
Tiupan angin malam terasa meniup di telinga Gilang. Senyap. Malam ini ia berdiri di balkon ruang kerjanya, menatap pemandangan kota dari lantai gedung bertingkat itu.
Setelah mendapat kabar dari Ulfi perihal keadaan Laila di belahan kota yang jauh dari jangkauannya, tak cukup membuat Gilang merasa tenang. Masalah lain kini mulai mendatangi. Sepertinya semenjak menikah, ujian hidupnya terasa semakin ramai.
Gilang kembali risau karena mendapat laporan dari anak buahnya yang bertugas menjaga Laila diam-diam, bahwa Kalista mantan kekasihnya mendatangi Kafetaria. Wanita itu juga terlibat pembicaraan serius dengan istrinya. Dari informasi yang ditangkap oleh anak buahnya, Kalista sudah merencanakan pertemuannya dengan Laila tersebut.
"Gimana caranya aku bisa melindungi kamu secara terang-terangan, La. Sementara aku nggak tau gimana perasaan kamu." Lirih Gilang.
Ia tak ingin jika nantinya usahanya untuk menunjukkan kasih sayangnya pada Laila akan membuat Laila berpikir kalau dirinya hanya mempermainkan sang istri dengan perlakuan manis, sedangkan mereka akan berpisah dalam waktu dekat. Meski Gilang tak menginginkan perpisahan itu, tapi ia yakin Laila akan mengajukan perpisahan nantinya sesuai dengan kesepakatan mereka.
Suara ketukan pintu membuat Gilang teralihkan dari pikirannya. Ia berbalik dan melihat Romi memasuki ruangannya.
"Bos, ini laporan yang bos minta." Kata Romi.
"Coba lo bacain aja, Rom. Kalau bisa yang intinya aja."
"Oke. Kalau yang intinya dan sangat penting, Kalista ngelamar kerja di kantor pusat, bos." Kata Romi lagi.
"Apa?" Wajah Gilang berubah terkejut. "Jangan terima dia, Rom. Gue punya feeling nggak enak sama dia." Ungkap Gilang.
"Wah, sama sih, bos. Gue juga punya feeling horor sama dia." Ujarnya bergidik.
Gilang mendelik mendengar perkataan Romi. Asisten sekaligus sekretarisnya ini suka berlebihan jika berkata.
"Oke. Gue mau pulang sekarang." Ujar Gilang.
"Pulang? Kemana?" Tanya Romi ragu.
Gilang melayangkan tatapam tajamnya pada sang sekretaris. Bisa-bisanya Romi bersikap bodoh ditengah suasana sekarang. Tanpa banyak bicara lagi Gilang segera melangkah keluar dari kantor diikuti oleh Romi.
.
.
Laila memeriksa semua pintu yang ada di runah sebelum ia tidur. Ulfi yang tadinya menonton TV bersama Laila menunggu sang kakak ipar di ruang TV. Hingga Laila selesai barulah mereka pergi ke lantai atas.
__ADS_1
Entah mengapa saat sampai di lantai atas rumah minimalis tersebut, Laila berubah pikiran. Ia tak langsung ke kamar, melainkan berjalan ke arah balkon dan menyingkap pintunya.
Dengan memejamkan mata, Laila mencoba menghirup lembut udara malam yang dingin. Ia merasa kesejukan menerpa wajahnya tatkala angin meniup wajahnya. Ulfi hanya menyaksikan saja apa yang dilakukan sang kakak ipar. Melihat gurat kesedihan dan kelelahan di wajah Laila membuatnya memgerti perasaan wanita itu sekarang.
Sungguh ujian hidup yang berat. Ia berharap tak mengalami hal sesulit pernikahan kakak dan kakak iparnya. Melihat keduanya yang harus menahan gengsi dan perasaan masing-masing, Ulfi dapat membayangkan bagaimana tersiksanya mereka.
"Kak. Udah, ya." Ujar Ulfi menyentuh lengan Laila.
Laila membuka matanya lalu berbalik dan menatap Ulfi dengan senyum mengembang di wajahnya. Lalu perlahan Laila mengangguk.
"Kakak pasti capek, kan? Sekarang lebih baik kakak istirahat." Ucap Ulfi saat mereka sudah berada di depan pintu kamar Laila.
Laila mengangguk. "Hari ini gimana kalau kita tidur di kamar tamu aja, kak." Usul Ulfi.
Terlihat berpikir sejenak, Laila lalu mengangguk. "Boleh. Ayo!" Jawabnya antusias.
