
Just info buat readers semua. Mungkin ada penulisan kata-katanya yang berbeda-beda. Silahkan dikoment ya kalau ado masukan juga dari readers.
.
.
Laila menatap mobil milik suaminya yang perlahan menjauh hingga benar-benar hilang dibalik pagar besi itu. Sedih? Tentu saja. Bukannya ia ingin mencari-cari kesalahan suaminya dan berakhir merasakan kegalauan terus, namun begitulah yang ia rasakan. Kembali merasa tak diinginkan.
Saat Gilang akan berangkat tadi pun tak ada basa-basi atau sekedar salam perpisahan. Lelaki itu memasuki mobil sembari memainkan ponselnya. Ia mengabaikan Laila yang berpesan agar dirinya berhati-hati dalam perjalanan. Uluran tangan Laila pun tak disambutnya.
Lagi-lagi ia mencoba berpikir positif. Mungkin karena suaminya terlalu sibuk dan fokus berbicara di telepon sehingga Gilang mengabaikannya. Lagipula mereka baru menikah hampir 2 minggu. Tentu saja suaminya belum terbiasa dengan dirinya.
Laila memilih pergi ke kamar. Rasanya lelah. Tak tahu mengapa. Padahal ia tak melakukan pekerjaan yang berat. Mungkin efek pikiran.
Saat menutup pintu kamar, ia mendengar ponselnya yang berdering. Ia bergegas menuju meja nakas untuk mengambilnya. Nama Naya tertera disana. Ia pun langsung mengangkatnya.
"Assalamu'alaikum, mbak."
"Wa'alaikumussalam. Laaaa, aku udah lahiran." Terdengar suara di sebelah sana yang sepertinya sangat bahagia.
"Yang bener, mbak?" Ucapnya tak percaya.
"Beneran, La. Aku lagi di rumah sakit ********** sekarang."
"Kalau gitu aku kesana ya, mbak." Laila ikut terbawa perasaan bahagia.
Setelahnya panggilan berakhir. Ia pun mengganti baju untuk pergi. Setelah mengambil tasnya, Laila bernuat untuk langsung pergi. Namun, saat sampai di pintu depan, sebuah mobil memasuki halaman rumahnya.
"Mama?" Gumam Laila melihat sang ibu mertua turun dari mobil.
"Sayang, kamu mau kemana?" Tanya Bu Anne.
"Ila mau ke rumah sakit, mah. Mbak Naya abis melahirkan." Jawabnya.
Bu Anne tersenyum. "Mama boleh ikut?" Tanya wanita paruh baya itu.
"Boleh kok, Ma. Jawabnya. "Kita langsung berangkat aja, mah."
"Iya, sayang."
Mereka pun memasuki mobil. Lalu mobil mundur dan kembali melaju saat berada di depan gerbang. Bu Anne menatap Laila. Sepertinya ada yang janggal dengan raut wajah menantunya ini.
Ia meraih tangan Laila dan menggenggamnya. Hal itu menbuat Laila sedikit tersentak karena kaget.
"Apa kamu bahagia, nak?" Tanya Bu Anne yang seketika membuat Laila tercekat.
Ia balas menatap Bu Anne dengan menampilkan senyum terbaiknya.
__ADS_1
"Ila bahagia kok, Ma." Jawabnya.
"Kamu nggak bohong kan sama mama? Apa Gilang memperlakukan kamu dengan buruk setelah menikah?" Lagi, Bu Anne melontarkan pertanyaan yang membuat Laila kesulitan menelan salivanya. Untung saja ia memakai hijab membuat lehernya tak terlihat.
"Ma, Mas Gilang baik kok, Ma. Mas Gilang nggak pernah bersikap buruk. Walaupun kadang-kadang Mas Gilang bersikap dingin, mungkin karena belum terbiasa sama pernikahan ini."
Bu Anne tertegun mendengar jawaban menantunya. Ia pikir setelah dirinya mencoba membuka pembicaraan itu, Laila akan langsung mengadu dan mengatakan semua sikap buruk Gilang padanya. Namun, dugaan Bu Anne salah. Menantunya menyembunyikan semua keburukan putranya itu.
"Kamu beruntung mendapatkan istri seperti dia, nak. Mama berharap kamu segera membuka mata hati kamu." Gumamnya Bu Anne membatin.
"Kamu yang sabar ya, nak. Kamu jangan menyerah menghadapi sikap Gilang. Mama pasti akan selalu mendukung kamu." Kata Bu Anne menggenggam erat tangan menantunya.
Laila mengangguk mantap tak melupakan senyumannya. Hal itu semakin menimbulkan kesejukan di dada Bu Anne. Ia benar-benar bersyukur karena Laila menjadi menantunya. Karena anak ini sangat baik dan tulus, pikirnya.
.
.
Suara pengumuman di bandara Internasional Yogyakarta memenuhi keramaian. Sepuluh menit yang lalu pesawat yang ditumpangi Gilang mendarat, kini ia tengah bersiap untuk pergi ke penginapan. Bersama Romi dan satu orang lainnya mengikuti di belakangnya.
"Romi, hari ini nggak ada meeting kan?" Tanya Gilang sambil terus berjalan.
"Enggak, bos. Meeting pertama bos di kantor cabang ini adalah besok jam 8 pagi bersama dewan direksi. Selanjutnya lusa, jam 10 pagi dengan direktur Damara grup. " Jelas Romi.
Gilang tertegun namun tak menghentikan langkahnya. "Damara Grup?" Ucapnya bertanya.
