
.
.
"Besok kalau lo balik lagi ke Jogja, jangan lama-lama kali, Lang. Kasihan Laila lo tinggal. Lagian, gengsi dipelihara." Nyinyir Faizan membuat Gilang menatapnya tajam.
Naya menyadari suasana yang kurang bagus. Ia pun mencoba memberi kode pada sang suami agar menghentikan apa yang dilakukannya, apalagi melihat wajah Laila yang sendu.
"Mmm,, oh iya. Minggu depan kita mau mengadakan aqiqahan Milla. Kalian harus datang loh." Seru Naya mencoba mengalihkan topik pembicaraan mereka.
"Iya, bener. Lo jangan sampai nggak hadir, ya Lang." Peringat Faizan menatap sahabatnya.
"Insyaa Allah. Gue usahain datang." Jawab Gilang sembari tersenyum simpul.
Laila terdiam dan hanyut dengan pikiriannya. Lagi-lagi perkataan Faizan tadi mampu membuat hatinya tersentil. Meskipun Laila sudah berusaha mengalihkan pembicaraan mereka. Namun, tetap saja Laila tak bisa menghindar dari pemikirannya itu. Ia kembali merasa kecil dan tak berarti dimata sang suami, saat terbayang hubungan suaminya dengan Mayang.
Walaupun sikap Gilang sudah berbeda semenjak lelaki itu pulang dari Jogja, namun tetap saja ia masih belum bisa tenang.
"La. Jangan ngelamun gitu dong." Tegur Naya menyentak Laila.
Faizan melemparkan tatapan mengintimidasinya pada sang sahabat yang sepertinya juga ikut heran. Jika melihat wajah galau Laila seperti sekarang, ia akan langsung mengira semua pasti ada hubungannya dengan Gilang. Bagaimana tidak, ia sendiri tahu bagaimana sikap sahabatnya pada istrinya.
.
.
Gilang dan Laila sudah berada di rumah. Setelah menghabiskan waktu kurang lebih 1 jam di kediaman Faizan dan Naya mereka langsung pulang. 15 menit yang lalu mereka sampai. Dan kini Laila tengah merebahkan dirinya di atad tempat tidur. Ia merasa lelah hari ini, tak tau apa sebabnya. Padahal ia tak melakukan aktivitas berat.
Dengan rasa tak nyaman Laila terus saja memperbaiki posisinya. Tak ada yang ia rasa benar saat ini. Gilang memasuki kamar, setelah tadi lelaki itu pergi ke ruang kerja. Kini Gilang memasuki ruang ganti dan tak lama setelahnya ia keluar dengan kaos dan celana rumahan. Masih jam 5 sore, dan Gilang menyaksikan Laila yang sedang tiduran gelisah di ranjang.
Ada apa dengan istrinya? Tak biasanya seperti itu. Di hari biasa Laila akan mencari kesibukan di dapur atau mungkin di halaman. Tidak dengan bermalas-malasan seperti sekarang. Tingkah sang istri benar-benar aneh menurutnya.
Laila yang masih menggunakan pakaian yang ia pakai untuk pergi tadi, kini terlihat mulai gerah. Ia pun bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi. 10 menit kemudian, ia keluar dengan rambut yang basah. Hal itu tak luput dari perhatian Gilang.
__ADS_1
Lelaki itu menatap sang istri lekat. Ah, mengapa disaat seperti ini istrinya terlihat begitu menggemaskan. Ada sesuatu yang bergejolak di dalam dirinya. Namun, ia berusaha menahannya.
"Ya ampun, Laila kenapa kelihatannya ***** banget. Apa dia sengaja menggoda gue? Aduhh... tapi gue nggak boleh ngelakuin itu sekarang. Gimana pun hubungan kami belum stabil." Gilang bergumam dalam hatinya.
Gilang masih terus menatap sang istri yang akhirnya selesai menyisir rambutnya. Lalu, wanita muda itu membalikkan tubuhnya tiba-tiba menghadap ke Gilang, membuat lelaki itu salah tingkah.
"Mas, aku mau ke dapur. Mas Gilang mau aku bikinin minum?"
Gilang tersentak. "Eh, itu. Boleh, deh. Lemon tea,, iya. Lemon tea,, pake es." Jawabnya yang seperti orang bingung.
"Hah? Pake es?" Gumam Laila yang bingung melihat wajah suaminya yang terlihat tegang.
