Cinta Dan Benci

Cinta Dan Benci
II - 38


__ADS_3

Tengah malam Gilang merasa gelisah dalam tidurnya. Ada sesuatu yang terasa mengganjal, membuatnya tak bisa tidur dengan nyenyak. Puding melon dengan irisan stroberi, Gilang sangat ingin menikmati makanan manis itu.


Matanya uang tadi berusaha ia pejamkan, kini kembali terbuka lebar. Ia tak bisa berpura-pura tak peduli dengan keinginannya ini. Rasanya sangat mengganggu.


"Ckkk..." Gilang berdecak. "Gimana caranya ya supaya gue bisa makan itu puding." Gumamnya yang merasa kalut.


Ia kembali diam memikirkan solusi. "Apa gue minta aja Laila buat bikin?" Gumamnya.


Dengan kening berkerut, Gilang melihat jam di dinding. Ternyata pukul setengah 12 malam. Hah, sebaiknya ia tidur. Mungkin saja setelah bangun ia tak lagi menginginkan makanan kenyal itu.


Gilang pun mencoba kembali memejamkan mata. Ia harus benar-benar tidur malam ini. Dan akhirnya ia berhasil tertidur.


Sampai saat adzan subuh terdengar, ia pun terbangun. Perlahan ia menyesuaikan matanya dengan cahaya. Entah mengapa ada sebuah perasaan yang begitu aneh ia rasakan. Rasa tak sabar ingin bertemu dengan istrinya. Ia sangat merindukan Laila saat ini.


Akhirnya ia pun bersiap untuk ke kantor setelah menunaikan kewajibannya melakukan shalat subuh. Sesampai di kantor Gilang langsung memulai pekerjaannya.


Pukul 9 pagi, Romi datang dengan membawa berkas yang telah ia siapkan untuk bahan meeting. Sesuai dengan jadwal yang telah mereka tentukan sebelumnya, Hari ini Gilang akan bertemu dengan kliennya dari Damara Grup. Kini ia tinggal menunggu kliennya itu datang.


Sembari menunggu, Gilang tiba-tiba merasa lapar. Ia pun berniat untuk pergi makan sebentar ke kantin kantor.


"Rom. Gue mau makan sebentar ke kantin. Kalau kliennya datang, suruh tunggu disini aja, ya." Kata Gilang berpesan pada Romi.


"Oke, siap bos." Jawab Romi.


Tak lama setelah Gilang pergi, ternyata klien yang mereka tunggu datang. Romi pun mempersilahkan untuk duduk menunggu. Namun, Romi terpaksa harus meninggalkan kliennya tersebut karena harus ke kamar mandi untuk buang air kecil.


"Mohom maaf Pak Johan. Saya ke kamar mandi sebentar." Ucap Romi yang diangguki oleh lelaki bernama Johan itu.


"Iya, pak Romi. Nggak apa-apa." Jawab Johan.


Setelah kepergian Romi, Johan memainkan ponselnya sebentar. Namun, benar-benar sebentar karena ia merasa bosan. Johan melihat sekeliling ruangan tersebut. Pandangannya tiba-tiba terhenti pada sebuah figura yang ada di nakas dekat sofa.


Dengan mata menyipit ia memperhatikan foto tersebut. Untuk lebih jelas, Johan pun berdiri dan mendekat. Saat ia berniat memyentuh figura itu, tiba-tiba pintu terbuka.


Johan berbalik. Ternyata yang datang adalah Gilang. Ia nampak tersenyum saat inderanya mendapati Johan ada di ruangannya.


"Oh, Pak Johan?" Ujar Gilang menyapa, meski ia sedikit ragu apakah tebakannya benar atau salah.

__ADS_1


Johan nampak mengangguk. "Mmm, Pak Gilang." Johan balik menyapanya.


Mereka pun berjabat tangan dan memulai diskusi mereka mengenai proyek yang mereka miliki sekarang.


.


.


Melihat kondisi kafetaria yang tidak terlalu ramai, Laila berpikir untuk pergi ke rumah orang tuanya. Ia sudah merindukan sang ibu yang sudah beberapa hari ini tak ia kunjungi.


Sebelum berangkat, Laila memberitahukan terlebih dahulu pada Yessi.


"Yes, gue mau keluar sebentar, ya. Tolong lo yang handle Kafe sampai gue balik." Ucap Laila.


"Oke, La. Lo pergi aja, nanti kalau ada apa-apa gue kabarin. Hati-hati, ya." Pesan Yessi sebelum Laila berlalu.


