Cinta Dan Benci

Cinta Dan Benci
Tidak Ingin Dia Tau


__ADS_3

Tanpa banyak bicara Rico langsung memutar arah mobilnya untuk kembali ke gedung di mana Adel sedang melakukan resepsi pernikahan, Caca yang sedikit panik pun langsung menarik ujung baju Rico


"Tolong jangan kasih tau ke dia," lirih


Rico langsung menatap tajam ke arah Caca


"Apa lu ga mau selamatkan nyawa anak kalian? gw ga akan di beri izin mendonorkan darah gw ke anak kalian walaupun golongan darah kami sama," penuh penekanan


Caca pun hanya bisa tertunduk dengan lemas, dia hanya bisa pasrah dengan apapun yang akan terjadi setelah ini. Rico terus melanjutkan perjalanan mereka ke tempat semula, sedangkan Caca sedang terlihat memikirkan seribu kemungkinan yang akan terjadi setelah status anaknya terungkap


"Apa dia akan marah karena aku berpura-pura ga kenal dia? apa dia akan merampas Ical dari aku? bagaimana pun juga pasti aku ga akan sanggup melawan dia kalau dia menginginkan Ical, tapi saat ini keselamatan Ical adalah yang utama walaupun aku harus membayar dengan kehilangan Ical"


Tanpa terasa air mata Caca pun mengalir kembali dengan sendirinya, Rico yang melihat itu pun menjadi tak tega dan langsung menghentikan mobilnya dan menatap ke arah Caca dengan serius


"Kenapa berhenti?"


"Apa kamu benar-benar ga ingin dia tau tentang anak itu?"


"Anak itu terlahir karena rasa dendam dia ke aku bukan karena perasaan cinta, aku yang melahirkan dia dan aku juga membesarkan dia hingga saat ini. Jadi apa kamu pikir hati aku ga sakit memikirkan dia mungkin saja mengambil anak itu dari sisi aku?" lirih


Rico pun membuang nafas nya dengan kasar dan menghubungi seseorang, Rico memerintahkan orang tersebut mengantarkan darah yang di butuhkan ke rumah sakit di mana Faizal berada. Rico pun mengubah kembali tujuan mereka ke arah rumah sakit


"Terima kasih"


"Gw lakuin ini karena dia masih memiliki darah keluarga kami," melirik sekilas ke arah Caca


Caca pun tersenyum tipis karena bagaimana pun juga masih ada harapan untuk lolos dari masalah kali ini, setibanya di rumah sakit mereka segera bergegas ke arah tempat di mana Faizal sedang di tangani. Caca dan Rico benar-benar terkejut karena di sana sudah ada Daniel yang sedang terduduk dengan wajah sedikit pucat


Mama Diana yang melihat kehadiran Caca pun langsung menghampiri Caca dengan air mata yang terus mengalir dari pelupuk matanya


"Mama minta maaf ya Ca, mama benar-benar menyesal membawa Ical keluar"


Caca yang melihat keadaan mama Diana juga terpukul langsung memeluk tubuh mama Diana dengan erat


"Gimana keadaan Ical saat ini mah?"


"Dokter sedang menangani Ical, untung saja bapak ini memiliki golongan darah yang sama dengan Ical. Bapak ini yang memberikan darahnya untuk menolong Ical" menatap ke arah Daniel


Caca dan Rico sama-sama memasang wajah tegang karena mereka benar-benar tak bisa membaca apa yang ada di dalam pikiran Daniel saat itu, bahkan seorang Rico yang selalu paling dekat dengan Daniel pun tak bisa membaca jalan pikiran Daniel saat itu

__ADS_1


Saat itu tatapan mata Daniel hanya tertuju ke arah Caca dengan tatapan mata yang sulit di artikan, tatapan mata Daniel membuat Caca bahkan sulit untuk menelan saliva nya sendiri. Sejuta pemikiran buruk langsung menghampiri benak Caca saat itu


"Kenapa dia liatin aku begitu? apa dia curiga tentang sesuatu? atau jangan-jangan dia bahkan sudah mengingat tentang aku"