"Iyaa." Jawab Gilang cepat.
Laila kemudian berlalu meninggalkan Gilang yang masih menetralkan detak jantungnya yang berpacu cepat. Setelah Laila menghilang di balik pintu, ia baru bisa bernapas lega. Rasanya istrinya itu sangat menggoda imannya saat ini. Hah,, Jika saja hubungan rumah tangganya dengan sang istri tak seperti ini, dan selalu tentram layaknya pernikahan pada umumnya, mungkin ia tak perlu menahan hasrat kelaki-lakiannya.
Gilang menatap langit-langit kamar. Pikirannya kini berkelana kemana-mana. Tak terasa sudah dua minggu ia menyandang status sebagai seorang suami. Semoga saja ia bisa mengubah pernikahan yang terjadi atas dasar keterpaksaan, menjadi pernikahan yang harmonis.
.
.
Pagi ini cuaca sangat cerah. Burung-burung bernyanyi menghiasi pagi ini dengan kicauan merdunya. Laila baru saja selesai membuat sarapan. Beberapa hari ini Gilang mulai makan sarapan yang ia siapkan setiap hari. Apapun masakan yang Laila buat, akan disantap oleh suaminya itu.
Sejujurnya Laila merasa heran dengan sikap Gilang tersebut, namun di sisi lain ia bahagia karena itu berarti semakin ada perkembangan dalam hubungan mereka.
Gilang menuruni anak tangga dengan menenteng sebuah tas berukuruan kecil yang berisi beberapa pakaian miliknya. Lailalah yang telah mempersiapkan semua itu. Karena, pagi ini Gilang akan kembali ke Jogja. Seperti sebelumnya, Laila tidak akan ikut. Karena memang Gilang belum menawarkannya.
"Pagi, mas." Sapa Laila dengan senyum sumringah sembari menuangkan air putih ke dalam gelas.
Gilang yang telah sampai di meja makan menarik kursi kemudian melirik Laila sekilas. Tanpa balasan sapaan, ia duduk di kursi dan meneguk air di dalam gelas tersebut. Laila memaklumi sikap dingin suaminya itu. Karena, setiap hari memang begitulah yang ia hadapi dan Laila menerimanya dengan lapang dada.
Dengan wajah berseri, Laila menyendokkan nasi ke piring suaminya. Lalu, mengambilkan sepotong ayam goreng tepung dan sayur beserta sambal. Gilang hanya menyaksikannya tanpa berkomentar apapun. Meski sebenarnya, ia sudah tak sabar untuk segera menyantap makanan yang tampilannya begitu lezat itu.
__ADS_1
"Selamat makan, mas." Ucap Laila.
Gilang mulai menyuap. Setelah makanan tersebut tertelan olehnya, Gilang menghentikannya. Ia menatap sang istri.
"Ada yang mau aku tanya." Ucap Gilang pelan.
Laila yang juga tengah mengunyah, menghentikan aktivitasnya.
"Apa, mas?" Tanya Laila.
Gilang menarik napas. "Kamu dan cowok yang namanya,, Delon,,, " Gilang tak jadi melanjutkan perkataannya karena ponselnya tiba-tiba berdering. Ia pun segera mengangkatnya.
Laila merasa lega saat ponsel suaminya berdering tiba-tiba. Siapapun itu, ia sangat berterima kasih karena telah menyelamatkannya dari pertanyaan itu.
"Aku harus berangkat sekarang. Karena, takutnya nanti macet." Sahut Gilang tiba-tiba setelah ia selesai bertelepon.
"Loh, sarapannya nggak dihabisin dulu, mas?" Tanya Laila.
"Enggak usah." Jawabnya dan bergegas pergi.
Laila pasrah saja. Apalagi melihat wajah serius suaminya. Itu berarti Gilang memang buru-buru.
"Mas, tunggu!" Teriak Laila menghentikan langkah Gilang. Lelaki itu berbalik.
Laila berlari menghampirinya. Lalu, meraih tangannya dan membawanya ke depan wajahnya. Ritual yang selalu dilakukan Laila saat Gilang akan berangkat ke kantor. Gilang tersenyum simpul, benar-benar tipis. Bahkan, yang berada sangat dekat dengannya belum tentu paham dengan ekspresi wajahnya itu.
"Aku berangkat!" Ucapnya saat Laila sudah selesau memyalaminya.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung......
.