
"Ada apa, ada apa. Istri kamu nyariin kamu dari tadi sampai dia nangis-nangis, kamu malah enak-enakan tidur disini." Ucap Bu Anne marah.
Perkataan Bu Anne sukses membuat Gilang terbelalak dan seketika Ia meraih ponselnya di nakas. Wah, benar saja. Ternyata ada puluhan panggilan tak terjawab dari istrinya. Gilang menepuk jidatnya, merutuki kebodohan dirinya yang mengaktifkan silent mode agar tidak terganggu oleh panggilan dari kantor. Tapi ternyata ia melupakan istrinya.
"Astaga. Gilang lupa, mah." Lirihnya karena ternyata sudah jam 4 sore.
"Gilang pergi dulu, mah." Pamitnya dan berlari meninggalkan sang mama yang masih berdiri dengan perasaan kesal di kamarnya.
Gilang langsung mengendarai mobilnya menuju kediamannya. Namun, saat di perjalanan ponselnya kembali berdering. Ia melirik sesaat, ternyata panggilan dari Faizan.
Ia mengambil air pod di sakunya dan menempelkan ke telinga, lalu ia menerima panggilan telepon dari sahabatnya tersebut.
"Ya, Zan." Ujar Gilang.
"Lo dimana sih, Lang? Istri lo nangis-nangis nyariin lo."
Gilang berhembus pelan. "Gue abis dari rumah orang tua gue. Tadi ketiduran, dan gue lupa kalau hp gue silent. Tapi sekarang gue udah otw pulang, kok." Jelasnya.
"Huhhh,, ada-ada aja lo. Ya, udah. Hati-hati lo." Pesannya sebelum mengakhiri percakapan mereka.
"Iya." Jawab Gilang.
Ia menambah laju mobilnya agar lebih cepat sampai di rumah. Dan benar saja, saat ia telah sampai di rumah Gilang langsung menuju kamar dan mendapati Laila tengah menangis sesenggukan.
"La!" Sahutnya yang mampu menghentikan tangisan istrinya itu.
"Mas?" Ucap Laila dnegan suara serak.
"Hwaaa,, maaaas,,," Istrinya kembali menangis. Gilang langsung menghampiri dan memeluknya.
"Udah, udah. Jangan nangis lagi." Ia berusaha menenangkan sang istri.
"Mas kemana? Kenapa,, Hiks,, telfon aku nggak,, hiks,, diangkat?" Tanyanya di sela tangisannya.
"Maaf, sayang. Tadi hp-nya aku Silent. Jadi nggak tau kalau kamu nelfon." Gilang menjawab jujur.
__ADS_1
"Hwaa,,, aku kira,, Hiks,, mas marah karena aku minta yang aneh-aneh."
"Enggak. Aku nggak marah. Aku tadi emang lagi nyari buah yang kamu mimta. Tapi, nggak ketemu. Terus aku mampir ke rumah mama, aku ketiduran. Maaf, ya." Ucapnya menyesal karena menyebabkan istrinya menangis.
"Maafin aku, ya?" Sekali lagi ia berucap sembari mengelus kepala Laila yang tertutup hijab.
"Iya,, Tapi jangan tinggalin aku dan nggak ada kabar kayak gini. Nanti mas malah ngilang lagi." Ucapnya dengan wajah cemberut.
"Enggak, kok. Aku janji nggak akan ninggalin kamu kayak tadi."
Setelah beberapa lama berpelukan, Gilang tiba-tiba teringat sesuatu. Ia pun melonggarkan pelukannya dan membuat jarak diantara mereka.
"Sayang,, kamu nggak mual kan tadi?" Tanyanya menatap serius Laila.
Laila berpikir, lalu menggeleng yakin. "Enggak."
"Alhamdulillah." Ucapnya kemudian kembali memeluk sang istri. Ia meresa lega, karena setidaknya Laila tidak akan terserang morning sickness lagi.
Laila hanya diam tanpa berkomentar. Kan memang seperti ini selama beberapa hari. Saat pagi dan malam ia akan mual jika berjauhan dengan Gilang. Namun, saat siang hari rasa mualnya akan hilang meski dirinya dan Gilang beradan dalam jarak yang jauh. Namun, sepertinya Gilang tak menyadarinya.
.
.
.
Delon Rionaldo Pranata, lelaki itu tengah dilanda kekesalan akibat perjodohan paksa yang dilakukan oleh orang tuanya. Saat ini seharusnya ia menata kembali hati dan perasaannya, akibat patah hati karena gadis yang ia cintai telah menikah.