Laila kemudian berangkat dengan taksi yang telah ia pesan. Saat akan naik, sebuah mobil berhenti di samping taksi tersebut dan seseorang keluar sembari memanggil Laila.


"La!" Sahut orang tersebut membuat Laila tak jadi masuk ke dalam taksi.


"Delon?" Ucap Laila antara terkejut dan cemas karena lagu-lagi ia bertemu Delon. Ya, meskipun Delon telah banyak menolongnya, namun tetap saja ia tak ingin terlalu banyak interaksi dengan lelaki itu. Ia takut jika akan menimbulkan kesalahpahaman di mata orang-orang.


"Aku,, mau ke rumah orang tuaku." Jawab Laila sekedarnya.


"Oh,,," Delon tak lagi berkata apapun. Ia hanya mengangguk.


"Aku permisi, ya." Ucapnya yang dibalas anggukan lagi oleh Delon.


Delon hanya memandang kepergian gadis yang dicintainya itu. Rasanya ia sangat sulit untuk melepas perasaannya untuk sang wanita. Terlebih sudah bertahun-tahun ia memendam perasaannya untuk wanita itu.


Mungkin ia harus benar-benar menguatkan hatinya menerima gadis pilihan orang tuanya. Ia harus mencoba membuka hatinya agar bisa mencintai calon istrinya.


Sementara Laila, setelah beberapa menit menempuh perjalanan akhirnya ia sampai di kediaman orang tuanya. Ia langsung saja masuk ke dalam rumah dan mendapati rumah dalam keadaan kosong. Tak ada kedua orang tuanya. Ia pun mencoba menghubungi sang bunda.


"Assalamu'alaikum, bun." Ucapnya kala panggilang tersambung dan diangkat oleh Bu Nora.


"Wa'alaikumsalam, sayang." Jawab Bu Nora.

__ADS_1


"Bunda dimana? Ila sekarang lagi di depan rumah, tapi nggak ada orang." Kata Laila.


"Waduh,, bunda lagi nemenin Ayah ke Palembang sayang. Ini masih di jalan dari bandara ke rumah. Maaf ya, sayang. Bunda lupa ngasih tau kamu." Bu Nora terdengar sendu.


Terlihat raut kecewa di wajah Laila. "Enggak apa-apa kok, bun. Ila tadi cuma mampir abis dari Kafe. Hmm,, kalau gitu Ila langsung pulang aja ya, bun." Laila berusaha menyembunyikan kegalauannya.


"Iya, sayang. Hati-hati, ya."


Laila merasa dirinya cengeng. Ia ingin menangis padahal bukan masalah besar. Namun, entah mengapa saat ini ia mudah merasa melow. Huftt, mungkin karena beban pikirannya.


"Astaghfirullah. Aku kenapa, sih? Cengeng banget." Gumamnya.


Mengabaikan moodnya yang tidak karuan, Laila kini beranjak pergi dari kediaman orang tuanya, meski dengan hati yang sendu. Ia harus mencari taksi yang lewat, Meski sebenarnya tubuhnya kini merasa lelah.


Sepertinya Laila kurang beruntung karena tak ada taksi yang lewat di sekitar tempat itu. Ia terpaksa memesan taksi online lagi. Harusnya ia melakukan hal itu dari tadi, pikirnya.


Tanpa menunggu lama, taksi online tersebut sudah datang dan langsung membawa Laila pergi.


"Kemana, mbak?" Tanya supir taksi tersebut dengan ramah. Kira-kira usianya memasuki kepala 5.


"Ke jalan L ya, pak." Jawab Laila.


Selama perjalanan, Laila termenung. Ia kembali merasa sedih memikirkan pernikahannya. Bimbang? Sangat. Rasanya sangat sulit, namun harus ia jalani dan kuatkan dirinya.


Entah mengapa, Laila tiba-tiba merasa pusing. Kepalanya perlahan terasa berat. Dan matanya mulai berat untuk terbuka. Lalu, kesadaran Laila perlahan menghilang. Supir taksi yang menyadari hal tersebut karena melihatnya dari kaca, langsung saja menepikan mobilnya karena panik melihat penumpangnya tersebut.


"Mbak.. Mbak!!" Panggil supir taksi tersebut pada Laila.


"Haduh,,, gimana ini? Bisa-bisa saya yang disalahkan kalau begini. Mbak,,, mbak,,, bangun, mbak!!!" Seru supir tersebt yang semakin panik..


.


.


Bersambung.....


.

__ADS_1


.


__ADS_2