Cinta Dan Benci

Cinta Dan Benci
Rencana


__ADS_3

"MasyaAllah, Subhanallah, ganteng eh maksudnya cantik banget," ucap wanita itu yang tak melepas pandangannya dari sosok Lidya.


    "Lidya, ini Lidya Adi Setya, 'kan?" tanya wanita itu seolah tak percaya dengan sosok di hadapannya.


     "Ayu?" ucap Lidya dengan gembira, Ayu segera menghambur kedalam pelukan Lidya.


    Setelah sekian lama, mereka bertemu. Sepuluh tahun lamanya tanpa ada kehadiran satu sama lain yang selalu mengisi kekurangan. Keduanya meraung dalam kesediha dan kebahagiaan.


     "Gue rindu sama, lo," ucap Ayu ditengah isakannya. Benar-benar sebuah kebetulan yang dinanti. Ayu melerai pelukannya, berbalik badan menatap sosok Raka yang tampak acuh dengan wajah datarnya.


     Setelahnya Ayu memalingkan wajahnya, menatap Lidya sesaat sebelum akhirnya menarik tangan Lidya dan membawanya ke ruang ganti.


    "Ada apa, sih?" tanya Lidya yang dibuat heran oleh tingkah aneh Ayu.


    "Lid, lo yakin sama pernikahan ini?  Kalau lo nggak mau gur bisa bantu, lo. Gue bisa bebasin lo dari perjanjian aneh, ini," ucap Ayu.


    "Aku yakin, yakin banget," jawab Lidya, "Kamu nggak usah khawatir, semua bakalan baik-baik, aja," ucap Lidya lagi.


   "Tapi--"


    "Ssst ...." Lidya meletakkan jarinya di bibir Ayu, membuat gadis itu bungkam, "Aku ngelakuin ini demi orang tua aku, mereka udah cukup berjuang. Dan sekarang giliran aku, Allah nggak tidur. Dia adil, cepat atau lambat semua akan berakhir," ucap Lidya seraya menatap mata Ayu penuh arti, berpura-pura tegar adalah hal yang sangat sulit, ingin rasanya Lidya menangis meronta-ronta. Meluapkan isi hatinya. Namun, tak bisa.


   "Gue bisa ngebantu kapanpun lo mau," ucap Ayu sebelum mengakhiri pembicaraan mereka, Ayu tau benar bagaimana Lidya. Dia hanya keliatan kuat diluar. Namun, Ayu yakin hatinya sangat hancur.


    "Eh, tunggu." Cegah Lidya, Lidya memegang tangan Ayu, mendapati sebuah cincin perak yang indah.


   "Cincin nikah?" tanya Lidya dengan alis tertaut.


   Ayu mengangguk dengan ulasan senyum manis di wajahnya, "Kok kamu nggak bilang," rengek Lidya.


   "Gimana cara gue ngasih tau ke elo? Sementara kita putus komunikasi selama sepuluh tahun, aneh!" Ayu menatap tajam ke arah Lidya. Kesal dengan kenyataan yang ada, persahabatan mereka terhenti selama sepuluh tahun. Dan itu sangat menyakitkan.


    "Aku tau aku salah, maaf. Tapi ngomong-ngomong kamu nikah sama siapa?" tanya Lidya dengan senyum sumringah.


   Ayu menunjukan senyum canggung, "Aku nikah ... Sama emmm sama Rozi," ucap Ayu dengan wajah tertunduk, entah apa yang membuatnya merasa sangat malu.


     "Cieee." Lidya menyenggol lengan Ayu, menggoda sahabatnya yang tampak malu-malu, "Udah berapa lama? tanya Lidya.


   " Dua tahun, kalau nggak salah." Ayu memutar bola matanya mengingat sesuatu.


   "Wiih, udah dapet momongan belum?" tanya Lidya dengan semangatnya.


   "Belom niat. Karena kita sama-sama sibuk," ucap Ayu.


   "Ya, semoga aja bisa secepatnya." Lidya menepuk pundak Ayu menyalurkan semangat kepada sahabatnya.


   "Kalian sedang apa di dalam?" Suara lantang itu cukup membuat Ayu dan Lidya terkejut.


   "******, buruan lo ganti baju, Lid," ucap Ayu dengan bisikan yang terasa seperti desakan.


   "Ayu!" teriak Raka dari balik pintu.

__ADS_1


    "Gue, keluar, ya." Ayu membuka pintu membiarkan Lidya mengganti pakaiannya.


   Kini Ayu telah berada di hadapan Raka, menatap wajah datar Raka. Begitupun Raka, ia menatap Ayu penuh curiga.


   "Eh mau kemana?" tanya Ayu mencegah Raka yang hendak memasuki ruang ganti Lidya.


   "Mau masuk!" ucap Raka tegas.


    "Belum mahram, nggak boleh," jelas Ayu, berusaha mencegah tindakan bodoh Raka.


   "Besok saya udah mau nikah sama dia, tidak ada masalah jika saya masuk," ucap Raka yang kembali memulai langkah memasuki ruang ganti. Namun, kembali dicegah oleh Ayu.


   "Nggak boleh, lagian lo belum ada hak!" Ayu menarik jauh Raka dari ruang ganti. Namun, Raka kembali berjalan mendekat.


    Ayu mencegahnya kembali, "Saya--"


    "Sssst ... Jangan ngomong pake bahasa Saya--kamu, geli gue dengernya," ucap Ayu dengan nada geram.


   "Oh, jika tidak suka jangan dengar," ucap Raka dengan datar.


    "Lo sebenarnya kesambet setan apa? Setan guru bahasa Indonesia kataknya." Ayu menatap Raka penuh dengan rasa curiga.