Namun, ia harus memaksakan hatinya lagi untuk menerima semua yang terjadi. Ia tak punya pilihan selain menuruti permintaan Sang ayah yang menginginkan dirinya menikah dengan wanita yang dijodohkan dengannya. Meski sangat berat namun Delon tak ingin sang ayah kecewa atas penolakannya.
Tinggal menghitung hari, dan statusnya akan berubah. Ia akan menikah dengan wanita yang sama sekali tak ia cintai. Apakah ia akan bisa menerima semuanya dengan ikhlas?
Sejujurnya Delon takut akan menyakiti wanita yang nantinya menjadi istrinya. Karena, mereka menikah tanpa cinta. Sangat berat baginya menghilangkan perasaannya untuk Laila.
Delon berdecak saat ia masih memikirkan hal itu. Hingga suara ketukan pintu membuat pikirannya teralihkan alau sesaat.
__ADS_1
"Masuk!" Titahnya.
Pintu terbuka, muncullah seorang lelaki berpakaian rapi. Ia adalah Ferdi, orang kepercayaannya.
"Ada apa?" Tanyanya. Beginilah dirinya di kantor. Sangat berbeda saat sudah berada di luar.
Di kantor, Delon sangat berwibawa dan tegas. Semua orang yang bekerja dengannya sangat menghormatinya. Namun, saat dirinya berada di luar kanto, Delon adalah seorang lelaki biasa. Layaknya pemuda-pemuda awam di luar sana. Dan ia lemah akan masalah hati.
"Saya mau melapor, bos. Peremluan yang akan menikah dengan bos adalah Anetha Felia, sepupu dari Gilang Afrianda suami perempuan yang pernah bos suruh saya mencari informasinya waktu itu. Dia tak menyukai Nona Laila dan sempat ingin mencelakainya, bos." Jelasnya.
Delon begitu tertarik dengan laporan Ferdi, hingga membuatnya menyimak sampai selesai. Diam, hanya itulah reaksinya. Namun, di dalam pikirannya berkecamuk sekarang.
Siapa sangka semuanya akan seperti ini. Sungguh ia tak pernah membayangkan akan kembali berhubungan dengan keluarga perempuan yang kini masih mengisi hatinya.
Inilah maksudnya Dunia hanya seluas daun kelor. Delon tersenyum misterius. Sepertinya akan sangat seru bila ia pernikahan itu benar-benar terjadi. Ia bisa membalas semua perbuatan wanita itu yang telah mengganggu dan berniat mencelakai wanita yang ia cintai.
"Oke. Kerja bagus. Kamu awasi terus wanita itu. Dan cari tau semua yang pernah dia lakukan pada Laila. Dan semua orang yang terkait dengannya. " Titah Delon.
"Baik, bos." Ferdi kemudian berlalu.
Delon tersenyum sinis menatap jendela kaca di depannya. Tatapannya menembus pemandangan di luar sana yang begitu indah.
"Kita lihat nanti. Apa yang telah kamu lakukan pada gadis yang aku cintai, akan kamu rasakan nanti. Karena aku tak suka siapapun menyakitinya. Aku bahkan tak suka jika dia bersedih. " Gumamnya dengan senyum penuh arti.
"Laila,, Laila. Padahal aku udah berniat untuk melepaskan kamu, tapi takdir seakan mengingikan kita untuk terus bertemu." Delon menggeleng disela kekehannya.
"Aku nggak akan menganggu rumah tangga kamu, La. Tapi, siapapun yang mengganggu kamu, bahkan menyakiti kamu akan berhadapan denganku. Aku bahkan tak mau kamu bersedih. Tali dia,,, berani-beraninya ingin melukai kamu." Delon benar-benar geram.
Seketika Delon teringat dengan kejadi beberapa waktu yang lalu. Laila dikejar orang tak dikenal, hingga membuat gadis itu terjatuh di aspal dan membuat tangannya sedikit lecet.
"Jadi, yang waktu itu adalah ulah kamu? Hahahha,,, Kamu tunggu saja tanggal mainnya, Anetha Felia..."
Delon mengepal tangannya kuat. Wajahnya berubah marah. Ia tak ubahnya seperti seorang Psikopat sekarang. Menunjukkan wajah marah dan tertawa, namun berubah bawah kemudian.
.
__ADS_1
.
.Bersambung.......