"Iya, bos. Apa ada yang salah, bos?" Tanya Romi heran.
Sejujurnya ada yang mengganjal di hatinya saat mendengar Romi menyebutkam nama perusahaan yang Gilang rasa tidaklah asing di telinganya. Namun, ia tak begitu ingat dengan jelas hal tersebut.
"Penginapan udah kan, Rom?" Tanyanya.
Romi sebenarnya merasa heran dengan sikap Gilang yang terbilang aneh. Biasanya ketika mereka ada pekerjaan ke luar kota, Gilang tak akan nyinyir menanyakan apapun. Namun, sekarang ia malah menanyakan hal-hal yang biasanya tak pernah ia urusi. Seperti sekarang. Bertanya tentang penginapan. Padahal sudah jelas jika penginapan akan ia terima beres karena telah diurus oleh Romi dengan tuntas .
"Kayaknya bos lagi gelisah, nih. Kenapa, ya? Apa jangan-jangan si bos kepikiran sama Bu Laila?" Romi membatin bingung.
"Semua udah beres, bos." Ucapnya kemudian.
Gilang mengangguk. Ia teringat untuk memeriksa ponselnya. Ada pesan dari sang istri 3 jam yang lalu. Istrinya meminta izin untuk pergi membezuk Naya yang telah melahirkan tadi siang. Awalnya ia sempat terkejut, namun setelahnya senyum tipis nampak terbit di bibirnya.
Akhirnya lagi-lagi sahabatnya telah benar-benar menjadi seorang Ayah. Mungkin juga menghitung Minggu, Rio juga akan menyusul status Lian dan Faizan yang telah lebih dulu sah menjadi seorang ayah.
Lalu, dirinya? Ia berharap sama. Segera menyandang status sebagai srorang ayah. Namun, hubungannya dengan Laila yang masih canggung dan membingungkan, kembali menyadarkannya dan membuatnya dilema.
"Ayo, bos!" Sahut Romi.
Gilang yang dipanggil pun sedikit tersentak namun segera ia menyimpan ponselnya dan masuk ke taksi.
__ADS_1
.
.
Seorang wanita paruh baya sedang duduk diam di kursi, menghadap ke luar jendela. Menikmati pendangan kota dengan gedung-gedung tinggi menghiasi.
Setelahnya ia memutar kursi kerjanya dan kembali menghadap ke meja. Merasih ponsel. Memainkannya dengan wajah penuh misteri.
Geyani Sri Damara. Wanita dengan segudang prestasi selama masa mudanya hingga kini. Ia adalah penerus perusahaan Damara Grup. Putri satu-satunya dari perintis sekaligus pemilik perusahaan tersebut. Sehingga ia lah yang memegang tanggung jawab mengelola perusahaan Damara bersama ketiga anaknya.
Geya memiliki 3 orang anak. Satu laki-laki dan dua orang lainnya perempuan. Ralin yang merupakan anak pertama memilih membuka bisnis sendiri di bidang kuliner bersama suaminya. Johan, putra satu-satunya Geya kini membantunya mengurus perusahaan. Ia menjabat sebagai Direktur.
Kesibukannya membuat Johan yang sudah berusia hampir kepala tiga, belum juga menikah. Bahkan, Geya tahu bahwa putranya itu tak terlihat dekat dengan wanita manapun. Dalam hal ini dekat sebagai teman spesial.
Ceklek,,, pintu terbuka menampilkan Johan yang langsung melenggang memasuki ruangan sang Mama. Geya hanya menatap anaknya itu dengan wajah malas. Jika sudah datang dengan tiba-tiba seperti ini, pasti ada sesuatu yang mengganggu pikiran dan mood anaknya ini.
"Kenapa?" Ujarnya.
Johan menghempaskan tubuhnya untuk duduk di sofa.
"Mama stop deh ngelakuin ini. Johan capek, mah. Lagian Johan udah punya calon sendiri yang akan Johan jadiin istri. Mama nggak usah jodoh-jodohin lagi." Keluhnya panjang.
"Udah?" Ucap Geya enteng.
"Kamu mau sampai kapan nunggu dia? Dia nggak bakalan ketemu. Jangan sia-siain waktu kamu, Johan. Apa kamu nggak mau melihat mama bahagia karena kamu menikah?" Geya mulai emosi.
"Tapi, Johan nggak cinta sama mereka, mah. Johan cuma mau nikah sama ...." Johan tak kalah emosi. Namun ia tak sampai menyebutkan nama wanita yang ia cintai, karena terdengar ketukan pintu.
"Masuk!" Ucap Geya.
Pintu terbuka. Seorang gadis cantik dengan setelan kerjanya berdiri tersenyum menatap kedua orang tersayangnya yang terlibat perdebatan.
"Lagi?" Katanya setelah berangsur melangkah melewati pintu.
Gadis itu berjalan dan duduk di sofa.
"Mama sama kakak apa nggak capek berantem terus? Permasalahannya juga itu-itu aja. Aku aja pusing lihatnya." Keluh gadis itu.
Ya, gadis itu adalah Diandra. Putri bungsu Geya.
"Kakak kamu ini nggak pernah mau dengerin kata-kata Mama. Padahal semua ini kan untuk kebaikan dia." Omel Geya menatap sinis sang putra.
Johan yang sudah bosan memilih diam. Jika meladeni sang ibu terus, maka perdebatannya tak akan ada habisnya.
.
.
__ADS_1
Bersambung.....
.