   Raka mengernyitkan dahinya, "Maksud, kamu?"


    "Nah, 'kan. Bahasa lo, formal banget. Gue tau lo itu CEO muda, tapi bisa ubah bahasa lo, nggak? Gue risih sumpah!" Ayu menaikan dia jarinya sejajar dengan bahu.


    "Saya tidak peduli," ucap Raka datar. Setelahnya Raka berjalan menabrak tubuh Ayu yang menjadi penghalang menuju ruang ganti. Raka berjalan sedikit cepat, dan saat hendak memegang knop pintu. Pintu malah sudah terbuka.


    Tak ada jawaban. Akhirnya Lidya berjalan mendekati karyawan butik, "Saya mau yang ini, aja," ucap Lidya memberikan gaun yang ia pakai sebelumnya.


    "Baik." Karyawan itu menerima gaun yang  Lidya berikan dan pergi menuju ke suatu tempat.


    Raka berjalan mendekat ke arah Lidya, lalu menarik tangannya. Lidya sedikit kaget. Namun, ia menurut.


   "Ayu, mana cincin yang saya mau," ucap Raka dengan nada datar dan penuh wibawa.


   "Ini!" ketua Ayu.


     "Pilih!" Raka menyodorkan cincin yang baru saja Ayu berikan kepadanya.


    Lidya menatap semua cincin itu, seolah menilai setiap desain yang ada. Sampai akhirnya pilihannya jatuh pada sebuah cincin perak dengan desain sederhana, dan permata mungil yang mengelilingi setiap lingkar cincin itu.


    "Aku mau yang, ini." Lidya menunjuk cincin itu.


     "Baik, semua sudah selesai, sekarang kita kembali, besok kamu datang tepat waktu," ucap Raka pada Ayu dan Lidya, "Lidya, ayo kita pulang." Raka menarik tangan Lidya dan menyeret kecil tubuhnya.


                                ****


    Lidya menatap pantulan dirinya yang bahkan tidak ia kenali. Riasan rambut dengan beberapa hiasan yang bertengger manis di kepalanya. Kebaya pernikahan yang indah, riasan wajah yang mempercantik dirinya.


    "Ya Allah. Cantiknya anakku ini," ucap Ifni yang merangkul Lidya dari arah belakang.

__ADS_1


    "Kak, semoga lo kuat," ucap Fahri, menepuk pundak Lidya.


    "Kak. Kalau kakak butuh sesuatu, aku sama Bang Fahri siap kapan aja," ucap Alfa.


   "Makasih buat kalian semua," ucap Lidya yang membalas rangkulan adik dan ibunya.


    "Papa di mana, Ma?" tanya Lidya.


      "Masih ada yang dibicarakan dibawah tadi," ucap Ifni.


    "Maaf mengganggu. Nyonya Adi Setya, Fahri Adi, Alfa Adi Nugraha. Di suruh turun sekarang," ucap seorang bodyguard.


     Ifni dan kedua adik Lidya pergi, suasana ruangan kembali sunyi. Lidya kembali menatap cermin bergulat dengan pikiran dan hatinya.


     "Hai, Lidya." Suara itu cukup mengejutkan Lidya.


    Lidya membalik dan mendapati tiga sahabatnya ada di ambang pintu. Berdiri dengan senyum tulus.


   Lidya segera bangkit dari duduknya, mendatanginya Ayu, Friska, dan Cinta. Setelahnya Lidya memeluk ketiga  teman yang sangat ia rindukan itu.


    "Wiiih, Fris. Cepet, ya," ucap Lidya menatap Friska yang kini sedang mengandung, "Kamu nikah sama siapa?" tanya Lidya.


    "Sama babang David dia, mah," sahut Cinta, dengan semangat.


   "Waah langgeng, ya," ucap Lidya, "Kalau kamu, Cin?" tanya Lidya menatap Cinta penuh tanya.


    "Gue masih betah sama kejombloan yang gue dapet dari lahir," ucap Cinta dengan bangga.


    "Gaya, lo. Padahal semalem abis ngeluh, tapan codoh due tateng," ucap Ayu dengan nada mengejek.


    "Apaan, sih. Ngejek mulu kalian, mah. Bukannya bantu cari," keluh Cinta.


   "Kamu tenang, aja. Ntar aku cariin," kata Lidya menepuk pundak Cinta.


   "Lid, kita tau apa yang lo rasain. Kalau lo mau sedih-sedihan sama kita aja, jangan pura-pura kuat," ucap Friska.


    "Makasih, tapi aku tau apa yang aku lakuin." Suasana hangat kini kembali berubah sendu, Lidya memejamkan matanya sesaat, berharap mendapatkan ketenangan.


    "Aku nggak papa, kalian bisa keluar? Aku mau sendiri," ucap Lidya pada ketiga temannya.


    Ketiganya mengangguk lemah, sebelum akhirnya keluar dari ruangan Lidya. Lidya segera menutup pintu ruangan itu, lalu berjalan menuju balkon.


   Menatap ke bawah tepatnya di pantai dasar. Lidya mendapati banyak sekali tamu. Jika dia kabur, apa yang akan terjadi? Lagi pula apa bisa Lidya kabur lewat balkon? Sementara ruangan yang Lidya tempati berada tepat di lantai lima gedung pernikahan ini.


    Jika saja pernikahan dilakukan di rumahnya, rencananya pasti akan lebih mudah. Lidya mencari cara lain agar pernikahan tidak berlangsung. Sampai tatapannya membawa pikirannya pada sebuah pisau. Yang artinya bunuh diri.


   


   


     

__ADS_1


__ADS_2