Mereka segera masuk ke kamar tamu, dimana sebelumnya Ulfi tidur sendiri sebelum Laila memintanya tidur di kamar utama bersama dirinya.
Mungkin karena kelelahan, Laila cepat tertidur setelah mereka mengobrol sebentar. Kini Ulfi hanya terdiam sendiri menatap wanita yang berjarak beberapa tahun saja darinya itu tengah berbaring dengan mata terpejam. Gurat yang begitu tenang meski nampak sendu. Itulah yang Ulfi lihat.
Tiba-tiba saja Ulfi terpikir sesuatu hal. Ia segera mengambil ponsel milik Laila di nakas. Sembari melihat-lihat ke arah Laila, Ulfi mencoba membuka layar ponsel pintar tersebut.
Terkunci. Ia pun memikirkan apa sekiranya kode pengaman ponsel itu. Jika tanggal ulang tahun Laila, ia tidak tahu. Oh, coba saja dulu tanggal pernikahan mereka, pikir Ulfi. Karena, kebanyakan orang setelah menikah akan memasang tanggal pernikahan sebagai sandi ponselnya.
Wahh, kebetulan yang indah. Ulfi tersenyum senang dan bersorak didalam hati, ternyata tebakannya benar. Dengan begitu ia tak perlu bersusah payah lagi memikirkan password HP kakak iparnya ini.
Ulfi memeriksa aplikasi Whatsapp terlebih dahulu, karena itulah yang ia tuju. Beberapa pesan terlihat dari teman dan keluarga Laila. Namun, setelah menggeser hingga beberapa kali Ulfi melihat pesan dari nomor misterius tanpa dibalas oleh Laila.
"Ini pesan dari siapa, ya?" Gumam Ulfi.
Rasa penasarannya kian membuncah. Dengan segera Ulfi membukanya. Pesan tersebut memberitahukan pada Laila jikalau pemilik nomor memamerkan kebersamaannya dengan Gilang di Jogja. Ulfi semakin heran saja. Siapa pengirim pesan ini? Dan kenapa Laila tak pernah mengatakannya? Ia harus memberitahukan pada Gilang.
.
.
__ADS_1
Gilang baru saja selesai mandi. Ia memeriksa ponselnya di nakas. Ada panggilan tak terjawab dari Ulfi. Ia melihat jam di sudut layar ponsel. Sudah jam 11 malam. Ada apa adik sepupunya itu menelepon?
"Ulfi?" Gumamnya.
Dengan inisiatifnya yang didukung rasa penasaran, Gilang berniat akan menelepon kembali. Namun, sebuah pesan muncul di layar notifikasi.
"Siapa yang berani gangguin istri gue?" Gumam Gilang merasa geram membaca pesan tersebut. Tanpa pikir lagi, ia segera menghubungi Ulfi.
"Halo, Fi. Kamu dapat gambar chat itu dari mana?" Tanya Gilang langsung.
"Ssttt,, Kak. Jangan kencang gitu ngomongnya. Aku lagi sama Laila. Nanti kedengeran." Bisik gadis itu melalui ponsel.
"Oke."
"Biar aku jelasin. Jadi, aku kepikiran buat ngecek hp nya Kak Laila. Dan ternyata ada pesan itu. Tapi, aku nggak tau siapa pengirimnya, Kak." Aku Ulfi.
"Kakak rasa, pasti Mayang." Gilang berucap dengan yakin.
Gilang sangat yakin yang mengirim pesan tersebut pada istrinya adalah Mayang. Karena, saat dirinya baru mulai bekerja di Jogja, ia mendapat kabar dari salah satu orang suruhannya kalau Mayang juga berada disana.
"Apa kakak yakin itu kak Mayang?" Tanya Ulfi yang terdengar ragu.
"Ya,, nggak terlalu yakin sih, Fi. Tapi, waktu itu salah satu orang-orang kakak bilang kalau mereka ada yang liat Mayang disini." Jawab Gilang menjelaskan.
"Terus rencana kakak apa?"
"Untuk sekarang, kakak pikirin dulu. Tapi, kamu jangan bahas soal masalah ini ke Laila. Kakak mau dia sendiri yang bilang ke kakak tanpa perlu kakak tanya. Kakak mau dia terbuka sama kakak, Fi. Dan soal Mayang. Kakak punya cara supaya dia nggak gangguin Laila lagi." Gilang terdengar pasrah.
"Iya, kak. Aku nggak akan bilang sama Kak Laila, kok." Gilang tersenyum mendengar perkataan Ulfi. Ternyata adik sepupunya itu bisa diajak kompromi.
.
.
Bersambung....
__ADS_1
.