menyahuti setiap siswa yang menyapanya.

__ADS_1


Tak terasa langkah mereka sudah membawa mereka ke depan kelas.


Pandangan Ayu menyisiri kelas yang sudah ramai, tapi tak ada tanda-tanda Lidya.


"Udah jam segini, kok belum dateng sih tuh anak!" cerutu Ayu, perasaannya sangat marah bercampur khawatir.


Tak biasanya Lidya tak datang tanpa mengabari Ayu terlebih dahulu.


Bek berbunyi, Lidya tak kunjung menunjukkan batang hidungnya, sebelum guru memasuki kelas Ayu mengambil kesempatan untuk menghubungi Lidya dan bertanya sedikit tentang apa yang membuatnya hari ini tidak hadir.


Namun tidak ada jawab dari Lidya, membuat Ayu kesal, dengan langkah jenjang Ayu memasuki kelas Raka yang ada di samping kelasnya.


Di sana Raka juga tidak ada.


"Sebenernya kenapa sih mereka gak datengnya kompakan gini?" batin Ayu.


"Yu, lo ngapain? Eh Raka kenapa gak dateng nih?" tanya Rozi menghampiri Ayu yang berdiri di ambang pintu.


"Gue aja gak tau, makanya gue kemari, rencananya mau nanya soal Lidya sama Raka, eh ternyata Raka juga gak dateng!" ujar Ayu dengan wajahnya yang cukup serius.


Rozi menautkan alisnya, "Lidya? Apa dia gak dateng juga?" tanya Rozi.


"Tadi gue telepon si Raka, tapi gak di angkat," ucap David seraya menghampiri Ayu dan Rozi.


"Gue juga, tapi nomor Lidya gak aktif," ucap Ayu, ketiganya saling menatap layar ponsel yang belum ada notifikasi pesan atau panggilan dari Lidya dan Raka.


"Ntar pulang sekolah, mampir ke rumah Raka, kita tanya ke dia kenapa gak dateng," ucap David dengan wajah seriusnya.


"Iya, gue setuju. Ntar kita juga ke rumah Lidya," ucap Rozi memberi saran.


Tentu Rozi dan David tau alasan di balik penolakan Ayu. "Yaudah gue balik ke kelas, ya," ucap Ayu sebelum akhirnya meninggalkan Rozi.


***


Bel pulang berbunyi nyaring hingga menggema di seluruh lorong sekolah, semua murid berhamburan, ini adalah hari ketiga Lidya dan Raka tidak datang ke sekolah. Jika soal  Raka  Ayu, dan lainnya masih bingung kenapa Raka tidak datang sementara keadaannya sehat, dan saat mereka membicarakan Lidya Raka selalu kesal.


Hal ini membuat bingung para sahabat  Lidya dan Raka. Mereka tak tahu apa yang terjadi.


Hingga keesokan harinya, tepat hari keempat Lidya tak hadir ke sekolah.


"Pagi anak-anak, hari ini ada murid baru di kelas kita, pindahan dari kelas sebelah, karena di sini ada bangku kosong," ucap Bu Rina wali kelas mereka.


Ayu mengangkat tangannya.


"Ya, Ayu ada apa?" tanya Bu Rina dengan wajah serius.


"Bu, dia mau duduk di mana? Tempat udah penuh, kenapa ibu bilang ada bangku kosong?" tanya Ayu sembari menatap Bu Rina.


"Bangku di sebelah kamu itu kosong, jadi dia akan duduk di sana," jelas Bu Rina membuat Ayu terbelalak begitu juga Cinta dan Friska.


"Terus Lidya gimana, Bu?" tanya Friska yang ikut mewawancarai Bu Rina.


"Lidya sudah tidak bersekolah di sini lagi, sejak empat hari yang lalu, dia pindah ke Jepang," jelas Bu Rina dengan wajah sedihnya.

__ADS_1


"Apa!" ucap Ayu, Friska, dan Cinta serempak.


"Kenapa Lidya gak ngasih tau?" batin Ayu.


"Lid, lo kok tega sih pergi tanpa ngabarin kita," batin Friska


"Jadi selama ini Lidya di Jepang?" batin Cinta.


*****


"Lidya!" seru seorang gadis berkulit putih dengan mata sipit.