Daniel pun mulai bangkit dari duduknya dan menghampiri Caca yang saat itu sudah menundukkan kepalanya


"Saya permisi dulu ya, saya sudah minta orang untuk kirim stok darah keluarga kami ke sini. Bila ada masalah apapun kamu bisa hubungi saya." dengan lembut


Caca pun mulai berani mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Daniel, sedangkan Daniel menampilkan senyuman tipis walaupun dengan wajah yang masih terlihat sedikit pucat


"Tapi apa boleh saya tau tentang kabar anak ini?"


Caca hanya bisa membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna mendengar hal tersebut


"Untuk apa ya pak?"


"Bagaimana pun juga saya sudah berusaha menyelamatkan anak kamu, jadi saya cuma mau tentang anak itu aja. Apa boleh?" dengan nada suara lembut


"Baik pak, saya ucapkan terima kasih karena bapak sudah menyelamatkan nyawa anak saya"


Daniel hanya membalas dengan senyuman tipis, dan dia pun segera berpamitan dan pergi dari tempat itu. Caca bisa merasa lega pada saat itu karena Daniel tak menunjukkan sikap yang aneh, tetapi lain hal dengan Rico ada sesuatu yang membuat dia tak percaya dengan sikap Daniel begitu saja


"Ga perlu saya hanya perlu istirahat sebentar, antar saya ke apartemen"


"Baik pak"


"Selidiki dengan jelas penyebab kecelakaan anak itu, saya mau hasilnya dengan cepat dan tidak ada yang kamu turupi lagi." dengan tegas


"Baik pak"


FLASH BACK


Setelah mendengar semua percakapan Rico dan Caca hingga saat Caca menerima panggilan telepon, sang asisten pribadi pun langsung melaporkan hal tersebut kepada Daniel


"Siapa Ical?"


"Sepertinya nama anak dari perempuan itu pak"


"Jadi perempuan itu sudah punya anak ya? aneh hati aku benar-benar sakit mengetahui ini semua"

__ADS_1


"Di mana?"


Sang asisten pribadi pun segera memberikan sebuah nama, Daniel pun segera melangkahkan kakinya dan sudah pasti sang asisten mengikuti langkah kaki sang bos besar. Dan kini mereka berdua sudah berada di dalam mobil menuju ke arah rumah sakit


"Sudah berapa lama kamu ikut saya?"


"Sudah hampir tiga tahun pak"


"Kenapa kamu berbohong sama saya?"


Sang asisten melirik sekilas ke arah kaca spion dan dapat melihat dengan jelas bahwa Daniel sedang menatap dia dengan tajam


"Maaf pak tapi saya kurang mengerti maksud bapak," dengan sopan


"Perintah saya yang sebelumnya untuk mencari tau tentang gadis itu, saya rasa tidak mungkin sampai detik ini kamu tidak mendapatkan apapun." penuh penekanan


"Maaf pak, saya..."


"Mana?"


Sang asisten membuka dashboar dan memberikan sebuah amplop berwarna coklat kepada Daniel


"Sekali lagi saya mohon maaf pak"


Daniel mengabaikan permohonan maaf dari sang asisten dan mulai membuka amplop tersebut, lembar demi lembar mulai dia perhatikan satu persatu. Daniel ingin sebuah kepastian karena saat dia melihat bahwa Rico mengenal Caca, hatinya semakin yakin bahwa dia juga mengenal Caca


"Akh!!"


Rasa sakit mulai menyerang kepala Daniel saat itu, bahkan sekali ini rasa sakit yang melebihi rasa sakit yang pernah dia rasakan sebelumnya


Sang asisten segera menghentikan mobilnya dengan wajah cemas


"Anda baik-baik saja pak? apa saya perlu membawa anda ke rumah sakit?"


Daniel menggelengkan kepalanya


"Kita tetap ke tujuan awal," dengan wajah menahan rasa sakit


FLASH OFF

__ADS_1


__ADS_2