Spontan seorang gadis bernama Lidya berbalik ke arah gadis Jepang itu.


"Sharon, ada apa?" ucap Lidya sembari menaikan kacamatanya.


"Kamu ngapain di sini?" gadis bernama Sharon itu dapat berbahasa Indonesia dengan lancar, meski sedikit ada kesalahan penyebutan kata.


"Aku beli boneka ini, bagus gak?" tanya Lidya menunjukkan sebuah boneka bebek dengan pita di lehernya.


"Untuk sahabat kamu lagi?" tanya Sharon, alis Sharon langsung bertaut.


Lidya menjawab dengan senyuman miris yang memilukan.


"Setiap tahun, sampai kapan kamu gini terus, Lid?" tanya Sharon yang juga sedih dengan kondisi temannya itu.


"Kapan Papa kamu izinin kamu pulang? Apa dia gak rindu? Selama tiga tahun ini dia gak pernah datang melihatmu sekali pun!" ucap Sharon yang tak tahan dengan kondisi Lidya.


Setiap tahun Lidya membeli hadiah ulang tahun untuk Mama, Papa, adiknya, dan Ayu. Hal ini membuat rasa empati Sharon muncul, ia sangat merasa kesal dan sedih akan keadaan Lidya. Sudah tiga tahun Sharon dan Lidya bersama, Sharon adalah gadis yang cerdas dan pintar berbahasa Indonesia.


"Nanti kalau aku udah dapet izin untuk bikin perusahaan di Indonesia, aku akan bawa kamu ikut ke Indonesia, gak perlu nunggu tujuh tahun aku tau kamu pasti rindu sama keluarga, sahabat, dan negara kamu, makanan khasnya, dan juga semua hal tentang Indonesia, iya 'kan?" tanya Sharon dengan penuh keseriusan.


"Gak perlu, ini hukuman buat aku, dan aku harus menjalani semua ini, aku tau di balik ini semua ada hikmah yang bisa aku ambil," ucap Lidya, hatinya benar-benar hancur, rindu yang menghantui dirinya membuatnya cukup menderita, namun  Lidya mencoba mengulas senyuman walau tak kentara.


"Ya udah, ayo kita kembali ke penginapan!" seru Lidya menarik tangan Sharon.


"Selain keluarga dan sahabat, aku juga selalu merindukan sosok yang selalu menjadi semangatku, dia adalah yang paling berharga setelah keluargaku, RAKA I MISS YOU," batin Lidya.


****


Waktu terus bergulir tanpa memberi kesempatan untuk mengulang semuanya, seorang pria dengan tubuh jangkung tampak berdiri di pinggir Roftoop menatapi pemandangan kota di malam hari.


Air matanya bergulir membasahi pipi.


"Aku pernah mencintai, tapi tak pernah sedalam ini, aku tak pernah menyangka jika cinta yang dalam akan membawa luka yang dalam juga," pria itu menggenggam sebuah lembar foto, foto seorang gadis dengan kacamata tampak sedang tertawa dengan buku yang di peluknya. Itu adalah foto Lidya.


Pria itu mengangkat foto itu, menatapi foto usang itu  nanar.


Sebuah ulasan senyum yang kentara, sakit rasanya, berpura-pura bahagia dan seolah tak terjadi apa-apa. Membuat hati tersiksa dan hanya menambah luka.


Raka memang berbeda, semenjak kejadian tiga tahun yang lalu, Raka memang menunjukkan kebahagiaan, namun sahabat dan keluarganya tau, dia tak bahagia, hanya pura-pura. Itu yang Raka lakukan.


"Lid, aku rindu. Jujur aku gak nyangka kalau semua akan berakhir malam itu," gumam Raka sambil menatapi foto yang ada di genggaman tangannya. Tak terasa air mata semakin mengalir deras membasahi pipi mengingat semua kejadian dulu.

__ADS_1


Hatiku terlanjur tertaut pada dirimu yang tak pernah mengindahkan kehadiranku. Jangan paksa aku pergi, jangan paksa aku untuk berhenti! Jika kau membenciku karena ini, itu urusanmu. Dan untuk Lukaku kali ini, itu urusanku.


@nabilnrfzh


__ADS_2